Granada dikitari oleh tanah subur La Vega. 17 km di sebelah barat Granada,
masih di dalam radius La Vega, terletak sebuah desa bernama Fuente Vaqueros.
Desa ini jadi penting lantaran melahirkan Federico Garcia Lorca (FGL). Bersama
Pablo Picasso, Federico adalah 2 seniman besar asal Andalucia yang mengharumkan
nama bangsanya ke antero dunia.
Saya bukan pecandu karya Federico. Malah bisa dianggap saya kenal dia sambil
lalu. Pertama, lewat 2 karyanya ´Rumah Bernarda Alba´ yang diterbitkan Pustaka
Jaya dan 'Sri´ adaptasi cerita Jawa atas karyanya ´Yerma´. Kedua, pernah
menonton film ´The Death of Federico Garcia Lorca´ yang mana Andy Garcia
memerankan tokoh Federico. Ketiga, kliping yang saya buat lebih dari 20 tahun
silam! Saya lupa tepatnya, tapi yang jelas ada 2 artikel Kompas di halaman
depan bawah yang menulis catatan pengembaraan Ramadhan KH ke Granada
menyelusuri jejak Federico. 20 tahun lebih kliping itu tidak terbaca namun
masih saya simpan dan saya rawat. Lantas untuk apa saya mesti bersusah payah
mencoba mengenali situs-situs yang membentuk kesejarahan Federico? Jawabnya
mungkin sama dengan teman-teman lain: merealisasi angan-angan masa sekolah.
Gara-gara terlambat 8 menit, saya harus menunggu hampir 2 jam. Untuk ke Fuente
Vaqueros ada bis reguler yang berangkat dari depan Estacion de Tren (stasiun
kereta). Sengaja tadi pagi saya ajak anak jalan kaki agak jauh dengan harapan
sinar matahari menyirami tubuhnya. Batuk, karena cuaca Eropa, yang ia derita
memang sudah membaik tapi saya percaya akan makin baik jika badannya
terhangatkan. Dengan lolosnya bis yang berangkat jam 11 praktis harapan untuk
bisa masuk Museo Casa Natal FGL juga punah. Di hari Minggu museo hanya buka
sampai jam 1 siang. Hari Senin museum tutup sementara saya berencana
meninggalkan Granada Selasa (26/5) siang. Saya nekad menunggu bis yang
berangkat jam 1 siang (di hari Minggu hanya ada 4 bis reguler yang berangkat
setiap selisih 2 jam) hanya untuk melihat seperti apa kondisi desa yang
melahirkan penyair besar.
Meski namanya desa, praktis tak ada jalan utama di Fuente Vaqueros yang tidak
beraspal. Ladang dan pepohonan subur membentang hingga di pebukitan. Saya
turun di plaza utama. Di mana Casa Museo Natal berada? Istri bilang, sebelum
tikungan terakhir dia melihat Biblioteca Publica (Perpustakaan Umum) FGL. Saya
ke sana tetapi tutup. Cuaca panas terik tetapi karena tidak lembab tidak
membuat kami berkeringat. Saya minta istri dan anak menunggu di bangku plaza,
saya coba jalan mencari di mana letak rumah bersejarah itu. Saya ikuti
petunjuk jalan dan ketemu. Rumahnya nomor 3 dari pertigaan jalan. Di depannya
tertulis ´en esta casa nacio FGL en 5 de Junio 1898´ (di rumah ini lahir FDL
pada tanggal 5-Juni-1898).
Bisa menemukan rumahnya dan melihat situasi desa bagi saya sudah cukup. Saya
sudah mendapatkan ´tombo ati´ meski di rumahnya terbaca ´Dominggo Tarde
Cerrado, Lunes Cerrado´´ (Minggu sore tutup, Senin tutup). Saya kembali ke
plaza utama menunggu bis yang akan menuju Granada. Sambil melihat-lihat
billboard yang terpasang, tahulah saya bahwa Fuente Vaqueros kini identik
dengan FGL. Ada patungnya tak jauh dari plaza utama desa, ada monumen khusus
untuknya, ada pula gedung teater yang mengabadikan namanya.
Sekembali ke Granada, saya coba mengejar jejak FGL yang lain di pinggir kota.
Tepatnya di Huerte de San Vincente, kira-kira jalan kaki 30 menit dari
penginapan. Di sana ada Casa-Museo FGL. Untuk Minggu sore, museum dibuka 4
kali. Saya harus mengejar jadual ini karena besok museum tutup. Syukurlah
saya masih dapat tiket seharga E3 untuk masuk jam 18.45. ´Puedo tocar
fotografia?¨, saya tanyakan pada penjual tiket. ´Aqui o en la jardin si, pero
no en la casa,¨ katanya. Untuk masuk rumah-museum semua harus mengikuti
pemandu. Barengan saya ada 7 orang asli Spanyol. Celakanya (atau beruntungnya
.. he-he-he) pemandu memberi penjelasan dalan Spanish yang diucapkan secepat
dalam telenovela sebelum berlakunya aturan sulih suara!
Seperti diketahui, Federico adalah penulis Spanyol terpenting setelah Miguel de
Cervantes. Federico populer dan secara fisik menarik (foto Federico muda jauh
lebih ganteng ketimbang Antonio Banderas). Meski begitu ia merasa
terpinggirkan (lantaran kecenderungannya pada kesejenisan (homoseksual),
afiliasi politiknya yang kekiri-kirian, dan karena bakatnya) dari Granada dan
seluruh Spanyol pada umumnya. Ia menyebut Granada sebagai kota buangan yang
dipenuhi burjuasi terburuk. Fedrico sering diidetifikasikan dengan kaum
pinggiran Andalucia: Gypsi. Dia mengagumi masa lalu Granada semasa Islam dan
menganggap warna autentik Andalucia bisa ditemukan Malaga, Cordoba, Cadiz,
tetapi bukan di Granada! Federico terbunuh di masa kecamuk perang sipil
(1936-1939). Oleh kaum Nasionalis pendukung Jendral Francisco Franco.
Di rumah peristirahatan musim panas ini semangat Federico serasa masih hidup.
Pengunjung diajak masuk ke seluruh ruang. Di lantai bawah yang terdiri dari 4
kamar ada kamar tamu, kamar santai, dapur dan kamar tempat ia bermain piano.
Lantai atas sepertinya sangat penting dalam mendukung Federico berkarya. Kami
masuk ke ruang di mana ia biasa menulis. Di sana ada jendela berjeruji
tempat ia bisa mengintip taman dan orang yang lalu lalang. Di sebelah ruang
kerja dipajang beberapa tulisan maupun lukisan karya Federico. Ada puisi, ada
pula surat-menyurat pribadi.
Melengkapi rumah-museum ini (yang juga bisa dianggap rumah induk) ada rumah
lain yang menjual buku-buku karya Federico. Sayang hanya sebuah yang bahasa
Inggris dan itu bisa dibeli dengan mudah di Amazon. Sisanya hanya ada buku
dalam Espanyol. Saya beli satu buku yang diberi judul ´Poesia Para Empezar´
(Puisi untuk Pemula). Di dalamnya berisi tulisan Federico untuk anak-anak.
Mau beli yang lebih serius, bahasa Spanyol saya sangat pas-pasan .. he-he-he.
Saya temukan ´La Casa de Bernarda Alba´. Pada penjual saya katakán, ´yo he
leyendo esta libro en mi Idioma.´
Saya tidak tahu aliran apa yang saat ini memerintah Spanyol. Adanya berbagai
penghargaan dan pengabadian tempat-tempat bersejarah yang terkait dengan
Federico membuktikan bahwa bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai
karya putra-putra terbaiknya. Yang diutamakan adalah karya yang bersangkutan,
warisannya pada dunia, bukan afiliasi politik maupun kebribadiannya. Kebetulan
awal Juni tahun lalu saya sempat ke rumah Pramoedya Ananta Toer di Blora.
Selama hampir 4 jam saya ngobrol berkepanjangan dengan Pak Soesilo Toer, adik
dari sastrawan besar yang karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa
di dunia itu. Apakah saya bermimpi jika rumah kelahiran Pramoedya di Blora
bisa menjadi semacam rumah Federico di Granada?
Salam dari Granada
Dominggo, 25-Mayo-2009
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/