Sekedar Info,

Pagi ini baca di koran Republika.. katanya tari Pendet telah dicabut dari iklan 
pariwisata Malaysia tersebut..

Alhamdulillah... akhirnya sadar juga...

Salam



-Yz-

2009/8/25 m4nunk <[email protected]>

>
>
> Melianawati,
>
> tentang "ini-itu" milik siapa, anda akan lebih paham dan bisa menjawab
> pertanyaan ini apabila ada hasil karya cipta anda yang dipergunakan oleh
> orang lain untuk tujuan komersial tanpa sepengetahuan dan persetujuan anda.
>
> Dari catatan para ahli seni pertunjukan Bali, Tari pendet mulai
> dipertunjukan secara resmi pada tahun 50an, penggagasnya adalah I Wayan
> Rindi dan Ni Ketut Reneng, dari desa Sumertha Denpasar.
> Cukup jelas adanya bahwa budaya hindu-bali bukan unsur pembentuk
> malaysia,tidak seperti cina-india-dan melayu, yang merupakan unsur utama
> pembentuk identitas malaysia, maka penggunaan barongsai sebagai alat promosi
> malaysia sah adanya, dan penggunaan Tari pendet sebagai alat promosi mereka
> merupakan tindakan tidak bermoral dan tidak ada hubungannya dengan identitas
> malay, it's just bussiness, Bali punya tari-tarian yang cool dan mereka
> hampir tidak ada. itulah kenapa tari pendet yang dicomot hari ini,
> dugaan saya ini belumlah berakhir, masih akan ada pencomotan-pencomotan
> yang lain oleh malay.
>
> ekspresi marah orang Indonesia atas insiden tari pendet ini, jangan pula
> disalahkan dan dituding sebagai hal yang kurang tepat, bagaimanapun,
> ekspresi kemarahan ini adalah bentuk paling dasar dari rasa memiliki
> kebudayaan bangsa Indonesia. Saya yakin sebagian dari rekan sebangsa kita
> yang marah-marah ini, apabila mereka punya kedudukan di pengambil kebijakan
> kebudayaan dan pariwisata, mereka akan mengambil langkah nyata untuk
> mencegah hal ini terus berulang.
> Dan reaksi pemerintah kita, Jero wacik dalam hal ini cukup proposional,
> dengan mengirim surat teguran keras ke Malaysia dan memanggil perwakilan
> kedutaan Malaysia ke kantornya. Perlu dipikirkan pula oleh pemerintah untuk
> pencegahan jangka panjang, kita tunggu saja kelanjutannya.
>
> Iya benar, kita sejauh ini memang kurang bisa menjaga budaya kita, siapa
> mengira saudara serumpun cukup tidak bermoral untuk mencuri kekayaan kita.
> semoga kasus ini ada hikmahnya untuk bangsa ini.
>
> Salam,
>
> Manunk
>
> --- In [email protected] <indobackpacker%40yahoogroups.com>,
> Melianawati Sutanto <melianaw...@...> wrote:
> >
> > Sebenarnya apa sih yang membuktikan bahwa "ini-itu" milik siapa ? Apakah
> ada bukti otentiknya ? Toh Indonesia juga tidak meng-klaim kalau Tari Pendet
> milik bangsa ini bukan ?
> >
> > Perasaan saya mengenai hal ini, lebih cenderung ke miris daripada marah.
> Karena ini bukan baru pertama kali. Daripada kita marah dan mencaci-maki,
> (yang notabene lebih memperlihatkan keburukan kita), lebih baik kita
> melakukan sesuatu.
> >
> > Daripada melihat keburukan dan kekurangan orang, lebih baik MELIHAT dan
> BELAJAR kelebihannya.
> >
> > Jangan lupa, orang bisa menjadi pencuri, juga karena ada faktor
> kesempatan. Jadi, kalau kita yang tak pandai menjaga milik kita, jangan cuma
> menyalahkan orang lain. KOREKSI diri sendiri, itu jauh lebih penting.
> >
> > Salam...
> >
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke