Hi Wina,

Sekedar sharing aja, Orang tua aku bukan yang hobi pergi berlibur bersama,
tetapi mereka
untungnya tidak terlalu protektif dalam hal anak-anaknya berpergian atau
menginap padahal
aku bersaudara perempuan semua. Kebetulan keluarga besar aku punya hobi
jalan-jalan sehingga
dari kecil aku udah biasa traveling bersama tante atau om -- malah jarang
sekali pergi
liburan bersama orang tua.

Waktu aku masih single dan kebetulan bekerja sebagai auditor membuat aku
punya kesempatan
untuk mengunjungi hampir semua daerah gratis dan hal ini aku memanfaatkan
untuk mengexplore
tempat wisata pada saat hari liburnya dan kadang2 aku minta izin
memperpanjang waktu tp dengan
biaya sendiri -- kan lumayan ticketnya gratis ;)p
Tapi setelah aku menikah dan tidak bekerja lagi sebagai auditor, otomatis
untuk mengunjungi tempat-tempat
lain harus mengeluarkan biaya sendiri, walaupun kadang2 pada saat biz trip
aku tetap punya
kesempatan untuk jalan2 :))
Dan sebagai ibu yang bekerja dan punya anak tapi hal ini tidak menghalangi
hobi aku untuk jalan-jalan.
Pekerjaan menuntut aku supaya harus tetap berada dikantor dari tgl 1 s/d 15
setiap bulan shg aku
selalu mengatur untuk bepergian setelah tanggal tersebut.
Untuk liburan dg anak2 tergantung kondisi keuangan, walaupun aku punya
tabungan khusus untuk
liburan tp kalau ada keperluan yg lebih mendesak maka tabungan ini pilihan
yg pertama untuk digunakan
dibandingkan tabungan yg lain, dan tentunya sering browsing untuk
menentukan berapa budget yg dibutuhkan.
Liburan yg agak jauh dg anak ke luar kota atau luar negri aku planning
dilakukan maksimal 2 kali setahun.
Dalam hal ini liburan domestik selain ke areal Bandung  (karena kalau ke
Bandung aku sering sekali pergi
sama anakku di weekend) dan kadang2 liburan domestik mengeluarkan biaya
yang lebih besar dibandingkan
liburan ke luar negri, karena sarana transportasi yang kurang bagus
sehingga harus menyewa mobil atau naik
taksi kalo bawa anak2. Dan juga penginapan kalo domestik aku lebih memilih
hotel yg bagus, sedangkan di luar
negri untungnya aku sering menemukan hostel2 murah dan bersih.

Selain liburan dg anak, aku juga suka jalan2 bareng teman dan adikku, dan
pernah juga jalan bareng salah satu
member ibp, lebih seringnya sech keluar negri dan so pasti backpaker. Dan
untungnya suami ku juga hobi touring
naik motor sehingga kami berdua punya komitmen untuk boleh pergi jalan
sendiri dan gantian jaga anaknya :)).

So menurut aku backpaker is for everybody, seperti kata mbak Trinity dibuku
Naked Traveler ke-2 -- "Tidak ada
alasan untuk tidak jalan-jalan" dan dia mengutip pepatah "ada kemauan ada
jalan".


Semoga cukup membantu ya.

rgrds,

Tika


6/21/2010 9:06:46 PM [email protected] wrote:
>
>
>
>Dear all,
>perkenalkan saya wina, selama ini saya pembaca pasif di forum ini. setelah

>membaca kesan dan komentar rekan2 ibp-ers, saya jadi pengen ikut
nimbrung..
>
>memang benar kata mba tita, pengaruh didikan ortu sangat berperan.. hal
ini
>saya rasakan krn memang sejak kecil saya diasuh oleh ortu yg melarang anak

>perempuan utk bepergian ataupun sampai pakai acara nginap2..pernah sekali
waktu
>
>saya sampai kabur dari rumah tanpa ijin hy utk mengikuti kegiatan jambore
>pramuka yg diadakan dari sekolah.. (utk mdpt ijin boleh mengikuti kegiatan

>pramuka itu saja.. sblmnya harus berargument dan berdebat alot dgn
ortu...).
>akibat pengalaman pribadi ini, saya tidak pernah melarang anak2 saya
apabila
>ada kesempatan utk melakukan kegiatan2 outdoor walaupun sampai hrs
menginap
>bbrp hari...
>
>saya sendiri adalah tipe org yg menyukai alam dan kegiatan2 yg bersifat
>berpetualangan, setelah sekian lama tenggelam dalam rutinitas pekerjaan
dan
>rumah tangga, komentar dan sharing dari teman2 ibp-ers membangkitkan
keinginan
>
>yg selama ini blm kesampe-an. mumpung masi kuat dan blm jompo hehehe....
Klo
>dulu yg menjadi penghalang adalah ortu, dan penghalang saat ini adalah
tidak
>bisa meninggalkan pekerjaan dan anak2. (saya ibu bekerja - wiraswasta
bantu
>suami dgn 3 orang anak yg berusia 6-12th).  saya ingin merasakan sekali2
bebas
>
>melanglang buana mengunjungi tempat2 yg baru tanpa ada beban, perasaan
lepas
>dan tidak mengkhawatirkan ini-itu "bagaimana dgn urusan kerjaan... nanti
siapa
>
>yg mengurus anak2, klo rumah kosong bisa kemalingan, dll.. dll... "
>
>Selama ini kalaupun bepergian, selalu membawa 1 team RT,  tidak bisa
terlalu
>jauh dan terlalu lama (anak bisa sakit, kecapean, dll)  krn 1 team
pengeluaran
>
>jg pasti menjadi lebih besar.. (sekali pergi 5 org boooo...) dan namanya
anak2
>
>jg tidak bisa dalam kondisi seadanya, (tdk mungkin anak2 disuruh tidur di
>outdoor karena tidak mendpt penginapan, penginapan full booked, dll ).
anak2
>saya jg tidak bisa dititipkan ke ortu/saudara, krn ortu/saudara jg sudah
ribet
>
>dgn kesibukan mereka masing2.
>
>mungkin di antara rekan2 ibp-ers memiliki situasi yg sama spt kondisi saya

>tetapi tetap bisa ber-backpacker-ria, bagaimana cara menyiasatinya.. ??
ataukah
>
>ber-backpacker-ria itu hanya milik orang2 yg masih single atau married
tapi blm
>
>py anak ???? hehehe...
>
>warm regards
>win
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>

Kirim email ke