Teman-teman
IBP-ers semua,

Mohon maaf jika
email balasan ini terlambat. Saya sudah mengirim balasan sebelumnya, tetapi
entah kenapa, email saya hilang begitu saja “ditelan” oleh yahoo groups. Mungkin
ada yang salah ya dengan sistemnya, Mbak Ambar?

Terima kasih
banyak Mbak Ambar yang sudah menulis resensi yang begitu indah untuk buku
Selimut Debu. Terima kasih yang tak terhingga juga kepada dukungan teman-teman.
Semoga buku ini juga bisa membawa manfaat kepada para pembaca.

Afghanistan, bagi
saya, berada di tempat yang begitu istimewa. Saya pertama kali mengunjungi  
negeri ini ketika Taliban baru saja pergi. Kala
itu, dengan semangat backpacker “hardcore”, saya melakukan perjalanan dari
peshawar sampai bamiyan. Sama sekali buta tentang afghanistan, nol besar. Tak 
ada
peta, nyaris tak ada informasi sama sekali. Info saya cuma 3 lembar hasil
download dari internet. Tak tahu apa bedanya dari, pashto, hazara, dll. Bagi 
backpacker
macam saya waktu itu, yg penting petualangannya. Eksotismenya. Afghanistan
adalah negeri eksotis, siapa yang tak bangga ada visa afghanistan di paspornya?
�

Tetapi kunjungan
pertama itu membuat mata saya terbuka akan realita betapa indahnya negeri itu. 
Ada
semacam magnet yang menarik saya untuk kembali ke sana. Kesempatan itu datang
pada tahun 2006, ketika saya dalam perjalanan ke barat menuju afrika selatan
(yang sampai sekarang masih belum kesampaian) dan saya berkeliling afghanistan
4 bulan dengan mengandalkan kendaraan umum dan hitchhiking. Kisah inilah yang
tertuang dalam buku Selimut Debu. Di sini saya belajar untuk melihat
Afghanistan dari sisi yang lebih dalam lagi. Eksotisme menjadi kata absurd. 
Bagaimana
kita bisa lagi mengatakan sebuah kultur yang begitu berbeda dengan kita sebagai
“eksotis”? mereka bukanlah makhluk berbeda yang menjadi tontonan. Mereka adalah
juga manusia yang punya sejarah, mimpi, tragedi, kebahagiaan, kesedihan, dan
sebagainya.

Perjalanan yang
dilakukan dalam selimut debu memang cuma memakan waktu 4 bulan, tetapi untuk
penulisannya butuh 2 tahun, diperkaya oleh kunjungan saya ketiga kalinya di
afghanistan, yang langsung nonstop selama 2.5 tahun bekerja sebagai
fotojurnalis dan penulis.

Mengenai masalah
burqa dan perempuan, kita juga bisa meniliknya dari berbagai sudut. Afghanistan,
pada tahun 1970an adalah negeri di mana kaum perempuan bebas bekerja dan
bepergian. Mode busana kota kabul tahun itu tak berbeda dengan jakarta di tahun
yang sama. Waktu itu burqa malah sangat langka di afghanistan. Justru setelah
serangan rusia, dan disambung perang berkepanjangan, perempuan afghanistan
malah semakin “tertutup”. Ini karena burqa menjadi bagian dari identitas yang
digunakan untuk mempersatukan berbagai faksi afgahnistan untuk bangkit melawan
penjajah, pembeda antara “kita” dan “mereka”. Sekarang, dengan keadaan
afghanistan sekarang yang masih hancur lebur karena perang dan mayoritas orang
tidak berpendidikan, burqa memberi rasa aman. Tetapi, rasa aman itu tetap
muncul dari ketakutan, dari ketidakamanan sebuah negeri perang.
�

Selama kontak
saya dengan perempuan afghan, utamanya di kabul, saya juga melihat betapa kaum
perempuan di sana pun sama seperti di mana pun. Gadis-gadis gemar bersolek,
membanding2kan gelang, anting2. Teman sekantor pagi-pagi langsung buka
facebook, browsing foto2 lelaki afghan yang tampan, lalu berkirim email dan
chatting lewat yahoo mesengger. Stop, sampai di sana saja “pemberontakan”-nya. 
Ia
tak sampai kopdar. Teman kantor yang lain menangis tersedu-sedu karena
kehilangan kesempatan ikut training di india, gara-gara orangtuanya bersikukuh
tidak mengizinkannya berangkat kalau tidak ditemani mahram. Mahram adalah
kerabat laki-laki yang menemani perempuan yang bepergian, sehingga perempuan
tidak pergi seorang diri. Tetapi kantor juga bersikukuh berprinsip tidak mau
membayari biaya perjalanan mahram, karena laki-laki ini juga tidak ikut
pelatihan sama sekali, cuma jalan-jalan gratis saja. Masih segar pula dalam
ingatan ketika dua penyanyi perempuan afghan dijatuhi fatwa mati gara-gara ikut
kontes afghan star (semacam indonesian idol), sampai melarikan diri dan
mengungsi. Mungkin kalau berminat untuk melihat lebih dekat tentang sisi lain 
Afghanistan,
teman-teman bisa menonton film dokumenter ini:

http://www.allyoulike.com/?p=40549

Tetnang
jalan-jalan di Afghanistan, dulu saya merekomendasikan orang untuk
berbackpacking di afghanistan, tetapi sekarang saya bilang, jangan dulu. Keadaan
afghanistan sudah tidak seaman waktu saya ke sana pertama kali (tahun 2001-2003
itu waktu paling aman), bahkan sudah tidak sama lagi dengan waktu saya menulis
selimut debu. Kalau dulu saya adalah backpacker nekad yang tak peduli dengan
keselamatan orang lain, tetapi sekarang saya sadar, kenekadan saya bukan hanya
membahayakan diri sendiri, tetapi juga tuan rumah, orang-orang sekitar saya,
negara afghanistan, dan negara saya sendiri. Terlalu egois rasanya jika
melibatkan mereka semua. Saya pun sudah mengalami berbagai kejadian
menyeramkan, mulai dirampok, nyaris diculik, dilecehkan, dipukuli, dan
seterusnya, yang menimbulkan trauma. Tetapi jika memang ada kesempatan itu,
jangan sia-siakan. Afghanistan tetap negeri terindah yang pernah saya lihat,
khususnya di daerah utara yang lebih aman dan bersahabat.

Mengenai
Pakistan, dulu memang Pakistan lebih aman daripada Afghanistan, tetapi sekarang
situasi di Pakistan lebih tidak terduga. Afghanistan, memang berbahaya, tetapi
kita sudah tahu dan bisa memprediksi daerah mana yang bakal terjadi apa-apa. 
Tetapi,
pakistan, lebih susah ditebak. Bahkan tempat yang dulunya surga turis dan
backpacker macam swat dan nwfp pun sekarang jadi sarang taliban. Daerah hunza
masih tetap aman karena penduduknya ismaili, tetapi gilgit lumayan risky juga
karena konflik etnis. Perlu terus diupdate juga bagaimana situasi banjir yg
melanda karakoram highway, tetapi masih ada kok turis yang ke sana.


Untuk buku
panduan, memang lonely planet afghanistan sudah terbit tahun 2007, tetapi saya
belum pernah memakai buku itu untuk jalan-jalan. Saya punya bukunya, hibah dari
teman. Isinya memang lebih banyak ditujukan untuk kaum ekspat. Malah banyak
jargon-jargon ala organisasi internasional yang saya dulunya nggak tahu, malah
dapat ilmunya dari lonely planet. Buku panduan terbaik tetap punya nancy dupree
itu, ditulis tahun 70’an dan masih menarik untuk dipakai. Benar-benar buku
panduan yang timeless. Untuk pakistan, juga ada lonely planet ya. Saya dulu
pernah punya, edisi yang tahun 90’an, hehehe, waktu ke pakistan tahun 2003 dan
2005 nyaris useless sama sekali, kecuali untuk peta wilayah. Di pakistan saya
secara umum gak pakai buku panduan sama sekali, dan kayaknya memang tidak
terlalu perlu, asal punya sedikit gambaran saja tentang negara itu. Kebetulan 
saya
bisa bahasa urdu, jadi bisa tanya-tanya. Tetapi ini juga nggak terlalu perlu
karena mayoritas penduduk pakistan bisa bhs inggris.
�

Mohon maaf
balasan ini terlalu panjang lebar. Moga-moga nggak bosen membacanya. Dan 
moga-moga
juga, tulisan selimut debu bisa menginspirasi teman-teman sesama backpacker
untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi. Backpacker indonesia juga bisa kok
seperti backpacker dari negara2 lain.

Salam hangat
�

Agustinus wibowo





Kirim email ke