Memang yahoogroups agak temperamental. Hehehe...saya sendiri juga pernah. Udah 
nulis panjang-panjang eh ngilang. Saran aja: lebih baik reply lewat email 
masing-masing, bukan lewat ygroups web. 

Agustinus saya kenal pertama akhir tahun 2004, ketika dia memposting foto 
tentang Angkor Wat  hingga tulisan perjalanannya yang pertama dimuat di 
National Geographic edisi China tentang Mongolia.  Jurnalnya membuat ketagihan 
terutama perjalanannya di India, Pakistan dan Nepal. Afghanistan baru mulai 
'terasa mengigit' ketika ia menulis tentang ziarah kaum Syiah dan ritual Imam 
Hussein dengan memukuli anggota tubuh hingga berdarah-darah. Tiba-tiba 
mengingatkan saya pada ritual serupa di belahan bumi lain, sebagai refleksi 
penderitaan yang dalam dan penghormatan yang tinggi. 

Dari tiga kali kunjungannya di Afghanistan banyak sekali perubahan dari sudut 
menulis maupun sisi ketertarikannya. Saya sendiri pernah bertanya, "Ngapain sih 
mengunjungi negeri-negeri muslim yang bergolak?" Saya tidak ingat jawaban 
lengkapnya tetapi ia mengaku banyak terinspirasi dari buku karya VS Naipul 
peraih Nobel 2001 berjudul Among the Believers: An Islamic Journey. 

Seperti yang diceritakan Agustinus, tahun 70an sebelum USSR menyerbu 
Afghanistan, negeri ini sangat terbuka terutama sebagai jalur penghubung antara 
Timur dan Barat. Kalau teman-teman mengamati Jalan Sutra atau Silk Road, 
kebanyakan yang dilewati adalah Bamiyan dan Kabul sebelum kemudian mencapai 
India. Saya sendiri melihat Afghanistan itu seperti Indonesia. Diantara dua 
samudra dan dua benua, menghubungkan Asia daratan dan Pasifik. Pengaruh Hindu 
dan Budha juga menjadi bagian dari budaya leluhur sebelum kemudian Islam dan 
agama lain berkembang. 

Afghanistan dan Indonesia juga terdiri dari banyak etnis. Rasanya membaca 
Selimut Debu seperti bercerita tentang pergulatan berbagai suku di tanah air. 
Membayangkan kita jalan ke Papua ataupun jalan ke Timor pastilah mempunyaii 
pendapat yang berbeda tentang Indonesia. Begitulah, seperti melihat cermin 
saja. Tampak semuka, tampak saudara. 

Saya sendiri kalo membaca jurnal-nya Agustinus teringat pada I Tsing, pendeta 
Budha yang melakukan perjalanan hingga Malaka. Catatannya tentang kerajaan 
Sriwijaya di Palembang memberikan gambaran bagaimana kejayaan negeri itu. 
Rasanya menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa datang membuahkan refleksi 
yang dalam. Travelling terkadang tidak menceritakan tentang diri sendiri, 
tetapi apa yang dilihat, dirasakan, diketahuinya tentang orang dan negara lain. 
Seperti yang ditulisnya: Kedai teh adalah universitas kehidupan. 


Salam,
Ambar 

PS: saya ngga mau terlalu berta'arof hehehe..nanti dikira basa-basi 


--- In [email protected], Agustinus Wibowo <augustw...@...> wrote:
>
>
> Mohon maaf jika
> email balasan ini terlambat. Saya sudah mengirim balasan sebelumnya, tetapi
> entah kenapa, email saya hilang begitu saja “ditelan” oleh yahoo groups. 
> Mungkin
> ada yang salah ya dengan sistemnya, Mbak Ambar?
> 
> Terima kasih
> banyak Mbak Ambar yang sudah menulis resensi yang begitu indah untuk buku
> Selimut Debu. Terima kasih yang tak terhingga juga kepada dukungan 
> teman-teman.
> Semoga buku ini juga bisa membawa manfaat kepada para pembaca.
> 
> Afghanistan, bagi
> saya, berada di tempat yang begitu istimewa. Saya pertama kali mengunjungi  
> negeri ini ketika Taliban baru saja pergi. Kala
> itu, dengan semangat backpacker “hardcore”, saya melakukan perjalanan dari
> peshawar sampai bamiyan. Sama sekali buta tentang afghanistan, nol besar. Tak 
> ada
> peta, nyaris tak ada informasi sama sekali. Info saya cuma 3 lembar hasil
> download dari internet. Tak tahu apa bedanya dari, pashto, hazara, dll. Bagi 
> backpacker
> macam saya waktu itu, yg penting petualangannya. Eksotismenya. Afghanistan
> adalah negeri eksotis, siapa yang tak bangga ada visa afghanistan di 
> paspornya?
>  
> 
> Tetapi kunjungan
> pertama itu membuat mata saya terbuka akan realita betapa indahnya negeri 
> itu. Ada
> semacam magnet yang menarik saya untuk kembali ke sana. Kesempatan itu datang
> pada tahun 2006, ketika saya dalam perjalanan ke barat menuju afrika selatan
> (yang sampai sekarang masih belum kesampaian) dan saya berkeliling afghanistan
> 4 bulan dengan mengandalkan kendaraan umum dan hitchhiking. Kisah inilah yang
> tertuang dalam buku Selimut Debu. Di sini saya belajar untuk melihat
> Afghanistan dari sisi yang lebih dalam lagi. Eksotisme menjadi kata absurd. 
> Bagaimana
> kita bisa lagi mengatakan sebuah kultur yang begitu berbeda dengan kita 
> sebagai
> “eksotis”? mereka bukanlah makhluk berbeda yang menjadi tontonan. Mereka 
> adalah
> juga manusia yang punya sejarah, mimpi, tragedi, kebahagiaan, kesedihan, dan
> sebagainya.


Kirim email ke