Selamat tahun baru untuk IBPers semua.  Saya yakin masing-masing IBP yang 
bergabung di sini sudah punya rencana yang siap direalisasi di tahun ini.  
Persiapan dimatangkan, data diperkaya, anggaran dan jadual perjalanan dibuat 
dan bila sudah ada adakalanya perlu direvisi.  Sembari bersiap menjemput 
impian, saya ingin mengajak teman-teman menengok sedikit jauh ke belakang.
 
Sejak orang mengenal tulisan ada anggapan bahwa mereka yang pulang dari 
perjalanan jauh pasti pundi-pundinya penuh cerita.  Benar bahwa yang melakukan 
perjalanan itu tidak selalu pandai menulis namun mereka bukan dari kasta orang 
biasa.  Karena bukan orang biasa, perjalanan dilakukan dalam rombongan besar, 
dan dalam rombongan terselip beberapa pencatat kronik.  Atas jasa para juru 
tulis inilah kita bisa mengikuti kisah perjalanan Ibn Batuta, petualangan Marco 
Polo, atau pelayaran berseri armada Laksamana Zheng He.  Pelaku perjalanan 
ternyata bukan monopoli orang manca mengingat Mpu Prapanca mengabadikan ‘kisah 
perjalanan’ Hayam Wuruk dalam Nagarakretagama.
 
Mungkin banyak yang tidak setuju (atau percaya) bahwa pujasastra yang ditulis 
semasa kejayaan Majapahit di abad XIV itu bisa dilihat sebagai catatan 
perjalanan.  Mengutip pendapat (alm) Prof. Slamet Muljana, sebanyak 43 dari 
total 98 pupuh Nagarakretagama berisi ‘reportase’ perjalanan Hayam Wuruk di 
sisi timur Jawa Timur.  Oleh sang penggubah (Prapanca) kakawinnya diberi nama 
Desawarnana, bukan Nagarkretagama.  Nagarakretagama, masih menurut Prof. 
Slamet, itu semata-mata nama yang dituliskan oleh penyalin kakawin yang 
notabene orang Belanda.  Nagarakretagama kira-kira berarti ‘negara yang 
ditegakkan dalam tradisi suci’ sementara Desawarnana kurang lebih bisa dimaknai 
‘gambaran desa-desa’.  Tentu saja yang ditulis Prapanca sangat berbeda dengan 
catatan jalan para backpacker baik dari isi maupun gaya, entah yang sudah 
dibukukan maupun yang baru beredar di jagad virtual.
 
Belum lama berselang saya mendapatkan buku berjudul ‘Napak Tilas Perjalanan Mpu 
Prapanca’ tulisan Nigel Bullough.  Buku ini sebenarnya sejenis kajian 
arkeologi, agak teknis, dan lumayan rinci.  Namun hambatan teknis harus saya 
sisihkan lantaran adanya unsur ‘perjalanan’ yang mengundang penasaran.  Singkat 
cerita, Prapanca menulis kira-kira 160-an nama desa baik yang sekadar dilewati 
atau disinggahi oleh iringan kereta kerajaan.  Dari 160-an itu, 
setelah melakukan survei lapangan, penulis menemukan sekitar ¼-nya yang namanya 
masih ‘serupa’ walau statusnya berbeda.  Ada desa yang tinggal menjadi dusun, 
tetap sebagai desa, tapi ada juga yang berkembang menjadi kota.
 
Garis besar perjalanan raja Hayam Wuruk kira-kira seperti berikut.  Dari pusat 
Majapahit (kini di desa Sentonorejo, Tanggalrejo, dan sebagian Trowulan) 
iringan berjalan ke timur hingga Baremi (dusun Bremi, Probolinggo).   Dari 
Baremi iringan membelok ke selatan hingga Kamirahan yang diperkirakan ada di 
muara Kali Mujur, Lumajang.  Selanjutnya mereka menyisir pantai selatan dan 
berhenti di Kutha Bacok.  Di sana Hayam Wuruk sempat terpana melihat “karang 
kinasut ing ryyak asirasirat anghirib jawuh” (karang tersiram ombak yang 
berpancar seperti hujan).  Gampang diduga, Kuta Bacok memang pantai Watu Ulo di 
selatan Jember.  Sampai sekarang masih ada tempat bernama Gunung Bacok yang 
letaknya 3,5km dari laut.  Mengapa begitu jauh dari garis pnatai?  Menurut 
keterangan penduduk setempat (yang ditemui penulis buku), garis pantai di desa 
pantai selatan itu maju 500m dalam 100 tahun terakhir!
 
Rombongan kemudian berjalan ke utara.  Tiba di Patukangan mereka berkemah 
beberapa hari sebelum meneruskan perjalanan ke arah barat.  Tempat 
perkemahannya diduga di sebelah barat dusun Tokengan, desa Peleyan, kurang 
lebih 4km di sebelah barat Situbondo.   Mereka menyisir pantai utara dan 
selewat Pasuruhan membelok ke arah barat daya menuju Singhasari.  Di Singhasari 
Hayam Wuruk mengambil jalan memutar melawan arah jarum jam.  Ini bisa dimaklumi 
mengingat raja Majapahit itu penganut Siwa dan bukan pengikut Buddha.   Raja 
melakukan ziarah ke makam para leluhurnya di Singhasari (candi Singasari), 
Kagenengan (makam pendiri wangsa Rajasa), Jajagu (candi Jago, makam 
Wishnuwardhana) dan  Kidhal (candi Kidal, makam Anusanatha/Anusapati).  Di 
perjalanan kembali ke kraton Majapahit, raja sempat mampir menziarahi Jajawi 
(candi Jawi).
 
Jalur memutar Singhasari ini, setidaknya bagi saya, adalah jalur yang paling 
mudah dirunut karena petilasannya masih ada.  Di candi Singasari, meski juru 
kuncinya enggan berdiskusi, saya pernah mencoba bertukar barang 4-5 kalimat.  
Sementara dengan juru kunci candi Kidal yang sudah aki-aki dan mirip pertapa 
saya mendapat beberapa keterangan berharga.  Akan halnya di candi Jago, 
Tumpang, saya sekadar ‘blusukan’ karena tidak ketemu juru kuncinya.  Hutang 
atau PR yang belum saya kerjakan adalah ke Kagenengan, kini ada di desa 
Parangargo, Kecamatan Wagir, Malang.  Ada teman-teman IBP di sini yang pernah 
ke sana?
 
Jarak tempuh iringan kerajaan kira-kira 700km dan waktu yang mereka perlukan 
antara 2-3 bulan.  Di medan datar diperkirakan kelajuan mereka sekira 30km per 
hari.  Pernah rombongan melewati medan yang sulit (saat dari Bondowoso menuruni 
lembah Sungai Sampean) sehingga dalam sehari hanya mampu melangkah belasan 
kilo.  Pernah pula rombongan ngebut dan bisa melahap 40-an kilo sehari.  
Rombongan sempat singgah di Madakaripura, tanah perdikan milik patih Gadjah 
Mada.  Madakaripura di sini bukan air terjun di selatan Probolinggo, tapi 
sebuah desa yang kini diperkirakan di sekitar desa Rejosokidul, Pasuruan.  Yang 
juga menarik, di belasan dari desa-desa yang didata Prapanca kini ada makam 
keramat yang kerap diziarahi!
 
Salam dari Sangatta
1-Januari-2009 



      Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke