http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/05/00144820/situs.majapahit.d
irusak.pemerintah

Peninggalan Bersejarah
Situs Majapahit Dirusak Pemerintah
Senin, 5 Januari 2009 | 00:14 WIB
Mojokerto, Kompas - Situs Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, 
Jawa Timur, sengaja dirusak pemerintah. Di bekas ibu kota Kerajaan 
Majapahit peninggalan abad ke-13 hingga ke-15 tersebut sedang dibangun 
Trowulan Information Center atau Pusat Informasi Majapahit seluas 
2.190 meter persegi.

Peletakan batu pertama dilakukan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 
Jero Wacik, 3 November lalu. Meski dalam perjalanannya ditemukan 
sejumlah peninggalan bersejarah, seperti dinding sumur kuno, gerabah, 
dan pelataran rumah kuno, hal itu tak dihiraukan. Tanah terus digali 
dan benda bersejarah itu dijebol untuk pembangunan sekitar 50 tiang 
pancang beton Pusat Informasi Majapahit (PIM).

Berdasarkan pantauan pada Minggu (4/1), di beberapa titik, fondasi 
dari campuran batu kali dan semen telah berdiri di parit-parit galian 
di situs bersejarah itu. Fondasi tiang beton juga sudah berdiri di 
beberapa titik. Di sekitarnya, batu bata kuno berukuran besar dan 
berwarna kehitaman peninggalan zaman Majapahit dibiarkan berserakan.

Wakil Bupati Mojokerto Wahyudi Iswanto saat dikonfirmasi hari Minggu 
mengatakan, pembangunan PIM sepenuhnya proyek pemerintah pusat. Pemkab 
Mojokerto dalam hal ini sekadar mengikuti apa yang menjadi keinginan 
dan kebijakan pemerintah pusat.

Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa 
Timur I Made Kusumajaya mengakui bahwa metode pembuatan fondasi dengan 
cara menggali tanah memang semestinya tidak dilakukan karena akan 
merusak situs sejarah dalam jumlah banyak. Sekalipun begitu, ia 
memastikan sejumlah cor beton maupun batu kali yang sudah terpasang 
untuk fondasi tidak akan diangkat lagi.

Untuk pembangunan selanjutnya akan digunakan sekitar 50 tiang pancang 
beton berdiameter 50 sentimeter yang akan dipasang dengan cara dibor, 
bukan dengan hydraulic hammer (pemukul tiang pancang beton) untuk 
meminimalkan kerusakan situs bersejarah.

Merusak atau kerusakan situs sejarah yang ditimbulkan dari pembangunan 
PIM yang merupakan bagian dari Taman Majapahit (Majapahit Park), imbuh 
Made Kusumajaya, memang tak bisa dihindari. "Semua itu untuk mencapai 
tujuan Majapahit Park sebagai sarana edukatif dan rekreatif," kata 
Made Kusumajaya.

Cungkup Surya Majapahit

Majapahit Park adalah proyek untuk menyatukan situs-situs peninggalan 
ibu kota Majapahit di Trowulan dalam sebuah konsep taman terpadu. 
Tujuannya untuk menyelamatkan situs dan benda cagar budaya dari 
kerusakan serta untuk menarik wisatawan.

PIM sendiri nantinya akan berupa bangunan berbentuk bintang bersudut 
delapan yang disebut Cungkup Surya Majapahit, lambang Kerajaan 
Majapahit.

Rencananya, di bawah Cungkup Surya Majapahit itu akan dipamerkan 
sejumlah koleksi PIM yang belum banyak terekspos. Pengunjung juga bisa 
berjalan di atas ubin kaca dan melihat langsung struktur bangunan 
Majapahit yang berada di bawahnya.

Lebih dahsyat

Kepala Museum Trowulan Aris Soviyani mengatakan, kerusakan situs 
Trowulan akibat industri rakyat pembuatan batu bata justru jauh lebih 
hebat. "Selama bertahun-tahun, tak ada solusi terhadap persoalan itu," 
ujarnya.

Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen 
Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan, sekitar 6,2 hektar lahan di 
situs Trowulan rusak setiap tahunnya untuk pembuatan batu bata rakyat.

Masyarakat menggali tanah untuk pembuatan batu bata karena tak ada 
penghasilan alternatif. Masyarakat juga berharap saat menggali tanah 
bisa menemukan benda-benda bersejarah yang kemudian bisa dijual.

Secara terpisah Made Kusumajaya mengatakan, selama berpuluh-puluh 
tahun, situs sejarah Majapahit seolah hanya menjadi milik komunitas 
arkeolog. Situs itu hanya digali dengan metode tertentu untuk kemudian 
ditutup lagi dengan alasan konservasi.

Ia menekankan, sebagai seorang arkeolog, dia tidak bisa terlalu 
egoistis dengan keinginan tunggal untuk tetap terus mempertahankan 
situs sejarah itu tidak diketahui orang banyak.

Tiru proyek Borobudur

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef yang pernah 
memimpin proyek UNESCO memugar Candi Borobudur, yang ditemui Minggu, 
menyesalkan adanya pembangunan fisik yang merusak situs Trowulan. 
"Trowulan merupakan salah satu bukti kita memiliki nenek moyang dengan 
peradaban tinggi tidak kalah dengan bangsa-bangsa di Eropa," katanya.

Menurut Joesoef, seharusnya pola konservasi Borobudur yang menggandeng 
UNESCO dapat diterapkan untuk Trowulan. Proyek Borobodur tahun 1978-
1983 yang didukung UNESCO mampu mengalahkan usulan proyek konservasi 
Mohenjo Daro di Pakistan dan konservasi Venesia, Italia, kala diajukan 
dengan serius oleh Pemerintah Indonesia.

Proyek Borobudur didukung penuh Pemerintah Belanda, Jepang, Perancis, 
Jerman, dan negara-negara Eropa lain.

Meskipun demikian, Joesoef menyayangkan perawatan Borobudur yang 
diganggu kepentingan bisnis dan individu.

Sesuai ketentuan UNESCO, kata Joesoef, kawasan sekitar Borobudur 
dibagi dalam tiga ring pelestarian. Kini dalam ring satu sudah ada 
bangunan milik seorang perempuan pengusaha. Sejumlah menara pemancar 
telepon seluler juga dibangun di kawasan sama.

"Jangan sampai status warisan dunia dicabut oleh UNESCO karena kita 
dinilai tidak bisa dipercaya. Kalau sudah begini, bagaimana mau 
merawat situs Trowulan dan mendapat kepercayaan internasional," kata 
Joesoef yang awal dekade tahun 1970-an melobi UNESCO di Paris untuk 
menyelamatkan Borobudur.

Setelah sukses memugar Borobudur, kata Joesoef, Indonesia dipercaya 
untuk membantu pemugaran kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja. Ketika 
itu para arkeolog Indonesia disegani di kalangan dunia internasional.

Situs Trowulan tersebut memiliki tarikh Masehi yang sama dengan Istana 
Louvre di Paris, yakni sekitar abad ke-12 Masehi hingga ke-14 Masehi. 
Kini di atas situs Trowulan dibangun megaproyek yang menutup areal 
ekskavasi arkeologi Majapahit yang menjadi bukti kebesaran nenek 
moyang bangsa Indonesia.(DHF/INK/ONG)



Kirim email ke