Mas Puguh,
Sangat menarik ulasan Mas tentang Jatiluwih-Tamblingan. Saya malah pernah 
mencoba dan gagal dari arah sebaliknya, Danau Tamblingan-Jatiluwih, dan 
akhirnya lama tidak memikirkan jelajah ini sebelum saya baca catper Mas Puguh. 

Saya sendiri tinggal 25km dari Jatiluwih, tepatnya di Kota Tabanan, dan sudah 4 
kali mendaki Gunung Batukaru dari jalur yang berbeda, dan area kawah mati itu 
selalu membuat penasaran. Dan cerita mistis di area tersebut selalu menjadi 
bumbu dan penghambat karena tidak ada teman tracking yang tertarik diajak 
kesana :-(.

dan mungkin kalau suatu saat mas Puguh berencana kesana lagi, tega kiranya 
untuk halo2 ke saya.

salam,
made sutawijaya
bali


  ----- Original Message ----- 
  From: puguh_imanto 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, January 02, 2009 9:58 PM
  Subject: [indobackpacker] Bali: Napak Tilas Jatiluwih-Tamblingan, G. Lesung, 
dan Lubang Nagaloka


  AWALNYA...
  Inspirasi awalnya adalah dari gambar di wikimapia ttg Mount Lesong 
  (harusnya "Lesung") yang terletak di Selatan Danau Tamblingan. 
  Bentuknya menarik mata karena berupa kawah matinya bulat sempurna 
  dengan diameter sekitar 600-meter, dan ditengahnya tampak padang 
  rumput yang berbeda dengan vegetasi diluar kawah.

  Dari Bali street atlas keluaran Periplus, didapati bahwa Gunung 
  Lesung ini berhimpitan dengan point of interest bernama `Lubang 
  Nagaloka' (Istana Naga) 

  Waktu cari info di buku "Natural Guide to Bali", katanya ada jalur 
  tua antara Jatiluwih dan Danau Tamblingan. Jalur ini dahulunya 
  digunakan untuk perlintasan kuda para petani di daerah Jatiluwih yang 
  berada di Selatan untuk membawa kelebihan hasil panen mereka ke sisi 
  Utara Bali. Dari Utara mereka akan membawa hasil barter yang biasanya 
  berupa kopi. Konon Jatiluwih dinobatkan menjadi Unesco World Heritage 
  Site karena pola pembuatan sawah terasering dan sistim pengairan 
  subak.

  Cannot resist the temptation, jadilah saya membajak itenerary temen2 
  yang sudah duluan berencana ke Bali. Dan karena tema perjalanan 
  mereka adalah `Bali - off beaten path', dan belum punya fix itenarary 
  maka dengan senang hati saya mengusulkan napak tilas ini.

  Jalan menuju ke Jatiluwih dapat ditempuh melalui Tabanan - Wongaya 
  Gede - Jatiluwih. Disambung berjalan kaki antara Jatiluwih - Danau 
  Tamblingan, dan mampir di Gunung Lesung dan Lubang Nagaloka.

  WONGAYA GEDE...
  Untuk menambahkan `rempah-rempah' perjalanan, awalnya kami bermaksud 
  naik ke Gunung Batukaru. Jalur pendakian ke Gunung Batukaru bermula 
  dari Pura Luhur Batukaru. 

  Kami menginap di Prana Dewi Resort yang ok banget... bangunan 
  sederhana di tengah sawah. Namun setelah kesulitan mendapat guide 
  yang cocok dengan kami (cocok dengan kemampuan kantong maksudnya) dan 
  dari saran beberapa warga desa yang ketemu di jalan mengenai cuaca 
  yang kurang baik, kami memutuskan untuk tidak mendaki ke Batukaru, 
  tetapi cukup piknik makan pagi di Tukad Mawa yang airnya bening.

  Kami juga berkeliling Pura Luhur Batukaru. Menyenangkan melihat Pura 
  Luhur Batukaru dipagi hari, hanya untuk kami dan dua penjaga malam 
  pura. 

  Dengan kecepatan kami berjalan - dikemudian hari pak Suwi guide kami 
  di Jatiluwih bilang, kalo ini bukan `kecepatan berjalan' 
  tapi `kelambatan berjalan' - diperkirakan Batukaru baru bisa dicapai 
  dalam waktu 6 jam naik dan 4 jam turun. Rasanya keputusan yang tepat 
  untuk tidak naik ke Gunung Batukaru dan menyimpan tenaga untuk trek 
  keesokan hari.

  JATILUWIH KANGIN...
  Kami pindah ke Jatiluwih dengan mobil dari penginapan. Hanya ada satu 
  penginapan di daerah Jatiluwih, yaitu Galang Kangin Inn yang dimiliki 
  Bapak yang juga Pemangku Adat di desa tersebut, maka beliau lebih 
  dikenal sebagai "Pak Mangku"- sebuah panggilan kehormatan.

  Jatiluwih sendiri sedang dalam masa persiapan tanam padi, sehingga 
  sawah teraseringnya lebih banyak terlihat dipenuhi air dan petani 
  yang sedang membajak. 

  Entah waktu yang kurang tepat atau karena waktu kunjungan yang 
  singkat, buat saya pribadi rasanya sawah di Jatiluwih tidak istimewa 
  dibanding sawah di daerah Negara. Petaninya juga masih menggunakan 
  traktor sebagai alat bajak. Tetapi konon petani disini menanam 
  varietas asli Jatiluwih dan perlahan mereka kembali ke cara tanam 
  padi organik, tanpa pupuk buatan dan pestisida. Dan karena lokasinya 
  yang persis di kaki gunung memungkinkan air yang mengairi sawah belum 
  terkontaminasi oleh bahan anorganik dari sawah lain.

  Tampaknya keinginan untuk kembali ke pertanian organik melekat dengan 
  baik pada petani di Jatiluwih. Mereka sudah merasakan bagaimana pupuk 
  buatan dan pestisida telah meletakkan petani pada posisi tawar yang 
  lemah karena petani menjadi tergantung pada ketersediaan dan harga 
  pupuk yang berada diluar kendali mereka, dan perlahan tanah yang 
  menjadi miskin.

  Hal yang sama juga kami dapati di sekitar penginapan Prana Dewi di 
  Wongaya Gede. Butuh waktu lima tahun untuk mereka perlahan-lahan 
  kembali ke pertanian organik. Bahkan mereka sudah tidak menggunakan 
  traktor untuk membajak sawah dan kembali menggunakan sapi atau 
  kerbau. Memang hasil panen per luas tanah dan jumlah panen pertahun 
  menjadi turun, tapi buat para petani disini yang penting adalah 
  keberlanjutan kehidupan mereka. Tanah adalah alat produksi mereka 
  yang paling berharga, walaupun berarti mereka harus bekerja lebih 
  keras. Sebagai perbandingan, menggunakan pupuk urea cukup 50 
  kilogram, maka untuk luasan yang sama dengan pupuk organik mereka 
  membutuhkan 2-3 kuintal.

  Kalaupun ternyata jumlah beras yang diproduksi mereka nantinya tidak 
  mencukupi untuk memenuhi perut orang kota, maka mereka adalah orang 
  pertama yang memiliki beras. Dan dengan demikian mereka tidak 
  dipusingkan dengan kelangkaan pupuk anorganik.

  Oleh Pak Mangku kami dipertemukan dengan Guide kami, Pak Suwi. Konon 
  tinggal dua orang yang tahu persis jalur Jatiluwih - Tamblingan, dan 
  Pak Suwi adalah guide yang lebih muda.

  Entah kapan jalur kuda ini dibuat, yang pasti menurut guide kami, 
  jalur kuda ini berhenti dipergunakan pada tahun 1945. Aslinya, jalur 
  kuda ini bermula di desa Soko menuju ke Gesing di Utara. Desa Soko 
  sendiri berada sekitar 1 km dari Jatiluwih Kangin.

  Sekarang sudah sulit membedakan Jalur Kuda ini karena sebagian sudah 
  menjadi kebun warga dan yang melintas hutan sudah tertutup tanaman 
  dan kayu tumbang.

  Kami mulai berjalan sekitar pukul 8 pagi melintasi kebun kopi milik 
  warga yang sudah tidak produktif lagi. Pohon kopinya sudah terlalu 
  tua, kata pak Suwi. Pisang, nangka dan tanaman keras lainnya banyak 
  mendominasi kebun didaerah ini. Setelah sekitar satu jam berjalan, 
  kami mulai masuk ke hutan. Sebelum masuk ke hutan, Pak Suwi 
  menunjukkan pohon semak yang disebut dalam bahasa lokal `Leteng'. 
  Bentuknya jinak, tapi kalo sampai kena di kulit menimbulkan rasa 
  panas. Juga obat pengusir serangga dioleskan di kaki untuk mengurangi 
  minat pacet untuk nempel. 

  Pada dasarnya kami berjalan melintas di kaki beberapa gunung. Awal 
  perjalanan jalur lebih banyak mendaki dengan kemiringan yang tidak 
  terlalu terjal menuju puncak Puun. Disebelah kiri kami tampak gunung 
  Batukaru dan disebelah kanan kami tampak Gunung Sanghyang. Setelah 
  melewati puncak Gunung (Bukit) Puun, disebelah kiri kami mulai tampak 
  Gunung Pucuk.

  Ditengah jalan, di tempat kami istirahat makan siang terdapat sumber 
  air yang dialirkan melalui pipa paralon. Praktis kami tidak melewati 
  sungai yang mengalir selama perjalanan. Kami sempat berpotongan 
  dengan bekas jalur kuda sepanjang beberapa ratus meter. Jalur kuda 
  tersebut berada di pinggir bukit sehingga dapat dikenali dari 
  potongan bukit yang lebarnya sekitar 3 meter.

  Pukul 4sore kami keluar dari hutan dan bertemu dengan pemangku 
  setempat yang sedang berdoa di pura kecil. Persis di pinggir hutan 
  ini terdapat kebun markisa milik warga. Menurut pak Mangku pemilik 
  kebun tersebut sudah pindah tempat tinggal sehingga niat baik kami 
  untuk membeli markisa segar tidak terlaksana. Terpaksalah kami minta 
  kepada pemiliknya - in absentia tentunya .

  Kami kembali berjalan diantara kebun penduduk, namun didaerah ini 
  kebun didominasi oleh markisa, bunga untuk rangkaian, jeruk mandarin 
  dan perlengkapan sop-sopan. Dahulu daerah ini terkenal dengan 
  kopinya, namun sekarang tanahnya sudah terlalu miskin untuk kopi 
  sehingga komoditi ini ditinggalkan.

  Sekarang kami berjalan di sisi kiri Gunung Lesung. Kami juga melewati 
  percabangan ke jalan kecil menuju bibir Gunung Lesung. Besok saya 
  harus kembali kesini.

  MUNDUK - TAMBLINGAN...
  Kami menginap di Pondok Wisata di Desa Munduk yang dikelola Bu 
  Sulastri. Malamnya susah tidur karena kaki terasa perih, panas, dan 
  gatal. Perpaduan antara akibat dari besetan alang-alang, daun leteng, 
  dan bekas gigitan lintah. Melalui Bu Sulastri, saya diperkenalkan ke 
  pak Nyoman yang biasa mengantar tamu ke Gunung Lesung.

  LUBANG NAGALOKA DAN GUNUNG LESUNG...
  Besok paginya saya bersama Pak Nyoman berangkat mengulang jalan 
  kemarin sampai ke pertigaan menuju Gunung Lesung.

  Seperti yang sudah kami dengar semenjak di Jatiluwih, yang dimaksud 
  Lubang Nagaloka bukanlah kawah mati Gunung Lesung, tetapi goa 
  vertikal dengan diameter sekitar 7- 10 meter yang terletak 
  dipertengahan jalan menuju puncak Gunung Lesong. Dalamnya? Saya tidak 
  ingin mencoba tahu. Serem euy! Saya sendiri berhenti kurang lebih 25 
  meter dari mulut gua karena semakin curam. Menurut Pak Nyoman, 
  terkadang terasa ada udara berhembus dari mulut gua, yang dipercaya 
  terhubung dengan gua di daerah Labuan Aji dekat Lovina di Utara Bali.

  Saya berbalik arah untuk kembali berjalan menuju ke puncak Gunung 
  Lesung, tepatnya bibir kawah lesung. 

  Ditepi bibir kawah ternyata vegetasi cukup rapat sehingga sulit 
  melihat ke dasar kawah yang saat itu juga berkabut. Diantara 
  rimbunnya pepohonan dan ketika kabut tersibak, sesekali tampak dasar 
  kawah Lesung yang hijau dan sekilas tampak seperti permukaan sebuah 
  danau. Menurut pak Nyoman, biasanya yang turun ke dasar kawah adalah 
  pemburu kijang, dan itu pun dilakukan saat musim kering. Tidak ada 
  jalan menuju ke dasar kawah sehingga harus membuka jalur. I shall 
  return!



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG. 
  Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.10.2/1871 - Release Date: 1/1/2009 
5:01 PM


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke