dear mbak wina,
setuju dengan mbak tika, anak dan pekerjaan jangan dijadikan kendala untuk melakukan perjalanan yang sesuai dengan keinginan kita. sy justru makin sering jalan-jalan setelah menikah n punya anak 2, semuanya perempuan (4 n 5 thn). bepergian bersama dengan keluarga adalah hal yang paling sangat sy sukai. karena pada waktu itulah sy bisa bersama anak-anak sepanjang hari. hal ini seperti rekonsiliasi keluarga karena keluar dari rutinitas kantor n rumah dengan segala tekanannya. dan kami udah menjadwalkan min setahun sekali untuk liburan bersama. beberapa pengalaman sy jalan sm anak antara lain: 1.anak pertama umur 2 bln, sy berdua dari makassar ke balikpapan naik kapal laut tanpa ada rencana sebelumnya. Hanya karena ngantar sepupu yang mau ke pelabuhan n delay lama, sy jadi terfikir berangkat, langsung pulang ngepak barang superkilat. waktu itu sy dalam cuti melahirkan yang hampir habis. padahal kapal tersebut kapal barang jadi kamarnya kurang nyaman n lambat banget (2 mlm di kapal). Jalan-jalan saya sampai di tenggarong. 2.anak pertama umur 7 bln, dari makassar ke bandung, trus naik mobil ke yogya, semalam di yogya trus balik lagi ke bandung, kali ini sy bawa pengasuh, yang sayangnya kurang cekatan, jadi sy juga yang ngurus. 3. Kami pergi berenam (sy, suami, anak sy umur 1&2thn, pengasuh, adik saya)jalan-jalan lagi ke jakarta bandung. 3.anak pertama umur 2,5tahun. ke sg n kl bersama suami (bertiga aja), tapi ikut tur. 4.kami berempat (sy, suami, n anak umur 3&4thn), backpackeran pertama kali ke hongkong. tiba tengah malam di lcct, nongkrong aja 5 jam sampai tiba waktu check in pswt menuju hongkong. anak2 tidur di 2 kursi yang dijadikan satu, mereka sy mandikan jam 6pagi. jam 7 pswt berangkat. 5.Bulan lalu kami berempat baru aja berlibur, harusnya ke bangkok tapi karena sikon, di jam2 terakhir memutuskan berbelok tujuan jalan di kl n sg. tidak ada persiapan mau kemana selama di kl. Kali ini, dari palu ke makassar 25 jam lewat darat, seminggu di kl n sg, balik lagi lewat darat ke palu. Rutenya Mks-KL-Sg-KL-Mks. Sg ke KL naik bis jam 10 malam, pada saat diperbatasan, dalam kondisi anak-anak tidur dan semua barang bawaan harus dibawa turun dari bis untuk proses imigrasi dan harus buru-buru kembali ke bis, sungguh suatu perjuangan. Udah gitu tibanya di Bukit Jalil, terminal darurat pengganti puduraya (sungguh darurat) pada jam 3pg. Setelah itu naik taxi ke KL Sentral. Jam 4 pagi, karena anak2 sudah bangun, mereka sy mandikan, mumpung masih sepi dan sambil menunggu pagi. Repot n ribet, pastinya. Seminggu sebelum hari h, sy udah ngumpulin barang yang perlu dibawa, setelah itu disortir, sampai jadi 3 tas ransel, 1 ransel buat pakaian sy n suami, 1 ransel buat pakaian anak-anak, 1-nya lagi buat makanan praktis, seperti mie gelas, sosis siap makan, abon, botol minuman, gelas, sendok, susu, saus tomat, snack pengganjal, permen, buku mewarnai+crayon, buku bacaan seperti bobo,plastisin, etc tujuannya untuk pengalih perhatian anak jika rewel. liburan tahun ini malah coba bawa travel cooker+beras, sehingga anak2 selalu ada persiapan nasi, sisa beli lauk (sekalian antisipasi di negara yang susah nasi, makanan halal dan untuk menghemat). Wisata kuliner bukan tujuan utama kami, kalo pas ketemu alhamdulillah, tapi kalo harus khusus nyari tempat makan yang halal & murah), gak cukup waktu. Anak-anak juga sy besarkan hatinya supaya ikut excited menanti waktu liburan tiba, misalnya kalo malas belajar or ada remedial di sekolah, kalo malas makan atau minum susu akan terancam untuk gak jadi pergi liburan. Baju-baju mereka yang belum pernah dipakai sy simpan-simpan untuk dipakai pada saat liburan. Itu juga termasuk penyemangat mereka. Mereka juga sy ajak untuk menghitung hari sampai tiba waktu liburan. Mereka juga sy tugaskan untuk wajib membawa barang, ransel kecil atau cuma sekedar bawa botol minuman. Semakin mendekati hari H, anak-anak udah sy doktrin sedikit demi sedikit, misal mereka harus berjanji untuk tidak rewel, ribut, malas mandi, tidak boleh minta macam-macam, tidak boleh menyusahkan orangtua, Namanya juga anak-anak, janji tinggal janji, tapi setidaknya kerewelan mereka masih bisa kami atasi berdua. Mereka pasti tetap rewel kalo lapar, haus, ngantuk. Jadi harus siap makanan. Es krim dan permen jadi pengalih perhatian yang sangat bagus. Tentu saja vitamin n suplemen juga harus disiapkan agar es krim n permen tidak jadi masalah baru (jadi penyakit). juga harus ada budget extra untuk beli barang keinginan mereka sepanjang masuk akal n gak repot bawanya. Kalopun ada yg tidak bisa dibelikan untuk mereka, mereka ngerti kalo sy bilang nanti lainkali saja belinya, karena mama nanti habis uangnya dan nanti gak bisa pulang ke rumah. Kemudian, Setiap ada kesempatan untuk tidur misal di bis, di pesawat, mereka disuruh tidur, tapi sy minta agar mereka bangun tidak rewel dan jangan minta digendong. Kalopun masih ngantuk, sy tunggu sampai perasaan mereka udah nyaman (istilah kami, perbaiki perasaan dulu) baru jalan lagi. Tentu saja usia anak mempengaruhi, semakin besar anak-anak, cara memperlakukannya juga pasti berbeda-beda. Tapi sy yakin pasti selalu ada cara bagaimana agar membujuk anak mengikuti keinginan kita. Memilih tempat wisata pun, harus ada yang menarik perhatian dan menyenangkan buat mereka. Dalam setiap kesempatan liburan, pasti ada acara berenang; kalo ketemu taman yang ada tempat bermainnya, kami biarkan mereka bermain sebentar; berkunjung tempat wisata dengan model seperti dufan/disneyland,kebun binatang n etc . Tentu saja kami juga tetap ke tempat wisata yang wajib dikunjungi di kota/negara tersebut, es krim akan jadi juara untuk pengalih perhatiannya. Waktu liburan, untuk keluar negeri menyesuaikan dengan kapan dapat tiket promo airasia yang paling murah. Suami sy wiraswasta jadi dapat menyesuaikan waktu liburan dengan waktu cuti sy. Yang saya hindari memilih waktu liburan sekolah, karena pada waktu itu tiket pswt n akomodasi mahal, t4 wisata penuh. Meski anak pertama saya sudah SD, sy cuek aja minta ijin seminggu sama gurunya. Kalo dalam negeri, bisa dadakan sih. Mengenai Budget, sy hanya akan pergi kalo dapat tiket pswt yang bener-benar murah (seperti kalo dapat promo free seat airasia), meski untuk penerbangan tahun depan. Karena harus beli tiket untuk berempat. Untuk akomodasi, pilihan saya harus ada menginap di hotel bagus (ada kolam renang) meski cuman sehari dua hari, sisanya cukup hostel. Untuk makan, kombinasi kadang masak, kadang makan seadanya, kadang pula makan dengan budget no limit. Dengan beli tiket jauh-jauh hari, ada interval waktu untuk menabung untuk item budget lainnya seperti akomodasi, transportasi lokal, asuransi, perkiraan biaya makan, belanja pribadi, biaya tidak terduga, n etc. Akomodasi bisa dibooking juga jauh-jauh hari untuk menghindari penginapan penuh. Yang bertugas untuk semua urusan merencanakan liburan adalah saya, suami sisa ngikut aja. Tapi untuk urusan mengurus anak selama liburan, kami bahu membahu. Tentu saja semuanya gak selalu mulus. Sy pun pernah bertengkar sama suami pada suatu kesempatan sampai sempat mengeluarkan statement untuk tidak akan pergi bersama lagi. Tapi besok-besok booking tiket toh untuk berempat. Dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya, banyak sekali hikmah yang bisa kami renungi dan makin kesini kami bertekad untuk lebih baik. Untuk meminimalisasi konflik, kuncinya saling pengertian dan kepada pasangan, minimal ada aturan main yang disepakati bersama. Sejauh ini, sangat menyenangkan bepergian dengan anak2ku, begitu juga mereka begitu ceria, energi mereka malah seperti baterai yang gak habis (gak pernah low batt). Capek tapi kami puas, ada kenangan yang bisa kami ingat sepanjang masa. Oh ya, sy sering gak cerita-cerita ama teman2 kantor atau keluarga tentang perjalanan yang sedang sy rencanakan sebelum tiba hari H. Alasannya, gak pengen terlalu banyak orang tau dan terlalu banyak bertanya tentang rencana tersebut. Jadi kalopun ada kendala sampai gak jadi pergi, gak masalah. Saya hanya berharap semoga pada waktu hari H tidak ada pekerjaan/tugas yang mendesak sehingga cuti dengan mudah dapat diambil. ayo dicoba, mbak. beri ruang buat diri sendiri ataupun dengan keluarga. Sebagai wanita berkeluarga, sy pun menutup kemungkinan untuk jalan sendiri, minimal jalan berdua dengan teman atau saudara. Makanya lebih sering jalan sama keluarga, daripada pusing mikirin anak yang ditinggal, mending pergi bersama saja. Masalah pekerjaan & rumah mungkin bisa dipikirkan solusinya gimana caranya untuk bisa ditinggal dengan aman. Musibah rahasia allah, begitu juga ajal, rezeki dan sebagainya. Pastinya, setiap orang berada pada situasi n kondisi yang berbeda-beda. Mohon maaf kalo ada kata-kata kurang berkenan. Kalau mau, pasti bisa. wassalaam, dewi ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: Jalan Jalan <[email protected]> Cc: [email protected] Sent: Tuesday, June 22, 2010 15:23:25 Subject: Re: [indobackpacker] Mengatasi rasa takut akan backpacking pertama kali Hi Wina, Sekedar sharing aja, Orang tua aku bukan yang hobi pergi berlibur bersama, tetapi mereka untungnya tidak terlalu protektif dalam hal anak-anaknya berpergian atau menginap padahal aku bersaudara perempuan semua. Kebetulan keluarga besar aku punya hobi jalan-jalan sehingga dari kecil aku udah biasa traveling bersama tante atau om -- malah jarang sekali pergi liburan bersama orang tua. Waktu aku masih single dan kebetulan bekerja sebagai auditor membuat aku punya kesempatan untuk mengunjungi hampir semua daerah gratis dan hal ini aku memanfaatkan untuk mengexplore tempat wisata pada saat hari liburnya dan kadang2 aku minta izin memperpanjang waktu tp dengan biaya sendiri -- kan lumayan ticketnya gratis ;)p Tapi setelah aku menikah dan tidak bekerja lagi sebagai auditor, otomatis untuk mengunjungi tempat-tempat lain harus mengeluarkan biaya sendiri, walaupun kadang2 pada saat biz trip aku tetap punya kesempatan untuk jalan2 :)) Dan sebagai ibu yang bekerja dan punya anak tapi hal ini tidak menghalangi hobi aku untuk jalan-jalan. Pekerjaan menuntut aku supaya harus tetap berada dikantor dari tgl 1 s/d 15 setiap bulan shg aku selalu mengatur untuk bepergian setelah tanggal tersebut. Untuk liburan dg anak2 tergantung kondisi keuangan, walaupun aku punya tabungan khusus untuk liburan tp kalau ada keperluan yg lebih mendesak maka tabungan ini pilihan yg pertama untuk digunakan dibandingkan tabungan yg lain, dan tentunya sering browsing untuk menentukan berapa budget yg dibutuhkan. Liburan yg agak jauh dg anak ke luar kota atau luar negri aku planning dilakukan maksimal 2 kali setahun. Dalam hal ini liburan domestik selain ke areal Bandung (karena kalau ke Bandung aku sering sekali pergi sama anakku di weekend) dan kadang2 liburan domestik mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan liburan ke luar negri, karena sarana transportasi yang kurang bagus sehingga harus menyewa mobil atau naik taksi kalo bawa anak2. Dan juga penginapan kalo domestik aku lebih memilih hotel yg bagus, sedangkan di luar negri untungnya aku sering menemukan hostel2 murah dan bersih. Selain liburan dg anak, aku juga suka jalan2 bareng teman dan adikku, dan pernah juga jalan bareng salah satu member ibp, lebih seringnya sech keluar negri dan so pasti backpaker. Dan untungnya suami ku juga hobi touring naik motor sehingga kami berdua punya komitmen untuk boleh pergi jalan sendiri dan gantian jaga anaknya :)). So menurut aku backpaker is for everybody, seperti kata mbak Trinity dibuku Naked Traveler ke-2 -- "Tidak ada alasan untuk tidak jalan-jalan" dan dia mengutip pepatah "ada kemauan ada jalan". Semoga cukup membantu ya. rgrds, Tika
