Yup..emang bagus banget kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Orang utan liar baunya sangat mengerikan, beda dengan orang utan yang
dipenangkaran.bau nya wangi.xixixiii

 

Hanya 3 jam dari Kebun saya bekerja dulu.

Sempat 6 Bln Domisili di Kebun Sawit Jln Sampit-Pangkalan Bun Km 62 sebelum
kena mutasi ke Sumut (Alhamdulilah Di kota, ga di kebun lagi) JJ

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of nasrudinansori
Sent: Tuesday, July 27, 2010 10:42 PM
To: [email protected]
Subject: [indobackpacker] Catper : TN Tanjung Puting, Kalteng

 

  

Sebuah hamparan hutan hujan tropis di salah satu sudut Kalimantan, yang
katanya disana ada ribuan orang utan hidup liar membuat saya tertantang
untuk membuktikannya secara langsung. Tanjung Puting namanya. Sebuah taman
nasional yang berhasil menarik perhatian dunia, terutama kalangan peneliti,
mahasiswa, petualang, fotograper hingga selebritis sekaliber Julia Robert. 

Sebagai seseorang yang pernah lahir dan besar di Kalteng, saya merasa malu
jika saya tak menginjakan kaki di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Berbekal informasi dan sedikit keberanian, saya mantabkan membuat trip
bersama puluhan kawan sesama penyuka petualangan ke TNTP. 

Kamis malam (22/7), bis sederhana membawa kami membelah salah satu jalur
Trans Kalimantan menuju Kecamatan Kumai, Pangkalan Bun yang berjarak sekitar
12 jam dari ibukota Kalteng, Palangka Raya. Malam makin meninggi saat bis
kami merayap diatas jalanan beraspal. Suasana kota Palangka Raya telah
lengang. Kota yang berjuluk Kota Cantik ini tidak terlalu besar, sehingga
hanya dalam waktu beberapa menit saja, bis ekonomi yang membawa kami sudah
berada di luar kota.

Meskipun diluar sana sepi, tapi apa yang terjadi di dalam bis sangatlah
berbeda. Suasana keakraban bukanlah hal baru jika saya dan teman-teman
tersebut berkumpul pada saat melakukan perjalanan. Banyak diantara kami yang
hanya bisa bertemu saat ada trip saja, maka tak heran banyak cerita yang
terjadi saat kami kembali bertemu. 

Sampit yang pernah menghebohkan warga dunia karena bencana etnis beberapa
tahun lalu, kami jumpai pada sekitar pukul 5 pagi. Di salah satu pom bensin,
kami sejenak beristirahat dan melakukan ibadah sholat shubuh. Meski lelah
dan masih dalam perjalanan, kami tetap berusaha untuk sujud pada Tuhan.
Dalam doa, saya berharap Tuhan memberi keselamatan pada trip yang sedang
kami laksanakan.

Perjalanan masih panjang. Bis kembali merayap menuju Pangkalan Bun. Udara
pagi terasa dingin. Suara mesin bis yang agak berisik terus berbunyi memecah
keheningan pagi di jalur Trans Kalimantan yang kami lalui. Sisa-sisa
penebangan liar banyak kami temui di kiri kanan jalan. Batang pohon tanpa
daun sangat mudah kami temui. Hutan Kalimantan yang masih berstatus sebagai
paru-paru dunia, ternyata telah banyak menyisakan kesedihan. Karena ulah
cukong-cukong tak bertanggung jawab yang hanya berotak uang. Tapi apa yang
akan kami temui nanti di TNTP, merupakan salah satu aksi penyelamatan oleh
negara terhadap hutan tropis khas Kalimantan. Karena dengan ditetapkannya
sebagai taman nasional, segala jenis tumbuhan dan hewan di dalamnya akan
dilindungi secara ketat oleh negara. Termasuk ribuan orang utan yang hidup
bebas di dalam area taman nasional.

Kumai kami jumpai sekitar pukul 12 siang. Agak terlambat dari jadwal yang
kami target kan sebelumnya. Kota kecil yang memiliki pelabuhan nasional ini,
menjadi pintu terakhir menuju area TNTP. Kapal besar bermuatan 20 orang
telah menanti kami di sebuah dermaga kecil di tepi Sungai Kumai yang besar.
Sebelum benar-benar memasuki TNTP, saya dan Pak Ipul segera bergegas ke
pasar terdekat untuk membeli logistik berupa beras, sayur, ikan, minyak
goreng dan kebutuhan lainnya. Selain itu, saya dan Pak Ipul juga melaju
menuju sebuah rumah sederhana milik pegawai dinas pariwisata untuk mengurus
perijinan memasuki kawasan TNTP. 

Pak Ipul merupakan orang yang selama ini sangat berjasa mewujudkan trip ke
TNTP. Berkat jasa nya lah saya bisa mendapatkan kapal sewaan berkapasitas
banyak. Bahkan banyak informasi penting yang saya dapat dari beliau. 

Setelah selesai berbelanja logistik dan mengurus perijinan, saya dan
kawan-kawan akhirnya melaju di atas Sungai Kumai menuju Sungai Sekonyer di
seberang Kumai. Hamparan sungai besar, daratan hijau di kiri kanan sungai,
kapal-kapal wisata pengangkut turis serta langit biru, begitu cantik di mata
saya.

Di muara Sungai Sekonyer, kami mendapati tumbuhan berjenis nipah yang tumbuh
subur di sepanjang tepi sungai. Sesekali saya menemui kapal lain yang di
dalam nya terdapat turis asing. Keberadaan TNTP lebih banyak dikenal oleh
warga luar terutama dari Eropa dan Australia dibanding oleh warga Indonesia
sendiri. Dari sekitar 3000 turis yang memasuki TNTP setiap tahunnya, lebih
dari 80 % nya adalah turis asing. Tak heran ketika saya berada disana, saya
banyak menemui turis asing dari berbagai negara.

Desa Tanjung Harapan merupakan titik pertama saya menginjakan kaki di TNTP.
Sebuah kawasan yang menjadi tempat melapor pertama kali selama di taman
nasional. Tanjung Harapan juga menjadi salah satu lokasi feeding time bagi
orang utan. Feeding time merupakan kegiatan memberi makan orang utan oleh
petugas TNTP yang disebut ranger. Feeding time di Tanjung Harapan dilakukan
setiap hari pada jam 3 sore. Saya dan kawan-kawan harus melakukan trekking
singkat menuju feeding station (tempat pemberian makan) orang utan. Jalur
trek tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit saja dengan berjalan kaki. 

Disana kami hanya menjumpai Roger, salah satu orang utan yang ada di taman
nasional. Meski hanya 1 orang utan saja, saya merasa tidak kecewa. Bagi
saya, bertemu 1 orang utan di habitat aslinya lebih berharga bila dibanding
bertemu puluhan orang utan di kebun binatang. Roger tampak rakus memakan
sebagian besar buah pisang yang ditempatkan diatas sebuah papan di feeding
station. Sesekali orang utan bertubuh besar tersebut memandang puluhan
wisatawan termasuk kami, sambil mengambil beberapa buah pisang sekaligus.
Bagi Roger, tatapan takjub wisatawan sudah menjadi hal biasa baginya. Ada
ribuan warga dunia yang telah menemui dirinya selama beberapa tahun ini.
Tak hanya sekedar makan, aktivitas sehari-hari orang utan termasuk Roger
adalah membuat sarang baru pada sore hari. Orang utan tidak mau tidur di
sarang yang pernah digunakan sebelumnya. Ranting dan daun pepohonan segar
akan mereka kumpulkan untuk membentuk rumah sederhana yang nyaman di atas
pohon, yang bisa menghangatkan mereka dari serangan dingin malam. Ternyata,
ranting-ranting pohon yang mereka patahkan dari pohon-pohon tersebut dapat
membantu terciptanya pembukaan kanopi sehingga sinar matahari dapat masuk ke
lantai hutan, yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya pohon muda.

Banyak hal yang saya dapat selama di TNTP. Penjelasan singkat dari guide,
ranger, information center hingga majalah yang diterbitkan Orangutan
Foundation International (OFI) dan Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin)
Kalimantan. Termasuk dedikasi Prof. Dr. Birute Galdikas yang telah
menghabiskan masa hidupnya demi penelitian, penyelamatan hingga perlindungan
ribuan orang utan di TNTP. Wanita cerdas kelahiran Kanada tersebut merupakan
tokoh primatolog papan atas dunia. Bahkan wajah cantik nya pernah menjadi
cover utama majalah National Geographic beserta ulasan mendalam tentang
aktivitas nya selama di TNTP. Saat ini wanita yang sudah menjadi WNI
tersebut menetap di desa Pasir Panjang, Kumai. Sejak berpisah dengan suami
pertamanya, Birute saat ini menikah dengan pria Dayak yang berprofesi
sebagai petani di Pasir Panjang. 

Pondok Tanggui merupakan feeding station kedua yang kami kunjungi. Jembatan
panjang dari kayu menyambut saya. Kiri kanannya terhampar air bening
berwarna seperti teh. Proses alam lah yang membuat air di TNTP terlihat
seperti itu. Salah satu penyebabnya adalah endapan akar-akar tumbuhan rawa
di sekitar TNTP. Meski tampak tenang, sungai di TNTP sangat berbahaya.
Karena ada banyak buaya di dalamnya. Dari penuturan Bapak Hata, pemandu kami
disana, ada satu orang turis asal Eropa meninggal dunia gara-gara diserang
buaya. Turis tersebut ternyata nekad mandi dengan menceburkan diri di
sungai. Masih menurut Bapak Hata, seorang polisi lokal juga pernah diserang
buaya ganas. Polisi tersebut terkecoh oleh tubuh buaya yang mirip batang
pohon. Dengan lugunya, polisi itu duduk diatas punggung buaya karena mengira
batang pohon. Alhasil bahaya ganas mengancamnya.

Saya harus melewati jalur trek menuju feeding station yang terendam air.
Tingginya sampai paha saya. Beberapa turis asing ada yang memanfaatkan
sampan untuk melalui genangan air rawa tersebut. Meski agak was-was terhadap
ancaman buaya, saya tetap memberanikan diri menuju feeding station. 
Di lokasi tujuan, saya mendapati beberapa orang utan sekaligus. Tumpukan
pisang terlihat ramai berserakan di atas sebuah bangunan dari kayu mirip
gazebo tanpa atap. Disanalah pusat feeding time di laksanakan setiap
harinya. Teriakan kencang para ranger memanggil orang utan liar terus
terdengar. Memecah keheningan hutan yang kami kunjungi. 

Camp Leakey merupakan tujuan akhir kami di TNTP. Disinilah pusat kegiatan
penelitian, penyelamatan dan kegiatan lainnya dilakukan. Saya menjumpai
begitu banyak kapal wisatawan di dermaga utama. Turis mancanegara tampak
mendominasi pengunjung yang saya temui. TNTP telah lama menjadi magnet utama
warga dunia jika berkunjung ke Kalimantan. Pamor nya telah mendunia. Namun
ironis, pesona TNTP tak sama dimata warga Indonesia. Banyak yang tidak tahu
keberadaannya. Umumnya selera wisata orang Indonesia hanya terfokus pada
pantai dan pegunungan.
Di Camp Leakey saya berhasil bertemu Tom dan Siswi. Mereka merupakan
pasangan yang sangat populer di seantero TNTP. Tom merupakan pejantan yang
saat ini berkuasa di Camp Leakey. Bahkan Tom berhasil merebut Siswi dari
tangan Kosasih, pejantan lain yang pernah bertahta. Siswi adalah salah satu
orang utan betina yang menjadi rebutan di Camp Leakey. 

Wajah Tom yang memiliki bantalan pipi (cheekpet) di kiri kanan nya, tampak
mengerikan. Saya sesekali merasa takut jika mata Tom ke arah saya. Tubuh
besarnya makin memperkuat keperkasaan orang utan yang berumur 26 tahun ini. 

Saya kembali menuju hutan untuk menyaksikan feeding time. Lokasinya cukup
jauh. Kiri kanan jalan banyak pohon besar saya lewati. Jalanan agak sedikit
becek. Di feeding station saya menemui sekitar 7 orang utan. Mulai dari
orang utan yang masih kecil hingga dewasa. Dari pengamatan singkat saya,
jika ada orang utan besar sedang makan di atas papan tempat menumpuknya
pisang, banyak orang utan yang lebih muda tampak takut mendekati
pisang-pisang tersebut. Jika ada orang utan muda yang nekad mengambil salah
satu pisang, hanya salah satu jangkauan tangan panjang mereka saja yang
memungut pisang. Sementara tangan lainnya, mencengkeram kuat di batang pohon
untuk menopang tubuh kecil mereka. Agaknya cara ini sebagai antisipasi untuk
menghindari kontak langsung dengan orang utan yang lebih dewasa.
Sore menjelang, saya terpaksa meninggalkan feeding station. Berat rasanya
menyudahi tontonan berharga ini. Tontonan yang menyadarkan saya betapa
pentingnya menjaga keharmonisan antar manusia, hutan dengan segala isinya
termasuk Roger, Tom, Siswi, Kosasih dan ribuan orang utan lainnya. Jika
mereka bisa berbicara, kalimat pertama yang akan mereka ucapkan adalah
"Selamatkan hutan kami, lindungi habitat kami,".

Saat kapal kami melaju menuju Kumai, saya terkadang menemui orang utan
sedang asyik bergelantungan di atas pohon di tepi sungai. Mereka terlihat
asyik menikmati apa-apa yang bisa mereka makan. Bisa dibayangkan, jika
pohon-pohon itu dibabat maka bukan tidak mungkin nyawa orang utan akan
terancam. Saya sadar betapa pentingnya mereka. Ekosistem di hutan akan
seimbang jika ribuan orang utan disana tetap lestari, termasuk penyeberan
bibit-bibit baru pepohonan yang tumbuh karena biji-biji tumbuhan yang keluar
bersamaan dengan kotoran yang dibuang orang utan di hutan.

Bekantan adalah penghuni surga hutan lain yang saya temui di TNTP. Saat
senja hari mereka bermunculan untuk mencari makan. Hal ini mengingatkan saya
pada masa kecil saya di Sungai Katingan, Kalteng. Jika saya menyusuri Sungai
Katingan pada pagi atau sore hari, saya sering menemui bekantan di tepi
sungai. TNTP menjadi tempat saya untuk mengingat kembali kehidupan kecil
saya puluhan tahun silam. 
Alam khas Kalimantan terhampar luas disini. Seakan-akan menjadi cerminan
kecil betapa kayanya alam Indonesia khususnya hutan tropis Kalimantan. Hutan
yang hingga saat ini menjadi paru-paru dunia. Saya bangga telah menyatu
dengan alam TNTP. Meski singkat namun saya bisa merasakan betapa damainya
kehidupan di taman nasional andalan Indonesia ini. TNTP masih memberikan
hadiah cantik bagi warga dunia, berupa makhluk berharga bernama orang utan.

Saya jadi ingat akan lirik lagu Iwan Fals, yang isinya " Menjaga hutan
memang sulit sekali. Orang, pemerintah saja tak bisa. Apalagi saya yang baru
bisa baca tulis dan hitung,". Sebuah lirik yang menggambarkan betapa
sulitnya kehidupan anak rimba yang melarat gara-gara penjarahan hutan oleh
bajingan-bajingan tak bertanggung jawab. Bisa dibayangkan, anak rimba yang
sudah belajar tulis dan baca saja tak begitu mengerti bagaimana
menyelamatkan hutan dari pembalakan liar, apalagi orang utan. Yang tak bisa
mengerti tentang apa aksi penyelamatan, perlindungan hingga regenerasi orang
utan. Hanya manusia berakal yang bisa melakukannya. Tak hanya Prof. Birute
sang ahli primatolog asal Kanada, siapapun bisa menyelamatkan hutan dan
orang utan di dalam nya.

Perjalanan ini benar-benar berkesan bagi saya. Jika ada kesempatan, saya
pasti akan kembali ke TNTP. Bertemu Tom, Siswi, Roger dan kawan-kawan
disana. 

Terima kasih tak terhingga :

- Allah SWT atas segala kesempatannya
- Nabi Muhammad SAW atas semua contoh baiknya
- Teman-teman seperjalanan (Mifta, Mami Daisy, Mba Sita, Mba Yanti SN, Bang
Ago, Mba Indri, Mba Dwi Yanti, Mba Onny, Adji, Septri, Doli, Niken, Vina,
Irwan HI, Ifrah, Tini, She Pin, Ina & Lilia)
- Bapak Ipul, Bapak Hata, Bapak Yahya bimbingannya selama di TNTP
- Bapak Yadi atas buku Lonely Planet nya
- Tentu saja Ibu Prof. Birute dan para ranger atas dedikasi total nya selama
ini di TNTP

Banjarmasin, 27 Juli 2010

Foto-foto nya bisa di cek di :

http://pegatan.multiply.com/photos/album/29/Tanjung_Puting_Negeri_Damai_bagi
_Orang_Utan

Salam lestari

Nasrudin Ansori
http://kalimantanku.blogspot.com
"amazing Kalimantan"





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke