Walah, informasi yang disampaikan Pak Purnawan ini sebagian besar, terutama 
yang mengenai saya, ndak benar. Masa Pak Mul yang sudah puluhan tahun tinggal 
di Tengger malah baru melintasi Segoro Wedi Anakan karena 'dibawa' oleh orang 
luar yang baru dua kali ke Bromo? Ngawur ahh!  :))
Kalau mau nanya berbagai hal tentang Bromo dan Tengger, silakan teman-teman IBP 
tanya ke Pak Pur ini, secara beliau ini dosen peneliti masyarakat Tengger, dan 
sudah puluhan kali mengelilingi kawasan Bromo-Tengger.
Eh yang masalah jamur itu kan adanya di musim hujan, jadi nanti ya, tunggu 
bulan November-Desember.

Salam,

Tg



--- On Tue, 5/5/09, Purnawan D. Negara <[email protected]> wrote:
From: Purnawan D. Negara <[email protected]>
Subject: Bls: [indobackpacker] Menikmati Punggungan Kawah-Kawah Bromo
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 5, 2009, 6:22 AM











    
            
            


      
      Mas Puguh.....wah perjalanan yang menarik..... ...dan keren...., memang 
semestinya ke Bromo bukan penanjakan doang atau kawahnya.... .........



Wah Pak Mul Ngadas semakin ngetop saja.... he...3x, asal tahu saja justru yang 
membawa Pak Mul pertama kali melintasi Puncak Bromo - Segoro Wedi Anakan - 
Keduwung - Watangan - terus meluncur sampai embus-embusan angin - Pentongan 
adalah TEGUH SUDARISMAN :-)), lucunya bahkan kita secara ngawur menjuluki nama 
segoro wedi di atas bromo itu dengan "Segoro Wedi Anakan", tetapi kira-kira 
memang cocok ya Mas atau memang sudah pernah ada, sebab waktu itu ketika kita 
tanya Pak Mul sendiri juga kesulitan memberikan nama, ha....3x



Ada rute lagi yang TEGUH SUDARISMAN belum jajagi, fotografer jempolan ini belum 
sekalipun mencoba mengikuti jejak pencari jamur grigit yang unik itu, juga 
menggapai matahari terbit dari puncak kursi atau watangan, bahkan pudak 
lembu....... .......yang ada dikawasan dinding timur-utara Bromo itu......... .



Kalau ingin JJS ladang-ladang setapak, bisa juga dicoba Benjor - Jarak Ijo - 
Ngadas, kukira itu kawasan perladangan yang top markotop.... ., apalagi 
disambung dengan sayur "ranti", ikan asing, nasi jagung Tengger enak tenan.... 
:-))



Terimakasih telah berbagi, kisahnya menarik.....



-PDN-



____________ _________ _________ __

Dari: puguh_imanto <puguh_imanto@ yahoo.com>

Kepada: indobackpacker@ yahoogroups. com

Terkirim: Senin, 4 Mei, 2009 18:34:06

Topik: [indobackpacker] Menikmati Punggungan Kawah-Kawah Bromo



CIRCA `95

Pertemuan dengan Bromo pertama kali adalah ketika turun dari Ranu Pani

sore-sore. Saat itu, jalur Ranu Pani-Jemplang hanya bisa dilalui

kendaraan penggerak empat roda.



Lembah yang membentang disebelah kanan punggungan membuat kepala tak

henti-hentinya memandangi. Kebetulan rute ini hanya saya jalani kearah

turun karena waktu naik saya melalui Besuk Sat, Desa Pasru Jambe –

Lumajang.



CIRCA `98

Karena yakin lembah yang dahulu saya lihat menuju ke daerah Bromo, maka

saya mengulang lagi perjalanan Malang – Tumpang – Jemplang

kemudian berjalan kaki di lautan pasir selama empat jam menuju Cemoro

Lawang. Sekarang ini lembah ini lebih dikenal sebagai Bukit Teletubbies.

Dahulu saya lebih suka menyebutnya lembah "Sound of Music" atau

"Lembah Heidi", tapi Sound of Music dan Heidi kalah populer dengan

Teletubbies.



Karena saat itu menolak untuk naik Jeep (Hanya karena Toyota Land

Cruiser bukan Jeep), perjalanan kami menuju penanjakan justru berakhir

di Lokasi pos pandang di pertengahan jalan menuju penanjakan dari Cemoro

Lawang. Lokasi pandang ini memang tidak setinggi G. Penanjakan. Tetapi

kelebihannya tiada banding; pertama dan utama: sepi!, kedua: lebih dekat

jaraknya dan elevasinya kurang lebih sama dengan G. Batok, dan ketiga:

segaris dengan G. Semeru dan G. Batok.



CIRCA `08

Mas Teguh Sudarisman (sudarisman. multiply. com) mempublikasikan tentang

Jalan Belanda, rintisan yang dibuat oleh Pemerintah Belanda ketika

mereka bermarkas di Nongko Jajar.



April `09

Sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Malang. Dari

Airport Abdulrahman Saleh, yang juga Pangkalan Udara Militer, naik taksi

ke Tumpang. Warung "Tumpangrejo" disebelah kiri selepas pasar Tumpang

masih seperti dulu. Masih memasak rawon dengan sepenuh hati.

Ngisin-ngisini tapi yo ben; sarapan kok sego pecel dilanjut Rawon

seperti mau nyangkul di ladang.



Dari depan warung, minta tolong ojeg mengantar ke persimpangan Jemplang.

Alih-alih berjalan ke arah lembah Teletubbies, kami berjalan ke kiri.

Dengan berbekal narasi dari Mas Teguh dan peta Google Earth yang hampir

maha tahu, saya mengikuti jalan setapak kearah kiri dari pertigaan

Pentongan, yang dibeberapa tempat dihalangi pohon tumbang. Karena

jalannya begitu jelas, saya tidak takut untuk terus berjalan. Dari atas

bukit sini, saya bisa melihat ujung dari lembah Teletubbies yang diapit

oleh G. Kursi dan G. Jantur.



Lembah "sound of music", terkadang mengecohkan `sense of

scale'. Begitu mobil yang melintas terlihat kecil, baru tersadar

betapa besarnya lembah ini.



Kami terus berjalan, karena rencananya kami akan mendekati Cemoro Lawang

melalui lautan pasir di lembah sisi barat G. Bromo. Jika di lihat dari

Google Earth, maka lembah pasir ini tampak seperti permukaan Planet

Mars, dimana terdapat bekas jejak aliran air sisa musim hujan.



Jalan setapak kearah kanan tak dapat kami temukan, akhirnya kami terus

berjalan sampai bertemu ujung lembah pasir dan memulai perjalanan kearah

utara-timur.



Dari ujung lembah ini terlihat jelas sisi sebalik G. Batok. Kami

berjalan ditengah lautan pasir sampai waktu menunjukkan pukul 5 sore.

Kami menepi dari lautan pasir dan mendirikan tenda. Pintu tenda

diarahkan persis ke G. Batok.



Makan malam kami berupa Havermout plus gula dan sedikit garam. Mie

instan sudah saya tak pernah ajak untuk perjalanan seperti ini. Karena

walaupun rasanya enak, rasa haus akibat vetsin dan air yang dibutuhkan

untuk mencerna mie rasanya tak sebanding.



Malamnya ketika kami membuka pintu tenda tak ada yang bergerak. Tak ada

angin, hanya bintang di langit. Rumput didepan kami beku tak bergerak.



Pukul 5.30 pagi dimulailah orkestra Bromo; Matahari merekah di belakang

Cemoro Lawang, dan perlahan naik menyorot dari belakang G. Batok

menciptakan siluet, dan akhirnya naik dan muncul diatas G. Batok.

Pemandangan di Bromo adalah sebuah drama. Yang dalam hitungan menit

berubah ceritanya. Kadang cerah, kadang kabut tipis, kadang awan

menggantung.



Kami berkemas dan melanjutkan perjalanan. Kami tak tahu dimana Gua

Widodaren sampai pengendara sepeda motor yang melintas memberi petunjuk

bahwa kami persis berjalan didepan punggungan menuju ke gua. Selain gua,

di tempat ini adalah satu-satunya sumber air di lautan pasir G. Bromo.

Kami masuk melalui celah diantara dua punggungan dan melihat tugu tempat

sesajen.



Setelah menikmati air dibelakang tugu sesajen, datanglah bapak dan ibu

warga Tengger yang akan ke gua untuk meletakkan Ndamping. Setelah diberi

lampu hijau untuk mendaki ke gua, kami mulai menapaki punggungan tipis.

Gua Widodaren sendiri terletak diketinggian setengah jalan menuju puncak

G. Widodaren jika diukur dari lautan pasir. Guanya sendiri berupa ceruk

dengan sumber air yang menggenang. Sumber air ini dipercaya sebagai air

suci oleh masyarakan Hindu Tengger dan Hindu Bali.



Kami melanjutkan perjalanan ke Cemoro Lawang dan mendarat di Cafe Lava.

Untuk obyek se-specktakuler Bromo, Cemoro Lawang terasa sepi sekali.



Pukul 3 dini hari kami mulai berjalan meninggalkan penginapan. Ketika

orang lain berebut mengejar matahari terbit di puncak G. Penanjakan

dengan menggunakan Jeep, kami berjalan kaki ke arah penginapan Cemoro

Lawang Indah dan terus mengikuti jalan aspal sampai habis. Kemudian

diikuti dengan jalan setapak yang sudah longsor disana-sini dan akhirnya

sampai dibangunan pos. Sepi adalah kelebihan utama tempat ini. Dua kali

saya kesini dan dua kali pula saya hanya bertemu dengan turis eropa dan

warga Tengger yang sedang mencari kayu.



Ditempat ini seonggok batu gunung yang letaknya segaris dengan puncak G.

Batok dan puncak G. Semeru adalah tempat terbaik untuk foto2 `I was

here'.



Perjalanan pulang dari pos pandang ke Cemoro Lawang adalah pertunjukan

berikutnya, yaitu pemandangan kebun dan rumah penduduk dengan latar

belakang kawah Bromo yang mengepul dan G. Batok. What is it in your back

yard? Ours is an active volcano.



Timbang-timbang keadaan fisik teman saya, akhirnya saya menghubungi Pak

Mulyadi, mantan kepada desa Ngadas. Rencananya teman perjalanan saya

akan menggunakan ojeg ke Ngadas dan beristirahat di rumah Pak Mul.

Sedangkan saya akan melalui `punggungan kawah-kawah bromo' untuk

sampai di Ngadas.



Pak Mul malah menawarkan diri untuk menemani saya melintas punggungan.

Banyak persimpangan ujarnya. Namun akhirnya teman saya memutuskan untuk

ikut menyeberangi kawah-kawah Bromo dan ojeg kembali ke Ngadas membawa

dua buah ransel di boncengan.



Pak Mul tampak terkejut mendengar bahwa tiga malam yang lalu saya

berkemah di lautan pasir seberang gua Widodaren. Saya lebih kaget lagi

karena Pak Mul kaget dan saya bertanya apakah keadaan di wilayah Bromo

tidak aman.



"Aman, Mas. Aman sekali. Cuma daerah sini kan wingit", jawab Pak

Mul (wingit = angker).



Hehehe...saya Heineken saja pak...



Melintas di Punggungan Kawah-Kawah Bromo

Kami mulai berjalan kaki dari Cemoro Lawang menuju Kawah Bromo.

Disepanjang jalan menuju dasar kawah, tampaknya Pak Mul kenal semua

orang. Mungkin karena beliau pernah menjabat selaku kepala desa di

Ngadas. Walaupun desa Warga Tengger tersebar di beberapa kabupaten,

kekerabatan mereka tetap terjaga. Dalam acara2 adat mereka berkumpul

bertukar berita dan cerita.



"Mentok tangga, belok kiri" seperti bertanya arah di gedung

perkantoran. Hanya saja di ujung tangga bukan tembok yang menghalangi

tetapi Kawah Bromo yang mengepulkan asap. Kami melipir pagar kawah

sampai selesai. Dan terus berjalan di gigir kawah. Jalan mulai perlahan

menanjak dan menyisakan tak sampai dua meter bidang datar. Kekiri dan

kekanan kurang lebih seratusan meter dalamnya jurang curam. Tapi kekiri

"sedikit lebih baik" karena bukan lubang kawah.



Beruntung asap yang mengepul dari dasar kawah ditiup angin ke arah yang

berlawanan dengan punggungan dimana kami berjalan. Sedikit hawa belerang

tapi tidak menganggu. Di puncak punggungan, kami disuguhi pemandangan

menawan; Segoro Wedi Anakan. Danau pasir dengan diameter hampir 1,5 km.



Tempat-tempat di seputar Bromo seperti; Jemplang, Cemoro Lawang, G.

Jantur, dan G. Penanjakan adalah lingkar kawah tua. Ditengahnya lahir

gunung-gunung dan kawah baru. Diantaranya yang masih aktif mengeluarkan

asap adalah Kawah Bromo.. Namun dibelakangnya terdapat paling tidak dua

kawah mati yang sekarang menjadi lautan pasir; Segoro Wedi Anakan Lor,

dan Segoro Wedi Anakan Kidul. Kawah2 ini yang jarang dikunjungi turis

karena mereka hanya berhenti di ujung Kawah Bromo.



Kami tiba di pertigaan antara Kawah Bromo dan Segoro Wedi Anakan. Kalau

kekanan maka kami membentuk putaran penuh kawah bromo, sedangkan ke

kekiri kami menyusuri punggungan batas Segoro Wedi Anakan Kidul. Kami

memutuskan tidak turun ke dalam Segoro Wedi Anakan Kidul.



Berjalan dipunggungan, kami kembali bertemu dengan pertigaan menuju

puncak G. Kursi. Kami berbelok ke kanan kearah Segoro Wedi Anakan Lor.

Yang satu ini tidak terlalu dalam. Kami bisa dengan mudah turun dan

berjalan ditengahnya. Tampak beberapa pohon Lamtoro yang tumbuh.



Di Segoro Wedi Anakan Lor, walaupun tempatnya lebih tinggi dibanding

Kawah Bromo, masih ada sumber air berupa ceruk yang dinamai Keduwung,

tempat kami makan siang. Lauk yang kami bawa kami tinggalkan, dan

menjajah tumis jamur masakan Bu Mul. Sedep! Ditumis dengan bawang dan

lombok terong – yang mirip paprika, dimakan disebelah sumber air.



Kami melanjutkan perjalanan dan berusaha naik ke punggungan mengarah ke

G. Watangan. Dari punggungan ini tampak disebelah kiri bukit

"Teletubbies" . Tidak terlalu jelas mana yang disebut puncak G.

Watangan, karena medan yang dilalui naik turun di punggungan. Yang pasti

pemandangan ke depan sangat menantang; punggungan tipis dengan jurang di

kiri dan kanan, ditambah awan gelap di depan.



Tapi kami berbelok kekiri dan turun di salah satu punggungan. Kami

menyeberang lembah dan naik lagi ke G. Ider-ider. Di dasar lembah kami

mampir di Mbus-busan angin. Entah fenomena alam apa, dari celah

berukuran kurang dari dua puluh sentimeter keluar hembusan udara segar.

Benar-benar udara segar tanpa bau sulfur yang biasanya muncul di

manifestasi kegiatan vulkanik. Rumput dan tumbuhan didepan lubang pun

tumbuh normal. Mungkin yang terjadi adalah terbentuknya semacam saluran

udara dibawah tanah..



Melihat apa yang kami lihat hari ini, sayang juga kalo wisatawan yang

datang cuma menghabiskan satu pagi di Bromo; naik jeep ke Penanjakan,

kemudian ke Kawah Bromo dan pulang. Apalagi turis eropa yang gatel

dengkul. Paling tidak mereka pasti mau menambah masa tinggal barang

sehari dua hari kalau mereka bisa trekking di punggungan Kawah-kawah

Bromo.



NGADAS

Kami kembali ke pertigaan Jemplang, dimana dua sepeda motor sudah

menunggu kami untuk membawa kami ke rumah Pak Mul di Desa Ngadas.

Setelah disuguhi kopi Tumpang, kami membereskan kamar dan pindah

tongkrongan ke Pawon.



Pawon, atau dapur, dalam sistim keluarga tradisional adalah sebuah ruang

keluarga yang sebenarnya. Di Pawon, didepan perapian, terjalin

komunikasi untuk membahas masalah ringan, masalah internal keluarga,

sampai masalah kemasyarakatan, sebelum televisi dan sinetron sampah

mengambil alih.



Kami duduk di pawon sambil memperhatikan Bu Mul mempersiapkan tumis

jamur.



Pagi harinya, kami terbangun pagi sekali dan kembali duduk diatas

dingklik depan perapian. Ketel air kembali bersiul, dan segelas kopi

mengepul kembali diedarkan.



Rencananya kami akan berangkat melihat padang edelwise di salah satu

cabang Jalan Belanda. Yang dimaksud padang edelwise adalah punggungan

sebuah bukit yang mungkin karena cuacanya cocok, dipadati oleh bunga

edelwise. Pada saat kami kesana kebetulan baru saja mulai berkembang.



Karena tidak terlalu lama, kami masih punya waktu untuk mampir ke Hutan

Ireng-ireng. Pada dasarnya kami berkendara ke Ranu Pani, dan turun ke

arah Senduro, Kabupaten Lumajang.



Harus diakui kerja petugas jagawana di TN Bromo – Tengger –

Semeru cukup mengesankan. Walaupun terdapat enclave-enclave pemukiman

warga di dalam kawasan taman nasional, walaupun jalanan kendaraan

bermotor sudah diaspal, namum keadaan hutan masih relatif terjaga. Pilot

ojeg kami bercerita bahwa dulu mereka biasa menggembala sapi sampai di

padang rumput `sound of music'(tuh kan, sapi di padang rumput

lebih mirip `sound of music' bukan `teletubbies' ) namun

sekarang mereka tidak boleh menggembala di padang rumput tetapi tetap

boleh mengambil rumput untuk pakan ternak.



Terbayang kerumitan pengaturan sebuah taman nasional yang relatif dekat

dengan pusat kegiatan perekonomian; kepentingan pelestarian, kepentingan

warga, kepentingan penggemar `john deere' atau penggemar

`chain saw'..(itu loh; mobil yang perlengkapan- nya seperti

traktor `john deere' dan sepeda motor yang bunyinya seperti

mesin gergaji mesin)



http://puguhimanto. multiply. com/photos/ album/49/ Menikmati_ Punggungan_ Kaw\

ah-Kawah_Bromo_ -_2009

<http://puguhimanto. multiply. com/photos/ album/49/ Menikmati_ Punggungan_ Ka\

wah-Kawah_Bromo_ -_2009>



[Non-text portions of this message have been removed]



Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke 
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! 

http://downloads. yahoo.com/ id/internetexplo rer



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke