Mau sharing juga.

Persis sama dengan kejadian mas Randolph, november akhir kemarin saya menjemput 
orang tua, kedatangan dari Singapura kira-kira pukul 22.00.

Bersamaan dengan ibu saya, ada 2 orang WNA yang langsung dikerubuti oleh para 
supir taksi gelap. Pertama saya diamkan saja, karena mereka memakai I'd 
Bandara, yang saya sendiri ga terlalu mihat dengan jelas tulisannya.

Tapi sambil menunggu ibu di toilet, dua orang bule ini saya liat sangat 
terganggu, berkali-kali mereka menolak. Tapi yang datang menawarkan taksi malah 
makin banyak.

Akhirnya dengan gaya Sok Akrab (karena saya sempet melihat mereka berbarengan 
keluar dengan ibu), saya samperin 2 orang bule itu, mereka warga negara Belgia 
yang mau cari hotel seputaran Bandara, karena mau menyambung penerbangan lagi 
keesokan harinya. Akhirnya saya tawarkan mereka ikut mobil saya sampai keluar. 
Kelihatan sekali bahwa para supir taksi gelap itu mendongkol, bahkan memaki, 
tapi ya saya biarkan saja.

Menyedihkan, pintu masuk Indonesia justru banyak sekali jasa-jasa tidak resmi 
dan bersikap sangat memaksa. Saya saja melihatnya jadi geram, apalagi mereka.

Semoga ke depan, Soekarno-Hatta bisa lebih baik lagi.

Sent from my setrum

-----Original Message-----
From: Randolph Van Glamond <[email protected]>
Date: Mon, 14 Dec 2009 23:10:50 
To: Rusmiliany, Erni<[email protected]>; Indo 
Backpacker<[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Taksi Tanpa Argo (di Soekarno-Hatta)

Saya mau berbagi pendapat nech.
    
    Ini pengalaman terjadi kurang lebih 2 minggu lalu.
Waktu itu, ada kurang lebih 6 orang Philippines datang dengan Philippines 
Airlines jam 00:30an WIB. Lalu mereka bingung mau tukar uang dan cari kendaraan.
Lalu mulailah para supir taksi gelap ini "beraksi" dan dapat terlihat dengan 
jelas klo orang2 Philippines ini sangat risih dan terganggu.
    
    Kita sama2 tau, bahwa hanya orang2 yang punya ID angkasa pura  yang bisa 
masuk ke daerah arrival-dalam hal ini tempat dmana penumpang akan keluar yang 
ada stand money changer & Taksi; sedangkan para penjemput harus berada diluar 
pagar pembatas. TAPI di depan para keparat keamanan uppss aparat keamaan mereka 
dapat melenggang bebas keluar masuk, sambil duduk2, merokok, dan menawarkan 
jasa gelap ke penumpang.

    Setelah itu saya berinisiatif menolong ke 6 orang Philippines tersebut, 
karena mereka sudah mondar-mandir untuk mengelak dari para supir gelap,tapi 
terus diikuti dan semakin banyak yang menggerubuti mereka,sedangkan waktu itu 
jam sudah larut dan mereka ditakut2i tdk ada kendaraan lagi. Saya masuk ke 
daerah yang harusnya hanya utk authorized personnel only tersebut, seolah2 ke 
arah yang di seberang,,dan saya berbicara bahasa tagalog untuk mengajak orang2 
Philippines itu ikut dengan saya. Kebetulan saya lama tinggal di Philippines 
jadi saya bisa bahasa tagalog. Setelah itu mereka mengikuti saya, dan kami pun 
dibuntuti oleh para supir gelap yang terlihat bingung dengan bahasa yang kami 
pakai dan geram karena mereka pikir saya akan mencuri penumpang mereka. Intinya 
orang Philippines itu berencana stay di airport dan mau tau gmana cara ke TMII 
dan naik taxi apa.Selanjutnya saya menyarankan mereka ke departure gate dan 
mengambil Blue bird. Yang bikin saya
 sedih adalah ketika orang2 philippines itu berkata, "Tak pernah terbayangkan 
klo ternyata airport di Indo seperti itu, orang2 memaksa menawarkan jasa dan 
mereka itu tidak jelas identitasnya."

    Disini kita bisa liat betapa jeleknya pelayanan Angkasa Pura 2..di 
kesempatan lain, orangtua saya bercerita saat mereka mau menjemput saya bahkan 
ada bule yang menyarakan temannya untuk naik Blue bird ketimbang taxi gelap 
tsb,dan supir2 itu marah karena dibilang illegal,sedangkan mereka punya 
ID.mereka berantem sampai harus dilerai keparat keamanan.

    Mungkin mereka tidak illegal, karena mereka punya ID,tapi tempat supir2 itu 
ditempat parkir bukan arrival area.Agent perusahaan yang harusnya mencari 
customer dan dihantarkan ke mobil mereka, bukan supirnya masuk lsg ke airport. 
Skg buat ID gampang, mungkin saja itu ID palsu. Tingkah laku supir2 itu 
menjengkelkan, nongkrong2 kaya di terminal bus, merokok, menggoda2 wanita,dll.

    Seorang supir blue bird bandara yang saya tanya mengenai supir gelap ini 
berpendapat, "Itu sudah rahasia umum pak, semua orang sudah tau. Baik aparat AP 
2 dan Keamanan ada main dengan mereka. tiap mobil menyetor Rp 30,000,-/hari ke 
aparat disana."

    Kapan airport kita mau maju?Airport adalah 1st impression ttg negara 
kita.Cintailah airport. Bersihkan airport dari orang2 yang tidak jelas seperti 
supir2 gelap ini.

Demikianlah pendapat saya,,VIVA Indobackpacker!!!
"Basmi mafia Airport"


________________________________
From: "Rusmiliany, Erni" <[email protected]>
To: Dinda Trisnadi <[email protected]>; [email protected]
Sent: Tue, December 15, 2009 10:51:20 AM
Subject: RE: [indobackpacker] Taksi Tanpa Argo (di Soekarno-Hatta)

  
Kalo saya mengalami sendiri, di Terminal 3 saya ditawari Rp. 150.000
dari Bandara ke tempat tujuan malah dia menunjukkan id/pass dan bilang
kita taksi resmi kok bu. Tp aku milih naik taksi blue bird yg ada di
antrian 

-----Original Message-----
From: indobackpacker@ yahoogroups. com
[mailto:indobackpacker@ yahoogroups. com] On Behalf Of jagoan...@yahoo. com
Sent: Tuesday, December 15, 2009 10:23 AM
To: Dinda Trisnadi; indobackpacker@ yahoogroups. com
Subject: Re: [indobackpacker] Taksi Tanpa Argo (di Soekarno-Hatta)

Betul, apalagi klo qta kluar dari kedatangan, banyak yang menawar kan
taksi (padahal yg di gunakan adalah kendaraan pribadi), tapi aneh nya
mereka menggunakan pas bandara..
Jd apakah taksi gelap seperti ini di resmi kan??

Rgds

Pandu
Sent from my BlackBerry(r)
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke