Sebuah hamparan hutan hujan tropis di salah satu sudut Kalimantan, yang katanya disana ada ribuan orang utan hidup liar membuat saya tertantang untuk membuktikannya secara langsung. Tanjung Puting namanya. Sebuah taman nasional yang berhasil menarik perhatian dunia, terutama kalangan peneliti, mahasiswa, petualang, fotograper hingga selebritis sekaliber Julia Robert.
Sebagai seseorang yang pernah lahir dan besar di Kalteng, saya merasa malu jika saya tak menginjakan kaki di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Berbekal informasi dan sedikit keberanian, saya mantabkan membuat trip bersama puluhan kawan sesama penyuka petualangan ke TNTP. Kamis malam (22/7), bis sederhana membawa kami membelah salah satu jalur Trans Kalimantan menuju Kecamatan Kumai, Pangkalan Bun yang berjarak sekitar 12 jam dari ibukota Kalteng, Palangka Raya. Malam makin meninggi saat bis kami merayap diatas jalanan beraspal. Suasana kota Palangka Raya telah lengang. Kota yang berjuluk Kota Cantik ini tidak terlalu besar, sehingga hanya dalam waktu beberapa menit saja, bis ekonomi yang membawa kami sudah berada di luar kota. Meskipun diluar sana sepi, tapi apa yang terjadi di dalam bis sangatlah berbeda. Suasana keakraban bukanlah hal baru jika saya dan teman-teman tersebut berkumpul pada saat melakukan perjalanan. Banyak diantara kami yang hanya bisa bertemu saat ada trip saja, maka tak heran banyak cerita yang terjadi saat kami kembali bertemu. Sampit yang pernah menghebohkan warga dunia karena bencana etnis beberapa tahun lalu, kami jumpai pada sekitar pukul 5 pagi. Di salah satu pom bensin, kami sejenak beristirahat dan melakukan ibadah sholat shubuh. Meski lelah dan masih dalam perjalanan, kami tetap berusaha untuk sujud pada Tuhan. Dalam doa, saya berharap Tuhan memberi keselamatan pada trip yang sedang kami laksanakan. Perjalanan masih panjang. Bis kembali merayap menuju Pangkalan Bun. Udara pagi terasa dingin. Suara mesin bis yang agak berisik terus berbunyi memecah keheningan pagi di jalur Trans Kalimantan yang kami lalui. Sisa-sisa penebangan liar banyak kami temui di kiri kanan jalan. Batang pohon tanpa daun sangat mudah kami temui. Hutan Kalimantan yang masih berstatus sebagai paru-paru dunia, ternyata telah banyak menyisakan kesedihan. Karena ulah cukong-cukong tak bertanggung jawab yang hanya berotak uang. Tapi apa yang akan kami temui nanti di TNTP, merupakan salah satu aksi penyelamatan oleh negara terhadap hutan tropis khas Kalimantan. Karena dengan ditetapkannya sebagai taman nasional, segala jenis tumbuhan dan hewan di dalamnya akan dilindungi secara ketat oleh negara. Termasuk ribuan orang utan yang hidup bebas di dalam area taman nasional. Kumai kami jumpai sekitar pukul 12 siang. Agak terlambat dari jadwal yang kami target kan sebelumnya. Kota kecil yang memiliki pelabuhan nasional ini, menjadi pintu terakhir menuju area TNTP. Kapal besar bermuatan 20 orang telah menanti kami di sebuah dermaga kecil di tepi Sungai Kumai yang besar. Sebelum benar-benar memasuki TNTP, saya dan Pak Ipul segera bergegas ke pasar terdekat untuk membeli logistik berupa beras, sayur, ikan, minyak goreng dan kebutuhan lainnya. Selain itu, saya dan Pak Ipul juga melaju menuju sebuah rumah sederhana milik pegawai dinas pariwisata untuk mengurus perijinan memasuki kawasan TNTP. Pak Ipul merupakan orang yang selama ini sangat berjasa mewujudkan trip ke TNTP. Berkat jasa nya lah saya bisa mendapatkan kapal sewaan berkapasitas banyak. Bahkan banyak informasi penting yang saya dapat dari beliau. Setelah selesai berbelanja logistik dan mengurus perijinan, saya dan kawan-kawan akhirnya melaju di atas Sungai Kumai menuju Sungai Sekonyer di seberang Kumai. Hamparan sungai besar, daratan hijau di kiri kanan sungai, kapal-kapal wisata pengangkut turis serta langit biru, begitu cantik di mata saya. Di muara Sungai Sekonyer, kami mendapati tumbuhan berjenis nipah yang tumbuh subur di sepanjang tepi sungai. Sesekali saya menemui kapal lain yang di dalam nya terdapat turis asing. Keberadaan TNTP lebih banyak dikenal oleh warga luar terutama dari Eropa dan Australia dibanding oleh warga Indonesia sendiri. Dari sekitar 3000 turis yang memasuki TNTP setiap tahunnya, lebih dari 80 % nya adalah turis asing. Tak heran ketika saya berada disana, saya banyak menemui turis asing dari berbagai negara. Desa Tanjung Harapan merupakan titik pertama saya menginjakan kaki di TNTP. Sebuah kawasan yang menjadi tempat melapor pertama kali selama di taman nasional. Tanjung Harapan juga menjadi salah satu lokasi feeding time bagi orang utan. Feeding time merupakan kegiatan memberi makan orang utan oleh petugas TNTP yang disebut ranger. Feeding time di Tanjung Harapan dilakukan setiap hari pada jam 3 sore. Saya dan kawan-kawan harus melakukan trekking singkat menuju feeding station (tempat pemberian makan) orang utan. Jalur trek tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit saja dengan berjalan kaki. Disana kami hanya menjumpai Roger, salah satu orang utan yang ada di taman nasional. Meski hanya 1 orang utan saja, saya merasa tidak kecewa. Bagi saya, bertemu 1 orang utan di habitat aslinya lebih berharga bila dibanding bertemu puluhan orang utan di kebun binatang. Roger tampak rakus memakan sebagian besar buah pisang yang ditempatkan diatas sebuah papan di feeding station. Sesekali orang utan bertubuh besar tersebut memandang puluhan wisatawan termasuk kami, sambil mengambil beberapa buah pisang sekaligus. Bagi Roger, tatapan takjub wisatawan sudah menjadi hal biasa baginya. Ada ribuan warga dunia yang telah menemui dirinya selama beberapa tahun ini. Tak hanya sekedar makan, aktivitas sehari-hari orang utan termasuk Roger adalah membuat sarang baru pada sore hari. Orang utan tidak mau tidur di sarang yang pernah digunakan sebelumnya. Ranting dan daun pepohonan segar akan mereka kumpulkan untuk membentuk rumah sederhana yang nyaman di atas pohon, yang bisa menghangatkan mereka dari serangan dingin malam. Ternyata, ranting-ranting pohon yang mereka patahkan dari pohon-pohon tersebut dapat membantu terciptanya pembukaan kanopi sehingga sinar matahari dapat masuk ke lantai hutan, yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya pohon muda. Banyak hal yang saya dapat selama di TNTP. Penjelasan singkat dari guide, ranger, information center hingga majalah yang diterbitkan Orangutan Foundation International (OFI) dan Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin) Kalimantan. Termasuk dedikasi Prof. Dr. Birute Galdikas yang telah menghabiskan masa hidupnya demi penelitian, penyelamatan hingga perlindungan ribuan orang utan di TNTP. Wanita cerdas kelahiran Kanada tersebut merupakan tokoh primatolog papan atas dunia. Bahkan wajah cantik nya pernah menjadi cover utama majalah National Geographic beserta ulasan mendalam tentang aktivitas nya selama di TNTP. Saat ini wanita yang sudah menjadi WNI tersebut menetap di desa Pasir Panjang, Kumai. Sejak berpisah dengan suami pertamanya, Birute saat ini menikah dengan pria Dayak yang berprofesi sebagai petani di Pasir Panjang. Pondok Tanggui merupakan feeding station kedua yang kami kunjungi. Jembatan panjang dari kayu menyambut saya. Kiri kanannya terhampar air bening berwarna seperti teh. Proses alam lah yang membuat air di TNTP terlihat seperti itu. Salah satu penyebabnya adalah endapan akar-akar tumbuhan rawa di sekitar TNTP. Meski tampak tenang, sungai di TNTP sangat berbahaya. Karena ada banyak buaya di dalamnya. Dari penuturan Bapak Hata, pemandu kami disana, ada satu orang turis asal Eropa meninggal dunia gara-gara diserang buaya. Turis tersebut ternyata nekad mandi dengan menceburkan diri di sungai. Masih menurut Bapak Hata, seorang polisi lokal juga pernah diserang buaya ganas. Polisi tersebut terkecoh oleh tubuh buaya yang mirip batang pohon. Dengan lugunya, polisi itu duduk diatas punggung buaya karena mengira batang pohon. Alhasil bahaya ganas mengancamnya. Saya harus melewati jalur trek menuju feeding station yang terendam air. Tingginya sampai paha saya. Beberapa turis asing ada yang memanfaatkan sampan untuk melalui genangan air rawa tersebut. Meski agak was-was terhadap ancaman buaya, saya tetap memberanikan diri menuju feeding station. Di lokasi tujuan, saya mendapati beberapa orang utan sekaligus. Tumpukan pisang terlihat ramai berserakan di atas sebuah bangunan dari kayu mirip gazebo tanpa atap. Disanalah pusat feeding time di laksanakan setiap harinya. Teriakan kencang para ranger memanggil orang utan liar terus terdengar. Memecah keheningan hutan yang kami kunjungi. Camp Leakey merupakan tujuan akhir kami di TNTP. Disinilah pusat kegiatan penelitian, penyelamatan dan kegiatan lainnya dilakukan. Saya menjumpai begitu banyak kapal wisatawan di dermaga utama. Turis mancanegara tampak mendominasi pengunjung yang saya temui. TNTP telah lama menjadi magnet utama warga dunia jika berkunjung ke Kalimantan. Pamor nya telah mendunia. Namun ironis, pesona TNTP tak sama dimata warga Indonesia. Banyak yang tidak tahu keberadaannya. Umumnya selera wisata orang Indonesia hanya terfokus pada pantai dan pegunungan. Di Camp Leakey saya berhasil bertemu Tom dan Siswi. Mereka merupakan pasangan yang sangat populer di seantero TNTP. Tom merupakan pejantan yang saat ini berkuasa di Camp Leakey. Bahkan Tom berhasil merebut Siswi dari tangan Kosasih, pejantan lain yang pernah bertahta. Siswi adalah salah satu orang utan betina yang menjadi rebutan di Camp Leakey. Wajah Tom yang memiliki bantalan pipi (cheekpet) di kiri kanan nya, tampak mengerikan. Saya sesekali merasa takut jika mata Tom ke arah saya. Tubuh besarnya makin memperkuat keperkasaan orang utan yang berumur 26 tahun ini. Saya kembali menuju hutan untuk menyaksikan feeding time. Lokasinya cukup jauh. Kiri kanan jalan banyak pohon besar saya lewati. Jalanan agak sedikit becek. Di feeding station saya menemui sekitar 7 orang utan. Mulai dari orang utan yang masih kecil hingga dewasa. Dari pengamatan singkat saya, jika ada orang utan besar sedang makan di atas papan tempat menumpuknya pisang, banyak orang utan yang lebih muda tampak takut mendekati pisang-pisang tersebut. Jika ada orang utan muda yang nekad mengambil salah satu pisang, hanya salah satu jangkauan tangan panjang mereka saja yang memungut pisang. Sementara tangan lainnya, mencengkeram kuat di batang pohon untuk menopang tubuh kecil mereka. Agaknya cara ini sebagai antisipasi untuk menghindari kontak langsung dengan orang utan yang lebih dewasa. Sore menjelang, saya terpaksa meninggalkan feeding station. Berat rasanya menyudahi tontonan berharga ini. Tontonan yang menyadarkan saya betapa pentingnya menjaga keharmonisan antar manusia, hutan dengan segala isinya termasuk Roger, Tom, Siswi, Kosasih dan ribuan orang utan lainnya. Jika mereka bisa berbicara, kalimat pertama yang akan mereka ucapkan adalah "Selamatkan hutan kami, lindungi habitat kami,". Saat kapal kami melaju menuju Kumai, saya terkadang menemui orang utan sedang asyik bergelantungan di atas pohon di tepi sungai. Mereka terlihat asyik menikmati apa-apa yang bisa mereka makan. Bisa dibayangkan, jika pohon-pohon itu dibabat maka bukan tidak mungkin nyawa orang utan akan terancam. Saya sadar betapa pentingnya mereka. Ekosistem di hutan akan seimbang jika ribuan orang utan disana tetap lestari, termasuk penyeberan bibit-bibit baru pepohonan yang tumbuh karena biji-biji tumbuhan yang keluar bersamaan dengan kotoran yang dibuang orang utan di hutan. Bekantan adalah penghuni surga hutan lain yang saya temui di TNTP. Saat senja hari mereka bermunculan untuk mencari makan. Hal ini mengingatkan saya pada masa kecil saya di Sungai Katingan, Kalteng. Jika saya menyusuri Sungai Katingan pada pagi atau sore hari, saya sering menemui bekantan di tepi sungai. TNTP menjadi tempat saya untuk mengingat kembali kehidupan kecil saya puluhan tahun silam. Alam khas Kalimantan terhampar luas disini. Seakan-akan menjadi cerminan kecil betapa kayanya alam Indonesia khususnya hutan tropis Kalimantan. Hutan yang hingga saat ini menjadi paru-paru dunia. Saya bangga telah menyatu dengan alam TNTP. Meski singkat namun saya bisa merasakan betapa damainya kehidupan di taman nasional andalan Indonesia ini. TNTP masih memberikan hadiah cantik bagi warga dunia, berupa makhluk berharga bernama orang utan. Saya jadi ingat akan lirik lagu Iwan Fals, yang isinya " Menjaga hutan memang sulit sekali. Orang, pemerintah saja tak bisa. Apalagi saya yang baru bisa baca tulis dan hitung,". Sebuah lirik yang menggambarkan betapa sulitnya kehidupan anak rimba yang melarat gara-gara penjarahan hutan oleh bajingan-bajingan tak bertanggung jawab. Bisa dibayangkan, anak rimba yang sudah belajar tulis dan baca saja tak begitu mengerti bagaimana menyelamatkan hutan dari pembalakan liar, apalagi orang utan. Yang tak bisa mengerti tentang apa aksi penyelamatan, perlindungan hingga regenerasi orang utan. Hanya manusia berakal yang bisa melakukannya. Tak hanya Prof. Birute sang ahli primatolog asal Kanada, siapapun bisa menyelamatkan hutan dan orang utan di dalam nya. Perjalanan ini benar-benar berkesan bagi saya. Jika ada kesempatan, saya pasti akan kembali ke TNTP. Bertemu Tom, Siswi, Roger dan kawan-kawan disana. Terima kasih tak terhingga : - Allah SWT atas segala kesempatannya - Nabi Muhammad SAW atas semua contoh baiknya - Teman-teman seperjalanan (Mifta, Mami Daisy, Mba Sita, Mba Yanti SN, Bang Ago, Mba Indri, Mba Dwi Yanti, Mba Onny, Adji, Septri, Doli, Niken, Vina, Irwan HI, Ifrah, Tini, She Pin, Ina & Lilia) - Bapak Ipul, Bapak Hata, Bapak Yahya bimbingannya selama di TNTP - Bapak Yadi atas buku Lonely Planet nya - Tentu saja Ibu Prof. Birute dan para ranger atas dedikasi total nya selama ini di TNTP Banjarmasin, 27 Juli 2010 Foto-foto nya bisa di cek di : http://pegatan.multiply.com/photos/album/29/Tanjung_Puting_Negeri_Damai_bagi_Orang_Utan Salam lestari Nasrudin Ansori http://kalimantanku.blogspot.com "amazing Kalimantan"
