Saya ambil dari asal muasal artikel wawancara wartawan NYT dengan George Malllory yang diterbitkan 18 Maret 1923 itu (sebelum ia menghilang beberapa bulan kemudian di Everest jalur Utara/Tibet).
"Because it's there. The answer is instinctive, a part. I suppose of man's desire to conquer the universe." Si wartawan menulis: 'This is pure romance, call it what else you will, and every man recognizes its touch. It leads into jungles and deep waters and up through the high thin reaches of the air.' Sama seperti Soe Hok Gie yang puitis soal jelajah alam. It's pure romance. Menemukan solitude di luar sana. Keluar dari hiruk pikuk dunia. Saya sering menyebut self meditation. Semakin kita tinggi, semakin kita merendah. Merasakan selemahnya manusia yang suatu saat mati. "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur." Salam, Ambar --- In [email protected], "Puguh" <puguh_ima...@...> wrote: > > > hehehe...kalo saya sendiri menduga kalimat lengkap dari Mallory adalah; > > "Because it's there, and now stop asking me why and leave me alone!!!" > > <dengan nada marah karena terus didesak untuk menjawab kenapa mendaki Everest> > > Kalo dipotong 'because it's there' memang terkesan puitis dan romantis > sih...halah-halah... > >
