AWALNYA...
Inspirasi awalnya adalah dari gambar di wikimapia ttg Mount Lesong 
(harusnya "Lesung") yang terletak di Selatan Danau Tamblingan. 
Bentuknya menarik mata karena berupa kawah matinya bulat sempurna 
dengan diameter sekitar 600-meter, dan ditengahnya tampak padang 
rumput yang berbeda dengan vegetasi diluar kawah.

Dari Bali street atlas keluaran Periplus, didapati bahwa Gunung 
Lesung ini berhimpitan dengan point of interest bernama `Lubang 
Nagaloka' (Istana Naga) 

Waktu cari info di buku "Natural Guide to Bali", katanya ada jalur 
tua antara Jatiluwih dan Danau Tamblingan. Jalur ini dahulunya 
digunakan untuk perlintasan kuda para petani di daerah Jatiluwih yang 
berada di Selatan untuk membawa kelebihan hasil panen mereka ke sisi 
Utara Bali. Dari Utara mereka akan membawa hasil barter yang biasanya 
berupa kopi. Konon Jatiluwih dinobatkan menjadi Unesco World Heritage 
Site karena pola pembuatan sawah terasering dan sistim pengairan 
subak.

Cannot resist the temptation, jadilah saya membajak itenerary temen2 
yang sudah duluan berencana ke Bali. Dan karena tema perjalanan 
mereka adalah `Bali - off beaten path', dan belum punya fix itenarary 
maka dengan senang hati saya mengusulkan napak tilas ini.

Jalan menuju ke Jatiluwih dapat ditempuh melalui Tabanan - Wongaya 
Gede - Jatiluwih. Disambung berjalan kaki antara Jatiluwih - Danau 
Tamblingan, dan mampir di Gunung Lesung dan Lubang Nagaloka.

WONGAYA GEDE...
Untuk menambahkan `rempah-rempah' perjalanan, awalnya kami bermaksud 
naik ke Gunung Batukaru. Jalur pendakian ke Gunung  Batukaru bermula 
dari Pura Luhur Batukaru. 

Kami menginap di Prana Dewi Resort yang ok banget... bangunan 
sederhana di tengah sawah. Namun setelah kesulitan mendapat guide 
yang cocok dengan kami (cocok dengan kemampuan kantong maksudnya) dan 
dari saran beberapa warga desa yang ketemu di jalan mengenai cuaca 
yang kurang baik, kami memutuskan untuk tidak mendaki ke Batukaru, 
tetapi cukup piknik makan pagi di Tukad Mawa yang airnya bening.

Kami juga berkeliling Pura Luhur Batukaru. Menyenangkan melihat Pura 
Luhur Batukaru dipagi hari, hanya untuk kami dan dua penjaga malam 
pura. 

Dengan kecepatan kami berjalan – dikemudian hari pak Suwi guide kami 
di Jatiluwih bilang, kalo ini bukan `kecepatan berjalan' 
tapi `kelambatan berjalan' – diperkirakan Batukaru baru bisa dicapai 
dalam waktu 6 jam naik dan 4 jam turun. Rasanya keputusan yang tepat 
untuk tidak naik ke Gunung Batukaru dan menyimpan tenaga untuk trek 
keesokan hari.

JATILUWIH KANGIN...
Kami pindah ke Jatiluwih dengan mobil dari penginapan. Hanya ada satu 
penginapan di daerah Jatiluwih, yaitu Galang Kangin Inn yang dimiliki 
Bapak yang juga Pemangku Adat di desa tersebut, maka beliau lebih 
dikenal sebagai "Pak Mangku"- sebuah panggilan kehormatan.

Jatiluwih sendiri sedang dalam masa persiapan tanam padi, sehingga 
sawah teraseringnya lebih banyak terlihat dipenuhi air dan petani 
yang sedang membajak. 

Entah waktu yang kurang tepat atau karena waktu kunjungan yang 
singkat, buat saya pribadi rasanya sawah di Jatiluwih tidak istimewa 
dibanding sawah di daerah Negara. Petaninya juga masih menggunakan 
traktor sebagai alat bajak. Tetapi konon petani disini menanam 
varietas asli Jatiluwih dan perlahan mereka kembali ke cara tanam 
padi organik, tanpa pupuk buatan dan pestisida. Dan karena lokasinya 
yang persis di kaki gunung memungkinkan air yang mengairi sawah belum 
terkontaminasi oleh bahan anorganik dari sawah lain.

Tampaknya keinginan untuk kembali ke pertanian organik melekat dengan 
baik pada petani di Jatiluwih. Mereka sudah merasakan bagaimana pupuk 
buatan dan pestisida telah meletakkan petani pada posisi tawar yang 
lemah karena petani menjadi tergantung pada ketersediaan dan harga 
pupuk yang berada diluar kendali mereka, dan perlahan tanah yang 
menjadi miskin.

Hal yang sama juga kami dapati di sekitar penginapan Prana Dewi di 
Wongaya Gede. Butuh waktu lima tahun untuk mereka perlahan-lahan 
kembali ke pertanian organik. Bahkan mereka sudah tidak menggunakan 
traktor untuk membajak sawah dan kembali menggunakan sapi atau 
kerbau. Memang hasil panen per luas tanah dan jumlah panen pertahun 
menjadi turun, tapi buat para petani disini yang penting adalah 
keberlanjutan kehidupan mereka. Tanah adalah alat produksi mereka 
yang paling berharga, walaupun berarti mereka harus bekerja lebih 
keras. Sebagai perbandingan, menggunakan pupuk urea cukup 50 
kilogram, maka untuk luasan yang sama dengan pupuk organik mereka 
membutuhkan 2-3 kuintal.

Kalaupun ternyata jumlah beras yang diproduksi mereka nantinya tidak 
mencukupi untuk memenuhi perut orang kota, maka mereka adalah orang 
pertama yang memiliki beras. Dan dengan demikian mereka tidak 
dipusingkan dengan kelangkaan pupuk anorganik.

Oleh Pak Mangku kami dipertemukan dengan Guide kami, Pak Suwi. Konon 
tinggal dua orang yang tahu persis jalur Jatiluwih – Tamblingan, dan 
Pak Suwi adalah guide yang lebih muda.

Entah kapan jalur kuda ini dibuat, yang pasti menurut guide kami, 
jalur kuda ini berhenti dipergunakan pada tahun 1945. Aslinya, jalur 
kuda ini bermula di desa Soko menuju ke Gesing di Utara. Desa Soko 
sendiri berada sekitar 1 km dari Jatiluwih Kangin.

Sekarang sudah sulit membedakan Jalur Kuda ini karena sebagian sudah 
menjadi kebun warga dan yang melintas hutan sudah tertutup tanaman 
dan kayu tumbang.

Kami mulai berjalan sekitar pukul 8 pagi melintasi kebun kopi milik 
warga yang sudah tidak produktif lagi. Pohon kopinya sudah terlalu 
tua, kata pak Suwi. Pisang, nangka dan tanaman keras lainnya banyak 
mendominasi kebun didaerah ini. Setelah sekitar satu jam berjalan, 
kami mulai masuk ke hutan. Sebelum masuk ke hutan, Pak Suwi 
menunjukkan pohon semak yang disebut dalam bahasa lokal `Leteng'. 
Bentuknya jinak, tapi kalo sampai kena di kulit menimbulkan rasa 
panas. Juga obat pengusir serangga dioleskan di kaki untuk mengurangi 
minat pacet untuk nempel. 

Pada dasarnya kami berjalan melintas di kaki beberapa gunung. Awal 
perjalanan jalur lebih banyak mendaki dengan kemiringan yang tidak 
terlalu terjal menuju puncak Puun. Disebelah kiri kami tampak gunung 
Batukaru dan disebelah kanan kami tampak Gunung Sanghyang. Setelah 
melewati puncak Gunung (Bukit) Puun, disebelah kiri kami mulai tampak 
Gunung Pucuk.

Ditengah jalan, di tempat kami istirahat makan siang terdapat sumber 
air yang dialirkan melalui pipa paralon. Praktis kami tidak melewati 
sungai yang mengalir selama perjalanan. Kami sempat berpotongan 
dengan bekas jalur kuda sepanjang beberapa ratus meter. Jalur kuda 
tersebut berada di pinggir bukit sehingga dapat dikenali dari 
potongan bukit yang lebarnya sekitar 3 meter.

Pukul 4sore kami keluar dari hutan dan bertemu dengan pemangku 
setempat yang sedang berdoa di pura kecil. Persis di pinggir hutan 
ini terdapat kebun markisa milik warga. Menurut pak Mangku pemilik 
kebun tersebut sudah pindah tempat tinggal sehingga niat baik kami 
untuk membeli markisa segar tidak terlaksana. Terpaksalah kami minta 
kepada pemiliknya – in absentia tentunya .

Kami kembali berjalan diantara kebun penduduk, namun didaerah ini 
kebun didominasi oleh markisa, bunga untuk rangkaian, jeruk mandarin 
dan perlengkapan sop-sopan. Dahulu daerah ini terkenal dengan 
kopinya, namun sekarang tanahnya sudah terlalu miskin untuk kopi 
sehingga komoditi ini ditinggalkan.

Sekarang kami berjalan di sisi kiri Gunung Lesung. Kami juga melewati 
percabangan ke jalan kecil menuju bibir Gunung Lesung. Besok saya 
harus kembali kesini.

MUNDUK - TAMBLINGAN...
Kami menginap di Pondok Wisata di Desa Munduk yang dikelola Bu 
Sulastri. Malamnya susah tidur karena kaki terasa perih, panas, dan 
gatal. Perpaduan antara akibat dari besetan alang-alang, daun leteng, 
dan bekas gigitan lintah. Melalui Bu Sulastri, saya diperkenalkan ke 
pak Nyoman yang biasa mengantar tamu ke Gunung Lesung.

LUBANG NAGALOKA DAN GUNUNG LESUNG...
Besok paginya saya bersama Pak Nyoman berangkat mengulang jalan 
kemarin sampai ke pertigaan menuju Gunung Lesung.

Seperti yang sudah kami dengar semenjak di Jatiluwih, yang dimaksud 
Lubang Nagaloka bukanlah kawah mati Gunung Lesung, tetapi goa 
vertikal dengan diameter sekitar 7- 10 meter yang terletak 
dipertengahan jalan menuju puncak Gunung Lesong. Dalamnya? Saya tidak 
ingin mencoba tahu. Serem euy! Saya sendiri berhenti kurang lebih 25 
meter dari mulut gua karena semakin curam. Menurut Pak Nyoman, 
terkadang terasa ada udara berhembus dari mulut gua, yang dipercaya 
terhubung dengan gua di daerah Labuan Aji dekat Lovina di Utara Bali.

Saya berbalik arah untuk kembali berjalan menuju ke puncak Gunung 
Lesung, tepatnya bibir kawah lesung. 

Ditepi bibir kawah ternyata vegetasi cukup rapat sehingga sulit 
melihat ke dasar kawah yang saat itu juga berkabut. Diantara 
rimbunnya pepohonan dan ketika kabut tersibak, sesekali tampak dasar 
kawah Lesung yang hijau dan sekilas tampak seperti permukaan sebuah 
danau. Menurut pak Nyoman, biasanya yang turun ke dasar kawah adalah 
pemburu kijang, dan itu pun dilakukan saat musim kering. Tidak ada 
jalan menuju ke dasar kawah sehingga harus membuka jalur. I shall 
return!


Kirim email ke