Hi Pak Budianto,

Kebetulan saya lahir dan besar di Medan, jadi saya coba membantu sedikit :

1. Rute dan Transportasi ke Danau Toba

Karena Anda pergi dengan keluarga di mana juga terdapat orang tua dan
anak-anak, saran saya adalah menyewa mobil beserta supir dari travel
agent yang lebih terpercaya untuk pertimbangan kenyamanan dan
keselamatan. Harga sewa untuk 1 mobil mungkin berkisar antara Rp.
350.000,- s/d Rp. 500.000,- sekali jalan, tergantung negosiasi juga.

Kalau Anda lebih memilih pergi dengan transportasi umum, Anda bisa
mencoba ke terminal bus Pinang Baris yang merupakan terminal tersibuk
di Medan. Saya kira banyak bus yang tersedia untuk mencapai Danau Toba
dengan harga tiket sekitar Rp. 30.000,- s/d Rp. 40.000,-. 

Kalau Anda memilih untuk menginap di Medan dulu sebelum berangkat ke
Danau Toba, biasanya pihak hotel juga bisa membantu mengatur
transportasi ke Danau Toba dengan tarif sekitar Rp. 50.000,- s/d Rp.
70.000,- per orang, tergantung kepada jenis mobil dan jumlah orang juga.

Alternatif lain adalah naik kereta api dari stasiun KA utama di kota
Medan menuju kota Pematang Siantar. Setelah sampai di Pematang
Siantara, Anda bisa mencarter taksi menuju ke Parapat dengan tarif
sekitar Rp. 200.000,-.

Kota Parapat yang nota bene merupakan pintu gerbang Danau Toba dapat
dicapai dalam waktu kurang lebih 4 - 5 jam dari Medan kalau memakai
mobil sewaan, tetapi mungkin membutuhkan waktu lebih lama kalau dengan
transportasi umum, bisa jadi sekitar 5 - 6 jam.

Ada 2 rute utama untuk mencapai Danau Toba, yang pertama adalah
melalui kota Berastagi yang berhawa sejuk karena berada di ketinggian
gunung, sedangkan rute yang kedua adalah Medan - Tebing Tinggi -
Pematang Siantar - Parapat, dimana rute kedua jauh lebih singkat dan
biasanya transportasi umum mengambil rute kedua. Walaupun begitu, rute
pertama boleh juga dicoba kalau kebetulan waktu liburan cukup panjang
karena menginap sehari di kota Berastagi yang sejuk dengan hawa
pegunungan juga cukup mengasyikkan.

2. Atraksi Wisata & Transportasi di Sekitar Danau Toba

Sesampainya di kota Parapat, Anda cukup berjalan turun ke pantai danau
manapun dan biasanya akan banyak crew ferry yang menawarkan jasa
mengantarkan Anda dan keluarga ke pulau Samosir di tengah-tengah Danau
Toba. Hanya saja, seluruh ferry yang ada beroperasi layaknya angkot
tanpa jadwal tetap dan hanya mau berangkat kalau jumlah penumpang
dianggap sudah cukup banyak untuk menutupi ongkos, atau kalau nahkoda
sudah dibuat kesal oleh protes penumpang yang habis kesabaran menunggu
:). Jadi bersiap-siap saja untuk menunggu lama, terutama bila di musim
sepi wisatawan. 

Perjalanan air dari Parapat ke pulau Samosir dengan ferry membutuhkan
waktu sekitar 1 jam dan biasanya ada 3 desa di pulau Samosir yang
rutin dikunjungi pelancong, yakni Tuk Tuk, Tomok dan Tigaraja. Sebelum
berangkat, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kepada crew ferry tujuan
pemberhentian di pulau Samosir.

Atraksi wisata utama di pulau Samosir adalah peninggalan budaya suku
Batak Toba yang terdiri dari makam para raja purba, rumah adat dan
beberapa ornamen penting dalam kebudayaan suku Batak Toba. Anda bisa
menyewa guide lokal dengan tarif sekitar Rp. 30.000,- s/d Rp. 50.000,-
bila diperlukan. Di desa-desa yang penduduknya lebih banyak, Anda
dapat berbelanja suvenir berupa kain Ulos atau kerajinan tangan
lainnya khas Batak Toba.

Di pulau Samosir hampir tidak ada kendaraan umum. Jadi kalau Anda
hendak berkeliling pulau, satu-satunya alternatif yang lebih
memungkinkan adalah menyewa sepeda motor dengan harga sekitar Rp.
70.000,- s/d Rp. 80.000,- per hari. Hanya saja, ingat untuk selalu
berhati-hati membawa kendaraan di pulau Samosir karena jalanan di
pulau Samosir sangat kecil sehingga hanya terasa cukup dilewati oleh 1
mobil. Selain itu, sebaiknya tidak berkendaraan di malam hari karena
jalanan benar-benar gelap total tanpa adanya penerangan jalan.
Penerangan umum hanya dapat ditemukan di lokasi pemukiman yang
penduduknya banyak.

Pulau Samosir adalah pulau kecil dengan penduduk yang jarang, jadi
bagi Anda yang mencari suasana hingar-bingar khas perkotaan, maka
tidak disarankan untuk menghabiskan waktu terlalu lama di pulau
Samosir. Rata-rata pelancong yang memilih menginap di pulau Samosir
untuk jangka waktu lama adalah mereka yang hendak bersantai atau para
pemerhati budaya yang tertarik dengan budaya Batak Toba.

Kalau Anda membawa mobil sewaan, mobil sewaan juga bisa dibawa
menyeberang ke pulau Samosir dengan ferry besar yang berangkat dari
pelabuhan Ajibata di Parapat. Kalau ferry kecil biasanya tidak ada
jadwal tetap, ferry besar beroperasi menurut jadwal tetap dan cukup
tepat waktu. Untuk menyeberangkan mobil, Anda hanya perlu membeli
tiket untuk mobil dan penumpang di loket tiket. 

3. Akomodasi

Parapat adalah kota turis yang dijejali dengan banyak hotel dan resor,
dari yang sekelas losmen sampai dengan yang bintang 5. Parapat saat
ini ibarat kota turis tanpa turis, karena wisatawan yang berkunjung
semakin jarang dari tahun ke tahun. Untuk itu, jangan heran kalau
pihak hotel suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dengan
mematok harga kamar yang mahal dan terkesan tidak pantas mengingat
usia hotel yang rata-rata sudah cukup tua dengan fasilitas yang sudah
bertahun-tahun tidak diperbaharui. 

Terlalu banyak pilihan hotel untuk Parapat, tetapi jangan mengharapkan
hotel yang baru berhubung hampir semua hotel sudah berusia diatas 10
tahun karena dibangun pada masa keemasan pariwisata Danau Toba di
tahun 80-an dan awal 90-an. Negosiasi untuk mendapatkan harga murah
wajib dilakukan.

Sebaliknya, akomodasi di pulau Samosir justru terkesan cukup murah.
Yang bisa saya rekomendasikan adalah Hotel Carolina, sebuah hotel
resor kecil yang berlokasi di Tuk Tuk. Walaupun sudah cukup tua,
tetapi lingkungan dan fasilitas hotel masih terawat dengan cukup baik,
dan yang terpenting adalah harganya sangat terjangkau. Terakhir saya
menginap di hotel ini sekitar awal tahun 2006, dan harga kamar adalah
sekitar Rp. 150.000,- per malam. Kalau kebetulan ferry yang Anda
tumpangi memang akan berhenti di Tuk Tuk, maka bisa meminta nahkoda
untuk menurunkan Anda dan keluarga langsung di dermaga hotel ini.

4. Makanan

Suku utama yang mendiami wilayah Danau Toba adalah Batak Toba yang
beragama Kristen Protestan, jadi makanan khas suku Batak Toba biasanya
mengandung, maaf, b*b*. Hanya saja, kalau Anda tinggal di hotel,
biasanya juga tersedia makanan nusantara yang cocok untuk pelancong
domestik dari manapun. 

Tentu saja, pilihan makanan di kota Parapat akan lebih bervariasi,
dari makanan khas Batak Toba sampai Chinese Food semuanya lengkap.
Tetapi di pulau Samosir pun banyak restoran-restoran yang cukup unik
yang rutin dikunjungi oleh wisatawan asing untuk bersantap, dari
Western Food sampai Vegetarian Food, semuanya masih tidak terlampau
sulit ditemukan. 



Satu hal mengasyikkan yang selalu saya ingat adalah ketika kendaraan
mulai mendekati kota Parapat. Hamparan Danau Toba maha luas di
kejauhan dengan tebing atau puncak bukit yang diselimuti awan langsung
akan membuat pandangan terpaku, dan seringkali terlalu menggoda mata
untuk mengalihkan perhatian bareng sedetikpun. Sangat luar biasa indah
dan rata-rata pengunjung yang baru pertama kali berkunjung pasti akan
terpesona. 

Kalau Anda menyenangi fotografi, berkunjung ke Danau Toba sudah pasti
tidak akan menyesal mengingat keindahannya yang sungguh mempesona. 

Hal yang sangat disayangkan adalah upaya pemerintah daerah atau
pemerintah lokal yang hampir nihil untuk menjadikan wisata Danau Toba
kembali hidup seperti di zaman keemasan di tahun 80-an dan awal 90-an.
Investasi hotel atau atraksi wisata baru hampir tidak ada dan Festival
Danau Toba yang selalu menjadi daya tarik utama tempat ini pun
diselenggarakan secara ala kadarnya. Jangankan berbicara promosi ke
luar negeri, promosi di dalam negeri untuk menarik wisatawan domestik
saja hampir tidak ada. 

Ironis memang nasib Danau Toba sekarang meningat potensi wisata
alamnya yang begitu luar biasa. Untung tidak dapat diraih, malang
tidak dapat ditolak, aih!

Demikian informasi yang bisa saya berikan. Semoga membantu. 

P.S. Mohon maaf kalau informasinya terlalu panjang sehingga mungkin
sempat membuat bosan membaca. Karena didorong antusiasme untuk
mengenalkan objek wisata yang berada di propinsi kelahiran saya, tanpa
terasa saya sudah menulis begitu panjang. 

Salam Wisata,

Djohan
http://wandergeek.wordpress.com
http://wandergeekindonesia.wordpress.com

--- In [email protected], "Budianto Hendradjaja"
<sh...@...> wrote:
>
> Dear rekan-rekan ibp,
> 
> Sebelumnya salam kenal dengan rekan-rekan ibp ....
> 
> Pertengahan februari bulan depan saya sekeluarga berencana untuk
> liburan ke toba selama 5 hari 4 malam .... karena ini kunjungan saya
> yg pertama ke toba dan juga membawa orang tua dan anak-anak, saya
> perlu informasi sebanyak-banyaknya seputar toba agar perjalanan kami
> lancar dan menyenangkan.
> 
> 1. Bagaimana cara mencapai toba dari airport polonia medan menuju toba?
> 
> 2. Ada usulan route perjalanan untuk wisata ke toba? sementara rencana
> kami adalah menginap 1 malam di prapat, 2 malam di samosir dan malam
> terakhir di kota medan. any input?
> 
> 3.
> 
> 4. Bagaimana transportasi untuk daerah toba dan sekitarnya, apakah
> tersedia banyak angkutan umum atau citytour?
> 
> 5. Tempat menginap favorit? tentunya yg tidak mahal tapi cukup nyaman
> dan bersih.
> 
> 6. Object wisata menarik, makanan, dll yg wajib dicoba / dikunjungi.
> 
> Mohon maaf jika pertanyaannya borongan, maklum orang kampung yg ingin
> merasakan keindahan toba yg konon masuk nominasi 7 kejaiban dunia.
> 
> Terima kasih sebelumnya
> 
> Salam,
> Budianto H.
>


Kirim email ke