Dear all, Cuma mau share saja, mengingat "kehebohan wayang" yang terjadi di millist ini. :)
Ya..mungkin memang saat ini kita terlalu terlena, dengan memang kebudayaan yang sepertinya memang kita rasa sudah milik kita (including me..) yang baru kalo ada kejadian seperti ini orang (yang katanya) warga Negara Indonesia kebakaran jenggot. :) Hal ini juga tamparan buat saya (dan mungkin teman2) kenapa kita tidak lebih menghargai budaya kita selama ini. Begitu ada kejadian seperti ini baru heboh n bingung luar biasa. (pemerintah Indonesia juga kemana yah? mungkin lagi sibuk cari "posisi" yang nyaman dan aman...hehehe) Hari minggu kemarin (25 Jan'09) saya bergabung dengan millist, Jalan2 mengunjungi museum2 di daerah kota dan bangunan2 bersejarah di sekitar situ. Senang bercampur miris melihat banyak bangunan yang amat sangat bersejarah dan cikal bakal Jakarta (Batavia) itu sudah dilupakan dan tidak diurus. Hal ini sejak revolusi kemerdekaan, bangsa Indonesia tidak mau lagi ada peninggalan Koloni Belanda di Indonesia. Yang akibatnya tidak banyak orang tahu sejarah tentang kota tua itu. Gimana mau tahu dan kenal sejarah? lah wong bangunannya aja dihancurkan dan kurangnya sosialisasi, promosi, ke orang Indonesia sendiri. Jadi, "mungkin" kurangnya penghargaan terhadap peninggalan sejarah sudah ada sejak nenek moyang kita dulu :) Dan FYI, agak2 malu juga..karena yang memberikan informasi mengenai bangunan2 bersejarah itu adalah Mr. Scott orang kebangsaan Inggris..(ya..right..dengan fasihnya dia menceritakan sejarah bangsa indonesia kepada Warga negara Indonesia in english dan dia sudah riset di Indonesia selama -/+ 2 tahun) Hehehe..bisa dibayangkan, orang Indonesia, di jakarta, mengenai sejarah Indonesia di Guide oleh orang Asing... Mungkin ini juga yang terjadi dengan kebudayaan Indonesia. Kurangnya pengenalan Budaya Indonesia, kurangnya penghargaan Budaya Indonesia. Kenapa malah orang2 bule yang antusias mempelajari Budaya Indonesia, dibanding orang Indonesianya sendiri ya? Orang yang tinggal di Jakarta, yang katanya jauh lebih pintar dan berpendidikan, kadang malah malu mengusung kebudayaannya masing2. Ga metropolis katanya :) Kadang kita malah dengan serunya mengajak pergi ke luar negeri (atau pergi ke negara yg katanya pencuri kebudayaan Indonesia itu), wahh..Indonesia aja belum dipijak tanahnya semua malah dari ujung timur sampai barat udah plesir ke negeri orang..(sorry..no offense..) Setahu saya Budaya Indonesia, dan wisata Indonesia jauuuuuh lebih menarik dan lebih eksotis.hal ini juga mungkin karena pundi2 saya baru bisa jalan2 di Indonesia aja kali ya hehehe Well, Salah siapa kalau sudah seperti ini? Let's do something...not just talk... Let's stand together to know better and keep our Indonesian culture. Tulisan dibawah ini Saya dapat di web site, sekedar kilasan mengenai Wayang Kulit yang mulai pudar pamornya di kalangan muda :) kiranya bisa sedikit memberi info. Wayang Kulit, Mahakarya Seni Pertunjukan Jawa Malam di Yogyakarta akan terasa hidup jika anda melewatkannya dengan melihat wayang kulit. Irama gamelan yang rancak berpadu dengan suara merdu para sinden takkan membiarkan anda jatuh dalam kantuk. Cerita yang dibawakan sang dalang akan membawa anda larut seolah ikut masuk menjadi salah satu tokoh dalam kisah yang dibawakan. Anda pun dengan segera akan menyadari betapa agungnya budaya Jawa di masa lalu. Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah milenium. Kemunculannya memiliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi Wayang Beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilakukan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi media yang tepat untuk dakwah menyebarkan Islam, sementara agama Islam melarang bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit dimana orang hanya bisa melihat bayangan. Pagelaran wayang kulit dimainkan oleh seorang yang kiranya bisa disebut penghibur publik terhebat di dunia. Bagaimana tidak, selama semalam suntuk, sang dalang memainkan seluruh karakter aktor wayang kulit yang merupakan orang-orangan berbahan kulit kerbau dengan dihias motif hasil kerajinan tatah sungging (ukir kulit). Ia harus mengubah karakter suara, berganti intonasi, mengeluarkan guyonan dan bahkan menyanyi. Untuk menghidupkan suasana, dalang dibantu oleh musisi yang memainkan gamelan dan para sinden yang menyanyikan lagu-lagu Jawa. Tokoh-tokoh dalam wayang keseluruhannya berjumlah ratusan. Orang-orangan yang sedang tak dimainkan diletakkan dalam batang pisang yang ada di dekat sang dalang. Saat dimainkan, orang-orangan akan tampak sebagai bayangan di layar putih yang ada di depan sang dalang. Bayangan itu bisa tercipta karena setiap pertunjukan wayang memakai lampu minyak sebagai pencahayaan yang membantu pemantulan orang-orangan yang sedang dimainkan. Setiap pagelaran wayang menghadirkan kisah atau lakon yang berbeda. Ragam lakon terbagi menjadi 4 kategori yaitu lakon pakem, lakon carangan, lakon gubahan dan lakon karangan. Lakon pakem memiliki cerita yang seluruhnya bersumber pada perpustakaan wayang sedangkan pada lakon carangan hanya garis besarnya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang. Lakon gubahan tidak bersumber pada cerita pewayangan tetapi memakai tempat-tempat yang sesuai pada perpustakaan wayang, sedangkan lakon karangan sepenuhnya bersifat lepas. Cerita wayang bersumber pada beberapa kitab tua misalnya Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Kini, juga terdapat buku-buku yang memuat lakon gubahan dan karangan yang selama ratusan tahun telah disukai masyarakat Abimanyu kerem, Doraweca, Suryatmaja Maling dan sebagainya. Diantara semua kitab tua yang dipakai, Kitab Purwakanda adalah yang paling sering digunakan oleh dalang-dalang dari Kraton Yogyakarta. Pagelaran wayang kulit dimulai ketika sang dalang telah mengeluarkan gunungan. Sebuah pagelaran wayang semalam suntuk gaya Yogyakarta dibagi dalam 3 babak yang memiliki 7 jejeran (adegan) dan 7 adegan perang. Babak pertama, disebut pathet lasem, memiliki 3 jejeran dan 2 adegan perang yang diiringi gending-gending pathet lasem. Pathet Sanga yang menjadi babak kedua memiliki 2 jejeran dan 2 adegan perang, sementara Pathet Manura yang menjadi babak ketiga mempunyai 2 jejeran dan 3 adegan perang. Salah satu bagian yang paling dinanti banyak orang pada setiap pagelaran wayang adalah gara-gara yang menyajikan guyonan-guyonan khas Jawa. Sasono Hinggil yang terletak di utara alun-Alun Selatan adalah tempat yang paling sering menggelar acara pementasan wayang semalam suntuk, biasanya diadakan setiap minggu kedua dan keempat mulai pukul 21.00 WIB. Tempat lainnya adalah Bangsal Sri Maganti yang terletak di Kraton Yogyakarta. Wayang Kulit di bangsal tersebut dipentaskan selama 2 jam mulai pukul 10.00 WIB setiap hari Sabtu dengan tiket Rp 5.000,00. Naskah: Yunanto Wiji Utomo Photo & Artistik: Singgih Dwi Cahyanto Copyright © 2006 YogYES.COM http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-cultural-performance/wayang-kulit-show/ [Non-text portions of this message have been removed]
