Hari keempat: Muter-muter Tokyo.
Transportasi dalam kota Tokyo sendiri ternyata gampang dipelajari,
gak seruwet bayangan pertama waktu lihat peta subway beserta dengan
warna-warninya yang kayak kabel ruwet. Di sini saya juga ngandalin
one-day tiket subway. Ini sekaligus jadi pengalaman pertama keliling
kota lewat gorong-gorong..
Untuk simplenya mungkin kita bisa mbayangin Tokyo dihubungkan
seperti lingkaran: Ikebukuro, Ueno, Akihabara, Tokyo, Shinagawa,
Shibuya, Shinjuku dan balik lagi ke Ikebukuro. Itu membantu
pemilihan urutan obyek yang kita incer. Saya cuman dapet: Asakhusa
Temple (di dekatnya ada waterbus di Sumidagawa, agak mahal
kayaknya), Ginza, Imperial Palace, Marunouchi Building I (kita bisa
nglihat pemandangan kota dari lantai 35, sayang gak semua sisi
gedung kita bisa nglihat), Shibuya (makan di Yoshinoya cuma 450 yen.
Sayang di sini saya gak nemu patung anjingnya), Harajuku (sayang
bukan malem minggu, gak ada perempuan aneh) dan Meiji Jingu. Jalan
menuju temple ini cukup jauh dari stasiun Harajuku, tapi benar-benar
nyaman
.serasa di tengah hutan lengkap dengan suara jangkriknya.
Sama sekali gak berasa klo kita ada di tengah kota.
Terus lanjut ke Shinjuku. Ternyata juga gampang, gak seribet yang
digambarkan di guidance book. Tujuan utama: Tokyo Metropolitan
Government Building. Info arah ke gedung ini dari Shinjuku jelas
banget, bahkan disediakan ban berjalan 1 km lebih untuk gedung yang
berjarak sekitar 2 km dari stasiun ini. Staff yang ramah waktu
memeriksa tas kita di pintu masuk juga staff di lift. Di sini kita
dapat pemandangan spektakuler kota Tokyo dari ketinggian 45 lantai.
Dan semuanya itu bisa kita dapatkan dengan biaya 0 yen. Bukan
main
. Mungkin itu salah satu usaha Jepang untuk bisa jadi tuan
rumah Olimpiade 2016, tapi saya lebih yakin kalau itu adalah salah
satu bentuk keramahan pemerintah Jepang kepada penduduknya.
TMG punya dua tower, Selatan dan Utara. Di menara Selatan kita bisa
melihat gunung Fuji, sayang hari itu yang dibuka cuma menara Utara,
alhasil gak bisa nglihat gunung Fuji juga dari Tokyo.
Sempat nongkrong sebentar di Shinjuku Park di depan TMG, saya
nglihat untuk pertama kali salah satu ketidaksempurnaan Tokyo.
Sebagai kota besar, Tokyo juga gak terlepas dari problem penduduk
yang gak punya tempat tinggal tetap. Di tengah kota yang saya pikir
kita bisa gampang cari arubaito dengan pendapatan yang lumayan,
ternyata masih ada juga sebagian orang gak punya kerja dan rumah.
Mereka mendirikan tenda-tenda seadanya atau bahkan cuma modal payung
dan kardus, menguasai sebagian wilayah taman ini. Tapi biarpun
terkesan agak kumuh, gak ada yang gangguin saya selama nongkrong dan
ngabisin beberapa batang rokok di sini.
Pengalaman lain tentang Tokyo, khususnya tentang transportasinya:
sangat efisien, tepat waktu, dapat diandalkan dan nyaman. Kecuali
saat rush hour. Biarpun saya gak ngrasain sendiri naik kereta kayak
ikan pindang, tapi saya sempat nglihat beberapa petugas yang standby
di dekat kereta yang siap mendorong kita ke dalam kereta yang penuh
sesak agar pintu kereta bisa nutup. Dan orang yang didorong-dorong
juga cuek aja, gak marah atau keluar dari kereta untuk nunggu kereta
berikutnya yang interval waktunya juga sebenarnya gak lama-lama
banget. Buset deh
.Pantes aja banyak papan info yang
mengingatkan kita untuk hati-hati naik kereta.
Hari keempat: Tokyo- Hiroshima
Saya pake 18-kippu secara maksimal pada hari ke empat. Mulai dari
kereta pertama di Kasumigaseki jam 05.00 sampai kereta terakhir di
Hiroshima. Perkiraan tiba di Hiroshima sekitar jam 22.00 ternyata
molor sampai jam 23.45 karena sempat salah naik kereta ke Banshu-Aso
dan harus balik lagi ke stasiun awal di Aioi.. Tapi ternyata itu
memberikan keuntungan sendiri juga. Mengurangi waktu tunggu di
stasiun sampai jam 5 pagi, waktu angkutan kota mulai ada.
Pengalaman pertama tidur di stasiun Jepang. Banyak temannya
sih..dari orang kantoran yang ketinggalan kereta, anak muda yang
suka nongkrong, cewek cakep, sampai orang tua mabuk. Banyak anginnya
juga. Sayang gak boleh tidur di dalam stasiun yang cukup nyaman,
diusir sama polisinya, biarpun di situ banyak juga orang-orang
homeless yang tidur pake kardus dan payung.
Buang sampah seenaknya dan nyebrang jalan waktu lampu merah relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan Beppu atau Tokyo, he..he.. Bahkan
ada lho yang kencing sembarangan di stasiun Hiroshima.
Hari kelima: Hiroshima
Muter-muter Hiroshima dengan one-day tiket. Kali ini dengan trem, di
sini disebut street car. Jenis angkutan yang pernah ada di Jakarta
tempo dulu, yang selama ini hanya saya kenal lewat gambar atau foto.
840 yen untuk kombinasi trem (tarif flat 150 yen sekali naik) dan
ferry ke pulau Miyajima (tarif 170 yen sekali jalan). Tanpa bekal
information center yang baru buka jam 9.00, saya langsung ke pulau
Miyajima. Di sini ada kuil Itsukushima dengan gate/ tori-nya yang
berwarna merah dan berukuran gedhe Uniknya gate dan kuil ini ada di
pinggir laut. Klo pas pasang, mereka kayak ngambang di atas
permukaan air. Salah satu obyek terbagus ketiga di Jepang. Sayang
hari itu biarpun sampe dua kali ke sana, saya gak dapet moment saat
high-tide.
Obyek kedua: Genbaku Dome (Peace Memorial Park). Museum, yang bisa
mbuat kita nangis ini, memberikan info lengkap banget mulai dari
saat bom dibuat, keputusan kota yang mo dibom sampe ke maket kota
sebelum dan sesudah bom dijatuhkan beserta dengan kesaksian
korbannya. Datang ke sini gak berasa lengkap klo gak foto di depan
bangunan A-Bomb Dome.
Malem itu saya nginep di Aster Palace International Youth Hostel
yang terletak di depan PMP. Pemandangan yang indah banget dari
lantai delapan, kamar yang luas & kinclong lengkap dengan TV, AC,
yukata dan bathtub cuma dibandrol 3620 yen semalem. Sayang ada jam
malem mulai dari jam 24.00 sampai jam 06.00 Rencana berangkat dari
Hiroshima dengan kereta pertama terpaksa dimundurkan agak siangan
dikit.
Hari keenam: Hiroshima-Beppu.
Kagak ada yang begitu istimewa kali ini, kecuali Shimonoseki. Kota
di ujung Honshu yang menghadap selat Kanmon (selat yang sangat rame
dilintasi perahu-perahu gedhe). Di situ ada Kanmon Bridge yang
menghubungkan Honshu dengan Kyushu.
Kota yang punya nilai sejarah dan terkenal dengan Fugu ini punya
beberapa obyek yang cukup menarik: Gunung Hinoyama, taman Mimosuso-
gawa, jembatan Kanmon, túnel yang menghubungkan Honshu-Kyushu sejauh
sekitar 700 meter, pasar ikan, dan kuil Akama.
Hinoyama dilengkapi dengan fasilitas cable-car/ ropeway seharga 400
yen bolak-balik. Ada tempat observasi lengkap dengan teropong-
koinnya untuk melihat selat Kanmon dan bekas bunker Jepang yang
cocok banget untuk acara Uka-Uka. Sayang gak ada info secuil pun
tentang bunker ini. Dari atas gunung ini juga kelihatan tempat
kelahiran Minamoto Musashi.
Taman Mimosuso-gawa di seberang jalan jadi objek yang menarik,
selain karena ada di bawah jembatan Kanmon, juga ada dua patung dan
deretan meriam. Cocok banget deh yang punya hobby fotography.
Di situ, saya juga nemu bunraku. Tukang dongeng Jepang. Orangnya
udah tua banget. Pake pakaian tradisional Jepang yang agak kumuh
(biarawan mungkin) yang cuma bermodalkan sepeda tua, speaker dan
papan peraga lengkap dengan gambar cerita. Gak tahu apa yang dia
ceritain karena Nihonggo saya yang cetek, Banyak lho pendengarnya
yang dengan setia tetap bertahan duduk di depan beliau ndengerin
cerita sampe abis dengan berpanas ria, waooo..salut deh
.Abis
cerita, si Bapak keliling ke orang-orang..kirain minta sumbangan,
ternyata malah dia membagikan semacam kenang-kenangan ke para
pendengarnya.
Terowongannya terletak di bawah jembatan. Disediakan lift untuk
turun ke bawah. Sama sekali gak pengap, dilengkapi dengan AC,
penerangan yang cukup dan CCTV. Terowongan ini jadi akses yang
menghubungkan penduduk kota Moji di Kyushu dengan Shimonoseki di
Honshu. Bisa dilewatin sepeda dan sepeda motor, terowongan ini jadi
tempat olah raga juga bagi penduduk yang hobby jogging!
.aneh-aneh
aja, jogging kok di bawah laut
Waktu tempuh dengan jalan santai
adalah sekitar 45 menit. Kanmon tunnel bisa dilihat di
http://jp.youtube.com/watch?v=cyO8bbt0b0w&feature=related
Karena udah sore, kuil dan pasar ikan terpaksa saya simpen untuk
trip yang akan datang. Balik ke Shimonoseki Eki dan kembali naik
kereta lewat terowongan kereta dan lewat Moji lagi, he..he.. Nyampe
di Beppu ternyata lebih cepat dari perkiraan. Masih terlalu sore
untuk bis terakhir ke APU, tapi sudah terlalu gelap untuk lanjut
kereta ke Mount Aso (terpaksa juga harus saya simpen untuk trip
selanjutnya). Akhirnya cuma lanjut sampai Oita sebelum balik lagi ke
Beppu. Di antara stasiun-stasiun yang terletak sepanjang Tokyo-Oita,
hanya Oita Ekilah yang sangat minim menyediakan info dalam Romaji.
Biarpun sempat nyasar di Bansho-Aso, info dalam Romaji dan bahasa
Inggris cukup lengkap di stasiun kecil itu. Saya salah kereta karena
kereta yang saya tunggu telat. Sesuatu hal yang sangat jarang
ditemuin, he..he..
Total bolak-balik saya cuma pake 4 tiket 18-kippu seharga kurang
dari 10.000 yen ditambah sama tiga one-day tiket. Biaya makan cukup
murah. Penginapan bisa ditekan dengan nginep di rumah teman, he..he..
salam,
Ben