Kebetulan atau tidak, 3 kali final Piala Champion terjadi pada saat saya 
jalan-jalan.  Semalam (27/5), menonton potongan pertandingan Barcelona - MU 
bersama puluhan orang di sebuah penginapan di Chefchaouen (baca: sefsawen) 
adalah sungguh pengalaman baru.  Saat gol pertama Barcelona terjadi saya yang 
lagi jalan di Plaza Uta el-Hammam (pusat kota lama Chefchaouen) hanya mendengar 
sorak-sorai membahana.  Yang agak mengherankan, hampir di setiap kerumunan 
sikap penonton dengan menyolok berpihak ke Barcelona.  Adakah lantaran adanya 
beberapa pemain Afrika (Eto'o, Tauore) terselip di tim asal Catalonia itu?

Saat kembali ke penginapan, situasi penonton tidak berubah.  Mayoritas 
suportadores Barcelona kecuali, tentu saja, beberapa backpacker asal Inggris.  
Di akhir pertandingan semuanya jadi jelas berkat keterangan pegawai 
penginapan.  Katanya, "Dua tahun lalu presiden Barcelona berkunjung ke sini.  
Mereka membangun banyak fasilitas untuk menarik pelancong.  Benar bahwa Maroko 
bagian dari Franco-African (negara Afrika yang memakai Francais sebagai bahasa 
kedua), tetapi kami, orang-orang Berber dari Chefchaouen, seperti 
didiskriminasi.  Kami bisa berbahasa Perancis tetapi lebih suka memakai bahasa 
Spanyol.  Jika kami menonton bola, siaran yang kami lihat lebih banyak La 
Liga.  Lihat, sebentar lagi orang-orang akan berpesta."  Pagi tadi saat pertama 
kali bersua, pegawai tadi bilang, "orang-orang di cafe .... (saya lupa nama 
yang ia sebut) memotong 3 kambing."

Pilihan berbahasa Spanyol dan dukungan pada Barcelona itu bisa dianggap sebagai 
anomali dari rumusan 'jarak geografi tidak sebanding dengan jarak kultural'.  
Eropa - Afrika hanya terpisah 13km.  Tetapi selat sempit yang bisa dilayari 
dengan barco rapido (kapal cepat) dalam 35 menit itu ternyata memisahkan 
hal-hal yang amat kontras.  Ini bukan hanya dalam hal-hal mendasar seperti 
agama, budaya, perilaku tetapi juga dalam hal (setidaknya dalam pikiran saya) 
semestinya universal.  Salah satu contohnya adalah keyboard komputer.  Di 
Spanyol keyboard yang ada di warnet susunannya sama dengan yang biasa saya 
pakai di rumah.  Di Tanger, keyboard yang saya pakai demikian berbeda.  
Letak huruh a, q, m, w nya diubah.  Waktu pertama mencoba menulis cepat, yang 
tampil di layar seperti transliterasi aksara Jawi (Arab gundul) karena tanpa 
vokal ... he-he.  Tak ada pilihan di luar menulis sembari memelototi papan 
kunci.

Malam ini adalah malam ketiga kami di Maroko.  Malam pertama kami lewatkan di 
Tanger, sementara kemarin dan malam ini di kota kecil di lereng Gunung Rif yang 
kerap dianggap kota tercantik di Maroko.  Ketika meninggalkan Granada 
sebenarnya kami ingin menyeberang lewat Algeciras.  Kebetulan di terminal bis 
Algeciras juga ada loket penjualan tiket penyeberangan.  Pejualnya bilang bahwa 
kapal terdekat yang akan bertolak dari Algeciras hanya kapal biasa yang perlu 
waktu sekitar 2,5 jam.  Lantaran kapal cepat terdekat hanya bertolak dari 
Tarifa, terpaksalah rute perjalanan saya beririsan dengan kisan Santiago, bocah 
pengembala asal Andalusia dalam cerita Paulo Coelho.  Punah pula harapan untuk 
melihat dari dekat bukit karang Gibraltar yang oleh Plato disebut pilar-pilar 
Hercules yang memandu jalan ke benua Atlantis.

Selat sempit (yang dulunya bendungan alam dan retakan bendungan itu menjadi 
penyebab banjir besar yang diabadikan dalam kitab-kitab suci agama samawi) itu 
berombak besar.  Di tengah kapal yang bergoyang ritmis penumpang antri berbaris 
untuk mencapai meja polisi imigrasi Maroko.  Sesampai di Tanger, ucapan polisi 
pemeriksa di pintu dermaga 'Welcome to Africa' bisa diartikan beraneka-rupa.  
Waktu Maroko ternyata 2 jam lebih lambat dari waktu Spanyol.  Letak Tanger yang 
di pebukitan sebenarnya mejanjikan panorama unik.  Tapi ini bukan Eropa yang 
serba bersih dan gemerlap.  Tanger, kota yang melahirkan pengelana Ibnu 
Batuta, tidak seromantis yang digambarkan dalam buku panduan.

Jika Tanger terhitung besar dan bising, Chefchaoun seperti kebalikannya.  Kota 
berpenduduk 45 ribu orang ini sangat tenang dan aman.  Letaknya yang di lereng 
gunung mengingatkan pada Batu dan Dieng.  Pusat kotanya, meski seperti kota 
kuno lainnya yang lorong-lorongnya membentuk labirin, tidak menyebabkan 
pengunjung hilang orientasi.  Di lorong-lorong itu hampir semua bangunan 
dibalut warna biru-putih.  Jika dilihat dari puncak al kasaba (benteng kuno 
yang ada di pusat kota lama) panoramanya mengingatkan pada Santorini baik dari 
prototipe rumah maupun warna-warninya.  Bedanya hanya di sini jauh dari laut.  
Yang agak di luar dugaan biru di Chefchaouen itu warna khas Yahudi!  Ratusan 
orang Yahudi setiap tahun rutin mendatangi Chafchaouen awal Mei.  Mereka 
malakukan perjalanan karavan 4-5 hari untuk menziarahi makam Rabbi Amrane ben 
Diwan.

Chaouen artinya puncak.  Chaouen itu nama asli saat kota didirikan Moulay Ali 
ben Rachid pada tahun 1471.  Chaouen berkembang pesat menyusul datangnya 
pengungsi muslim dan yahudi dari Granada.  Para pengungsi itulah yang hingga 
kini mewariskan aroma Andalusia pada wajah kota.  Sejak 1975 pemerintah Maroko 
menetapkan nama baru Chefchaouen (yang berarti memandang ke puncak) namun nama 
lama Chaouen tak kunjung dilupakan.

Salam dari Chefchaouen
28-Mei-2009


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke