Melianawati,

tentang "ini-itu" milik siapa, anda akan lebih paham dan bisa menjawab 
pertanyaan ini apabila ada hasil karya cipta anda yang dipergunakan oleh orang 
lain untuk tujuan komersial tanpa sepengetahuan dan persetujuan anda.

Dari catatan para ahli seni pertunjukan Bali, Tari pendet mulai dipertunjukan 
secara resmi pada tahun 50an, penggagasnya adalah I Wayan Rindi dan Ni Ketut 
Reneng, dari desa Sumertha Denpasar.
Cukup jelas adanya bahwa budaya hindu-bali bukan unsur pembentuk malaysia,tidak 
seperti cina-india-dan melayu, yang merupakan unsur utama pembentuk identitas 
malaysia, maka penggunaan barongsai sebagai alat promosi malaysia sah adanya, 
dan penggunaan Tari pendet sebagai alat promosi mereka merupakan tindakan tidak 
bermoral dan tidak ada hubungannya dengan identitas malay, it's just bussiness, 
Bali punya tari-tarian yang cool dan mereka hampir tidak ada. itulah kenapa 
tari pendet yang dicomot hari ini, 
dugaan saya ini belumlah berakhir, masih akan ada pencomotan-pencomotan yang 
lain oleh malay.

ekspresi marah orang Indonesia atas insiden tari pendet ini, jangan pula 
disalahkan dan dituding  sebagai hal yang kurang tepat, bagaimanapun, ekspresi 
kemarahan ini adalah bentuk paling dasar dari rasa memiliki kebudayaan bangsa 
Indonesia. Saya yakin sebagian dari rekan sebangsa kita yang marah-marah ini, 
apabila mereka punya kedudukan di pengambil kebijakan kebudayaan dan 
pariwisata, mereka akan mengambil langkah nyata untuk mencegah hal ini terus 
berulang.
Dan reaksi pemerintah kita, Jero wacik dalam hal ini cukup proposional, dengan 
mengirim surat teguran keras ke Malaysia dan memanggil perwakilan kedutaan 
Malaysia ke kantornya. Perlu dipikirkan pula oleh pemerintah untuk pencegahan 
jangka panjang, kita tunggu saja kelanjutannya.

Iya benar, kita sejauh ini memang kurang bisa menjaga budaya kita, siapa 
mengira saudara serumpun cukup tidak bermoral untuk mencuri kekayaan kita. 
semoga kasus ini ada hikmahnya untuk bangsa ini.


Salam,

Manunk


--- In [email protected], Melianawati Sutanto <melianaw...@...> 
wrote:
>
> Sebenarnya apa sih yang membuktikan bahwa "ini-itu" milik siapa ? Apakah ada 
> bukti otentiknya ? Toh Indonesia juga tidak meng-klaim kalau Tari Pendet 
> milik bangsa ini bukan ? 
> 
> Perasaan saya mengenai hal ini, lebih cenderung ke miris daripada marah. 
> Karena ini bukan baru pertama kali. Daripada kita marah dan mencaci-maki, 
> (yang notabene lebih memperlihatkan keburukan kita), lebih baik kita 
> melakukan sesuatu.
> 
> Daripada melihat keburukan dan kekurangan orang, lebih baik MELIHAT dan 
> BELAJAR kelebihannya. 
> 
> Jangan lupa, orang bisa menjadi pencuri, juga karena ada faktor kesempatan. 
> Jadi, kalau kita yang tak pandai menjaga milik kita, jangan cuma menyalahkan 
> orang lain. KOREKSI diri sendiri, itu jauh lebih penting.
> 
> Salam...
>


Kirim email ke