Kamis, 1 Januari 2009 Happy New Year! Selamat tahun Baru!
Pergantian tahun di Pulau Penang berjalan dengan meriah. Sekitar jam 8 malam kita jalan2 ke sepotong lorong (lane) yang dipenuhi oleh bar2. Lane ini terletak pas di depan hotel E&O. Yang saya ingat namanya cuma Slippery Senoritas dan Mois, karena kedua bar ini yang paling rame. Lagu2 techno menggema dari setiap bar, hujan gerimis tidak menghalangi para party-goers yang berdandan funky abis untuk nongkrong di depan bar yang menyediakan meja-kursi di tengah jalan. Karena usia kita berdua udah gak pantes ikut dugem lagi, kita lanjut lagi jalan ke Fort Cornwallis. Sepanjang jalan orang2 berduyun-duyun memenuhi trotoir, semua tujuannya sama, ke Fort! Lapangan rumput luas di depan Town Hall sudah dipenuhi manusia, kebanyakan keluarga, mereka duduk2 di rumput sambil mendengarkan band PAS di atas panggung di depan Town Hall. Band menyanyikan beberapa lagu, termasuk lagu yang tentang kekasih gelap itu lho, sapa sih penyanyinya, saya lupa. Kita berjalan kaki memutari lapangan, di tiap sudut ada food court, halah Penangites emang gak bisa jauh2 dari makanan ada kebab, nasi goreng, satay, mee goreng, pasembur (ini gorengan ala India), rojak, hamburger, nasi lemak, nasi kari, dan berbagai minuman, ada kelapa muda, sirup, air limau, soft drink, lengkap deh, 4 sehat 5 sempurna. Saat layar lebar di depan panggung menunjukkan jam 23:59:55, seluruh massa kompak menghitung mundur detik2 pergantian tahun 5, 4, 3, 2, 1, Happy New Year! BOOM! Kembang api buesar meluncur dan menyebar di angkasa, rasanya berjarak dekat sekali di atas kepala kita, kita perhatikan serpihan sisa2 kembang api meluncur turun dan menyentuh pucuk2 pohon besar yang mengelilingi lapangan. Lokasi peluncuran kembang api ada di parit kering di depan gerbang masuk Fort Cornwallis, makanya jarak ledaknya rendah dari permukaan tanah. Hampir 5 menit kuntum demi kuntum kembang api merekah di angkasa, merah, hijau, kuning, biru. Kita semua terpukau, hanya mampu ber ooh dan aah larut dalam kegembiraan, semua orang berdalam-salaman menngucapkan Happy New Year! Yeah, Penang rocks, man! Usai menyaksikan pertunjukan kembang api, kita pulang jalan kaki ke Hutton Lodge. Kembali kita bersalaman dengan resepsionis Nar, puan Melayu gendut dan selalu tersenyum lebar berseri-seri, juga dengan Ahmad, bujang melayu semampai bagian housekeeping yang selalu bersarung ria, dan Nathan, resepsionis India yang gaya fashionnya masih terjebak di era 70-an (rambut jambul di depan, panjang di belakang, pake ikat pinggang putih dengan kaos ketat tangan panjang) dan juga bersalaman dengan cook yang kita lupa namanya, seorang chinese yang selalu mengenakan bandana di kepala. Jam satu pagi kita rehat ke kamar, di luar para Penangites masih terdengar sibuk merayakan tahun baru, deru mobil dan motor sibuk berklakson ria sambil ngebut di jalan. Pagi hari kita bangun dan mulai mengepak koper, tepat jam 10 taksi kita sudah datang, supir taksi perempuan India separuh baya yang ramah sekali membantu memasukkan koper ke bagasi mbil. Dalam waktu 40 menit kita sudah sampai di Penang International Airport. Check in di AirAsia conter, terus nongkrong di departure lounge, tepat jam 11.30 kita boarding. Waktu penerbangan hanya satu jam, kita tiba di Senai Airport Johor Bahru. Ambil bagasi, terus jalan kaki menyusuri airport yang sedang dalam proses ekspansi, nantinya airport ini akan lebih modern dan bakal ada mall yang lebih besar lagi. Waktu keluar gerbang airport, ada security yang rada2 diskrimasi, mereka menyetop beberapa orang dan menyuruh bagasinya di X-ray. Kita perhatikan ada pria yang berpenampilan sangar membawa backpack di stop, terus keluarga yang bawa koper segede gajah juga dibongkar bagasinya. Kita gak di stop, penampilan kita mungkin jujur dan patut tidak dicurigai kali yee Lanjut ke terminal bus antar kota yang berjarak 3 menit jalan kaki, kita beli tiket Causeway link seharga RM8. Bus berangkat jam 14.00, 45 menit kemudian kita tiba di City Lounge Johor Bahru. Hujan turun deras, kita celingukan bingung mencari bus yang akan membawa kita melintas ke Singapura. Tanya punya tanya, akhirnya kita naik bus nomor 170, tiket RM 1.80 (uang pas yah, gak ada kembalian). Tiba di gedung imigrasi Johor bahru, kita naik escalator ke atas, ngantri untuk cap paspor, terus turun escalator, naik bus no 170, bayar lagi RM 1.80, terus melintas jembatan yang menghubungkan Johor Bahru dengan Singapura. Sampai di gedung imigrasi Singapura yang ramai banget, kita isi lembar arrival/departure, ngantri untuk cek paspor. Eh ternyata cap dari imigrasi Johor Bahru menimpa cap arrival Malaysia, sempat ada diskusi antara petugas, akhirnya saya dibolehkan lewat. Dari imigrasi Singapura, kita naik bus lagi, CW2, ongkosnya SGD 2.40, non-stop sampai Queen Street. Aduh ternyata repot banget dari JB ke SIN. Kenapa yah gak dipermudah lintas darat M'sia-S'pore? Mbo'yao dibangun satu saja terminal arrival/departure di perbatasan JB & SIN, jadi gak usah pake acara naik turun bus, apalagi kalau bagasi kita banyak, halah, bikin tangan kram dan napas ngos2an Eniwei, kita sampai di hotel tepat jam 5 sore dengan naik taxi dari Queen Street, gak jauh ternyata, cuma SGD 7an. Check-in di Classique Hotel, istirahat sebentar, terus kelayapan lagi nyari makanan. Ada food court di depan hotel Shing yang hanya berjarak beberapa langkah dari hotel, jadi kita ngedeprok di sana sampai bosen Hmmm ke mana lagi yah .yo wis kita sepakat mau ke Borders di Orchard. Kita naik MRT dari stasiun terdekat dari hotel kita, Farrer Park, tiba di Stasiun Dhoby Ghaut kita ganti MRT ke jalur North- South yang merah, lalu lanjut ke stasiun Orchard. Yess MRT S'pore memang top banget!!!! Gak pake macet, ngantri teratur, semua jalurnya jelas terpampang di papan di tiap platform, gak mungkin nyasar! Udah gitu kita bisa exit di berbagai point, jadi mempercepat perjalanan dan gak usah cape2 nyebrang jalan. Abis dari Borders, cape banget, pulang naik MRT, terus masuk hotel dan zzzzzzz . Jumat, 2 Januari 2009 Bangun pagi, sarapan telor rebus dan toast, terus nongkrong di kamar sambil ngerapiin oleh2 yang udah numpuk. Hmmmm kayaknya butuh koper baru nih Kita ada janji lunch sama editor majalah Scubadiver, David, dia temen lama si Patrick, dan David udah lama tinggal di Singapura, Inggrisnya aja udah berlogat Singlish lho! Aneh banget lihat bule ber-loh dan lah dan leh David membawa kita ke foodcourt di samping Mustafa Centre, katanya ada makanan Afrika enak banget di sana. Terhidanglah 2 piring nasi putih dengan black-eyed peas rebus, 2 potong ayam goreng, dan semangkuk kari merah yahg pedes2 manis tapi gurih. Enak bo, yang masak pun beneran orang Afrika, dari West Africa katanya. Puas makan, kita muter2 di Mustafa Centre lagi, saya beli sabun sandalwood yang lucu2 bungkusnya, Patrick beli berkotak-kotak tooth powder, yang sudah terbukti sukses menghilangkan noda nikotin di giginya. Saya juga beli koper baru, anting2 India, body moisturizer, body spray sandalwood dan sandal manik2 India. Ternyata hari sudah gelap begitu kita keluar dari Mustafa. Hmmm dinner ke mana yah ke Shing food court lagi ah beres makan kita naik MRT ke Orchard. Tujuan kita kali ini adalah Kinokuniya di Takashimaya. Ada buku yang gak ketemu di Borders, George Orwell `Down and Out in Paris and London', dan Siri Huvstedt `The Blindfold'. Toko buku Kinokuniya memang super lengkap, 2 buku itu langsung ketemu! Hah senengnya . Asik sekali menjelajah toko ini, ribuan buku dari segala genre ada. Saya mentok di bagian Literature sementara Patrick ngendon di bagian War/History. PA beberapa kali mengumumkan Kinokuniya tutup jam 9.30, maka kita pun buru2 ngantri di kasir. Eh perut lapar lagi saya ingat ada food court sesudah Robinson, cari punya cari, ternyata masih buka. Pesan nasi goreng dan mi bakso ikan. Nyam nyam Kenyang makan, pulang naik MRT, dan dalam waktu 35 menit kita sudah sampai di hotel. Benar2 efisien! Murah lagi! Cuma abis SGD 3 dari Orchard ke Farrer Park bol-bal. Bobo dulu ah besok mau ke AMC, ada pameran foto2 jadoel. Sabtu, 3 Januari 2009 Kali ini kita serius bangun pagi, karena jadwal kita padat (ACM, Kino, Carl's). Pertama kita mau ke Asian Civilisations Museum. Tengoklah websitenya: www.acm.org.sg untuk tahu cerita museum yang berlokasi di Empress Building ini. Naik MRT dari Farrer Park ke Dhoby Ghaut, terus ganti ke jalur NS, terus lanjut sampai ke Raffles Place. Kita nongol di Six Battery Building. Wah indahnya pemandangan di depan mata sungai Singapura, Hotel Fullerton di kanan, deretan restoran di Boat Quay di kiri. Nyebrang jembatan Cavenagh (1870 ), sampailah kita di museum yang teduh ini. Bayar tiket masuk SGD 5, terus perlahan-lahan kita menyusuri galeri demi galeri, total ada 8. Lighting di tiap display bener2 super yahud, cukup dengan spotlight mini tapi kuat, mampu menerangi objek yang diperagakan dan membuat suasana remang2 di tiap galleri elegan, gak bikin bosen bo... Dengan kamera Lumix FX10 saya yang imut, saya berhasil mengambil beberapa gambar yang lumayan bagus. Ada bros bertatah pink rubies, sandal manik2 dan gantungan kunci penuh bling2 Peranakan style, ada hiasan kepala pengantin, tempat sirih dari emas, gamelan lengkap, cerita wayang, ondel2 cina, dan masih banyak lagi. Tujuan utama kita ke ACM adalah pameran foto2 monochrome yang tersisa dari studio Lafayette di London. Ada bangsawan India dan Malaysia, fashionista/sosialita, dan politikus. Di antara foto2 yang terpajang adalah: Oei Tiong Ham, Oei Hui Lan dan Wellington Koo (suami Oei Hui Lan). Cantik2 foto jadoel ini, apalagi baju2nya. Kayaknya saya lahir di jaman yang salah, karena saya punya hasrat kuat untuk selalu berdandan ala 1920s yang glamor flapper, dengan bulu2 burung unta menghiasi kepala berambut bob pendek...halah bisa jadi tontonan orang ntar! Di akhir pameran ini, ada layar TV yang menerangkan betapa susahnya mengambil foto di jaman dulu. Ngatur gaya aja bisa berjam2, belum lagi saat kamera mengambil gambar, gak bisa instant seperti sekarang, posisi apalagi ekspresi muka harus di tahan, gak boleh goyang2. Makanya ada kerangka besi yang fungsinya menahan posisi tubuh biar hasil gambar tidak kabur gara2 bergerak. Nah kerangka besi ini nantinya bisa di `hapus' dari foto akhirnya, jadi jaman dulu udah ada retouching juga yah! Puas ngiterin ACM, kita makan di food court di gedung seberang Battery Building. Saya makan bubur Hongkong (SGD 4.50), Patrick makan laksa Khucing (SBD 8). Terus lanjut lagi naik MRT ke Orchard, dan kita nongkrong di Kinokuniya sampai malam Dinner di Plaza Singapura (dari stasiun Dhoby Ghaut tinggal naik tangga aja), kita makan junk food dari Amerika., Carl's Jr haduh perut nyaris meletus makan burger, French fries, fried zucchini dan coca-cola sepuasnya . Teler dah terkapar di Shing food court lagi nongkrong nonton film Singapura `The Maid' di TV channel 8. Hiih serem ceritanya, bagus banget sinematografinya lho! Ada yang punya DVD-nya gak? Kita gak sempet nonton akhir ceritanya karena channel diganti ke sepak bola Minggu, 4 Januari 2009 Pesawat kita dari Batam berangkat jam 13.20, jadi tepat jam 9 kita udah sampai di Harbour Front. Beli tiket feri di lantai 3, kita dapat yang jam 10.30, tujuan Harbour Bay di Batu Ampar. Check-in bagasi, eh ada excess baggage, terpaksa deh bayar SGD 6 untuk kelebihan berat 15 kg . maksimum 20 kg per orang. Tepat jam 10.30 feri berangkat, jam 10.45 WIB kita tiba di Batam. Ingat ada perbedaan waktu 1 jam antara Batam dan Singapura lho. Pada ngambil bagasi sendiri begitu turun feri yah, jangan percaya sama orang2 feri yang nyuruh kita nunggu bagasi di depan, ntar dimintain duit buat jasa porter lho. Naik taxi Rp. 90.000 ke airport. Jam 11.30 kita sudah sampai di bandara, check-in bagasi di counter Mandala, yah kena excess baggage lagi, tapi kali ini kita berhasil nego dari 15 kg menjadi 1 kg aja biaya excess baggage Rp. 20.000 per kg. Makan siang di bandara, terus jam 12.30 kita boarding, tepat jam 13.20 pesawat berangkat. Akhirnya perjalanan kita usai, liburan telah selesai. Sedih campur bahagia, sedih karena kudu balik kerja (hiks!), bahagia karena sudah mendapat pengalaman jalan2 ke tempat baru. Ini perjalanan yang asik, seru, lucu, bikin pinggang tambah lebar (hmmm Penang char kwey teow!), kaki tambah berotot, otak tambah bejibun dengan sejarah, in one word, AAAAAAwesome! Salam dari duo traveler, Elly (lagi di Batavia) en Patrick de yankee-doodle-dee Soerabaia
