Sabtu, 28 Maret 2009

Jam 6 pagi ayah dan suami saya sudah terbangun, mereka jalan ke Pantai Timur 
untuk melihat-lihat. Sedangkan saya masih melanjutkan tidur di hotel. 

Setengah jam kemudian barulah anak saya bangun. Ibu saya juga penasaran ingin 
melihat-lihat aktivitas pangandaran di pagi hari. Jadilah Lio keluar ikut Ibu 
saya. Saya sendiri langsung makan nasi goreng dan ber-beres2.

Pulang dari jalan-jalan, Ibu saya membeli ikan asin, sawo yang harganya sangat 
murah dibandingkan di Jakarta. Ayah dan suami saya membeli pisang goreng. 
Pisangnya manisss sekaliii…

Sambil menunggu yang lain selesai mandi, saya mengajak anak saya ke cagar alam. 
Saya pikir mungkin masih bisa mencari monyet untuk diberi roti tawar yang tidak 
habis dimakan. Tetapi tidak ada seekor pun. Kata penjaga warung, harus tunggu 
agak siang. Kalau pagi-pagi masih tidur..

Sekembalinya di hotel, yang lain pun sudah selesai mandi, makan dan berbenah. 
Akhirnya, kami langsung check-out karena memang hotel tersebut hanya bisa 
ditempati satu malam. Kami pun masih belum tau apakah ingin menambah satu malam 
lagi di Pangandaran atau balik ke Garut. Lihat sikon sajalah.

Kami langsung menuju Green Canyon di Cijulang. Dari Pangandaran, kira-kira 
masih setengah jam naik mobil menuju Green Canyon ini.

Green Canyon terletak di sisi jalan raya, bersebrangan dengan lahan parkir 
luas. Jadi semua kendaraan parkir dahulu, kemudian menyebrang menuju loket 
karcis. Harga satu perahu adalah 70,000 untuk kapasitas 5 orang. Beberapa 
perahu ditambatkan berjajar, jadi setelah membeli karcis, kita akan mendapatkan 
kupon yang menunjukkan kapal nomor berapa. Para pemilik kapal adalah penduduk 
sekitar yang diatur oleh kuasa setempat untuk bergiliran mendapat tumpangan. 

Kami mulai naik ke kapal. Lebar kursi kurang lebih hanya pas untuk diduduki 
satu orang dewasa. Jadi kalau lima orang, posisinya adalah memanjang ke 
belakang. 

Saya sudah terhipnotis begitu perahu mulai berjalan. Lebar sungai kurang lebih 
30m. Sepanjang kiri kanan sungai, adalah pepohonan pendek yang rimbun. Air 
sungai berwarna hijau daun. Kebetulan cuacanya agak berawan. Jadi bagi saya, 
tidak ada lagi yang lebih baik dari kondisi seperti ini.

Kami menemukan seekor kadal yang sedang minum air. Setelah 5 menit berjalan, 
perahu berbelok ke kanan mengikuti kelok sungai. Tak lama kemudian, dari jauh 
terlihat gua yang tinggi. Rupanya kesanalah tujuan kami.

Mendekati gua, terlihat air mulai menetes dari tebing. Di ujung gua terlihat 
sinar matahari. Rupanya bukan gua buntu. Tetapi disinilah semua perahu merapat 
karena terhalang bebatuan. Pada saat kami tiba, sudah ada banyak perahu disana, 
kira-kira ada 30an jumlahnya. Ada satu grup besar yang sudah tiba terlebih 
dahulu. Di sisi kanan, terdapat batu besar untuk melihat ke bagian belakang gua 
yang tidak terlihat oleh kami dari sisi ini. Luas batu kira-kira untuk 20 orang 
berdiri. Tapi karena ramai, akhirnya hanya suami saya yang kesana dan mengambil 
foto. Dari perahu kami untuk menuju batu besar pun harus melewati perahu yang 
satu ke yang lainnya. Dari foto yang diambil, terlihat terusan sungai yang 
dikelilingi tebing tinggi yang ditumbuhi pepohonan di atasnya. Banyak yang 
berenang disana. Saya memasukkan tangan saya ke dalam sungai…dingin sekali….

Salah satu yang membuat saya urung untuk berenang, karena tidak tau bagaimana 
cara membilas, karena tidak disediakan tempat membilas langsung di lokasi yang 
sama. Jadi untuk berganti pakaian, harus keluar ke pintu loket, dan mencari 
sembarang toilet.

Akhirnya kami kembali. Anak saya kegirangan karena saya dudukan di sisi perahu, 
dan kedua kakinya masuk ke dalam air.

Untuk kembali, kami melewati rute yang sama. Sekembalinya ke tempat awal, kami 
melihat mulai bertambah banyak perahu yang masuk membawa para pengunjung.

Selesai dari Green Canyon, kami makan sebentar di warung makan di area parkir. 
Saya suka sekali makan pecelnya. Apalagi menggunakan sejenis helai bunga yang 
warna merah dadu. Entah apa namanya. Mungkin diantara teman-teman ada yang tau. 
Pecel menggunakan bunga seperti ini juga saya makan di Batu Raden. 

Selesai makan, kami masih menimbang-nimbang, apakah akan melanjutkan ke Batu 
Karas. Tapi tidak ada yang tertarik. Pendapat kami, pantai kurang lebih sama 
saja, tidak terlalu jauh berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi akhirnya kami 
sepakat kembali ke Garut. 

Kembali ke Garut, kami tidak melewati rute yang sama seperti berangkat. Jadi 
kami lewat Desa Cikatomas, Panca Tengah, Salopa. Uhhh... jalanannya kurang 
bagus....tapi secara jarak, kami memang menghemat cukup banyak.

Setibanya di Tasik, kami mencari makan. Kami mulai masuk ke tengah kota. 
Kebetulan masa kampanye, jadi kendaraan yang konvoi cukup banyak dan bising 
karena mereka beradu besar ukuran speaker.

Kebetulan kami menemukan ayam goreng Hen-Hen. Jadi kami mampir disini. Rumah 
makan ini menjual ayam goreng dan ayam bakar saja, ditemani accessories 
pendamping seperti tahu, tempe, usus, ati, ampla goreng. Istimewanya di 
sambalnya yang asam segar. Teh hangatnya juga wangi. Kami sempat menanyakan, 
ternyata merk Sisri dan didapat dari daerah Tangerang, Jakarta. Tapi kok tidak 
pernah dengar ya teh merk Sisri. Sepertinya „tiruan“ sosro karena jenis huruf 
dan bentuk logonya sama.

Selesai makan, kami menuju Garut. Tak disangka, baru jalan sebentar, ada pelang 
bertuliskan Situ Gede. Suami saya mengajak untuk melihat. Ya sudah, mumpung 
sudah sampai kami mampir sebentar. 

Tiket masuk per orang 4000 rupiah dan mobil 2500 rupiah. Yang terlihat hanya 
semacam danau dengan daratan kecil di tengah. Kami melihat 3 orang menebar jala 
untuk menangkap ikan dengan tempat yang berjauhan satu sama lain.

Kami turun untuk mengambil foto sebentar. Seorang anak muda mendatangi kami 
untuk menawarkan keliling menuju ke tengah danau. Akhirnya disepakati 25 ribu. 

Suasananya santai dan tidak ramai. Puas rasanya berkeliling walaupun tak lebih 
dari 20 menit.

Begitu kembali, kami langsung naik mobil dan tancap gas menuju Garut. 

Kami tiba di Garut kurang lebih pukul 18:30. Karena lelah, kami langsung pergi 
makan lagi di Jemanii. Baru setelahnya mencari penginapan. 

Kami lupa kalau hari itu malam minggu. Jadi tak heran kalau tingkat huni 
penginapan-penginapan tersebut lebih tinggi lagi. Sejak awal Ayah saya mengajak 
untuk menginap di hotel sebelumnya. Tapi karena ingin mencoba hotel lain, maka 
saya mengajak untuk melihat-lihat dulu ke tempat lainnya. Ada beberapa 
penginapan yang kami datangi, termasuk Hotel Cipaganti, ternyata penuh. Hotel 
Cipaganti sendiri lebih terang daripada Tirta Alam yang kami tempati. Jadi 
terkesan lebih bersih.

Mau tidak mau, kami kembali lagi ke Tirta Alam 2. Eh, ternyata kamar yang 
kosong adalah kamar yang sama dengan sebelumnya. „Memang kamar ini tungguin 
kita“, celetuk ayah saya. Anak saya tidak sanggup lagi mandi langsung tertidur.

Minggu, 29 Maret 2009

Pagi ini kami santai-santai saja. Tanpa tujuan apakah mau extend satu malam 
lagi, atau pindah ke Puncak/Bandung. Tetapi sungguh capek sudah mulai menjalar. 
Entah karena medan perjalanan, atau saya yang kurang santai karena membawa anak 
saya, mengkhawatirkan susah makannya.

Seperti sebelumnya, pagi-pagi kami langsung naik delman berkeliling. Menunya 
pun sama, bubur ayam dari „Selera khas Cipanas“. 

Selesai naik delman, baru semua sepakat ingin pulang ke Jakarta saja, tapi 
mampir dulu beli oleh-oleh. Akhirnya kami mampir ke Aji Rasa, yang menurut 
penarik delman punya koleksi camilan paling lengkap. 

Dilayani ramah oleh pemilik toko, kami pun mengobrol. Dari obrolan tersebut, 
kami diinfokan ada Situ Bagendit yang biasanya ramai selain Situ Cangkuang. 
Untuk menuju Situ Cangkuang pun tidak perlu kembali ke arah yang sebelumnya.

Akhirnya kami mampir ke Situ Bagendit. Ternyata Situ Bagendit ini adalah obyek 
wisata untuk penduduk Garut. Banyak yang berjualan disana dengan menu yang 
kurang lebih sama. Indomie, kopi, mie bakso. Ada permainan bebek air, rakit dan 
kereta api mini pula. Tiket masuk 2,000 per orang.

Banyak yang menawarkan anak-anak untuk main pancing2an. Kalau tidak salah 
ingat, 5000 sepuasnya. Jadi diberikan pancing yang mengandung magnet di bak 
kecil +/- 1 x 1m. Saya menyuapi anak saya disini sambil dia memancing ikan 
mainan.

Selesai dari Situ Bagendit, kami menuju Cangkuang. Sebenarnya, kami tidak 
bermaksud pergi ke Candi atau Situ Cangkuang, tetapi karena kami tau bahwa rute 
pulang harus melewati Cangkuang, maka sewaktu kami bertanya arah, yang kami 
tanyakan adalah kemana arah Cangkuang.

Pulang dari Situ Bagendit ke Cileunyi melewati jalur datang, ternyata jalan 
potongnya tak jauh dari arah berbelok masuk ke Candi Cangkuang itu sendiri. Di 
tengah jalan ada baliho bertulis Rumah Makan Sari Cobek. Karena sudah hampir 
waktu makan siang dan khawatir tidak tau dimana makan yang cukup enak, ya sudah 
karena semua sepakat akhirnya kami semua menuju rumah makan tersebut.

Dari jalan raya menuju rumah makan Sari Cobek cukup jauh. Kurang lebih 15 menit 
melewati persawahan. Ada satu rumah yang mempunyai beberapa kolam besar tempat 
membiakan bunga teratai. Indah sekali.

Sesampainya di rumah makan Sari Cobek, dari depan terlihat biasa saja, 
sebelahnya ada rumah yang sedang di renovasi. Begitu masuk ke dalam, terlihat 
kolam ikan di sebelah kanan yang membatasi halaman dengan ruang receptionist. 
Setelah ruang receptionist, barulah terlihat rumah makan ini.

Rumah makan ini menempati lahan kira-kira 100 x 100 meter. Ditengah-tengah 
terdapat kolam ikan besar dengan air mancur dan tanaman air yang tumbuh tinggi. 
Saung-saung ditata disekeliling kolam. Setiap saung berdiri diatas kolam. 
Suasananya adem dan jarah antara saung yang satu dengan yang lainnya tidak 
terlalu dekat. Apik sekali. Anak saya senang berkeliling tempat ini. Jadi kalau 
dia mulai dari arah kiri, maka dia akan tiba dari arah kanan. Saya juga 
dipinjamkan kuda-kudaan dari rotan untuk dinaiki anak saya sewaktu disuapi 
makan.

Cukup banyak menu yang ditawarkan. Kami juga memesan Gurame Cobek yang menjadi 
spesialis rumah makan ini. Ada satu jenis bumbu yang sangat mendominasi Gurame 
Cobek dan Tahu Cobeknya (saya tidak tau namanya...payah ya..), sehingga bagi 
saya, mengurangi kenikmatannya. Tetapi oleh orang tua saya, hal ini 
diinformasikan ke receptionist sebagai input/pendapat dari tamu. Tetapi secara 
overall, semua rasa makanannya enak, harganya pun murah. Saya berkesan dengan 
jengkol goreng dan telur goreng asam manis. Jengkolnya hanya digoreng biasa dan 
ditaburi garam. Sedangkan kombinasi rasa dari rasa asam manis telur gorengnya 
pas dan rasanya kuat. Recomendedlah dari segi rasa, lokasi dan harga. 

Restaurant ini juga sedang renovasi untuk menambah kamar. Ternyata ada 
penginapan juga selain rumah makan. Tapi kami tidak bertanya berapa harga per 
malam.

Selesai makan, kami iseng ingin pergi melihat Situ Cangkuang. Oleh penjaga 
parkir hanya menunjuk saja, „kesana Bu“. Tapi karena mendung, saya khawatir 
hujan. Dan kita juga tidak tau berapa jauh, maka kami naik mobil. Begitu 
membayar parkir, suami saya sekali lagi menanyakan lokasi Situ Cangkuang, 
ternyata persis berdampingan dengan Rumah makan Sari Cobek ini !

Kami hanya melongok sebentar untuk melihat seperti apa. Tapi sama juga seperti 
Situ Gede dan Situ Bagendit. Jadi kami putuskan tidak usah masuk.

Akhirnya kami pun pulang. Masuk di Jakarta +/- pk 17:00.

Liburan ini sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Namun saya kira, perlu saya 
tambahkan catatan sebagai kritik yang membangun. Mungkin diantara teman-teman 
sekalian ada yang mampu dan berkesempatan untuk memperbaiki kekurangan yang ada 
:
1.      Papan penunjuk jalan sangat sangat sangat minim, sehingga kami perlu 
bertanya beberapa kali untuk menuju ke suatu lokasi. Cipanas Garut, arah 
Pangandaran, Situ Gede, Situ Bagendit, Situ Cangkuang dll. hanya disediakan 
sekedarnya saja. Saya hanya perlu mengikuti petunjuk ke arah Pangandaran tanpa 
bertanya setelah hampir 10km masuk Pangandaran. Plangnya menyatu dengan iklan 
rokok Djarum. Lumayan juga kalau banyak produsen yang mau memberi sponsor untuk 
lokasi wisata. Kekurangan penunjuk arah cukup menyulitkan bagi yang berpergian 
pertama kali. Seharusnya setiap jalan bercabang disediakan papan penunjuk arah.
2.      Toilet yang tersedia sepanjang jalan sangat sangat sangat 
JOROK...haduh....rasanya illfeel banget mengenai hal yang satu ini. Mulai dari 
antri toilet sudah harus tutup hidung, selama dalam toilet, harus bernafas 
sambil ditutup rapat-rapat. Pilihan lain, memakai balsam tebal-tebal di hidung. 
Nelangsa sekali. Belum lagi kalau melihat bak dan gayung yang hitam-hitam. 
Hiiii.....Toilet di pom bensin atau di lokasi wisata, semuanya sama saja 
joroknya.
3.      Kondisi jalan masih ada beberapa ruas jalan yang jelek, sehingga antri 
cukup lama. Tak terbayang bagaimana kalau musim liburan atau lebaran. Menuju 
Pangandaran pun jalannya tidak terlalu lebar. Padahal Pangandaran termasuk 
alternatif utama bagi penduduk Bandung. Kalau saja ada jalan tol menuju 
Pangandaran, tentu daerah ini akan lebih berkembang. 
4.      Kebersihan di semua lokasi wisata. 
Sungguh menyedihkan kalau melihat lokasi wisata ini. Sampah plastik bekas 
bungkus makanan paling banyak. Benar-benar tidak bisa sayang dengan potensi 
wisata yang demikian besar. Di Pangandaran saja saya melihat human shit !!!. 
Situ Bagendit apalagi. Kalau yang agak bersih seperti Situ Gede, alasannya 
sederhana, karena pengunjungnya kurang. Tempat sampah yang disediakan pun tidak 
banyak. Saya sampai harus menenteng sampah sampai pintu keluar untuk 
membuangnya. 
5.      Informasi mengenai potensi wisata. Hal ini juga masih ada ruang untuk 
diperbaiki. Seharusnya, ada informasi mengenai jarak, waktu tempuh, alternatif 
transportasi, dll. Termasuk kalau mau lebih jauh lagi, tiket masuk, jam buka, 
rekomendasi berapa lama untuk menikmati, makanan setempat, dan banyak lagi...

Saya berkhayal, andaikan punya kesempatan untuk bekerja sama dengan pemerintah 
daerah setempat, ingin rasanya mengelola tempat wisata. Saya yakin dengan 
keindahan alam yang unik di setiap tempat, maka secara perhitungan bisnis, akan 
mendatangkan banyak keuntungan. Tapi yang lebih jauh lagi, sayang rasanya kalau 
di-sia-sia-kan dan kurang dimaksimalkan. Tapi bagaimana caranya ya ? Hmmm…. 
pada akhirnya khayalan tinggal khayalan saja….




      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke