Perjalanan tempo hari ke Bali temanya adalah memenuhi rasa ingin tahu (rasanya 
semua perjalanan demikan...)

G. Lesung

Atas dukungan tim Mas Kadek, akhirnya saya sampai didasar kawah mati G. 
Lesung(ketinggian puncak di pinggir kawah: 1865 mdpl). Kalo dari google earth 
diameter kawah sekitar 600 meter. Tidak luar biasa, tapi bentuk lingkarannya 
yang rapih dan padang rumput ditengah2nya mengundang rasa penasaran.

Sambil menyeberang padang ilalang di dasar kawah, sempat terpikir kemungkinan 
rembesan gas beracun dari kawah. Rupanya teman2 yang lain terpikir hal yang 
sama, tapi berusaha cuek selama didasar kawah. Semoga banyaknya ilalang didalam 
kawah, memberi jaminan bahwa tidak ada hal semacam itu. Pak Suwi – pemandu kami 
– seumur-umur baru kali kedua turun ke dalam kepundan ini.


Rasa penasaran lain(dan yang belum habis2) adalah mencoba sebanyak mungkin 
jalan yang memotong punggungan. Jalan-jalan utama di Bali bagian tengah, 
umumnya berada diatas punggungan menghubungkan utara-selatan dan akan berakhir 
di puncak-puncak utama Pulau Bali. Dari beberapa pengalaman, jalan-jalan yang 
menghubungkan dua  punggungan, `terpaksa' memotong sungai di dasar lembah. Nah, 
biasanya jalan ini bentuknya menarik untuk dijalani dengan sepeda motor. 
Berbekal atlas Bali terbitan Periplus, beberapa jalan kecil bisa terendus. 
Namun beberapa lembah, seperti lembah Sungai Ayung, tidak banyak tempat untuk 
menyeberang. Jadi sebaiknya kalau mau blusuk-blusuk, periksa dulu peta anda, 
karena waktu tempuh akan jauh bertambah.

Dalam perjalanan kali ini yang menarik adalah ketika mencoba Penglipuran ke 
arah Tiga. Di jalan ini terdapat bagian jalan yang melalui hutan bambu yang 
sangat rapat sampai sinar matahari sulit menembus. Desa Penglipuran sendiri 
dinyatakan sebagai desa wisata, tapi saya tidak mampir. Kapan2 kalau pas 
Galungan, dimana tiap rumah pasang Penjor, pasti menarik untuk mampir ke desa 
ini.


Ubud – Kitamani - (hampir) Trunyan

Jalur yang pertama di coba adalah dari Ubud menuju Kintamani, tetapi `zig-zag' 
diantara poros jalan Tegalalang – Kitamani dan Sayan (Payangan) - Kintamani. 
Ternyata tidak banyak zig-zag yang bisa dilakukan. Saya akhirnya melewati Taro 
dan muncul bergabung di jalan utama dekat Kintamani.

Dari Kintamani, umumnya orang akan turun ke Toya Bungkah, desa diantara Danau 
Batur dan Gunung Batur melalui Kedisan. Kalau ada waktu, cobalah turun melalui 
arah timur Kintamani melalui arah Sukawana -> Paketan -> Pinggan-> 
Belandingan-> Ulun Danu -> Toya Bungkah.  

Di jalur ini kita akan melihat sisi G. Batur yang jarang dilihat dan desa-desa 
yang tersembunyi di kaki timur G. Batur, seperti Yeh Mampeh, dan Batang 
Tingkad. KAlau membawa kendaraan sendiri baik roda dua atau empat, pastikan 
keterampilan mengemudi anda diatas rata-rata.

Setelah sampai di Kedisan, saya mencoba untuk terus berkendara kearah Trunyan, 
yang ternyata sudah bisa dicapai dengan kendaraan roda empat. Tapi di pos 
tiket, pasti akan disuruh (bukan disarankan) naik kapal ke Trunyan. Kemarin 
saya naik motor, dan lolos walaupun akhirnya memutuskan tidak sampai ke Trunyan 
karena jalan masih berbatu.

Yang mengejutkan saya adalah, daerah sekitar Trunyan ternyata termasuk subur. 
Anehnya saya mendengar banyak warga yang menjadi peminta-minta.

Saya rencananya naik kembali ke Kintamani melalui Kedisan. 'Sayangnya' beberapa 
ratus meter sebelum mencapai puncak, saya melihat jalan kekanan, yang menurut 
peta, jalan ini bisa membawa kembali ke arah sisi timur G. Batur. Akhirnya saya 
mengikuti jalan ini, yang mana kemiringan turunannya agak sulit untuk 
mengendalikan kendaraan selain membiarkannya melorot. Rupanya jalan ini kembali 
di dasar kaki G. Batur bagian selatan, dimana daerah ini adalah daerah bekas 
lelehan lava G. Batur. Pemandangannya eksotik. Batu hitam besar-besar dengan 
latar belakang G. Batur menjulang.

Diantara Toya Bungkah dan Kedisan, anda juga akan bertemu lapangan batuan beku 
tapi ukurannya relatif lebih kecil dan sudah lebih 'tua' karena sudah ditumbuhi 
semak.

Dari 'lapangan batuan beku' ini anda bisa membayangkan bagaimana dahulu lahar 
meleleh dari G. Batur kearah selatan dan berhenti saat menabrak dinding kawah 
tua, dimana sekarang Kintamani berada. Uniknya ditengah-tengah lapangan ini, 
terdapat satu titik berbentuk cawan besar yang tak tersentuh lava, dan sekarang 
sudah tumbuh dua pohon tinggi dan semak, sekarang dibuat dasarnya terdapat pura 
kecil.(Pura Bukit Mengil? doh saya gak catet namanya).


Amed – Bunutan - Bangle - Pura Lempuyang - Pura Pasar Agung

Semenjak pertama kali melewati daerah Amed tahun 1996, pertigaan Bunutan ini 
sudah menarik perhatian. Kalau kita memandang ke hulu sungai, tampak bukit 
kering di kiri-kanan, tapi jauh didalam sana tambak bukit yang selalu ada awan 
menggantung.

Setelah cek silang dengan beberapa peta Bali, didapat bahwa ada desa Bangle 
yang terletak di hulu sungai kering ini. 

Salah satu peta topografi bali menggambarkan desa Bangle yang hampir 
dikelilingi bukit seperti berada didasar sebuah kepundan. 'Mangkok kepundan' 
ini jebol dan terbuka kearah Amed, dan meninggalkan G. NAmpu, G. Maspait, G. 
Seraya, G Bisbis, dan lokasi Pura Lempuyang, sebagai bibir kepundan yang masih 
utuh.

Saya bukan geologist yang punya otoritas untuk membuat dongeng tentang bumi, 
tapi mungkin saja kepundan ini yang menyumbang pasir hitam sepanjang pantai 
timur Bali. Awalnya saya kira G. Agung yang menyumbang pasir hitam, tp antara 
G. Agung dan pantai timur Bali, masih dihalangi oleh kepundan ini.

Jalan dari Bunutan ke Pura Lempuyang ternyata semuanya sudah aspal, tapi 
lebarnya pas-pasan dan di beberapa belokan kalo anda membawa roda empat, 
membutuhkan ketrampilan manuver yang baik.

Dari Lempuyang saya mengambil jalan tengah yang menghubungkan sisi timur Bali 
dan bagian tengah Bali. Hanya ada 3 pilihan yang menghubungkan Bali bagian 
timur. Jauh di utara ada akses melalui Tianyar, Tulamben, dll, lewat selatan 
melalui Candi Dasa. Tapi jalur lewat Bebandem, Sibetan, Selat, adalah yang 
paling sepi dan menurut saya indah, apalagi bagian jalan yang melalui jejeran 
kebun salak.

Di peta juga saya sempat melihat bahwa Pura Pasar Agung, adalah pura secara 
fisik `paling tinggi' lokasinya di Bali. Akhirnya di Selat, saya memutuskan 
untuk mampir ke Pura Pasar Agung. Di tempat parkir pura, bertemu dengan warga 
yang berziarah ke pura. Salah satunya adalah Pak Mangku untuk Pura Pasar Agung. 
Beliau bercerita bahwa kalau cuaca tidak berkabut, pemandangan dari pura akan 
sangat bagus. Saya percaya itu. Waktu turun dari Pura Lempuyang, cuaca masih 
relatif baik, sehingga dari atas terlihat bentang alam sampai ke laut.

Sepanjang perjalanan Bali kali ini yang luar biasa adalah sampah plastik. 
Penetrasi pasar minuman produk industri luar biasa, sampai ke warung-warung di 
desa kecil menawarkan air minum dalam kemasan. 

Perjalanan ditutup dengan mampir di Kuta untuk transit dimana saat turun dari 
Ubud jalan-jalan Denpasar dilaporkan 'menjadi sungai' karena hujan bulan juni.


--- In [email protected], "Made Sutawijaya" <kadekwij...@...> 
wrote:
>
> Catatan perjalanan
> Hari 1, Sabtu 19 Juni 2010
> 
> Setelah selama 2 tahun tertunda, pada akhirnya kami mendapatkan jadwal yang 
> pas untuk menapak jalur dari Desa Jatiluwih menuju Danau Tamblingan dengan 
> rentang jarak 20 km menembus hutan lindung. Rencana ini dimotori oleh Mas 
> Puguh, yang kemudian kami sesuaikan dengan jadwal acara tahunan kantor kami. 
> Akhirnya 7 orang berangkat ditemani oleh guide lokal yang bernama Pak Suwi. 
> Tenda dan sleeping bag plus perbekalan kami persiapkan untuk jaga2 kalau kami 
> harus menginap di hutan atau pinggir hutan. 
> 
> Jam 10 pagi kami sudah berada di tepi hutan, kami naik dari Desa Soka, desa 
> yang terletak sebelah timur dari Desa Jatiluwih. Hanya saja pintu hutan 
> termasuk dalam wilayah Desa Jatiluwih. Setelah melaksanakan riutal sebentar, 
> Pak Suwi memberikan penjelasan singkat mengenai tanaman yang berbahaya yang 
> akan kami temui dan tanaman2 yang bisa kami makan. Beliau menunjukan kami 
> batang keladi yang rasanya asem seperti belimbing buluh, asem tape enak. Dan 
> kami juga mengumpulan bahan sayuran yang nanti kami hidangkan saat makan 
> malam. Ada beberapa jenis pohon yang beracun dan menyebabkan gatal di kulit 
> saat kita bergesekan dengan tanaman ini, nama lokalnya Tanaman Lateng, 
> daunnya agak berbulu/duri halus, dan kalau bergesekan dengan kulit akan 
> seperti tersengat. Untung salah satu dari kami ingat untuk membawa minyak 
> tawon, sekali oles dah beres. Yang akan masalah mungkin adalah binatang 
> pacet, binatang kecil mirip lintah yang melontarkan diri dari semak atau 
> pucuk daun kalau ada yang lewat. Hampir semua dari kami akhirnya menyumbang 
> darah ke binatang ini :-))
> 
> Jalur yang kami tempuh adalah jalur di lembah antara beberapa gunung, yaitu 
> Gunung Batukaru dan Gunung Pucuk/Sanghyang sebelah barat, Gunung Puun, Gunung 
> Lesung dan Gunung Nagaloka di sebelah timur. Akan kelihatan lebih jelas dari 
> Google. Kawasan ini berseberangan dengan kawasan pengeboran gas bumi yang 
> tidak tahu bagaimana juntrungnya sekarang ini di area Bedugul. Menurut Pak 
> Suwi, jalur ini adalah jalur tua, karena lebarnya sekitar 2 meter dan di 
> beberapa tempat ada perkerasan. Menurutnya jalur ini dulu adalah jalur 
> ekonomi, jalur yang menghubungkan daerah penghasil beras di pesisir selatan 
> (Kabupaten Tabanan) dan penghasil kopi (palawija) di pesisir utara (kabupaten 
> Buleleng). Dan pada saat perang kemerdekaan, jalur ini menjadi jalur 
> penghubung para pejuang kita, demikian penuturan pak Suwi.
> Jalur dari Desa Soka ke Pura Gunung Puun harus dilalui agak menanjak sebelum 
> akhirnya kita ketemu dengan sumber mata air, yang masih menjadi bagian dari 
> Pura Gunung Puun. Kami istirahat sejenak dan mengisi perbekalan dengan air 
> yang baru plus fresh. Makan siang kami tentukan di areal sekitar Pura.
> 
> Jalur datar, menanjak dan sesekali melintasi pohon2 yang tumbang karena 
> rapuh. Melintasi hutan dengan lumut, hutan basah. Dan di jam 4 sore kami 
> akhirnya sampai di batas hutan di area Danau Tamblingan. Berarti sudah 6 jam 
> kami berjalan sepanjang itu. Istirahat sejenak dengan menikmati buah markisa 
> yang kami dapatkan sekitar pinggir hutan. Dan kemudian Pak Suwi mengarahkan 
> kami untuk menembus ladang penduduk sampai di tepi hutan Gunung Lesung untuk 
> berkemah. 
> 
> Jalur di hutan lindung itu agak ternoda oleh jalur yang dilalui oleh para 
> penghobi motor kros. Agak kurang sreg bagi kami akan keberadaaan jejak2 
> kendaraan ini di hutan lindung yang asri.
> 
> 
> Hari 2, Minggu 20 Juni 2010
> Setelah melepas capek diperjalanan yang kemarin, jam 4 pagi kami putuskan 
> untuk mulai naik ke Gunung Lesung dengan harapan kami akan mendapatkan 
> sunrise yang aduhai. Perjalanan di pagi buta itu terasa segar kembali, jalur 
> menanjak tinggi tanpa kami sadari, mungkin akan berbeda kalau kami naik di 
> saat ada sinar matahari. Dan hasilnya kami sudah tiba di pelataran Pura 
> Gunung Lesung di jam 5.45, saat ufuk timur masih merah. Lebih cepat 1 jam 
> dari perkiraan Pak Suwi. Oya, perlengkapan yang tidak perlu kami tinggalkan 
> dibawah (kami titipkan di rumah penduduk). Jadi kami naik dengan bekal 
> seadanya. 
> 
> Setelah melakukan ritual di Pura Gunung Lesung, kami putuskan untuk mencari 
> spot untuk menunggu matahari terbit. Dari puncak ini sudah kelihatan Danau 
> Buyan, pesisir utara Bali, dan lembah mati di Gunung Lesung disisi kanan 
> (selatan). Pada akhirnya kami putuskan untuk tidak menunggu mentari terbit, 
> akibat tergiur oleh pemandangan kawah mati berselimut kabut atau mungkin 
> danau mati di puncak dari Gunung Lesung ini. Mungkin dulunya adalah sebuah 
> kepundan atau memang danau yang sudah mengering. Tampak vegetasi dibawah yang 
> tertutup oleh kabut. Kedalaman dari lereng (pura) kami perkirakan adalah 
> maksimum 80 m, dengan tebing terjal bervegatasi yang hampir lingkaran penuh. 
> 
> Dan akhirnya pelan2 kami menapak turun ke lembah sunyi ini, berpegangan pada 
> dahan2 pohon, batang tanaman jalar, agak merosot karena turunan yang rada 
> terjal, menyibak ilalang dan semak berduri. Akhirnya kami sampai dibawah, 
> yang kami sangka adalah kawasan datar dengan rumput rendah ternyata semak 
> setinggi leher kami. Dan Pak Suwi dengan parangnya menyibakan semak untuk 
> jalur yang akan kami lalui. Kami putuskan untuk tidak naik ditempat yang 
> sama, akan sulit karena turunnya yang sangat terjal, dan kami putuskan untuk 
> membelah kawasan datar itu menuju ke lereng seberang, dengan harapan lebih 
> landai. Ternyata tidak, malah sama terjalnya, pelan dan waspada kami naik ke 
> puncak lereng diseberangnya. 
> 
> Sampai jam 8.30 saat kami sampai di puncak seberang, kabut tetap menyelumuti 
> kawah mati itu walau sinar matahari sudah mulai naik, ibarat tidak rela 
> memperlihatkan misteri di dalamnya. Dan kami merasa bahwa kami telah nekat 
> selama 2 jam untuk turun dan membelah kawasan sunyi itu. Dari puncak itu kami 
> melalui jalur kami naik tadi menuju puncak Gunung Nagaloka untuk melihat 
> langsung bagaimana goa vertikal dalam yang mungkin adalah kepundan yang sudah 
> tidak aktif lagi. Menurut Pak Suwi, telah ada yang mencoba masuk kedalam goa 
> vertikal itu, dengan tali sepanjang 150m dan belum juga bisa menyentuh 
> dasarnya. 
> 
> Dari Nagaloka kami turun kembali ke perkemahan. Jam 11 kami berpamitan dengan 
> Pak Nuriada, penduduk yang kami titip tenda. Setelah itu menelusuri jalur 
> pinggir hutan Gunung Lesung yang berseberangan dengan ladang2 penduduk menuju 
> ke persimpangan jalur Danau Tamblingan, dimana kami dijemput oleh kendaraan 
> disana.
> 
> Dana yang dibutuhkan untuk perjalanan ini adalah untuk biaya pemandu, biaya 
> antar jemput dari Kota Tabanan dan biaya sekedarnya untuk menitipkan tenda 
> dibawah Gunung Lesung. Masih dibawah 1 juta. Semoga jalur ini semakin populer 
> kelak, karena jalur ini lebih sering dilalui oleh wisatawan mancanegara 
> daripada domestik.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke