Halo teman-teman IBP, mau share sedikit nih tentang Pulau Pari.

 

Hari Sabtu-Minggu lalu, saya dan 2 orang teman pergi ke pulau pari
menyusul 6 orang teman yang sudah lebih dulu ada di sana dari hari Jumat.
Menurut info yang kami dapat untuk menuju ke Pulau Pari bisa dituju dari 2
tempat yaitu Marina, Ancol dan Muara Saban, Tangerang. Kami berangkat dari
Marina Ancol. Ternyata memang benar kalau mau ke pulau seribu dari marina ancol
ketika weekend harus dari pagi-pagi mengantri agar dapat tiket. 2 orang teman
saya sudah mengantri dari jam 1 pagi dan ternyata memang sudah banyak yang
mengantri di jam itu. Cara antrinya pun bukan kita berdiri, tetapi cukup
menaruh tas apapun dan menempelkan kertas dengan tulisan nama kita di tas
tersebut lalu oleh Satpam yang berjaga disana nama kita ditulis berdasarkan
urutan. 

 

Loket di marina baru dibuka jam 7 pagi, setelah petugasnya datang
mereka memanggil satu persatu nama kita. Tiket untuk ke Pulau Pari hanya Rp.
25.000. Rute kapal yang kami tumpangi adalah Marina-Untung Jawa-Pari-Tidung.
Tepat jam 8 kami berangkat dan tiba disana sekitar jam 9. Sepi itulah kata yang
terlintas di pikiran saya begitu sampai. Suasana disana sangat jauh berbeda
dibandingkan dengan P.Tidung. Kawasan ini memang lebih banyak dikenal oleh
orang-orang sebagai tempat untuk memancing.

 

6 orang teman saya yang sudah ada di P.Pari dari hari Jumat punya kisah
sendiri untuk sampai disana. Mereka naik kapal dari Muara Angke ke Tidung,
karena ada informasi dari Tidung ada kapal yang menuju P.Pari. Ternyata setelah
sampai di Tidung tidak ada angkutan kapal yang dimaksud melainkan harus sewa
Rp. 250rb.

 

Tidak banyak yang bisa kami lakukan di sana kecuali bersantai di
pinggir pantai. Karena memang sebenarnya suasana sepi dan santai itulah yang
kami cari, menghilang sejenak dari kebisingan. Di hari Sabtu kami memutuskan
untuk snorkeling dan menyewa kapal dengan harga Rp. 250rb untuk ke P.Payung. Di
sana ada yang menyewakan alat-alat snorkeling tapi harus konfirmasi dahulu,
karena alat-alat snorkeling harus diambil dari Tidung. Kami tdak sewa karena
kami bawa sendiri dari Jakarta.

 

Begitu sampai di P.Payung sudah ramai oleh orang-orang yang snorkeling.
Ini kedua kalinya saya snorkeling disini dan kali ini saya benar-benar
beruntung karena saya bisa melihat kawanan ikan yang sangat banyak dan
besar-besar, sangat susah untuk menemukan kawanan ikan yang banyak di P.Payung.
Sulit bagi saya untuk mencoba mengikuti karena mereka bergerak sangat cepat dan
berpindah-pindah.

 

Selesai snorkeling kami kembali dan menumpang mandi di rumah Pak Udin. Beliau
memang terkenal biasa memberikan jasa dan informasi yang dibutuhkan oleh
orang-orang yang ingin pergi kesana. Dia bisa membantu untuk mencarikan
penginapan di rumah warga, sewa kapal, pesan makanan, dll. Biaya sewa rumah
warga sekitar Rp. 150rb permalam yang bisa dihuni 10-15 orang. Kebanyakan warga
di sini adalah nelayan rumput laut. Kita bisa pesan sama nelayan yang ada di
sana ikan maupun kerang untuk barbeque. Ikan-ikan yang ditangkap ukurannya
lumayan besar.

 

Jam 6 sore ketika kami sampai dari P.Payung, tidak ada warga yang di
luar rumah. Malam harinya kami camping di pinggir pantai. Dari semua bagian
P.Pari pantai yang paling bagus untuk mendirikan tenda ada di dekat Kantor LIPI
tepatnya di belakang halaman rumah Pak Satir (masih saudara dengan Pak Udin). 
Kantor
LIPI di situ merupakan pusat konservasi terumbu karang. Karena hari libur tidak
ada orang atau kegiatan apa pun di sana. 

 

Keesokan paginya air laut surut dan saya bisa melihat hamparan pantai
yang luas. Pulau pari memiliki pantai  yang sangat landai sejauh 1 km. 
Tingginya air hanya
selutut sampai sepinggang orang dewasa setelah itu pantai langsung curam. Karena
itu sulit untuk berenang. Pantainya sangat bersih, banyak sekali kepiting kecil
dan keong laut, dan juga pohon bakau yang tumbuh di sekitar pantai itu. Dari
pagi-siang hari kami hanya duduk santai dan tiduran di pinggir pantai sambil
masak ala camper. Oh iya di hari pertama, kami disuguhi kepiting rebus oleh
warga. Kepitingnya kecil tetapi banyak. Tidak ada wisatawan selain kami di
pantai itu, sehingga kami serasa berada di pulau pribadi.

 

Jam 11 kami segera kembali ke rumah Pak Udin untuk bersiap-siap pulang
karena kapal Kerapu tiba di P.Pari jam 12. Sebagai informasi untuk amannya
sehari sebelumnya kita harus booking terlebih dahulu kepada petugas yang ada di
dermaga berapa orang yang akan ke Marina, agar mereka bisa koordinasi dengan
petugas yang ada di Tidung untuk menyiapkan tempat bagi penumpang yang akan
naik dari P.Pari. Harga tiket dari P.Pari ke Marina Rp. 28rb.

 

Kekurangan dari P.Pari adalah tidak adanya penjual makanan jadi,
warung-warung di sana hanya menjual makanan kecil, minuman, mie instant dan
jual pulsa. Apabila kita tidak ingin repot masak sendiri ala camper kita bisa
memesan makanan lewat pak Udin. Tidak ada peyewaan sepeda sehingga kemana-mana
jalan kaki, tetapi P.Pari tidak begitu besar, sehingga enak untuk dikelilingi. 
Warga
di sana sangat ramah sehingga membuat kami ingin kembali segera.

 

Demikian info tentang P.Pari, mudah-mudahan bisa menjadi referensi
untuk teman-teman.

 

Salam

 

Navy
CP: Pak Udin 081310137711





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke