Dear backpackers,

Mau share ide. Mudah2an menginspirasi.

Lengkapnya ada disini ya: 
http://endrocn.wordpress.com/2010/05/19/travelling-makes-a-difference/

Salam,

Endro



Travelling makes a difference

Ada kalanya saya kebingungan menceritakan perjalanan ke teman-teman dan 
keluarga apalagi jika tempat yang saya kunjungi secara visual "kurang lebih 
sama" dengan tempat sebelumnya.

Pantai berpasir putih, ombak bergulung, lembah hijau, padang rumput seperti 
karpet, air laut sejernih kaca, jalur trekking berbatu padas dan seterusnya. 
Menceritakan kegiatan selama perjalanan pun bukan keahlian saya karena saya 
lebih banyak lupa dengan rute, ongkos, nama tempat apalagi bagaimana cara 
sampai ke sana.

Tapi, bertemu, berinteraksi dan berdiskusi dengan penduduk dan bersentuhan 
dengan budaya setempat jarang bisa saya lupakan.

Saya bisa asyik ngobrol tentang panen yang kurang berhasil hingga lupa dengan 
semburat sunset di luar sana atau berdebat sehat dengan aparat desa hingga 
pukul dua belas malam tentang unit usaha desa yang paling cocok. Semuanya dalam 
perjalanan pribadi, dengan uang pribadi dan di waktu pribadi.

"Kenapa sih sampai segitu-gitu amat?" tanya seorang teman. "Kedengarannya 
kurang menikmati ya."

Biasanya saya menjawab dengan pertanyaan lain. "Kalau tidak menikmati, ndak 
mungkin sampai berulang kali toh?"

Semua orang pasti setuju, travelling membawa banyak hal positif dan sedikit 
banyak ekses negatif pada tempat dan penduduk yang kita kunjungi. Kita merasa 
berhak menikmati karena kita sudah berkorban waktu dan uang, yang sebagian 
bahkan berkontribusi ke ekonomi setempat, begitu mungkin argumen kita. Lalu, 
apa bedanya kita - traveller - dengan pedagang kalau begitu?

Perjalanan sudah seharusnya menyenangkan dan membawa manfaat kepada dua belah 
pihak, yang mengunjungi dan dikunjungi, terlepas hubungan "dagang" itu.

Saya percaya ilmu dan pengetahuan akan bertambah jika kita mau membaginya ke 
mereka yang memerlukan. Terlebih, di beberapa tempat yang kita kunjungi, akses 
pada ilmu dan pengetahuanlah yang sangat diperlukan penduduk. Mirisnya, kadang 
informasi ada di desa atau kabupaten sebelah, tapi karena kurangnya akses, 
tidak sampai ke yang perlu.

Ketika berkunjung ke pulau Ndao, Rote kepala desa Abraham Bunga merasa perlu 
mendapat sebuah model koperasi untuk para penenunnya. Kebetulan ketika 
berkunjung ke Melolo, Sumba Timur dan Nita, Sikka, saya bertemu dengan 
pengelola koperasi tenun dengan model usaha yang mungkin cocok. Saya pun 
menghubungi kedua ketua koperasi dan minta mereka membantu bapak kepala desa 
yang disambut dengan antusias.

Akhirnya mereka diskusi lewat telepon sementara saya punya waktu untuk keliling 
pulau melihat-lihat keindahan pantai pasir putihnya.

Voila! Bahkan ketika kita tidak punya air, kita bisa jadi keran untuk orang 
lain.

Sebuah pertanyaan melintas: mungkinkah kita, traveller, meninggalkan hal 
positif tidak hanya pada diri sendiri tapi juga mereka - saudara kita - yang 
kita kunjungi? Kalau ada yang bilang leave nothing but footprint, apakah 
sekarang saatnya untuk dipikirkan kembali?

Travelling (should) make a difference, to the people we meet, the place we 
visit and to ourselves.

Dan cerita tentang interaksi selama perjalanan inilah yang akhirnya paling 
sering dan nyaman saya ceritakan, dengan bumbu keindahan alam tentunya.

/* Soe, TTS, 19 Mei 2010 */

Sent from my HTC

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke