Catatan perjalanan Hari 1, Sabtu 19 Juni 2010 Setelah selama 2 tahun tertunda, pada akhirnya kami mendapatkan jadwal yang pas untuk menapak jalur dari Desa Jatiluwih menuju Danau Tamblingan dengan rentang jarak 20 km menembus hutan lindung. Rencana ini dimotori oleh Mas Puguh, yang kemudian kami sesuaikan dengan jadwal acara tahunan kantor kami. Akhirnya 7 orang berangkat ditemani oleh guide lokal yang bernama Pak Suwi. Tenda dan sleeping bag plus perbekalan kami persiapkan untuk jaga2 kalau kami harus menginap di hutan atau pinggir hutan.
Jam 10 pagi kami sudah berada di tepi hutan, kami naik dari Desa Soka, desa yang terletak sebelah timur dari Desa Jatiluwih. Hanya saja pintu hutan termasuk dalam wilayah Desa Jatiluwih. Setelah melaksanakan riutal sebentar, Pak Suwi memberikan penjelasan singkat mengenai tanaman yang berbahaya yang akan kami temui dan tanaman2 yang bisa kami makan. Beliau menunjukan kami batang keladi yang rasanya asem seperti belimbing buluh, asem tape enak. Dan kami juga mengumpulan bahan sayuran yang nanti kami hidangkan saat makan malam. Ada beberapa jenis pohon yang beracun dan menyebabkan gatal di kulit saat kita bergesekan dengan tanaman ini, nama lokalnya Tanaman Lateng, daunnya agak berbulu/duri halus, dan kalau bergesekan dengan kulit akan seperti tersengat. Untung salah satu dari kami ingat untuk membawa minyak tawon, sekali oles dah beres. Yang akan masalah mungkin adalah binatang pacet, binatang kecil mirip lintah yang melontarkan diri dari semak atau pucuk daun kalau ada yang lewat. Hampir semua dari kami akhirnya menyumbang darah ke binatang ini :-)) Jalur yang kami tempuh adalah jalur di lembah antara beberapa gunung, yaitu Gunung Batukaru dan Gunung Pucuk/Sanghyang sebelah barat, Gunung Puun, Gunung Lesung dan Gunung Nagaloka di sebelah timur. Akan kelihatan lebih jelas dari Google. Kawasan ini berseberangan dengan kawasan pengeboran gas bumi yang tidak tahu bagaimana juntrungnya sekarang ini di area Bedugul. Menurut Pak Suwi, jalur ini adalah jalur tua, karena lebarnya sekitar 2 meter dan di beberapa tempat ada perkerasan. Menurutnya jalur ini dulu adalah jalur ekonomi, jalur yang menghubungkan daerah penghasil beras di pesisir selatan (Kabupaten Tabanan) dan penghasil kopi (palawija) di pesisir utara (kabupaten Buleleng). Dan pada saat perang kemerdekaan, jalur ini menjadi jalur penghubung para pejuang kita, demikian penuturan pak Suwi. Jalur dari Desa Soka ke Pura Gunung Puun harus dilalui agak menanjak sebelum akhirnya kita ketemu dengan sumber mata air, yang masih menjadi bagian dari Pura Gunung Puun. Kami istirahat sejenak dan mengisi perbekalan dengan air yang baru plus fresh. Makan siang kami tentukan di areal sekitar Pura. Jalur datar, menanjak dan sesekali melintasi pohon2 yang tumbang karena rapuh. Melintasi hutan dengan lumut, hutan basah. Dan di jam 4 sore kami akhirnya sampai di batas hutan di area Danau Tamblingan. Berarti sudah 6 jam kami berjalan sepanjang itu. Istirahat sejenak dengan menikmati buah markisa yang kami dapatkan sekitar pinggir hutan. Dan kemudian Pak Suwi mengarahkan kami untuk menembus ladang penduduk sampai di tepi hutan Gunung Lesung untuk berkemah. Jalur di hutan lindung itu agak ternoda oleh jalur yang dilalui oleh para penghobi motor kros. Agak kurang sreg bagi kami akan keberadaaan jejak2 kendaraan ini di hutan lindung yang asri. Hari 2, Minggu 20 Juni 2010 Setelah melepas capek diperjalanan yang kemarin, jam 4 pagi kami putuskan untuk mulai naik ke Gunung Lesung dengan harapan kami akan mendapatkan sunrise yang aduhai. Perjalanan di pagi buta itu terasa segar kembali, jalur menanjak tinggi tanpa kami sadari, mungkin akan berbeda kalau kami naik di saat ada sinar matahari. Dan hasilnya kami sudah tiba di pelataran Pura Gunung Lesung di jam 5.45, saat ufuk timur masih merah. Lebih cepat 1 jam dari perkiraan Pak Suwi. Oya, perlengkapan yang tidak perlu kami tinggalkan dibawah (kami titipkan di rumah penduduk). Jadi kami naik dengan bekal seadanya. Setelah melakukan ritual di Pura Gunung Lesung, kami putuskan untuk mencari spot untuk menunggu matahari terbit. Dari puncak ini sudah kelihatan Danau Buyan, pesisir utara Bali, dan lembah mati di Gunung Lesung disisi kanan (selatan). Pada akhirnya kami putuskan untuk tidak menunggu mentari terbit, akibat tergiur oleh pemandangan kawah mati berselimut kabut atau mungkin danau mati di puncak dari Gunung Lesung ini. Mungkin dulunya adalah sebuah kepundan atau memang danau yang sudah mengering. Tampak vegetasi dibawah yang tertutup oleh kabut. Kedalaman dari lereng (pura) kami perkirakan adalah maksimum 80 m, dengan tebing terjal bervegatasi yang hampir lingkaran penuh. Dan akhirnya pelan2 kami menapak turun ke lembah sunyi ini, berpegangan pada dahan2 pohon, batang tanaman jalar, agak merosot karena turunan yang rada terjal, menyibak ilalang dan semak berduri. Akhirnya kami sampai dibawah, yang kami sangka adalah kawasan datar dengan rumput rendah ternyata semak setinggi leher kami. Dan Pak Suwi dengan parangnya menyibakan semak untuk jalur yang akan kami lalui. Kami putuskan untuk tidak naik ditempat yang sama, akan sulit karena turunnya yang sangat terjal, dan kami putuskan untuk membelah kawasan datar itu menuju ke lereng seberang, dengan harapan lebih landai. Ternyata tidak, malah sama terjalnya, pelan dan waspada kami naik ke puncak lereng diseberangnya. Sampai jam 8.30 saat kami sampai di puncak seberang, kabut tetap menyelumuti kawah mati itu walau sinar matahari sudah mulai naik, ibarat tidak rela memperlihatkan misteri di dalamnya. Dan kami merasa bahwa kami telah nekat selama 2 jam untuk turun dan membelah kawasan sunyi itu. Dari puncak itu kami melalui jalur kami naik tadi menuju puncak Gunung Nagaloka untuk melihat langsung bagaimana goa vertikal dalam yang mungkin adalah kepundan yang sudah tidak aktif lagi. Menurut Pak Suwi, telah ada yang mencoba masuk kedalam goa vertikal itu, dengan tali sepanjang 150m dan belum juga bisa menyentuh dasarnya. Dari Nagaloka kami turun kembali ke perkemahan. Jam 11 kami berpamitan dengan Pak Nuriada, penduduk yang kami titip tenda. Setelah itu menelusuri jalur pinggir hutan Gunung Lesung yang berseberangan dengan ladang2 penduduk menuju ke persimpangan jalur Danau Tamblingan, dimana kami dijemput oleh kendaraan disana. Dana yang dibutuhkan untuk perjalanan ini adalah untuk biaya pemandu, biaya antar jemput dari Kota Tabanan dan biaya sekedarnya untuk menitipkan tenda dibawah Gunung Lesung. Masih dibawah 1 juta. Semoga jalur ini semakin populer kelak, karena jalur ini lebih sering dilalui oleh wisatawan mancanegara daripada domestik. [Non-text portions of this message have been removed]
