CIRCA `95 Pertemuan dengan Bromo pertama kali adalah ketika turun dari Ranu Pani sore-sore. Saat itu, jalur Ranu Pani-Jemplang hanya bisa dilalui kendaraan penggerak empat roda.
Lembah yang membentang disebelah kanan punggungan membuat kepala tak henti-hentinya memandangi. Kebetulan rute ini hanya saya jalani kearah turun karena waktu naik saya melalui Besuk Sat, Desa Pasru Jambe Lumajang. CIRCA `98 Karena yakin lembah yang dahulu saya lihat menuju ke daerah Bromo, maka saya mengulang lagi perjalanan Malang Tumpang Jemplang kemudian berjalan kaki di lautan pasir selama empat jam menuju Cemoro Lawang. Sekarang ini lembah ini lebih dikenal sebagai Bukit Teletubbies. Dahulu saya lebih suka menyebutnya lembah "Sound of Music" atau "Lembah Heidi", tapi Sound of Music dan Heidi kalah populer dengan Teletubbies. Karena saat itu menolak untuk naik Jeep (Hanya karena Toyota Land Cruiser bukan Jeep), perjalanan kami menuju penanjakan justru berakhir di Lokasi pos pandang di pertengahan jalan menuju penanjakan dari Cemoro Lawang. Lokasi pandang ini memang tidak setinggi G. Penanjakan. Tetapi kelebihannya tiada banding; pertama dan utama: sepi!, kedua: lebih dekat jaraknya dan elevasinya kurang lebih sama dengan G. Batok, dan ketiga: segaris dengan G. Semeru dan G. Batok. CIRCA `08 Mas Teguh Sudarisman (sudarisman.multiply.com) mempublikasikan tentang Jalan Belanda, rintisan yang dibuat oleh Pemerintah Belanda ketika mereka bermarkas di Nongko Jajar. April `09 Sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Malang. Dari Airport Abdulrahman Saleh, yang juga Pangkalan Udara Militer, naik taksi ke Tumpang. Warung "Tumpangrejo" disebelah kiri selepas pasar Tumpang masih seperti dulu. Masih memasak rawon dengan sepenuh hati. Ngisin-ngisini tapi yo ben; sarapan kok sego pecel dilanjut Rawon seperti mau nyangkul di ladang. Dari depan warung, minta tolong ojeg mengantar ke persimpangan Jemplang. Alih-alih berjalan ke arah lembah Teletubbies, kami berjalan ke kiri. Dengan berbekal narasi dari Mas Teguh dan peta Google Earth yang hampir maha tahu, saya mengikuti jalan setapak kearah kiri dari pertigaan Pentongan, yang dibeberapa tempat dihalangi pohon tumbang. Karena jalannya begitu jelas, saya tidak takut untuk terus berjalan. Dari atas bukit sini, saya bisa melihat ujung dari lembah Teletubbies yang diapit oleh G. Kursi dan G. Jantur. Lembah "sound of music", terkadang mengecohkan `sense of scale'. Begitu mobil yang melintas terlihat kecil, baru tersadar betapa besarnya lembah ini. Kami terus berjalan, karena rencananya kami akan mendekati Cemoro Lawang melalui lautan pasir di lembah sisi barat G. Bromo. Jika di lihat dari Google Earth, maka lembah pasir ini tampak seperti permukaan Planet Mars, dimana terdapat bekas jejak aliran air sisa musim hujan. Jalan setapak kearah kanan tak dapat kami temukan, akhirnya kami terus berjalan sampai bertemu ujung lembah pasir dan memulai perjalanan kearah utara-timur. Dari ujung lembah ini terlihat jelas sisi sebalik G. Batok. Kami berjalan ditengah lautan pasir sampai waktu menunjukkan pukul 5 sore. Kami menepi dari lautan pasir dan mendirikan tenda. Pintu tenda diarahkan persis ke G. Batok. Makan malam kami berupa Havermout plus gula dan sedikit garam. Mie instan sudah saya tak pernah ajak untuk perjalanan seperti ini. Karena walaupun rasanya enak, rasa haus akibat vetsin dan air yang dibutuhkan untuk mencerna mie rasanya tak sebanding. Malamnya ketika kami membuka pintu tenda tak ada yang bergerak. Tak ada angin, hanya bintang di langit. Rumput didepan kami beku tak bergerak. Pukul 5.30 pagi dimulailah orkestra Bromo; Matahari merekah di belakang Cemoro Lawang, dan perlahan naik menyorot dari belakang G. Batok menciptakan siluet, dan akhirnya naik dan muncul diatas G. Batok. Pemandangan di Bromo adalah sebuah drama. Yang dalam hitungan menit berubah ceritanya. Kadang cerah, kadang kabut tipis, kadang awan menggantung. Kami berkemas dan melanjutkan perjalanan. Kami tak tahu dimana Gua Widodaren sampai pengendara sepeda motor yang melintas memberi petunjuk bahwa kami persis berjalan didepan punggungan menuju ke gua. Selain gua, di tempat ini adalah satu-satunya sumber air di lautan pasir G. Bromo. Kami masuk melalui celah diantara dua punggungan dan melihat tugu tempat sesajen. Setelah menikmati air dibelakang tugu sesajen, datanglah bapak dan ibu warga Tengger yang akan ke gua untuk meletakkan Ndamping. Setelah diberi lampu hijau untuk mendaki ke gua, kami mulai menapaki punggungan tipis. Gua Widodaren sendiri terletak diketinggian setengah jalan menuju puncak G. Widodaren jika diukur dari lautan pasir. Guanya sendiri berupa ceruk dengan sumber air yang menggenang. Sumber air ini dipercaya sebagai air suci oleh masyarakan Hindu Tengger dan Hindu Bali. Kami melanjutkan perjalanan ke Cemoro Lawang dan mendarat di Cafe Lava. Untuk obyek se-specktakuler Bromo, Cemoro Lawang terasa sepi sekali. Pukul 3 dini hari kami mulai berjalan meninggalkan penginapan. Ketika orang lain berebut mengejar matahari terbit di puncak G. Penanjakan dengan menggunakan Jeep, kami berjalan kaki ke arah penginapan Cemoro Lawang Indah dan terus mengikuti jalan aspal sampai habis. Kemudian diikuti dengan jalan setapak yang sudah longsor disana-sini dan akhirnya sampai dibangunan pos. Sepi adalah kelebihan utama tempat ini. Dua kali saya kesini dan dua kali pula saya hanya bertemu dengan turis eropa dan warga Tengger yang sedang mencari kayu. Ditempat ini seonggok batu gunung yang letaknya segaris dengan puncak G. Batok dan puncak G. Semeru adalah tempat terbaik untuk foto2 `I was here'. Perjalanan pulang dari pos pandang ke Cemoro Lawang adalah pertunjukan berikutnya, yaitu pemandangan kebun dan rumah penduduk dengan latar belakang kawah Bromo yang mengepul dan G. Batok. What is it in your back yard? Ours is an active volcano. Timbang-timbang keadaan fisik teman saya, akhirnya saya menghubungi Pak Mulyadi, mantan kepada desa Ngadas. Rencananya teman perjalanan saya akan menggunakan ojeg ke Ngadas dan beristirahat di rumah Pak Mul. Sedangkan saya akan melalui `punggungan kawah-kawah bromo' untuk sampai di Ngadas. Pak Mul malah menawarkan diri untuk menemani saya melintas punggungan. Banyak persimpangan ujarnya. Namun akhirnya teman saya memutuskan untuk ikut menyeberangi kawah-kawah Bromo dan ojeg kembali ke Ngadas membawa dua buah ransel di boncengan. Pak Mul tampak terkejut mendengar bahwa tiga malam yang lalu saya berkemah di lautan pasir seberang gua Widodaren. Saya lebih kaget lagi karena Pak Mul kaget dan saya bertanya apakah keadaan di wilayah Bromo tidak aman. "Aman, Mas. Aman sekali. Cuma daerah sini kan wingit", jawab Pak Mul (wingit = angker). Hehehe...saya Heineken saja pak... Melintas di Punggungan Kawah-Kawah Bromo Kami mulai berjalan kaki dari Cemoro Lawang menuju Kawah Bromo. Disepanjang jalan menuju dasar kawah, tampaknya Pak Mul kenal semua orang. Mungkin karena beliau pernah menjabat selaku kepala desa di Ngadas. Walaupun desa Warga Tengger tersebar di beberapa kabupaten, kekerabatan mereka tetap terjaga. Dalam acara2 adat mereka berkumpul bertukar berita dan cerita. "Mentok tangga, belok kiri" seperti bertanya arah di gedung perkantoran. Hanya saja di ujung tangga bukan tembok yang menghalangi tetapi Kawah Bromo yang mengepulkan asap. Kami melipir pagar kawah sampai selesai. Dan terus berjalan di gigir kawah. Jalan mulai perlahan menanjak dan menyisakan tak sampai dua meter bidang datar. Kekiri dan kekanan kurang lebih seratusan meter dalamnya jurang curam. Tapi kekiri "sedikit lebih baik" karena bukan lubang kawah. Beruntung asap yang mengepul dari dasar kawah ditiup angin ke arah yang berlawanan dengan punggungan dimana kami berjalan. Sedikit hawa belerang tapi tidak menganggu. Di puncak punggungan, kami disuguhi pemandangan menawan; Segoro Wedi Anakan. Danau pasir dengan diameter hampir 1,5 km. Tempat-tempat di seputar Bromo seperti; Jemplang, Cemoro Lawang, G. Jantur, dan G. Penanjakan adalah lingkar kawah tua. Ditengahnya lahir gunung-gunung dan kawah baru. Diantaranya yang masih aktif mengeluarkan asap adalah Kawah Bromo. Namun dibelakangnya terdapat paling tidak dua kawah mati yang sekarang menjadi lautan pasir; Segoro Wedi Anakan Lor, dan Segoro Wedi Anakan Kidul. Kawah2 ini yang jarang dikunjungi turis karena mereka hanya berhenti di ujung Kawah Bromo. Kami tiba di pertigaan antara Kawah Bromo dan Segoro Wedi Anakan. Kalau kekanan maka kami membentuk putaran penuh kawah bromo, sedangkan ke kekiri kami menyusuri punggungan batas Segoro Wedi Anakan Kidul. Kami memutuskan tidak turun ke dalam Segoro Wedi Anakan Kidul. Berjalan dipunggungan, kami kembali bertemu dengan pertigaan menuju puncak G. Kursi. Kami berbelok ke kanan kearah Segoro Wedi Anakan Lor. Yang satu ini tidak terlalu dalam. Kami bisa dengan mudah turun dan berjalan ditengahnya. Tampak beberapa pohon Lamtoro yang tumbuh. Di Segoro Wedi Anakan Lor, walaupun tempatnya lebih tinggi dibanding Kawah Bromo, masih ada sumber air berupa ceruk yang dinamai Keduwung, tempat kami makan siang. Lauk yang kami bawa kami tinggalkan, dan menjajah tumis jamur masakan Bu Mul. Sedep! Ditumis dengan bawang dan lombok terong yang mirip paprika, dimakan disebelah sumber air. Kami melanjutkan perjalanan dan berusaha naik ke punggungan mengarah ke G. Watangan. Dari punggungan ini tampak disebelah kiri bukit "Teletubbies". Tidak terlalu jelas mana yang disebut puncak G. Watangan, karena medan yang dilalui naik turun di punggungan. Yang pasti pemandangan ke depan sangat menantang; punggungan tipis dengan jurang di kiri dan kanan, ditambah awan gelap di depan. Tapi kami berbelok kekiri dan turun di salah satu punggungan. Kami menyeberang lembah dan naik lagi ke G. Ider-ider. Di dasar lembah kami mampir di Mbus-busan angin. Entah fenomena alam apa, dari celah berukuran kurang dari dua puluh sentimeter keluar hembusan udara segar. Benar-benar udara segar tanpa bau sulfur yang biasanya muncul di manifestasi kegiatan vulkanik. Rumput dan tumbuhan didepan lubang pun tumbuh normal. Mungkin yang terjadi adalah terbentuknya semacam saluran udara dibawah tanah. Melihat apa yang kami lihat hari ini, sayang juga kalo wisatawan yang datang cuma menghabiskan satu pagi di Bromo; naik jeep ke Penanjakan, kemudian ke Kawah Bromo dan pulang. Apalagi turis eropa yang gatel dengkul. Paling tidak mereka pasti mau menambah masa tinggal barang sehari dua hari kalau mereka bisa trekking di punggungan Kawah-kawah Bromo. NGADAS Kami kembali ke pertigaan Jemplang, dimana dua sepeda motor sudah menunggu kami untuk membawa kami ke rumah Pak Mul di Desa Ngadas. Setelah disuguhi kopi Tumpang, kami membereskan kamar dan pindah tongkrongan ke Pawon. Pawon, atau dapur, dalam sistim keluarga tradisional adalah sebuah ruang keluarga yang sebenarnya. Di Pawon, didepan perapian, terjalin komunikasi untuk membahas masalah ringan, masalah internal keluarga, sampai masalah kemasyarakatan, sebelum televisi dan sinetron sampah mengambil alih. Kami duduk di pawon sambil memperhatikan Bu Mul mempersiapkan tumis jamur. Pagi harinya, kami terbangun pagi sekali dan kembali duduk diatas dingklik depan perapian. Ketel air kembali bersiul, dan segelas kopi mengepul kembali diedarkan. Rencananya kami akan berangkat melihat padang edelwise di salah satu cabang Jalan Belanda. Yang dimaksud padang edelwise adalah punggungan sebuah bukit yang mungkin karena cuacanya cocok, dipadati oleh bunga edelwise. Pada saat kami kesana kebetulan baru saja mulai berkembang. Karena tidak terlalu lama, kami masih punya waktu untuk mampir ke Hutan Ireng-ireng. Pada dasarnya kami berkendara ke Ranu Pani, dan turun ke arah Senduro, Kabupaten Lumajang. Harus diakui kerja petugas jagawana di TN Bromo Tengger Semeru cukup mengesankan. Walaupun terdapat enclave-enclave pemukiman warga di dalam kawasan taman nasional, walaupun jalanan kendaraan bermotor sudah diaspal, namum keadaan hutan masih relatif terjaga. Pilot ojeg kami bercerita bahwa dulu mereka biasa menggembala sapi sampai di padang rumput `sound of music'(tuh kan, sapi di padang rumput lebih mirip `sound of music' bukan `teletubbies') namun sekarang mereka tidak boleh menggembala di padang rumput tetapi tetap boleh mengambil rumput untuk pakan ternak. Terbayang kerumitan pengaturan sebuah taman nasional yang relatif dekat dengan pusat kegiatan perekonomian; kepentingan pelestarian, kepentingan warga, kepentingan penggemar `john deere' atau penggemar `chain saw'.(itu loh; mobil yang perlengkapan-nya seperti traktor `john deere' dan sepeda motor yang bunyinya seperti mesin gergaji mesin) http://puguhimanto.multiply.com/photos/album/49/Menikmati_Punggungan_Kaw\ ah-Kawah_Bromo_-_2009 <http://puguhimanto.multiply.com/photos/album/49/Menikmati_Punggungan_Ka\ wah-Kawah_Bromo_-_2009> [Non-text portions of this message have been removed]
