Part 3
22 Desember 2009: Vientiane
Brrrrr
.! Gila dingin amat
saya berjemur matahari di beranda, biasanya saya
paling alergi sama terik sang surya, kali ini semangat 45 nyari area yang kena
hangat mentari pagi.
Hari ini kita berniat mengunjungi Patuxay. Bangunan yang mirip Arc de Triomph
di Prancis menurut Lonely Planet dibangun menggunakan dana dari USA, yang
semestinya buat bikin landasan airport di Vientiane. Jadi Patuxay dijuluki:
"vertical runway"
Jam 11 kita mulai jalan kaki pelan2 ke Patuxay, melewati National Stadium
tempat SEA Games yang baru saja usai. Dasar si Patrick perut sapi, ngelewatin
restoran pho dia gak kuat, padahal baru makan pagi di hotel! Stop sebentar deh
di resto Pho Zap yang ramai oleh penduduk lokal. Mmmm nyam nyam semangkuk besar
pho panas dengan kaldu yang legit, irisan daging sapi/babi (gak jelas neh) yang
gurih, bihun putih dan sepiring sayuran segar (daun mint, selada, selada air,
kacang panjang, tauge) kita habiskan sampai bersih mangkoknya. 18.000 kip
semangkok besar, air putih gratis.
Puas makan pho, dengan perut buncit nyaris meledak kita lanjut lagi jalan ke
Patuxay. Jam 12 kita tiba di menara tinggi yang cantik ini. Karcis masuk 3.000
kip per orang buat turis asing, naik tangga sampai ke puncak, foto2, terus
lanjut naik tangga melingkar sampai ke puncak tertinggi Patuxay. Terpampang
kota Vientiane yang rapi dan bersih, puas deh foto2 narsis di sini. Banyak
graffiti di dinding Patuxay, iseng banget sih turis2
ada yang dari Jepang,
Belgia, Prancis, Belanda. Belum ada yang dari Indonesia, tapi saya anti
corat-coret, jadi gak niat membubuhkan tanda tangan di dinding. Turun dari
Patuxay, kita stop sebentar di café kecil di salah satu sudut Patuxay. Ada es
krim lemon yang gila deh, enak sekali, dingin, segar, masam2 manis, harganya
cuma 3.000 kip per corong.
Dari Patuxay kita jalan kaki ke Talat Sao (Morning Market). Saya belanja sinh
lagi, beli sepotong kain sinh sutra seharga 360.000 kip. Sang empunya toko,
ibu2 separoh baya yang tidak bisa Inggris, lewat temannya yang rada2 lumayan
Inggrisnya, menawarkan untuk menjahitkan sinh sutra saya seharga 70.000 kip. Di
jamin besok pagi sudah jadi katanya. OK deh, daripada saya bikin di Indonesia
belum tentu jadinya bagus, saya setujui tawarannya.
Lanjut lagi keliling Talat Sao, stop lagi di sebuah toko yang jualan sinh. Di
toko ini saya kenalan dengan Dolly, perempuan Laos yang fasih Inggris, karena
dia tinggal di USA. Wah seru banget ngobrol sama Dolly, dia cerita keluarganya
yang tersebar di tiga negara, Paris Amerika dan Laos. Dolly sedang liburan di
Vientiane, dia diundang ke kawinan, jadi kudu beli sinh buat kondangan katanya.
Saya beli thinh (dekorasi mirip ikat pinggang untuk hiasan bawah rok) dan sinh
satin 3 set, total habis 600.000 kip. Dolly yang baik hati membantu proses
tawar-menawar dalam bahasa Laos jadi saya dapat harga `teman'.
Thank you Dolly wherever you are
Belanjaan sudah berat, kita jalan ke air mancur Nam Phu, untuk belanja pate
(ini makanan kedoyanan si Patrick) di Phimphone market. Lanjut lagi ke jalan
Setthathirat, kita mampir ke Bar'Avin untuk beli wine. Patrick beli sebotol
wine dari Prancis seharga 140.000 kip dan Negrita rum 85.000 kip. Wine dan
miras murah harganya di Laos, karena pajak impor minuman rendah. Manager
Bar'Avin adalah orang Laos yang besar di Prancis, lucu juga dengar aksen kental
Prancis keluar dari lelaki perawakan Asia yang mungil dan ramah ini. Haduh
gembolan kita sudah klontang2 berat, kita balik ke hotel untuk istirahat
sebentar.
Jam 7 kita jalan ke belakang hotel menuju Night Market. Pasar malam ini kecil
sekali, paling hanya ada 10 stand yang menjual makanan masak khas Laos, ada
yang jualan DVD juga. Puas foto2, kita lanjut jalan kaki nyari resto Mak Phet
yang di rekomen Lee Sheridan. Ternyata resto ini sudah full, yo wis kita makan
malam di resto sebelah Mak Phet. Menu malam ini: sticky rice, eggplant with
chili and fish, fried noodle, Lao whiskey, laap beef. Total 124.000 kip. Laap
beef
OMG enaknya
daging sapi cincang yang dibumbui sereh, laos, dan daun mint
kudu di coba bagi para foodie sejati! Ada juga Laap fish, chicken, pork. Madam
pemilik resto sangat ramah, dia punya tiga ekor anjing imut, namanya Mee, Tonta
dan Bob. Puas main2 dengan tiga doggie lucu2 ini, kita balik hotel jam 10
malam
jalanan sepi sekali, ada segelintir ladyboys alias bencong menjajakan
diri di sudut jalan yang remang2.
23 Desember: Vientiane Luang Prabang
Pagi2 saya sudah bangun dan bergegas naik tuktuk ke Talat Sao untuk mengambil
sinh. Haduh, kok tokonya masih tutup?! Ternyata madam menitipkan sinh saya ke
toko sebelah, leganya
udah takut tertipu, padahal udah beli mahal2 pula
cantiknya sinh sutra ini, hitam sederhana dengan dekorasi benang sutra halus
warna-warni di dasar.
Kita check out hotel jam 10.45, naik taxi borongan (USD 6) ke Wattay, bandara
internasional. Ada yang lucu waktu pesan taxi sehari sebelumnya, mbak penjaga
hotel kayaknya belum pernah naik pesawat, jadi dia gak tahu bahwa kita mesti
check-in 30 menit sebelum departure. Pesawat berangkat jam 12, dia booking taxi
jam 11.45, untung kita cek ulang, kalau gak bisa telat nguber pesawat
Taxi di
Vientiane bentuknya mobil APV yang besar, mewah dan kinclong masih baru, gak
ada argonya.
Bandara Wattay letaknya di dalam kota, dalam waktu 15 menit kita sudah tiba.
Check in di counter Lao Airlines, terus masuk ke imigrasi, dan tepat jam 12
kita digiring naik bus ke runway tempat pesawat parkir menunggu. ATR 72,
pesawat baling2 bow! Tiket Vientiane Luang Prabang kalau booking online
harganya USD 76 per pax/one way, karena kita booking lewat travel agent,
tambahannya USD 4, jadi total USD 80/pax/one way.
Pesawat biar kecil tapi bersih, pramugara ramah senyum (ganteng juga hehehe),
dan penerbangan kita gak ada masalah. Dalam waktu 45 menit kita tiba di Luang
Prabang international airport. Kalau jalan darat naik bus, Vientiane Luang
Prabang = 10 jam!!! Tiket pesawat memang mahal sekali tapi daripada 10 jam kita
buang waktu di jalan
Oh ya pemandangan dari angkasa sewaktu mendarat di Luang Prabang cantik sekali.
Gumpalan awan putih menutupi barisan gunung hijau (
bagai permadani di kaki
langit
), pelan2 pesawat turun menembus lapisan demi lapisan awan, dan
surprise! Luang Prabang tahu2 sudah dekat sekali.
Kita ambil bagasi di airport mungil ini, terus exit dan beli tiket untuk taxi
masuk ke kota (50.000 kip per taxi). Berhubung taxi APV yang bagus2 sudah habis
duluan oleh turis2 yang geraknya lebih cepat dari kita yang super lelet,
jadinya kita digiring naik tuktuk bareng turis Jepang 2 orang. Ya gak papa
deh
yang penting sampai. Dalam hitungan 10 menit kita sudah tiba di hotel
Ancient Luang Prabang (USD 85/rm/nite, free wifi. Iya iya mahiliyah, si Patrick
lagi rada boros nih) yang berlokasi di jalan utama Luang Prabang,
Sissavangvong. Kota kecil yang masuk daftar UNESCO Heritage site ini suhunya
lebih dingin dari Vientiane. Kamar kita modelnya studio, jadi kamar mandi dan
kamar tidur gak ada dinding pembatasnya. Lantainya dari kayu gelap, ranjangnya
empuk, suasananya romantis
Di hotel ini gak ada nomor kamar, tiap kamar di
namai hewan sesuai zodiac cina. Kita di kamar Cow di tingkat 2. Ada balkoni
yang langsung menghadap ke jalan raya. Patrick langsung turun ke bawah dan
nyebrang jalan buat jajan sandwich ala Laos. Bentuknya baguette pendek, di isi
sayuran selada, daging empuk gak jelas, dan saos merah manis (10.000 kip).
Kenyang makan sandwich, kita bobo siang sebentar.
Jam 4 kita bangun, nongkrong di balkoni sambil merokok dan mengamati puluhan
pedagang menyiapkan lapak. Ya, hotel kita pas di jalan raya yang tiap malamnya
ada Night Market yang terkenal dan jadi salah satu daya tarik utama di Luang
Prabang. Pasar malam ini buka dari jam 5 sampai jam 9, Senin-Minggu, gak ada
liburnya.
Matahari sudah terbenam, lapak2 menyalakan lampu neon kuning, segala jualan di
sebar di jalan aspal yang dilapis kain. Ada sinh, selendang, bedcover,
perhiasan perak, barang antik, sepatu kain, pernak-pernik Hmong, kain hiasan
dinding, lampion kertas, sprei, sarung bantal, kaos, baju anak, tas, dompet,
lukisan, jaket unik, lao-lao (miras khas Laos), aduh segubrak deh. Pasar malam
ini panjaaaang sekali, jalan kaki dari ujung ke ujung ada 15 menit (ini udah
pakai kacamata kuda lho). Buat para shopaholic, tempat ini cucok sekali buat
beli oleh2. Yang pasti tawar-menawar harus gigih, kalau di bilang 50.000 kip
ditawar 30.000, nanti pasnya sekitar 35.000-40.000 kip. Pedagang di pasar malam
ini gak maksa, nyantai banget, kita bilang `no thanks', mereka tetap senyum
ramah. Kebanyakan pedagang adalah perempuan muda, bahkan ada yang masih anak
SD! Belanja di sini cukup bahasa kalkulator, campur bahasa tarzan dikit,
misalnya kalau mau minta diskon, kita ayun2 tangan ke bawah sambil pasang
tampang memelas
Saya borong kain sinh, gelang Hmong dari sulaman benang, norak warnanya tapi
lucu, kaos BeerLao, selendang sutra. Kalau ikutin nafsu bisa2 bagasi
beranak
hmm tapi ada tuh yang jualan tas buat bagasi dari bahan katun yang
warna-warni meriah dan aduh lutuna
Patrick tampangnya udah asem melihat
belanjaan saya yang menumpuk
"Another sinh?! You gotta stop at 10 sinhs! How are we going to bring them
home?! Dasar thukhang blanjhaaa
"
Makan malam kali ini kita di pinggir jalan saja, ada buffet sederhana yang
menjual lauk pauk vegetarian seharga 8.000 kip per piring. Lha piringnya kecil
banget, rada susah numpuk nasi dan sayuran nih
kita duduk di bangku kayu
panjang bareng turis2 dari Amrik, pesan BeerLao (10.000 kip sebotol besar), dan
pelan2 menyantap nasi goreng, sayur rebung, tumis terong, dan mi goreng yang
sukses kita bikin gunungan di piring plastik kecil. Kenyang
Cape ah, kita balik ke hotel sekitar jam 9, terus zzzzz
.
To be continued