hhmm...saya rasa pola asuh dalam keluarga berperan besar dalam kasus ini. 
banyak orang tua yang protektif dan tidak mengajari anaknya traveling sedini 
mungkin, sehingga setelah dewasa dan pengin jalan-jalan langsung dihinggapi 
berbagai rasa takut...

saya jadi teringat jurnal yg pernah saya posting di blog saya tahun 
lalau...saya copy-kan buat menyemangati mereka yang takut jalan sendiri atau yg 
pengin mendidik anak-anaknya untuk mandiri dgn cara traveling sejak dini..

sendiri
 lebih seru



Saya adalah anak tunggal yang sejak 
kecil dikader untuk menjadi perempuan mandiri oleh orang tua saya. 
Menyadari bahwa saya nggak punya kakak yang bisa direngeki dan dimintai 
tolong, saya dibesarkan dengan didikan untuk belajar survive dengan 
usaha sendiri. Salah satu caranya, adalah melatih saya “berpisah” dengan
 keluarga pada saat liburan sekolah. Sejak kelas 2 SD, setiap liburan 
sekolah tiba, saya pasti sudah diungsikan ke rumah Pakde, Bude, Oom, 
Tante atau kerabat lain yang bisa dititipi. Ya ke Bandung, Jakarta, 
Surabaya, atau ke Semarang dan kota lainnya. Orang tua baru menjemput 
saya menjelang liburan berakhir.

Saat dititipkan itu, biasanya 
Bapak juga memberi saya uang saku. Kalau liburnya cuma seminggu, uang 
sakunya lebih sedikit ketimbang pada saat libur sebulan pada akhir tahun
 ajaran. Uang itu harus saya manfaatkan sebaik-baiknya, buat jajan 
maupun buat beli sesuatu yang bermanfaat. Maksudnya, saya nggak boleh 
ngrepotin kerabat yang dititipin. Apalagi merengek-rengek minta 
dibelikan sesuatu saat lagi diajak jalan-jalan.

Karena punya uang saku sendiri ditambah punya nyali 
cukup untuk jalan, kalau lagi liburan di rumah kerabat saya juga suka 
curi-curi kesempatan buat keluar sendiri, naik angkot. Supaya bisa 
menikmati kemerdekaan jalan sendiri itu, kadang-kadang saya harus 
berbohong supaya nggak menimbulkan kekawatiran yang berbuntut pada 
larangan. Biasanya saya akan pamit mau beli es krim atau apalah ke toko 
anu di sebrang jalan. Karena tokonya nggak terlalu jauh dan bisa jalan 
kaki, ijin pun dikeluarkan. Horee..saya bisa nyetop angkot yang lewat 
depan toko itu lalu jalan-jalan sendiri.

Saya sering nggak puas mengunjungi suatu tempat secara 
barengan. Karenanya, begitu tahu jalan, besoknya pasti saya mencari 
peluang untuk mengunjunginya sendiri. Dan ini dia prestasi saya. Di 
Bandung, umur 9 tahun saya sudah berani naik angkot dari Buah Batu ke 
Alun-alun. Di Semarang, dari rumah Bude di Kaligawe naik angkot ke Pasar
 Johar. Di Surabaya, beredar sendiri ke Pasar Turi. Di Jakarta, naik 
bemo dari Rawasari ke Pasar Paseban. (Setelah gede, sampai setua ini, 
kalau lagi mengunjungi daerah tertentu, saya kan paling suka naik angkot
 dan pergi ke pasar! Rupanya memang karena dibentuk pengalaman masa 
kecil ini).

Kemandirian yang 
dibentuk orang tua lewat liburan sendiri itu mulai saya rasakan 
manfaatnya setelah beranjak dewasa. Saya nggak takut pergi ke mana-mana 
sendiri, termasuk ke daerah yang belum pernah saya kunjungi sekalipun. 
Orang tua juga merasa tenang jika saya pamiti akan pergi ke suatu 
daerah, karena mereka sudah mempersiapkan semua itu sejak saya masih 
bocah. Toh selama ini saya selalu kembali dalam keadaan utuh kan? 
Kalaupun ada hal-hal yang sedikit mengkawatirkannya, biasanya halangan 
seperti bencana alam, kerusuhan di wilayah Indonesia Timur, atau 
kecelakaan pesawat yang sering terjadi di negeri kita.

Kendala yang umum ditakuti perempuan yang bepergian 
sendirian adalah godaan usil dari para lelaki dan tindak kejahatan di 
jalan. Saya bersyukur termasuk perempuan yang ditakdirkan tidak memiliki
 daya tarik fisikal, sehingga lenggangan kaki saya tidak pernah menarik 
perhatian siapapun, apalagi oleh laki-laki iseng. Dan karena saya biasa 
pergi sendiri, aura yang terpancar dan tertangkap oleh orang lain adalah
 perempuan PD, nggak linglung meskipun sebenarnya lagi bingung mencari 
sesuatu. Dan karena kelihatan PD, penjahat pun males berbuat jahat pada 
saya.

Saya juga bersyukur punya 
suami yang nggak reseh meskipun istrinya sering pergi-pergi. Banyak loh 
perempuan yang semasa lajang gemar travelling dan setelah menikah 
terpenjara dengan rutinitas rumah tangga. Dan nggak sedikit perempuan 
yang menunda-nunda keinginan menikah hanya takut nggak bisa leluasa 
travelling lagi karena harus ngurusin anak dan suami. Yang sering 
terjadi adalah mencari pasangan yang sama-sama gemar menjelajah, 
sehingga bisa memahami hasrat petualangan pasangan, dan bisa travelling 
berdua dengan seru.

Saya enggak 
gitu tuh. Saya dan bojo adalah dua makhluk yang berbeda. Dia adalah 
makhluk fungsional yang nggak tergoda dengan hal-hal lain di luar yang 
tengah dipikirkannya. Sementara saya termasuk orang yang menemukan 
banyak ide justru ketika berada di tempat lain. “Tapi kamu kan orang 
Jawa, kok bisa suamimu mengijinkan pergi sendiri?” tanya seorang bule, 
penghuni kamar sebelah di sebuah losmen di Papua, dengan nada heran. 
Bule itu pernah 3 tahun tinggal di Jogja sebagai pengajar bahasa Inggris
 dan merasa cukup mengenali kebudayaan Jawa yang menempatkan perempuan 
sebagai konco wingking.

Lagi-lagi 
saya bersyukur karena punya suami yang mengerti bahwa “going somewhere” 
adalah bagian dari kehidupan saya. Saya masih ingat saat kami jadian 
dulu, sekitar akhir ’91 atau awal ’92. Sehari setelah kami jadian, besok
 paginya saya berangkat ke Pacitan (Jawa Timur) selama 2 minggu, tinggal
 di sebuah desa di pinggir pantai yang tandus. Jaman itu kan belum ada 
ponsel dan kantor pos pun jauh banget dari lokasi penelitian yang tengah
 saya kerjakan. Akhirnya cuma bisa ngempet kangen karena belum sempet 
in-reyen. Hehe…

Meskipun saya 
sering meninggalkan suami karena urusan pekerjaan atau business trip, 
tapi kami juga sering travelling berdua kok. Kalau lagi merencanakan 
liburan, saya dan Bojo punya job-desk yang berbeda. Biasanya, saya yang 
menentukan kapan dan di mana kami akan berlibur. Maklum, jadwal kerja 
saya lebih kacau ketimbang jadwal kantorannya dia. Jadi dia memilih 
menyusuaikan waktunya dengan hari cuti saya. Saya sendiri biasanya 
memilih waktu cuti tahunan selepas Maret, setelah urusan laporan tahunan
 perusahaan kelar dibikin.

Selain 
menentukan waktu dan daerah tujuan, urusan booking tiket pesawat dan 
hotel juga menjadi tugas saya. Untuk perjalanan domestic, booking tiket 
dan hotel sih bisa by phone dan nggak menguras energi. Tapi kalau mau 
travelling abroad, dibutuhkan kejelian dan kesabaran dalam urusan 
booking-bookingan ini. Jeli dalam hal mencari flight fare termurah, 
sabar dan tekun googling dan browising internet tiap hari untuk membaca 
review traveller lain, dan siap-siap berteriak kesel ketika fun fare 
rate yang keduluan diambil orang pada saat proses booking.

Setelah urusan online booking ini beres, barulah Bojo 
saya serahi tugas membaca travel guide book atau referensi lain tentang 
daerah yang akan kami kunjungi. Termasuk mencari tahu di sana sedang 
musim apa, berapa suhu derajat udaranya, colokan listriknya kaki dua 
seperti di Indonesia atau kaki tiga gepeng, oh ya juga mencari info 
cultural event atau berbagai festival yang mungkin berlangsung pada saat
 kami di sana.

Tiba di daerah 
tujuan, nggak selalu kami jalan berdua beriringan kayak pasangan bulan 
madu loh. Seringnya malah jalan sendiri-sendiri. Saya dan Bojo pernah 
kayak orang main petak umpet, cari-carian, di Bayon Temple, kompleks 
Angkor Wat. Di Bali, saat nonton upacara Ngaben yang dipadati ribuan 
orang, kami jalan sendiri-sendiri sejak pukul 6 pagi dan baru ketemu 
lagi setelah pembakaran jam 8 malam. Sambil makan malam di warung, dia 
memperlihatkan foto-foto saya yang di-candid-nya. “Nih, tadi aku liat 
kamu".


salam dari jogja

-tita-

w: matatita.com 
fb : www.facebook.com/matatita





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke