Well, betul. Banyak cara laen menikmati hidup. Backpacking itu hanya salah satu dari sekian options. Betul bahwa itu sepenuhnya adalah pilihan pribadi. Dan kita wajib dung menghargai setiap orang yang memilih options itu, seberapa-pun terkadang naive.
Yang dipersoalkan teman2 adalah mitos bahwa travelling itu hanya dilakukan orang kaya, berduit atau paling tidak butuh keberanian ekstra bahkan nekad. Masalahnya itu ngga cuma duit aja sebenarnya tetapi lebih dalam dari itu. Yakni seberapa kita mau "mencari" kemanfaatan dari travelling itu sendiri. Attitute seorang backpacker semestinya makin rendah hati. Seperti halnya ilmu, makin dicari makin haus. Makin banyak yang kita tahu makin sedikit yang kita ngerti. Betul jumlah negara bukan pathokan dia jagoan backpacker. Lha gimana wong mampir saja cuma 2 jam? tergantung apa yang dicari : quantity atau quality. Juga apa yang dicari dari backpacking itu sendiri? pengakuan sebagai seorang backpacker atau lebih jauh mencari jati diri yang bisa untuk bekal "kemapanan" dikemudian hari. Saya bilang bekal karena dengan backpacking ada banyak pelajaran berharga untuk menapak kemapanan. Kita diajarin mandiri, self reliant (tidak tergantung pada orang lain), berani beresiko, berinteraksi dengan orang asing, memahami tabiat dan kultur yang berbeda, dan juga attitute yang lebih dewasa untuk menghargai perbedaan. It sounded very good for job's decryption. Ini semua akan berguna dalam skala lingkup kerjaan misalnya. Atau menimbulkan ide membuat bisnis baru (why not?). So backpacking can be inspiration for anything, not just for the sake of travel. Kalau kita ke naik gunung, susah payah sampe atas turun lagi ya udah. Tapi banyak teman membagikan pengalamannya. Ngga cuma gimana menuju kesana tapi juga share informasi yang penting. Sharing itu disisi lain bermanfaat buat yang membutuhkan disisi lain bikin mupeng orang. Well, kalau mupeng itu menjadi energi yang bagus misalnya dialihkan menjadi inspirasi daripada rasa iri tentu akan makin banyak sharing yang lebih positif. Saya pribadi makin sering travelling/backpacking malah makin banyak yang saya ngga tahu. Jadi kalau ada yang nanya udah kemana aja saya selalu bilang belum kemana-mana. Dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi. Apalagi Indonesia :) Teman2 juga udah membagi bahwa travelling itu ngga musti keluar negeri, bahkan bisa dilakukan dengan murah. Ya karena saking pengennya melihat dunia. Kalau memang belum pengen, ya mungkin memang belum panggilan jiwa. Dan yang pasti milis ini ngga 'maksa' semua anggota jadi backpacker he he he...tapi paling tidak mulai mematahkan mitos soal travelling kudu (kudu loh ya) orang berduit. Sebagai perempuan, hambatan terbesar backpacking adalah sosial. Yakni orangtua dan masyarakat. Dulu mengawali hobi naik gunung saja kudu menyakinkan orang tua. Pergi sendiri ke LN itu butuh upaya luar biasa bukan cuma duit dan duit. Seperti Marina Silva dengan $1000 itu, saya yakin uang hanyalah untuk meyakinkan publik bahwa duit it's not the only factor. Dan itu ngga diungkap banyak. Why? karena pandangan masyarakat ya masih berkutat ke duit. Kita juga masih berjuang untuk makan saban harinya, ataupun untuk ongkos naik angkot. Nah tergantung ke individu apakah backpacking itu pilihan dia. Paling ndak, ada alternatif baru ya ngga? Makanya saya salut dengan kawan2 yang menerbitkan buku sebagai sharing bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah mimpi yang bisa jadi kenyataan. Bukankah mimpi itu gratis? Salam, Ambar Briastuti www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking. Photography. On 10 Sep 2008, at 23:43, listmanager 2 wrote: > > > tapi namanya orang suatu saat butuh rekreasi biar gak stress. di > sini travelling bisa jadi pilihan. silahkan direncanakan sesuai > kemampuan. menabung. nggak usah liat kiri kanan, nggak usah liat > anak2 di milis yang tiap weekend jalan2. tiap ada kesempatan ke > luar negeri. ngukur diri. kalo kata pak harto, "nggak traveling > juga gak pathek'en". Jadi diri sendiri aja lah. > > ada yg naik gunung, keliling dunia katanya untuk mencari jati diri, > belajar hidup, melihat manusia, belajar budaya. tapi baliknya malah > makin jumawa, egois. karena itu, kalo kita belum mampu jalan2. > nggak usah kuatir. itu ibaratnya naek haji belom panggilan. > > banyak cara laen menikmati hidup kok. > [Non-text portions of this message have been removed]
