Teman-teman sekalian,
Sebelumnya izinkan saya berterima kasih kepada rekan-rekan yang sudah
memberikan input mengenai pertanyaan saya sebelumnya sehingga perjalanan saya
menyenangkan. Martin Tirta, Mbak Ratna Somantri (cantik sekali Mbak fotonya di
majalah Fit), Pak Gunadi atas tipsnya untuk mencari di arsip (saya baru tau
caranya, biasanya saya ketik semua “penginapan di pangandaran”), Steve dan Nana
Harjanto, Rahmawati, Meilia Handayani, A. Teddy, Andy, Joko Sutarto dan Ibu
Sienny dari catatan sebelumnya.
Kamis, 26 Maret 09, saya, suami dan anak saya berangkat pk. 10:00 pagi dari
rumah di BSD menjemput kedua orangtua saya di daerah Taman Sari, Kota.
Setibanya kami di rumah orang tua, langsung memasukkan barang ke mobil dan
berangkat. Kami lewat Sudirman menuju Tol Cikampek dengan tujuan pertama makan
pepes di Bendungan Walahar.
Keluar dari tol Karawang Timur masih dibutuhkan waktu kira-kira 15 menit untuk
tiba di Kedai Pepes Haji Dirja. Sepanjang tepian waduk terlihat ramai orang.
Banyak yang menggelar tikar di bawah pepohonan bersama keluarga. Para pedagang
bersepeda juga banyak menjajakan barang-barang mulai dari baju, mainan
anak-anak, buah rambutan sampai kelinci.
Kami tiba di rumah makan tersebut kira-kira pk. 12:30. Ramai sekali
pengunjungnya. Awalnya kami duduk di bagian atas, di ruangan yang menyatu
dengan Mushola, tetapi anak saya senang bermain di dekat taman. Jadilah kami
semua pindah di pendopo bagian bawah dekat kolam ikan.
Biasanya, saya hanya memesan pepes, apalagi pepes jamurnya. Tapi sayang
kebetulan sudah habis. Ikan balitanya juga habis….sebagai pengganti kami
memesan ayam bakar. Tak menyangka ayam bakarnya empuk sekali. Sambal dan
pepesnya seperti biasa, tetap yang paling enak seantero jagat.
Di bagian belakang ada seekor kera besar (bekantan ??). Menurut teteh yang
melayani kami, kera tersebut sudah menelan korban 3 buah handphone. Kami sempat
melihatnya, kasihan sekali... dengan kurungan yang sempit, kera itu memakan
tanah...mungkin saking kelaparan.
Puas dengan kelezatan pepesnya, kami langsung berangkat ke Cipanas, Garut
melalui tol Cipularang sampai Cileunyi. Berhenti sebentar membeli tahu goreng @
300 per buah sekeluar dari pintu tol. Jalan mulus tanpa macet yang berarti
kecuali antri kecil di Nagreg. Tetapi kami tidak bisa terlalu cepat karena
belum pernah ke Garut sebelumnya. Jadi kami berjalan pelan untuk menghindari
putar balik kalau terlewat. Akhirnya kami tiba di penginapan +/- pk. 18:00.
Bagi teman-teman yang belum pernah ke Cipanas, Garut, (seperti saya), mungkin
saya bisa berbagi sedikit cerita. Yang disebut wilayah Cipanas, Garut, tempat
dimana banyak terdapat hotel atau penginapan, sebenarnya tidak terlalu besar
luasnya. Kalau saya perkirakan, bisa dicapai jalan kaki santai dari ujung ke
ujung kira2 30 menit satu arah. Lebar badan jalan juga tidak terlalu besar,
kira-kira cukup untuk 2 bus saja. Cuacanya sejuk, sehingga tidur tanpa AC pun
tidak masalah.
Hanya ada empat hotel yang berbintang disana. Danau Dariza yang bersebrangan
dengan Sabda Alam, kemudian Tirtagangga yang bersebelahan dengan Kampung Sumber
Alam. Selebihnya hanya penginapan biasa, walaupun ada yang dilengkapi juga
dengan kolam renang. Untuk Kampung Sampireun dan Mulih Ka Desa letaknya +/-
10km dari lingkungan ini. Informasi dari penarik delman, untuk tempat main
anak-anak yang paling bagus ada di Sabda Alam karena ada waterboom mini.
Selain keempat hotel ini, selebihnya penginapan biasa yang saling berdampingan.
Jadi bisa dikatakan dalam kompleks ini, seluruhnya tempat penginapan dengan bak
rendam air panas. Ada satu penginapan yang agak besar juga, dengan letak yang
agak berjauhan dari lokasi ini, namanya Hotel Augusta, tetapi menurut informasi
yang saya dapatkan, hotel ini tidak menggunakan air panas alam.
Kami sendiri tidak berhasil booking di keempat hotel tersebut karena memang
rencana berangkat cukup mendadak. Tetapi, dengan memperhitungkan bukan hari
libur besar, maka kami go show saja. Akhirnya kami menginap di Tirta Alam 2,
penginapan pertama yang kami temui begitu masuk wilayah Cipanas.
Penginapan ini berbentuk semacam bungalow berdempetan yang memanjang. Kira-kira
30m di depannya, terdapat kolam +/- 30x30m yang tidak ada ikannya. Kondisinya
kotor dan airnya tidak bergerak.
Kamar kami sendiri terdiri dari dua bed besar ukurang 180 x 200. Kamar mandinya
bersih sekali walaupun kami kesulitan karena kloset duduknya tanpa penutup. Air
panasnya terus mengalir dan ada juga keran untuk air dingin. Dengan harga 200rb
per malam, hanya diberikan satu buah handuk kecil yang masih baru dan satu
sabun sekali pakai.
Anak saya girang bukan kepalang melihat bak rendam yang cukup besar. Saya
biarkan dia bermain di dalamnya cukup lama karena airnya hangat... cenderung
panas sebenarnya. Begitu selesai mandi, badannya berwarna menjadi kemerahan
karena panasnya air.
Usai mandi, kami pergi makan. Tujuan kami ke Jemanii Resto, sesuai banner besar
yang kami lihat sebelum masuk ke wilayah Cipanas.
Apabila kita masuk ke Jemanii Resto, rasanya kita tidak berada di Garut.
Bangunannya kontras dengan lingkungan sekitar. Dengan konsep minimalis,
dibangun manis dengan kolam kecil berbentuk parit yang mengelilingi restaurant.
Bagian depan, terdapat kolam ikan dan air mancur yang dikelilingi lesehan dan
tempat main anak-anak. Bagian belakang, bangunan restaurant biasa dua lantai
dengan lampu kuning, sehingga suasananya adem. Terdapat ruang sembahyang kecil
bagi teman-teman yang beragama Islam. Toilet cukup lega dan bersih.
Kami memesan variasi makanan. Anak saya makan zuppa sup, orangtua saya memesan
chinese food dan saya sendiri ala sunda. Semuanya enak, tetapi yang paling
berkesan bagi saya adalah Cah Genjer dan semur jengkolnya…rasanya mantapp…
untuk harga reasonable, bahkan bagi kami termasuk cukup murah bila dibandingkan
di Jakarta atau Bandung.
Selesai makan, kami kembali ke hotel untuk beristirahat.
Karena berlima, kami memesan satu extra bed seharga 50rb. Ranjang double bednya
kami satukan untuk tidur anak kami di tengah. Ranjangnya agak anjlok, spreinya
terlihat sudah kusam walaupun tidak berbau. Hanya saja di malam hari, ranjang
saya sedikit berderit sewaktu berbalik badan. Suara sholat Subuh juga cukup
keras terdengar sehingga membuat saya terbangun. Tetapi hawa sejuk alami
berhasil membuat saya tertidur kembali.
Jum’at, 27 Maret 2009
Kami bangun +/- pk. 7:00. Begitu bangun dan keluar kamar, ternyata sudah ada
delman yang menunggu. Langsung saja anak saya langsung minta naik delman. Saya
janjikan naik delman apabila Lio mau sambil disuapi makan. Saya bertanya
kira-kira ada penjual bubur enak di sekitar sana. Kebetulan, di sebrang hotel
Cipaganti (bersebrangan dengan hotel kami) ada kedai cukup ramai. Di depannya
ada spanduk bertulis „Selera khas Cipanas“. Menurut penarik delman, buburnya
paling enak. Selain menjual bubur, ada juga nasi kuning. Ibu saya membeli
sedikit bubur
untuk sekalian menyuapi anak saya sepanjang jalan naik delman. Dan memang
buburnya enak.
Dengan harga Rp. 20,000,- kami diajak berkeliling dari Cipanas, sampai pusat
jual oleh-oleh dan kembali lagi ke hotel. Terlihat petani membajak sawah,
dikelilingi pemandanganan beberapa gunung. Sungguh pemandangan yang menyegarkan.
Selesai kembali ke hotel, kami bersiap-siap menuju Pangandaran. Kurang lebih
pk. 9:15 kami berangkat.
Kami lewat Tasik, Banjar, terus sampai Pangandaran. Sepanjang jalan
pemandangannya indah dengan jalan berkelok-kelok. Agak pusing juga sebenarnya.
Kurang lebih pk. 13:00 kami tiba di gerbang masuk pantai Pangandaran. Setelah
membayar tanda masuk Rp. 27.500,- kami langsung mencari Bakmi Acip. Dari
gerbang Pangandaran, lurus terus sampai mentok ke pantai, belok kiri. Sepanjang
pantai banyak terdapat penginapan. Karena lapar, kami belum sempat
melihat-lihat mana kira-kira penginapan yang oke.
Tak lama kami menemukan Mie Acip. Adanya persis di dalam gang sebelah Hotel
Laut Biru. Kami memesan mie asin, mie yamin, bihun kuah, ditambah pangsit.
Rasanya cukup oke.
Karena malas mencari hotel, akhirnya kami datang ke Aquarium. Laut Biru sudah
penuh. Hotel Aquarium terletak tak jauh dari Hotel Laut Biru. +/- hanya 20-an
meter. Kami mengambil kamar Deluxe seharga 315rb.
Kamar ini terdiri dari 2 ranjang ukuran 180x200m. Sewaktu kami melihat kondisi
kamar, kebetulan AC dihidupkan. Dan saya senang karena Acnya dingin. Kondisi
kamar dan toiletnya juga cukup bersih.
Kedua ranjang tidur terletak berlawanan arah, masing-masing merapat ke tembok.
Bagi saya yang punya anak kecil, hal ini justru menguntungkan karena tidak
perlu khawatir anak saya terjatuh dari atas ranjang sewaktu tidur.
Kamar mandinya tanpa bathtub, hanya ada shower air panas. Handuknya acceptable
walaupun tidak sangat sangat putih. Namun yang kami sukai adalah pelayanannya.
Begitu sudah menempati kamar, langsung diberi 4 botol air mineral ukuran
sedang. Besok paginya, ditambah lagi 4 botol sewaktu nasi goreng diantar. Nasi
gorengnya juga cukup enak.
Kami sempat me-laundry baju kami disini. Hanya beberapa jam sudah selesai,
murah pula. Hanya 5,000 per potong kalau tidak salah ingat.
Hotel Aquarium sendiri lokasinya di Pantai Barat, sudah termasuk wilayah
terakhir sebelum cagar alam, menjauhi gerbang Pangandaran. Terdapat kamar
ekonomi tanpa AC, kamar deluxe yang seperti kami tempati, dan kamar Family yang
tdd 2 kamar Deluxe.
Di hotel ini juga terdapat kolam renang anak-anak dan dewasa. Taman bermain
kecil yang dilengkapi dengan ayunan dan jungkat-jungkit. Apabila kita berjalan
keluar dari hotel, depan kita langsung pantai lepas yang bisa buat berenang.
Secara overall, saya sangat merekomendasi hotel ini.
Bagi yang belum pernah ke Pangandaran, mungkin saya bisa memberikan sedikit
gambaran. Kalau pendapat saya pribadi, yang disebut Pantai Pangandaran, tempat
dimana penginapan, cagar alam berada, dan sewa kapal ke pasir putih; kurang
lebih seperti tanjung (daratan yang menjorok ke laut). Dan indahnya, di tempat
ini kita bisa menikmati matahari terbit dan terbenam sekaligus.
Pantai yang ramai dikunjungi adalah pantai barat. Disini terdapat banyak
penginapan, kapal yang membawa kita ke pasir putih dan cagar alam, serta pantai
yang bisa di-renang-i.
Sedangkan sisi pantai satunya, adalah pantai nelayan dan tidak bisa direnangi.
Jarak antara pantai barat dan pantai timur tidak jauh, apalagi dari hotel saya
menginap. Untuk melihat matahari terbit, paling-paling hanya jalan santai 30
menit, sudah sampai di Pantai Timur lewat gang samping hotel Laut Biru.
Walaupun di Pantai Timur juga terdapat penginapan, tetapi lebih ramai Pantai
Barat. Wilayah bagian tengah, yang notabene tidak menghadap laut, juga terdapat
banyak penginapan.
Iseng-iseng mengitari Pangandaran, saya juga mencatat beberapa hotel yang dari
luar kelihatan cukup oke :
1. Hotel Century – 0265.639.171
2. Hotel Surya Kencana – 0265.630.965 / 940
3. Hotel Bumi Nusantara – 0265.639.032
Untuk semua hotel ini rate-nya dimulai dari Rp. 300.000,- per malam.
Saya juga melihat Mini Tiga Homestay, yang dengar-dengar pemiliknya bule dan
jadi langganan turis mancanegara. Lokasi penginapan ini tidak jauh begitu masuk
wilayah Pangandaran.
Lanjut cerita, selesai meletakkan barang, kami langsung dihubungi oleh tukang
perahu, mengajak melihat pasir putih. Untuk kami berlima, deal seharga 50rb
pulang pergi. Kami langsung berangkat menuju Pasir Putih. Ternyata Pasir Putih
tidak jauh dari pantai, paling lama hanya 10 menit naik kapal. Sebelum merapat
di Pasir Putih, tukang perahu kami menawarkan melihat lokasi lain lebih jauh,
antara lain ada tempat lobster, batu yang dari jauh terlihat seperti orang
sedang menyembah dll. Karena belum pernah akhirnya kami setujui. Harga yang
diminta 250rb, tetapi setelah tawar-menawar, akhirnya kami membayar Rp.
175.000,-, termasuk Pasir Putihnya. Jujur kami agak kecewa, karena semua tempat
yang disebutkan, paling-paling 15 menit sudah selesai semua dikelilingi. Jadi
hanya melihat dari jauh saja.
Akhirnya kami berhenti di Pasir Putih. Banyak monyet jinak menunggu makanan
dari pengunjung. Informasi dari tukang perahu, apabila berjalan masuk ke dalam,
dapat melihat rusa. Tetapi kalau malas masuk ke dalam, cukup ditunggu menjelang
sore karena rusanya sendiri juga akan keluar. Tetapi kami tidak masuk ke dalam.
Di Pasir putih juga bisa snorkling. Tapi karena tidak membawa perlengkapan,
kami hanya sibuk memberi makan monyet saja.
Kami tidak lama di Pasir Putih, paling-paling hanya 15 menit saja. Setelah itu
kami kembali ke pantai. Sebelum merapat, dari kejauhan kami melihat dua ekor
rusa keluar dari cagar alam. Yang satu diam di pantai, yang satunya berlari
kegirangan menerjang ombak.
Dari pantai, kami jalan kaki menuju hotel, sempat juga mampir ke suatu areal
dekat cagar alam, di belakang hotel tua yang terdapat banyak rusa. Senang
rasanya bisa melihat rusa dari jarak dekat.
Selesai mandi dan istirahat sebentar, kami langsung menuju Restaurant Karya
Bahari. Karya Bahari ini adanya di Pantai Timur. Dalam kompleks tersebut,
banyak terdapat rumah makan lainnya. Tetapi sesuai rekomendasi rekan-rekan yang
lain, kami memilih Karya Bahari.
Pada saat kami datang +/- pk. 18:30, belum banyak pengunjungnya. Jadi kami
berkesempatan untuk memilih-milih jenis seafood dan cara masaknya tanpa
tergesa-gesa. Begitu selesai memilih dan duduk, mulailah pengunjung lain
datang. Sampai akhirnya tamu yang lain harus berdiri untuk menunggu giliran!
Makanannya yang jelas fresh dan murah. Untuk rasa, bagi saya tidak
dikategorikan sangat enak. Menunggu mereka masak juga tidak bisa dibilang
cepat. Tapi overall ok-lah.
Pulang dari Karya Bahari kami langsung tidur…
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/