Cerita Tiga Kota

Luang Prabang – Phonsavan – Vang Vieng :

Kerikil Bom dalam Sepatu Laos

oleh Yudhi Widdyantoro

 

 

            Hujan mengiringi perjalanan malam saya dari Vientiane ke Luang
Prabang. Dari bis VIP ber-AC yang tidak terlalu penuh penumpang, tidak
terlihat pemandangan Laos - negara termiskin di wilayah Asia Tenggara yang
bersama Vietnam dan Kamboja pernah berubah menjadi ladang pembantaian dalam
perang Indochina. Karena gelap, di luar jendela bis, perjalanan yang
menempuh 11 jam tidak memberikan kesan sisa-sisa kerusakan akibat perang
yang menewaskan jutaan manusia mati sia-sia. 

 

Luang Prabang

            

Hari masih gelap sesampai saya di Luang Prabang. Hujan yang belum berhenti
seperti memberi ucapan selamat datang di kota tua yang tertata dengan baik,
dan merawat “ketuaanya” dengan sepenuh hati. Saya pinjam payung dari ibu
pemilik Choumkong guesthouse yang diklaim buku lonely planet sebagai yang
mempunyai kloset terbersih di seluruh kota. Pagi itu saya mulai dengan minum
mix juice di café tepi sungai Mekong. 

 

Seiring hujan yang mereda, sinar matahari mulai menombaki meja-meja deretan
café sepanjang sungai yang menerobos dari celah-celah dedaunan. Lamat-lamat
mulai tampak fisik kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan jaman
monarki. Dihadapan saya terbentang pemandangan menawan: bangunan beraroma
kolonial Perancis yang menjadi restoran dan guesthouse, bergantian menyembul
dengan biara-biara tua buddhist dengan arsitektur khas Indochina. Mulai
banyak orang lalu-lalang memikul keranjang. Sambil tersenyum, terkadang
disertai anggukan kepala atau badan merunduk serta telapak tangan terkatup
di depan dada sebagai tanda hormat, mereka menyapa: “sabaii-dii,
sabaii-dii…”. Saya tersadar bahwa Luang Prabang yang menjadi tujuan utama
datang ke Laos seperti menyilakan saya untuk segera dieksplorasi.  

 

Menyusuri sedikit jalan di pinggir sungai, saya berbelok melalui jalan kecil
yang tersusun dari batu bata merah untuk masuk ke Royal Palace Museum,
sebuah museum yang memiliki kebun bunga asri dan luas, tempat dulu pusat
kekuasaan monorki berjalan. Sejak memasuki halaman, sudah terasa bahwa
bangunan itu menyimpan sisa kemegahan masa lalu. Arsitekurnya adalah paduan
antara motif tradisional Laos dan bergaya seni Perancis. Setelah membayar
tiket sebesar 30.000 kip (1 US$ = 8.500 kip), saya mulai menyambangi setiap
ruang tempat dimana raja-raja Loas dulu tinggal sebelum mengungsi atas
desakan Pathet Lao, sayap militer perjuangan rakyat Loas berhaluan Marxist
yang semakin kuat pada dekade 70-an. 

 

Tepat di tengah bangunan utama adalah singgasana raja yang terbuat dari
emas. Dengan tetap memberikan kedudukan terhormat pada pendeta buddhist
sebagai penasihat spiritual, ada meja tempat duduk pendeta yang sedikit
lebih rendah dan diletakkan hanya beberapa langkah dari kursi raja. Selain
kamar tidur keluarga raja, sebagian besar ruangan adalah tempat menyimpan
benda-benda peninggalan dinasti kerajaan selama berkuasa, seperti pada
umumnya alihfungsi istana yang telah dibuka untuk publik pariwisata di masa
demokrasi modern menggantikan raja-raja. Bagi masyarakat lokal museum ini
adalah bangunan yang menyeramkan. Mereka mempercayai sering terjadi
penampakkan arwah keluarga raja. 

 

Masih dalam kompleks istana, di bangunan yang terpisah bagian belakang
adalah tempat menyimpan koleksi mobil-mobil raja dengan tahun pembuatan yang
paling baru adalah Crysler tahun 1965. Ada empat mobil semuanya dengan
peruntukan yang berbeda. Hampir sejajar dengan museum mobil, di bangunan
yang lain adalah function hall yang ketika saya kunjungi sedang berlangsung
pameran foto hitam putih karya fotografer dari Perancis tentang kehidupan
rahib buddhist dalam biara. 

 

Sambil mencari makan siang hari, saya menyusuri jalan utama yang pararel
dengan sungai Mekong. Pengaruh Perancis yang pernah berkuasan di Indochina
ini masih terasa dengan kuat. Setiap memasuki jalan baru, akan tertulis kata
rue di penunjuk nama jalan yang artinya jalan dalam bahasa Perancis. Dari
bangunan, utamanya untuk restoran dan menjual kerajinan, aroma Perancis
masih kental tercium. Demikian juga makanan, akan dengan mudah sekali
mendapatkan baguette, roti panjang khas Perancis. Di restoran kecil depan
vihara Wat Xieng Thong yang dipenuhi penduduk lokal saya makan noodle soup
dengan porsi yang jumbo. Selesai makan saya segera memasuki kompleks vihara
yang dibangun pada 1560. Walaupun berusia hampir 500 tahun, namun vihara ini
masih berdiri dengan kokoh, termasuk juga fresco atau mural yang
merepresentasikan ajaran Buddha di dinding dan langit-langit, masih nyata
terlihat. Bukan hanya dhammasala, bangunan utama untuk meditasi dan
persembahyangan yang terawat dengan baik, namun bangunan lain di dalam
kompleks, seperti kuti atau tempat tinggal bhikku, pendeta dan rahib juga
masih asri dan bersih. Terik matahari menggiring saya untuk mencari
keteduhan di bawah rindang pohon bodhi di depan dhammasala sambil mengagumi
keindahan bangunan yang terawat baik di hadapan saya itu, atau bergantian
duduk di bawah atap vihara sambil memandangi daun-daun pohon bodhi yang
bergerak oleh angin.

 

Menjelang sore saya menapaki anak-anak tangga menuju vihara Phousy yang ada
di puncak bukit. Dari seberang Royal Palace, anak tangga pertama bisa
dimulai di pintu masuk ini, gratis. Pada anak tangga ke-105 baru ada petugas
yang meminta membayar tiket sebesar 20.000 kip untuk sampai ke puncak bukit.
Viharanya ada di atas tanah datar yang tidak terlalu luas, setelah kita
menyelesaikan anak tangga yang berjumlah 300. Rasa lelah dan kesal menaiki
bukit, segera terbayar oleh pemandangan indah seluruh kota. Susunan atap
biara-biara yang selalu berjumlah ganjil, umumnya tiga atau lima, memberi
impresi yang sangat menarik bila dilihat dari atas dan di kejauhan. Di
halaman vihara ini kita akan mendengar beragam bahasa yang dituturkan
pengunjung yang datang dari bermacam bangsa. Mereka sama-sama menanti
matahari tenggelam. Udara sedikit mulai dingin oleh hembusan angin. Tidak
ada peristiwa dramatis, tapi sekadar terpesona pada hal ihwal di sekitar
kita, bahkan pada yang remeh-temeh.  

 

Sebelum gelap menghalangi jalan turun, saya menapaki anak tangga menuju
pasar malam di sepanjang jalan di bawah bukit Phousy ini. Sesampai di bawah,
seluruh badan jalan sudah dipenuhi lapak-lapak barang dagangan, hanya
menyisakan selebar badan orang untuk berjalan. Pasar malam sifatnya seperti
festival, mempertemukan beragam latar belakang juga kepentingan, antara
penjual dan pembeli, turis berduit pemborong cendera mata, pengelana miskin
seperti saya, backpackers yang sekadar ingin tahu, tentu ada fotografer
pemburu momen, ada juga penjudi yang beradu  permainan ketangkasan, tapi
yang jelas semua ingin kegembiraan. Tidak hanya di badan jalan, lapak juga
merambah masuk ke halaman kompleks biara di sekitar istana. Para rahib
buddhist tidak ketinggalan membuka stand untuk sekadar mendapatkan donasi.
Di gang sedikit becek dan dipenuhi oleh pedagang makanan, saya menyantap
dengan nikmat ikan bakar bersama Lao vegetable salad dan sedikit ketan,
serta menutup makan malam dengan sebotol kecil beer lao, salah satu beer
yang paling enak yang pernah saya minum. Makanan asli Laos pada umumnya
hampir mirip rasanya dengan makanan Vietnam atau Thailand. Demikian juga
cara penyajiannya.

 

Pagi berikutnya, jam lima dinihari saya sudah menunggu di pinggir jalan
untuk menyaksikan prosesi pindapata, ketika 325 pendeta dan rahib buddha
yang masih muda-muda, dengan jubah warna kuning kunyit separuh bahu terbuka
berjalan mengumpulkan derma makanan dari penduduk. Di pinggir jalan, kaum
perempuan sudah menunggu dengan keranjang berisi ketan untuk diisi ke
mangkuk-mangkuk metal yang dibawa orang-orang suci tersebut. Dalam diam dan
langkah yang pelan, mereka para rahib buddha mendapat makan untuk konsumsi
sampai siang hari, begitu setiap harinya. Prosesi itu dimulai dari Wat Xie
Thong menyusuri jalan utama ke arah Royal Palace dan kembali ke biara
melewati jalan lain yang paralel dengan sungai Mekong. Saya pikir tidak
salah kalau UNESCO memasukkan Luang Prabang masuk dalam daftar warisan
dunia.

 

Sambil jalan kembali menuju guesthouse, saya berhenti pada satu rumah yang
pemiliknya, seorang ibu tua yang masih menyisakan garis kecantikannya sedang
membeli panganan dari pedagang keliling. Banyak sekali makanan yang dijual
itu sama persis dengan kue jajan pasar daerah Jawa: ketan hitam yang
ditaburi kelapa parut dan gula pasir, ongol-ongol, gemblong, dan kue lapis
pandan. Beruntung ibu itu masih berbahasa Perancis dengan baik, sementara
bahasa Perancis saya sudah banyak lupa, tapi lumayan dapat membantu dalam
berbelanja untuk sarapan pagi saya. Kue jajan pasar itu saya bawa ke warung
angkringan di pasar pinggir sungai dekat kapal-kapal ditambatkan. Warung itu
menjual kopi dan teh serta makanan ringan. Seperti di Thailand dan Vietnam,
cara menyajikan kopinya dengan menuangkan kopi kental yang telah diseduh
dengan air panas terlebih dahulu ke dalam gelas yang berisi susu kental
manis. Mantab sekali rasanya sarapan pagi saya itu sebagai bekal energi
mulai melakukan tour kreasi sendiri dengan sepeda yang saya sewa dari
pemilik guesthouse  mengunjungi kampung-kampung dan keluar-masuk pasar
mencoba keh-kueh khas lokal yang belum pernah saya rasakan, melihat-lihat
anak sekolah bermain, juga vihara-vihara yang ada di luar pusat kota. 

 

            Saya tujukan kayuhan sepeda untuk mencapai vihara dengan stupa
emas yang tampak cukup jauh dari bukit Phousy itu. Melewati kampung dan
pasar, sering saya lihat, perempuan Laos melakukan menicure dan pedicure di
banyak tempat oleh terapis yang memberikan jasanya dengan berkeliling. Di
vihara stupa emas saya bertemu dua orang Italia, Valentina dan Daniela yang
kemudian mengajak bersama-sama ke gua Pak Ou selepas makan siang.

 

            Bersama juga satu kawan dari Indonesia, kami berempat menyewa
perahu menuju gua. Dua jam melawan arus menyusuri sungai Mekong. Teringat
film-film perang  Vietnam buatan Amerika: tentara Amerika yang sedang
potroli sungai, ditembaki gerilya Vietcong dari semak-semak tepian sungai,
tapi toh tentara di perahu yang hanya beberapa orang dapat membunuh ratusan
gerilyawan. Di tengah perjalanan kami mengunjungi desa yang terkenal
kepandaianya dalam membuat arak, Ban Xang Hai. Tidak disangka-sangka di gua
yang tidak terlalu besar ini tersimpan patung Buddha dalam berbagai posisi
yang berjumlah ribuan. Menjelang petang kami kembali ke Luang Prabang. Dan
malam itu saya tutup dengan mengulangi “ritual” malam sebelumnya di pasar
malam: sekadar jalan bersama orang yang berjejalan membeli souvenir, dan
makan ikan bakar di gang becek dengan makanan penutup: kue lapis pandan
hijau dan gemblong, tepung beras ketan berlumur gula jawa, hmmm…yummy...

 

Phonsavan

 

      Delapan jam naik bis, kami sampai di Phonsavan. Kota ini berada di
ketinggian 1300 m diatas permukaan laut. Cukup dingin, terutama pada malam
hari. Alamnya berbukit dan masih hijau oleh pepohonan. Dari bukit-bukit
kapur sekitar kota banyak terdapat gua. Mungkin ini tempat ideal untuk
sembunyi dalam perang gerilya, pikir saya. Dalam catatan perang Indochina
yang berakhir tahun 1975, daerah Phonsavan, khususnya sekitar Plain of Jars
adalah basis perjuangan Pathet Lao. Daerah ini pula yang menjadi sasaran
utama serangan bom armada Amerika yang dibantu tentara rahasia suku Hmong
dengan pusat kendalinya di  dekat Vang Vieng, 300 km barat daya Phonsavan.

 

      Sore hari saya mengunjungi kantor MAG (Mines Advisory Group), sebuah
LSM internasional dengan kantor pusatnya di Manchester, Inggris yang peduli
pada upaya pencegahan korban ranjau bom dari adanya peperangan. Pada dinding
kantor, terpasang poster besar peta persebaran bom. Dari data yang dimiliki
MAG, ribuan metrik ton bom dari pihak-pihak yang berperang telah dijatuhkan,
tapi hapir separuhnya tidak meledak seketika, namun tetap potensial meledak
setiap saat, atau disebut UXO, unexploded ordnance. Di depan kantor
terparkir jeep Land Cruiser sebagai kendaraan operasional yang mengangkut
para penjinak bom. Supir mobil itu seorang perempuan yang rajin memberi
senyum pada banyak orang. Pakaian dinas lapangan pahlawan kemanusiaan ini
berwarna abu-abu, ditambah topi ala Indiana Jones. Tidak terlihat oleh saya
vihara di sini. Perang telah meluluh lantakkan kota, termsuk vihara yang
tidak ada sangkutpautnya dengan perang.

 

      Dari guesthouse tempat saya menginap, mereka menawarkan bergabung
dengan beberapa turis lain mengunjungi Plain of Jars, situs-situs batu
megalitikum berbentuk kendi yang banyak terdapat di Phonsavan ini. Ada tiga
lokasi persebaran kendi-kendi dari batu besar ini terkonsentrasi. Setiap
menuju lokasi, dari jalan beraspal perhentian mobil kami harus berjalan di
jalan setapak sebesar satu setengah meter yang di kiri-kanannya bertanda pal
merah-putih bertuliskan MAG, sebagai indikasi bahwa diantara batas warna
putih tanah itu telah dibersihkan dari bom sampai ke bawah permukaan tanah,
sementara warna merah menandakan bahwa pembersihan ranjau hanya sebatas
permukaan tanah, di sebelah luar batas merah, tidak ada yang menjamin
kelangsungan hidup orang-orang yang melewatinya, tidak juga MAG.  

 

      Dari satu lokasi ke lokasi yang lain, jaraknya cukup jauh. Dalam
perjalanan itu, tampak dari kejauhan, laskar MAG, para penjinak bom sedang
bekerja dalam panas terik, langkah demi langkah mendeteksi metal yang dapat
membuat orang terpental, mati oleh ledakan karena tidak sengaja
menginjaknya. Apabila diingat banyaknya ranjau darat yang dipasang selama
perang dan mengandung ancaman kematian yang sama dengan bom yang dijatuhkan
dari udara, hidup seharian orang Laos seperti selalu mengenakan sepatu yang
ada kerikilnya, tapi kerikilnya adalah bom yang siap meledak setiap saat.
Sungguh tidak nyaman. Betapa rentan bahaya hidup semua orang Loas, lebih
khusus para penjinak bom ini.    

 

            Jam tiga sore saya sewa kendaraan ke desa Thajuk, lebih 60 km di
luar kota. Di desa ini, penduduknya banyak menggunakan sisa-sisa bom untuk
kelengkapan rumah: cangkang bom setinggi 2,5 m untuk pagar rumah, ada yang
memakai untuk cagak kandang burung, penyangga meja dalam rumah, atau untuk
pot tanaman, granat yang dimainkan anak-anak. Tentunya tidak akan meledak.
Desa ini nampak miskin, tidak ada rumah dari beton, namun penduduknya
seperti selalu ceria. Di balik keceriaan itu, Thajuk seperti membari
peringatan pada semua, batapa mengerikanya perang itu. 

 

Vang Vieng

 

      Destinasi saya berikutnya adalah Vang Vieng yang menurut cerita
Christopher Robbins dalam bukunya The Ravens: Pilots of the Secret War of
Laos bahwa CIA, agen rahasia Amerika membangun kota rahasia Long Cheng di
pinggiran kota ini. Bersama dengan gerilyawan suku Hmong, Amerika
mengendalikan perang melawan bangsa Laos dan Vietnam dari Long Cheng ini.
Tanpa banyak diketahui sejarawan dunia, ternyata pada 1969 lapangan terbang
di Long Cheng ini adalah yang tersibuk di seluruh jagat oleh lalu lintas
terbang dan mendarat bagi kapal perang Amerika yang mereka gunakan untuk
membombardir seluruh negeri Loas, atau seluruh negeri Indochina dengan
alasan untuk menghentikan “bahaya” efek domino komunisme.

 

Dengan bis malam VIP saya menuju Vang Vieng yang akan memakan waktu tujuh
jam. Pukul 19 lebih sedikit bis jurusan Vientiane via Vang Vieng ini mulai
berjalan setelah penuh terisi, bahkan gang di dalam bis penuh oleh barang
bawaan penumpang dan kursi tambahan dari plastik. Selang setengah jam,
penumpang di depan saya mabuk darat, muntah-muntah dengan sangat ekspresif
tanpa sungkan. Tidak tersedia plastik untuk menampung membuat lantai bis
tergenang oleh “bubur encer” dari isi perut orang itu. Bau anyir menjadi
aroma pengiring sepanjang perjalanan malam itu. Dalam hati saya tersenyum,
saya pikir, pemilik bis itu mempunyai sense of humor yang baik, tanda VIP
besar pada bis itu mungkin kependekan dari Very Improper, Please…   

 

      Waktu berhenti untuk istirahat dan makan, dua awak bis bercakap-cakap
pada penumpang mabuk, ada yang membersihkan lantai. Salah satu kernet
membawa senjata laras panjang AK-47. Semua rute menuju atau dari Phonsavan
adalah rawan perampokan, karenanya perlu menyertakan pemuda bersenjata.
Ternyata istirahat tidak menghentikan mabuk orang itu, sehingga ketika harus
turun di Vang Vieng saya harus berjalan sambil melompat menghindari
muntahan.

 

      Jam menunjukkan pukul 02.20 dini hari. Gelap dan sepi. Hanya ada dua
bangunan rumah yang diapit sawah. Ternyata itu bukan terminal bis. Saya
tidur di emperan rumah itu. Setelah terlihat cahaya saya mulai berjalan
menuju pasar untuk mencari toilet dan sekadar cuci muka dan gosok gigi. Dari
pasar terlihat rangkaian bukit kapur yang hijau tertutup oleh pepohonan
dengan puncak-puncaknya menyembul diantara kabut pagi, seperti lukisan China
klasik.  Sempat juga sarapan buah, kueh dan minum kopi sebelum naik tuk-tuk
ke penginapan, Jardin de Organic, vila-vila kecil di tepi sungai Nam Song. 

 

      Saya sewa sepeda untuk keliling kota, ke vihara-vihara dan pasar.
Menyusuri satu sisi kota yang dipenuhi café dan bar bernama Inggris atau
Perancis. Daftar menu pada papan menuju pintu masuk bertuliskan beragam
bahasa, bahkan juga Hebrew. Memang banyak terlihat pemuda bertopi rabbi,
yang hanya dipakai pemuda berdarah Yahudi. Banayak turis muda mancanegara
bercengkerama di restoran dan café. Wajah mereka kusut seperti baru bangun
tidur. Mungkin berpesta sampai dini hari, pikir saya. Banyak juga gerai yang
menawarkan paket kegiatan luar ruang yang menantang adrenalin, seperti
panjat tebing, rafting, tubing, menyusuri gua, dan kayaking sampai
Vientiane. Mungkin ini sebabnya Vang Vieng menjadi sangat terkenal bagi
turis muda usia. Dan dengan panorama yang cantik, tidak salah rupanya,
tentara Amerika yang terjun di medan perang Indochina memilih Vang Vieng
menjadi basisnya.  

 

      Setelah makan siang, masih dengan sepeda, saya menyebrang sungai
munuju bukit-bukit kapur yang mengesankan saya di pagi buta itu. Hampir di
semua bukit, ada gua yang dijaga pemuda lokal yang menawarkan jasa memandu,
dan sewa lampu senter. Di satu desa yang hidup berdampingan komunitas Loas
dan Hmong, saya diajak makan bersama di halaman rumah satu keluarga.
Menunya, ketan dengan sayur dan ikan sungai goreng kecil-kecil. Kemudian
bergabung keluarga dari rumah lain. Kami duduk lesehan. Nikmat walau dengan
menu sederhana.  Karena cukup lelah bersepeda, malam itu saya tidur lebih
cepat, mengurungkan niat melihat kehidupan malam, berpesta-ria bersama turis
muda.

 

            Hari ke-2 di Vang Vieng saya lalui dengan hanya santay, membaca
di beranda vila, atau taman tepi sungai melihat anak-anak bermain-main
dengan air, mencari ikan. Sore hari melihat lomba perahu naga. Saya
istirahat mengumpulkan tenaga untuk naik kayak menuju Vientiane keesokan
harinya untuk kemudian pulang ke Jakarta.            

 

            Dalam truk tertutup yang menjemput saya untuk memulai perjalanan
menyusuri sungai dengan perahu dari fibreglass tanpa mesin, bermuatan dua
orang itu, telah ada 10 orang, laki-laki dan perempuan berwajah Kaukasia.
Perlu waktu dua jam untuk sampai ke tempat pemberangkatan. Pemandu yang
mengaku bernama Johny, orang Laos asli cukup komunikatif dengan bahasa
Inggris yang baik. Demikan juga ketika dia memberi arahan untuk keselamatan
dalam ber-kayak-ria.

 

            Arus sungainya tidak terlalu keras. Mungkin arung jeram sungai
Citarik lebih menantang. Hanya beberapa kali kami bertemu pusaran air dan
gelombang yang bergolak dalam perjalanan yang menempuh lima jam, tapi toh
ada juga peserta yang terbalik beberapa kali. Dalam jam ke-4 ber-kayak, kami
istirahat makan siang. Di sini kami berkesempatan naik bukit batu setinggi
10 meter untuk melompat ke sungai dan berenang dengan puas. Ini adalah
perhentian terbaik untuk istirahat, karena hampir semua tour operator
mengistirahatkan rombongannya di sini. Tempat ini menjadi sangat ramai.
Penuh orang dari bermacam bangsa. Satu jam lagi kami akan sampai di
Vientiane. Dan arus sungai, kata Johny akan sangat tenang. Seiring arus
sungai yang pelan, dalam hati saya bernyanyi lagu Imagine yang kerap
dinyanyikan almarhum John Lennon dengan suara syahdu…   

         …..

Imagine there no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

No religion too

Imagine all the people living in peace

 

Imagine no posessions

I wonder if you can

No need for greed and hunger

A brotherhood of man

Imagine all the people sharing all the world

 

You may say

I am a dreamer, but I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will be as one

….. 

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke