Teman-teman sekalian, 

Minggu lalu saya berliburan dengan tujuan utama ke Phuket (baca : Phi-Phi 
Island) dengan melewati Kuala Lumpur dan Singapore.

Tiket saya beli sejak Januari 2009 lalu, menunggu harga murah, dan saya 
dapatkan sebagai berikut :
1.      Jkt – KL dengan Air Asia, Rp. 289.000,-
2.      KL – Phuket dengan Air Asia RM 106.5
3.      Phuket – Sin dengan Tiger Air THB 1742.5
4.      Sin – Jkt dengan Lion Air Rp. 669.000,-

Untuk tiket JKT-KL sempet membuat saya kesal karena satu minggu setelah saya 
beli, harganya turun menjadi Rp. 86.000,- saja !!!

Tapi apa boleh buat, jadi pengalaman saja dan menghibur diri, sudah lumayan 
daripada membeli sehari sebelumnya dengan harga Rp. 486.000,-

Liburan kali ini rencananya saya berangkat sendiri karena tidak ada yang mau 
menemani. Suami sudah habis cutinya. Dan saya sendiri menghabiskan jatah tahun 
lalu. Detik2 terakhir, sahabat lama saya confirm akan menyusul. Jadilah saya 
pergi berdua.

Hari Pertama : Rabu, 20 Mei 09

Pesawat saya rencananya lepas landas pk. 14.50. Sudah saya hitung-hitung, saya 
paling lambat harus tiba di Bandara pk. 13:00, jadi cukuplah 12:15 berangkat 
dari kantor. Tetapi mempertimbangkan ini kali pertama mencoba bebas fiskal, 
maka akhirnya jam 11:30 saya sudah berangkat. 

Naik taxi dari kantor langsung menuju ke Terminal 3 untuk Air Asia. Setelah 
membayar Rp. 120.000,- dan siap masuk, ternyata saya baru diberitahu kalau 
Terminal 3 khusus hanya untuk keberangkatan domestik semua pesawat Air Asia dan 
Mandala. Untunglah ada free shuttle bus yang menghubungkan antar Terminal.

Tiba di Terminal 2, saya langsung mencari cap bebas fiskal. Sepertinya hanya 
satu counter bebas fiskal dengan 3 loket yang dibantu langsung oleh petugas 
pajak. Tapi kali ini yang ada hanya satu petugas saja. Saya sudah menyiapkan 
NPWP dan web check-in boarding pass-nya Air Asia, tetapi ternyata cap bebas 
fiskal baru bisa didapatkan setelah membayar Airport Tax di counter check-in 
Air Asia. Jadi, balik lagi saya ke counter Air Asia. Jaraknya cukup lumayan, 
satu di terminal E, satu di F, walaupun tidak usah keluar pintu pemeriksaan.

Selesai membayar Airport Tax Rp. 150.000,-, akhirnya saya dapatkan juga cap 
bebas fiskal. Prosesnya tidak lama, kartu hanya di swipe di mesin checker 
Petugas Pajak. 

Setelahnya itu lanjut ke prosedur biasa, melewati counter pemeriksaan fiskal, 
mengisi kartu imigrasi, dan melewati pos pemeriksaan akhir di Bandara. 

Uh….lapar juga, saya cari2 hanya ada satu food court yang rasa-rasanya biayanya 
tidak sesuai dengan isi kantong. Ingat : Tujuan kali ini liburan ala 
backpacker…kalau mau yang nyaman, tunggu kalau Lio ikut. 

Di bagian ujung, ada 3 airport lounge. Yang pertama, terlihat sangat eksklusif, 
ternyata hanya khusus untuk kelas Business pesawat Singapore Airline. Ohhh…not 
mine. Yang kedua, untuk penumpang beberapa pesawat luar negeri lainnya, tanpa 
kerjasama dengan Bank atau Kartu Kredit di Indonesia. Terakhir, Puri Indah 
Lounge. Pilihannya membayar Rp. 150.000,- atau potong point citibank sebanyak 
2750. Sebenarnya saya sayang juga. Tapi karena perut tidak bisa diajak kompromi 
dan daripada lama menunggu makan di pesawat akhirnya saya potong poin. 

Masuk ke dalam, secara interior beda jauh dengan Lounge yang melayani 
penerbangan lokal. Pantas-lah dengan harga yang beda 3 kali lipat. Kualitas 
makanan pun cukup baik dan saya sempat mengambil majalah „Jalan-Jalan“ edisi 
paling baru.

Sudah dekat dengan waktu keberangkatan, saya menuju ruang boarding. Harus 
hati-hati jangan ketinggalan pesawat karena Lounge ini tidak bekerja sama 
dengan Air Asia, jadi tidak ada panggilan untuk penumpangnya.

Pesawat tinggal landas tepat waktu. Pramugarinya orang Malaysia, karena pesawat 
yang saya tumpangi berbasis di Kuala Lumpur. Diatas pesawat dibagikan kartu 
imigrasi untuk ketibaan di Kuala Lumpur.

Saya mendarat tepat waktu di Terminal LCCT. Tidak lupa menset waktu menjadi 1 
jam lebih awal. Turun dari pesawat, kita harus berjalan cukup jauh menuju 
imigrasi. Begitu masuk ruang imigrasi, terdapat alat pendeteksi suhu badan. 
Banyak terdapat selebaran mengenai Swine Flu.

Terminal LCCT ini saya perkirakan lebih besar dari Terminal 3 Soetta. Mc. 
Donald, Kentucky, Food Court cukup banyak. Keluar dari Terminal, saya harus 
menuju Tune Hotel untuk menukar check-in yang tidak sengaja saya buat atas nama 
saya dengan nama teman saya, yang baru akan tiba malamnya. Saya sendiri memilih 
menginap di pusat kota. Sebenarnya, dari Terminal LCCT menuju Tune Hotel dapat 
menggunakan shuttle bus dengan membayar RM 1. Atau kalau mau nekad, nebeng 
orang, karena pasti melewati Tune Hotel ini. Tapi karena belum tau, saya 
menggeret koper dan berjalan selama hampir 20 menit. Capek juga. Saya lewat 
areal parkiran mobil. Saya berhenti sebentar membeli minuman kaleng yang 
tersedia lewat vending machine. Tidak ada uang logam, saya bermaksud menukar 
uang ke petugas disana, tapi uang dia juga tidak cukup. Jadilah saya disumbang 
RM 1 biar bisa beli minum….segarrrr rasanya setelah dari pesawat belum minum. 
God bless you Encik ! 

Selesai mengurus cek-in, saya kembali lagi ke Terminal LCCT untuk naik bus ke 
pusat kota. Kebetulan bus akan langsung berangkat. Setelah membayar RM 9, saya 
langsung naik bus dan bus langsung tancap ke KL Sentral.

Keluar dari Bandara, banyak pohon kelapa sawit (?) menghiasi jalan. Kondisi 
jalan tolnya mulusss. Begitu mulai memasuki Putera Jaya, kawasan pemerintahan 
Malaysia di KL, barulah mulai terlihat bangunan2 baru yang tertata rapi. 

1 jam perjalanan tidak terasa. Setibanya di KL Sentral, saya berjalan memutari 
setengah bagian proyek mall yang sedang dikerjakan menuju stasiun monorail ke 
Bukit Bintang. Naik turun tangga ke monorail harus sedikit mengangkat koper. 
Beda dengan di Singapura yang segala hal dibuat cermat untuk kenyamanan pejalan 
kaki.

10 menit kemudian, saya tiba di Bukit Bintang. Dari Monorail, saya masuk 
sebentar ke Sungei Wang untuk menukar USD ke RM. Saya hanya membeli sedikit 
Ringgit dari Jakarta dengan kurs Rp. 2.975,- sebelum berangkat karena ingin 
menukarkan USD yang kurang rapi yang tidak bisa terjual di Jakarta.

Selesai menukarkan uang, saya mencari penginapan saya. Lupa membawa print-an 
peta, saya bertanya-tanya. Tapi kelihatannya penduduk sana kurang tau jalan, 
saya sempat berputar cukup lama sebelum tiba di penginapan.

Penginapan saya sederhana saja. Lokasi cukup bagus. Dekat dengan halte bus yang 
bisa membawa saya ke Chinatown. Kebetulan saya beruntung, karena ada overlap 
booking, maka kamar saya diupgrade lebih besar. Saya membayar RM 40 untuk satu 
kamar dengan shared bathroom di Attapsana Guesthouse ini. Kamar tidur dan kamar 
mandinya bersih. Handuk dan selimutnya wangi.

Saya hanya menaruh tas dan langsung pergi lagi ke Chinatown. Tujuan saya : 
Makan sepuasnya di Nando’s Chicken….duh….membayangkannya saja, saya sudah 
ngiler lagi sekarang. Ayam Nando’s ini dulu ada di Jakarta, di beberapa Mal. 
Tapi akhirnya tutup. Padahal buat saya ini enakkkk sekali.

Di Nando’s saya langsung memesan seperempat bagian ayam dengan 2 side-dish dan 
air mineral. Harganya RM 21. Pelayannya dari Pekanbaru, Indonesia. Dia sempat 
bercerita kalau pekerja dari Indonesia banyak sekali. Orang Malaysia sendiri 
ogah mempekerjakan bangsa sendiri yang dinilai lebih malas dari orang 
Indonesia. Hasil obrolan ini, saya diberi tambahan es dan air putih 
gratis..Horeee…!

Selesai dari Nando’s, saya berkeliling sebentar di Chinatown. Tapi karena saya 
tidak suka shopping, maka saya tidak membuang banyak waktu dan langsung 
mengarah kembali ke Bukit Bintang dengan bus. 

Tiba di Bukit Bintang, saya menyempatkan diri mengambil jalan memutar balik ke 
hotel sambil melihat keramaian. Setibanya di hotel, saya mandi dan langsung 
tidur.



      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke