Hari pertama, Sabtu 30 Agustus 2008
Oita (Kyushu) –Kobe (Honshu) via Matsuyama and Imabari (Shikoku)

Pertama kalinya naik ferry di Jepang, kelas: paling embek. Tiket 
ferry dibandrol 6.100 yen dengan tarif mahasiswa. Sebelum naik kita 
harus ngisi boarding pass dulu. Staff di sana ramah banget, dan ada 
ruang tunggu di lantai dua yang nyaman, ples ada smoking area yang 
nyaman juga.

Ternyata untuk kelas embek, kami dapet kamar juga, bukannya di 
`lapangan/ hall' seperti yang saya bayangin semula. Kamar dibagi 
berdasarkan tujuan akhir (ferry berhenti di empat kota: Matsuyama 
dan Imabari (Shikoku), Kobe dan Osaka (Honshu). Tiap kamar dibedakan 
antara kamar perempuan dan cowok, berisi sekitar 30 orang. Sangat 
nyaman, dengan futon, bantal dan selimut lengkap dengan AC dan TV. 
Kamarnya gak penuh, jadi bisa main bola, he..he... 

Fasilitas ferry lengkap, yang paling utama adalah smoking area (lagi-
lagi) yang nyaman, yang bisa untuk menyendiri sekaligus menikmati 
bekal sambil nglihat pemandangan tanpa takut masuk angin. Di luar 
pemandangannya lebih bagus 360 derajat tapi anginnya gueedhe banget, 
sampai berasa susah jalan. Hebatnya ada yang bawa bayi dan banyak 
juga aki-aki dan nini-nini yang benar-benar susah jalan tapi nekat 
nongkrong di atas. Kayaknya bangsa pelaut bukan kita doang deh.

Fasilitas lain mulai dari cafetaria yang cukup lengkap dan gak 
begitu mahal di bandingkan harga makanan di darat (kayaknya), kran 
air minum, WC yang sangat bersih, tempat main anak, main game, 
information desk (ini yang paling penting) dengan staff yang ramah 
ples brosur yang lengkap, bathroom (gak dicoba, belum berani 
telanjang di depan publik), vending machine sampai kursi pijat 
dengan koin. Oya, ada papan info tentang rute perjalanan kapal, 
lengkap dengan tiga jembatan, yang menghubungkan pulau Honshu dan 
pulau Shikoku, yang akan dilalui kapal ferry  beserta dengan jam 
lewatnya. Juga dua pelabuhan yang akan dikunjungin disertai dengan 
arrival dan departure time-nya. 

Ferry mampir di dua kota di Shikoku. Berhenti sekitar setengah jam. 
Selalu tepat waktu biarpun banyak truk trailer yang antri masuk 
kapal. Sayang gak bisa turun untuk sekedar nginjek tanah atau bahkan 
ngencingin pulau Shikoku, he..he..

Ferry melewati tiga jembatan yang menghubungkan Honshu dengan 
Shikoku. Sayang yang pertama lewat, ketiduran. Tapi saya sempat 
nglihat yang kedua (agak gedhean) dan yang ketiga, yang terbesar 
yaitu Akashi Kaikyo Bridge. Letaknya di dekat Pelabuhan Kobe. 
Pemandangannya sangat spektakuler untuk orang udik kayak saya. 
Sayang kamera pocket gak bisa nangkep keindahan jembatan itu karena 
masih gelap. Saran: naik ferry terakhir dari Beppu/ Oita, biar 
nyampe di jembatan itu agak siangan dikit. Ferry mendarat di Rokko 
Island, pulau buatan di Kobe.

Hari kedua, Minggu, 31 Agustus 
Kobe-Kyoto-Kobe.
Pengalaman pertama pake 18-kippu. Karena janjian ketemu dengan teman 
di Sannomiya stasiun (pusat kota, dua stasiun dari stasiun terdekat 
Rokko Island), maka saya harus naik kereta. Langsung nggunain 18-
kippu dengan pertimbangan langsung berangkat ke Tokyo. Pakenya gak 
susah. Cukup ke counter di samping mesin tiket, dicap sama petugas 
untuk hari itu. Tiap keluar masuk stasiun, hari itu, kita tinggal 
nunjukkin tuh tiket ke petugas, gak usah lewat jalur mesin. 

Perubahan rencana pertama: Sampai di Sannomiya, lanjut ke Kobe 
Daigaku dorm di Port Island (pulau buatan juga selain Rokko Island) 
karena teman baru bangun. Pengalaman pertama naik monorraíl bernama 
port liner. Mirip sama kereta di TMII, Jakarta. Carinya tempat 
pemberangkatannya di lantai dua Sannomiya gak susah, banyak 
petunjuk. Beli tiketnya juga standar di Jepang, pake vending 
machine. 

Perubahan rencana kedua: teman saya gak bisa berangkat hari itu. 
Berharap punya teman sepanjang Kobe-Tokyo-Beppu dan tanpa pengalaman 
pake 18-kippu antar kota saya terpaksa tinggal semalem di Kobe 
Daigaku Dorm. Tapi karena tiket sehari sudah kepake, sayang gak 
digunain, maka saya ke Kyoto tanpa planning sama sekali. 

Kyoto.
Stasiunnya gueedhe banget, bo…kayak mall. Informasi ada di lantai 
dua, papan petunjuknya jelas. Di sana staffnya juga ramah. Sempat 
malu ati pake Nihonggo patah-patah dan dijawab pake bahasa Inggris 
yang fasih banget. Dapet peta lengkap disertai dengan jalur bis dan 
objek yang harus dilihat. Beli one day tiket bis seharga cuma 500 
yen (di Beppu 700 yen). Beli tiket sehari jadi andalan saya untuk 
muter-muter kota karena gak takut salah nyoba, budget terkontrol dan 
lebih murah, he..he..

Patokan Kyoto kayak segi empat. Selatan Barat: Stasiun, Utara-Barat: 
Kinkakuji, Utara Timur: Imperial Palace dan Nijo-jo, Selatan-Timur: 
Kyomizu Tera.
Objek pertama: Kinkaku-ji (Golden Pavillion). Top bgt lengkap dengan 
taman dan lagi-lagi petugas yang ramah. Lanjut ke Ritsumeikan 
University, "saudara tua", yang letaknya cuma sepelemparan batu. 
Punya banyak persamaan bentuk bangunan dengan APU, juga kebijakan 
ngrokok di satu tempat dan papan petunjuk yang sama.. 

Imperial Palace saya lewatin. Lanjut ke Nijo-jo. Sebenarnya pengen 
saya skip juga, tapi karena gerbangnya kelihatan rame, saya turun 
juga di sini. Dan ternyata emang gak rugi masuk castlenya Shogun 
yang megah ini biarpun tiketnya cukup mahal seharga 600 yen.  

Benteng yang megah dengan susunan pertahanan disertai dengan akses 
masuknya yang agak beda dengan benteng di Jawa. Castle ini sekaligus 
menandakan siapa yang sebenarnya lebih berkuasa di Kyoto waktu itu 
antara Shogun (militer) yang kaya dengan Tenno (kaisar) yang miskin.

Tamannya bagus banget (Cuma ada 2 kriteria saya tentang taman di 
Jepang: bagus dan bagus banget, susah cari yang jelek). Dan yang 
paling top, kita bisa masuk ke `kantor dan kediamannya'  Shogun. 
Lengkap mulai dari ruang tamu tempat nerima tamu kehormatan, rapat 
dengan menteri, sampai tempat tidur Shogun, tempat sembunyi para 
pengawal di belakang tembok, lukisan indah di hampir tiap kamar, 
boneka yang benar-benar menggambarkan aktivitas di situ beserta 
dengan rekamannya, sayang gak ada yang pake bahasa Indonesia, 
he..he..he..O ya, kita harus copot sepatu dan gak boleh motret di 
dalam sini. Sayang banget. Sayang banget saya gak berani nekat 
motret maksudnya

Mengejar jam tutup kuil jam 6 sore, saya langsung ke Kyomizu Tera. 
Komentar saya lagi-lagi: bagus banget. Cuma di sini kita harus 
menyisakan stamina lebih, soalnya jalan cukup jauh dan nanjak. Tapi 
pemandangannya emang worthed banget. Terletak di atas pegunungan 
dengan Kyoto sebagai latar belakang, lengkap dengan pagoda susun 
limanya dan terasnya yang luas..duuuh Jepang banget bo….Saya setuju 
klo ada pendapat belum ke Jepang klo belum mampir di kuil ini, 
he..he..he..
Obyek berikutnya: Kodaiji Temple, dekat Kyomizu Tera. Tempat yang 
gak terkenal, kelihatan kecil dari luar, tapi ternyata luaas banget. 
Tamannya bagus. Cukup berharga untuk dikunjungin klo punya waktu 
banyak. Sayang kuilnya dah tutup. Dah lewat jam 6 sore. Saya juga 
terpaksa harus melewatkan Ginkakuji (Silver Pavillion) dan Fushimi 
Inari Shrine, tempat shooting-nya film Geisha. Tapi sebagai 
gantinya: Gion. Tempat kuno yang terkenal di Kyoto sebagai 
`sarangnya' Geisha. Sekarang tempat itu dah rame banget, macet. 
Tapi daerah River side beserta dengan `warung-warung'nya yang 
tertata rapi dengan background gunung tetap menawarkan pemandangan 
yang indah di sore hari itu. Sayang udah kesorean, harus segera 
balik ke Kobe dan gak sempat JJS sepanjang sungai itu dan masuk ke 
gang-gang kecilnya yang rame dengan orang dan warung-warung yang 
lebih tradisional dibanding dengan yang di jalan utama. 


Hari ketiga: Kobe-Tokyo. Pengalaman pertama naik kereta antar kota 
dan dalam kota Tokyo.
Perjalanan naik kereta dimulai sekitar jam 10 dari Kobe. Pake 
schedule kereta yang dilihat di www.hyperdia.com. Kembali lewat 
Kyoto, lanjut danau Biwa (danau terbesar Jepang yang terkenal sama 
ikan dan daging sapinya, sumber mata air bagi kota sekitarnya), 
Nagoya dan Tokyo. Kita bisa ketemu dengan Fujiyama di jalur rel 
sekitar stasiun Fuji yang merupakan jalur kereta terdekat dengan 
Fuji san. Sayang cuacanya lagi gak bagus. Pun waktu perjalanan 
pulang. 
Sampe di Tokyo Eki sekitar jam 8 malam, langsung lanjut ke Saitama 
untuk nginap di rumah teman. Ganti kereta 2 kali pake subway dan 
kereta swasta. Pergantian kereta cukup mudah, infonya jelas banget.


Kirim email ke