Saya sejujurnya blm pernah tuh melakukan solo trip. paling sedikit berdua... tp memang jalan beramai2 melatih kepekaan pada teman seperjalanan, tidak mementingkan diri sendiri, dan kalau ada temen- nya temen yg ikut, kudu jg omongan, gk bisa nyela seenaknya. walo sebenernya bukan nyela, tp utk orang yg blm kenal takutnya jadi tersinggung. Pernah, saya jalan bertiga ke Sing-KL, pas 1 hari menjelang pulang, ada miscom dikit, eh, jadi gk tegoran berhari-hari ;)he..he.. Semakin banyak kepala, makin banyak ide & keinginan. Pernah juga jalan ber10... (aduhh plis deh.. gk lagi), ribet..riweh... Trip terakhir (KL-Langkawi-Phuket-BKK) sih bagus banget krn sebelum berangkat kita udh plan mau kmana aja.. pokoknya well planned.
--- In [email protected], pepe pras <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pengen ngajak tukar pikiran saja.... > > Beberapa hari ini dibahas soal "solo-backpacking" (SoBp), hampir semua (atau malah semua) tanggapan pro alias sangat mendukung, dengan memberikan argumentasi positif, bagi2 pengalaman, dll... > Kok ga ada yang kontra ya ? > > Sebenarnya saya juga lebih suka jalan (backpacking sendiri), karena bisa bebas, konsentrasi, dan rasanya lebih 'rewarding' > Tapi jadi mikir; apakah berarti jalan rame2, 'kroyokan', rombongan jadi ga asyik, dan ga rewarding? > Setelah juga baca tulisan Yudi dibawah ini yang menganalogikan solo-backpaciking dengan onani (*HUS!! porno ih! ntar kalau kena UU anti pornoaksi baru tahu rasa!! hehe...) > > Kalau dibilang SoBp itu bebas, apakah itu karena kita egois, ga bisa bekerja sama dengan orang lain, ga bisa kompromi ? > > Kalau dibilang SoBp itu melatih kemandirian, bukankah dalam banyak kisah perjalanan justru nampak bagaimana kita kudu ditolong orang lain? > > Bukankah kalau kita jalan bersama beberapa teman bisa membuat hubungan kita makin dekat? atau malah pulang backpacking trus musuhan? hihihi... > > Ayo temans, ditunggu pro-kontra nya..... > > > Salam, > Pras > > > Posted by: "Yudhi" [EMAIL PROTECTED] > Wed Nov 19, 2008 6:38 pm (PST) > Jalan-jalan sendirian ada untung ruginya... > Untungnya, kebebasan mutlak kita miliki, kita bisa berimprovisasi membuat > kreasi mengunjungi destinasi sesuka hati. Terkadang dari kota tujuan yang > sudah kita rencanakan, tapi dalam perjalanan, ada ketemu sesama pengelana > yang cerita ada tempat lain yang "menarik" yang luput disebutkan di lonely > planet, bisa jadi kita belokan tujuan ke tempat "menarik" itu... Memang > dalam hal ini kaum lelaki lebih diuntungkan kalau berjalan sendiri, tapi > jangan dikira juga bebas dari ketakutan pelecehan seksual sementara orang2 > seperti Ryan makin banyak, apalagi di negara Barat... > Tapi dalam soal biaya, ada untungnya juga pergi bersama teman (asal kita > tahu persis teman kita itu, artinya punya interest yang sama akan "cara > menikmati perjalanan", dan jangan juga lebih dari 4 orang jika jalan > bersama), karena sewa kamar bisa di-share, artinya akan lebih menekan budget > pengeluaran. .. Jalan sendiri, karena semua biaya harus ditanggung sendiri, > kalau tidak banyak informasi (bagaimana cara lebih irit) berisiko akan > banyak biaya dikeluarkan. .. > > Jalan-jalan sendiri bisa jadi seperti orang onanai, ketika dalam perjalanan > kita menikmati pengalaman yang baru dan mengesankan yang akan memperkaya > hidup kita, baik dari pemandangannya, orang2 dan budaya baru yang kita > temui, makanan dan rasa yang baru kita cicipi, hawa dan suasan baru yang > kita hirup dan serap yang terkadang bisa seperti orgasme, yang semua itu > hanya kita yang bisa nimati saat itu, dan semua itu tidak bisa kita berbagi > kenikmatan, ya persis seperti orang onani..., (tapi hal yang tidak enaknya, > kalau kita kena musibah, katakanlah sakit, ya harus mengerang2 sendiri, cari > pengobatan sendiri, semuanya serba sendiri, tapi tidak juga, walaupun pergi > bersama, toh memang semua urusan independen, bayar2an, bawa barang..) > > Untuk menyalurkan ini, kadang saya menuliskan dalam catatan harian saya. > Buku diary saya, juga buku bacaan, adalah teman terbaik saya, yang bisa jadi > tumpahan emosi: dengan menulis, membuat puisi, drawing (melukis), apa saja > sesuai ide yang datang ketika itu... Itu juga yang saya lakukan di Eropa, di > India, Nepal, mendaki Anapurna, keliling Tibet, trekking di New Zealand, > juga di gunung2 Indonesia, daerah2 perkampungan tanah air, menyelam... > Kesan saya pada Indonesia: I love and adore this country except the > government (juga calo2 di terminal bis, peminta2 sumbangan tempat ibadah > yang maksa menghentikan bis dan naik, peminta2 yang mengobral "Tuhan" di > tempat2 yang dikeramatkan) ...tapi, yaaa nikmati saja lah... > > Jalan sendiri, berdua, bertiga, berempat..., akhirnya lebih pada bagaimana > kita menikmati perjalanan itu sendiri. Jalan-jalan bagi saya seperti Bima > yang mencari air Pravitasari, bertemu rintangan dan juga Dewa Ruci, semua > untuk memperkaya hidup. Ini seperti meditasi... Nikmati saja, apapun kondisi > ketika itu. Being at present time. Seperti kata Thich Nhat Hahn:" By > dwelling in the PRESENT MOMENT we put an end to attachments to the past and > anxieties abou the future. Life is only available in the present. To know > what we are alive, that we can be in contact with all the wonders within us > and around us, this IS TRULY A MIRACLE > > Hormat saya pada "perempuan-perempua n perkasa" yang telah mencoba jadi > soloist. So, teruslah berjalan. Mengutip Che Guevara: "Berjalanlah, susuri > negerimu kelak kau akan tahu bangsamu..." . Dan kemudian, nikmati... > > Salam, > yudhi widdyantoro, > pengecer jasa yoga >
