Nimbrung juga ya...

Kalo bagi saya, melakukan SoBp (minjem singkatan menurut Pras), bukanlah 
merupakan suatu pilihan utama, tetapi hasil keputusan pribadi akibat kondisinya 
mengharuskan demikian (heheheh ribet kalimatnya). Maksud saya, ketika saya 
pingin banget pergi ke suatu tempat dan tidak berhasil mengajak satu orangpun 
utk pergi ke sana, ya dengan terpaksa saya pergi sendiri ke tempat itu. 
Karena seringkali susah utk kembali mendapatkan kesempatan pergi ke tempat 
tersebut. Dan juga, kadang-kadang tidak semua orang mau diajak jalan2 yg harus 
agak ribet persiapannya, misalnya pergi ke tempat2 jauh yang minim fasilitas 
dan susah transportasinya.     

Contohnya, pertengahan tahun lalu, setelah selesai dari suatu kegiatan di 
Kupang-NTT bersama beberapa orang teman, saya ingin mampir sebentar ke 
Kelimutu, Flores. Mumpung udah deket dan transportasinya gampang dari 
Kupang. Tetapi teman2 tidak ada yang mau ikut ke sana, sudah pingin balik 
semua. Ya sudah, akhirnya saya berangkat sendiri ke Ende setelah mendapat 
kepastian semua tiket yg diperlukan sampai balik lagi ke Jkt confirmed utk 
waktu yg saya inginkan. 

Jadi bagi saya, SoBp seringkali merupakan pilihan terakhir. Terus terang saya 
lebih nyaman jalan-jalan bareng dengan orang lain, minimal berdua. Karena saya 
merasa lebih enak ada teman ngobrol, bisa guyon-guyon membahas 
atau mengomentari sesuatu yang dilihat dan dialami, dan juga ada teman makan 
(maklum tukang icip2, rasanya kurang nyaman kalo makan sendirian...). Dan juga, 
tentu jalan bareng-bareng ada komponen pengeluaran yg bisa jauh lebih murah, 
seperti sharing penginapan dan ongkos sewa kendaraan (kalo kepepet harus sewa).
   
 
salam,
vietha- 




________________________________
From: pepe pras <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, November 20, 2008 9:00:19 PM
Subject: [indobackpacker] KONTRA --> solo-backpacking......was:Jalan-jalan 
Sendiri


Pengen ngajak tukar pikiran saja....

Beberapa hari ini dibahas soal "solo-backpacking" (SoBp), hampir semua (atau 
malah semua) tanggapan pro alias sangat mendukung, dengan memberikan 
argumentasi positif, bagi2 pengalaman, dll...
Kok ga ada yang kontra ya ?

Sebenarnya saya juga lebih suka jalan (backpacking sendiri), karena bisa bebas, 
konsentrasi, dan rasanya lebih 'rewarding'
Tapi jadi mikir; apakah berarti jalan rame2, 'kroyokan', rombongan jadi ga 
asyik, dan ga rewarding?
Setelah juga baca tulisan Yudi dibawah ini yang menganalogikan 
solo-backpaciking dengan onani (*HUS!! porno ih! ntar kalau kena UU anti 
pornoaksi baru tahu rasa!! hehe...)

Kalau dibilang SoBp itu bebas, apakah itu karena kita egois, ga bisa bekerja 
sama dengan orang lain, ga bisa kompromi ?

Kalau dibilang SoBp itu melatih kemandirian, bukankah dalam banyak kisah 
perjalanan justru nampak bagaimana kita kudu ditolong orang lain?

Bukankah kalau kita jalan bersama beberapa teman bisa membuat hubungan kita 
makin dekat? atau malah pulang backpacking trus musuhan? hihihi...

Ayo temans, ditunggu pro-kontra nya.....

Salam,
Pras

Posted by: "Yudhi" [EMAIL PROTECTED] id
Wed Nov 19, 2008 6:38 pm (PST)
Jalan-jalan sendirian ada untung ruginya...
Untungnya, kebebasan mutlak kita miliki, kita bisa berimprovisasi membuat
kreasi mengunjungi destinasi sesuka hati. Terkadang dari kota tujuan yang
sudah kita rencanakan, tapi dalam perjalanan, ada ketemu sesama pengelana
yang cerita ada tempat lain yang "menarik" yang luput disebutkan di lonely
planet, bisa jadi kita belokan tujuan ke tempat "menarik" itu... Memang
dalam hal ini kaum lelaki lebih diuntungkan kalau berjalan sendiri, tapi
jangan dikira juga bebas dari ketakutan pelecehan seksual sementara orang2
seperti Ryan makin banyak, apalagi di negara Barat...
Tapi dalam soal biaya, ada untungnya juga pergi bersama teman (asal kita
tahu persis teman kita itu, artinya punya interest yang sama akan "cara
menikmati perjalanan", dan jangan juga lebih dari 4 orang jika jalan
bersama), karena sewa kamar bisa di-share, artinya akan lebih menekan budget
pengeluaran. .. Jalan sendiri, karena semua biaya harus ditanggung sendiri,
kalau tidak banyak informasi (bagaimana cara lebih irit) berisiko akan
banyak biaya dikeluarkan. ..

Jalan-jalan sendiri bisa jadi seperti orang onanai, ketika dalam perjalanan
kita menikmati pengalaman yang baru dan mengesankan yang akan memperkaya
hidup kita, baik dari pemandangannya, orang2 dan budaya baru yang kita
temui, makanan dan rasa yang baru kita cicipi, hawa dan suasan baru yang
kita hirup dan serap yang terkadang bisa seperti orgasme, yang semua itu
hanya kita yang bisa nimati saat itu, dan semua itu tidak bisa kita berbagi
kenikmatan, ya persis seperti orang onani..., (tapi hal yang tidak enaknya,
kalau kita kena musibah, katakanlah sakit, ya harus mengerang2 sendiri, cari
pengobatan sendiri, semuanya serba sendiri, tapi tidak juga, walaupun pergi
bersama, toh memang semua urusan independen, bayar2an, bawa barang..)

Untuk menyalurkan ini, kadang saya menuliskan dalam catatan harian saya.
Buku diary saya, juga buku bacaan, adalah teman terbaik saya, yang bisa jadi
tumpahan emosi: dengan menulis, membuat puisi, drawing (melukis), apa saja
sesuai ide yang datang ketika itu... Itu juga yang saya lakukan di Eropa, di
India, Nepal, mendaki Anapurna, keliling Tibet, trekking di New Zealand,
juga di gunung2 Indonesia, daerah2 perkampungan tanah air, menyelam...
Kesan saya pada Indonesia: I love and adore this country except the
government (juga calo2 di terminal bis, peminta2 sumbangan tempat ibadah
yang maksa menghentikan bis dan naik, peminta2 yang mengobral "Tuhan" di
tempat2 yang dikeramatkan) ...tapi, yaaa nikmati saja lah...

Jalan sendiri, berdua, bertiga, berempat..., akhirnya lebih pada bagaimana
kita menikmati perjalanan itu sendiri. Jalan-jalan bagi saya seperti Bima
yang mencari air Pravitasari, bertemu rintangan dan juga Dewa Ruci, semua
untuk memperkaya hidup. Ini seperti meditasi... Nikmati saja, apapun kondisi
ketika itu. Being at present time. Seperti kata Thich Nhat Hahn:" By
dwelling in the PRESENT MOMENT we put an end to attachments to the past and
anxieties abou the future. Life is only available in the present. To know
what we are alive, that we can be in contact with all the wonders within us
and around us, this IS TRULY A MIRACLE

Hormat saya pada "perempuan-perempua n perkasa" yang telah mencoba jadi
soloist. So, teruslah berjalan. Mengutip Che Guevara: "Berjalanlah, susuri
negerimu kelak kau akan tahu bangsamu..." . Dan kemudian, nikmati...

Salam,
yudhi widdyantoro,
pengecer jasa yoga

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke