At 10:38 28/04/2008, Pekik A. Dahono wrote:
Gimana ITB bisa cetak ilmuwan?
Untuk mencetak ilmuwan berarti ITB harus memperbanyak jumlah
mahasiswa S2 dan S3.
Mana ada universitas terkenal yang mengandalkan mahasiswa S1.
Akan tetapi, bagaimana orang tertarik ambil S2 dan S3 di ITB kalau
alumni saja tidak mendukung.
Yang dikatakan tidak mendukung itu bentuknya bagaimana ?
Apakah mungkin hanya karena ITB kurang berhasil dalam memasarkan
keunggulan S2 dan S3 ITB ?
Ataukah hanya karena S2 dan S3 ITB tidak dianggap alumni ITB karena
S1 nya bisa berasal dari lulusan univ lain selain ITB ?
Yang disebut alumni ITB hanyalah alumni S1 ITB. Yang namanya
mahasiswa ITB hanyalah mahasiswa S1. Yang menjadi anggota himpunan,
hanyalah mahasiswa S1.
Mungkin hanya merasa teman karena pernah sama sama mengalami ketatnya
masuk ITB baik melalui USM atau SPMB ? sehingga lulusan S2 dan S3 ITB
tidak dianggap seketat masuknya seperti ketika masuk S1 ITB ?
Udah gitu, banyak perusahaan menolak lulusan S2 atau S3. Mereka
bilang, kita2 cuma perlu lulusan S1.
Saya kira ini hanya masalah kurang sosialisasi apa beda S1, S2 dan S3
ITB ? kalau beda kwalitasnya jelas menerimanya juga relatif mudah..
Hanya saja umumnya perusahaan memang untuk rekruitment awal lebih
memerlukan S1 karena gajinya masih lebih murah dari S2 maupun S3
dengan peluang bisa dididik lebih berorientasi ke tempat kerjanya
termasuk kompetensinya ?
Untuk energy storage, sebenarnya banyak dosen ITB yang meneliti,
termasuk saya.
Cuma, kita2 memang males ngomong di Indonesia, jadi lebih banyak
berkibar di luar negeri.
Kenapa males omong di Indonesia ? masalahnya dimana ? kalau berkibar
diluar negeri yang untung luar negeri dong ? :-(
Sejak tiga tahun yang lalu, saya sudah sering bilang bahwa kita
tidak bisa berharap banyak dari renewable energy.
Tetapi apa kata orang, saya dibilang melawan arus.
Mungkin karena Mas Pekik kurang pembuktiannya ?
Energy storage, entah itu battery, ultracapacitor, SMES, flywheel,
atau yang lainnya, hambatan utamanya adalah biaya.
Harganya masih terlalu mahal.
Kalau penggunanya banyak tentu bisa lebih murah dong ? kenapa tidak
dibuat standard dan portable ?
Ngomong-ngomong, sebentar lagi saya pasang flywheel
Bukannya dengan friksi/slip faktor tidak mungkin nol energynya akan
hilang sendiri yang sempat disimpan di flywheel?
untuk meredam fluktuasi frekuensi PLTU karena beroperasinya smelter.
Apakah maksudnya supaya tidak terlalu fluktuatif ?
Memang yang pasang bukan saya, tetapi saya yang design.
Nanti kalau udah selesai saya kabarin.
Smoga sukses!
Salam,
Zaenal
Salam
----- Original Message -----
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Achmad Zaenal Abidin
To: <mailto:[email protected]>[email protected]
Cc: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, April 27, 2008 3:56 PM
Subject: [indonesia] Apakah telah ada battery penyimpan energy besar
? bagaimana produk lokal ? butuh pemikir? was Ingin berbisnis di
Industri ICT - "Ride the Wimax revolution"
Indera dan Rekans,
Lebih baik dijelaskan apa saja kendala tentang pemakaian battery
untuk reservoir energy selama ini ?
Apakah dengan battery ang telah ada tidak mampu dengan kapasitas AH
yang besar ? atau voltase yang tinggi ?
Bagaimana dengan prekembangan battery produk lokal ? apakah masih
masih terbatas kepada attery untuk mobil saja yang lokal ?
Maksud "terbukti insinyur dan pengusaha gagal berpikir dalam hal
esensial akibat tertutup duit. Just my 0.02 dollar." gimana ? apakah
bisa dijelaskan lebih lanjut ? supaya bisa ditindak lanjuti ?
Salam,
Zaenal
At 10:19 24/04/2008, Indera Sadikin wrote:
Mas Ramelan,
Mungkin ini sebabnya ITB dan Indonesia tidak maju2. Cetaknya
insinyur tukang rakit saja. Kemudian mau cetak industrialis,
pengusaha, dll. Tidak ada yang mau jadi ilmuwan atau pemikir.
Insinyur tukang rakit dan pengusaha cuma lihat untung rugi.
Beramai2 ekstrak minyak dari jagung dan singkong padahal itu buat
dimakan, akibatnya bahan makanan jadi serba mahal. Sekarang sibuk
beramai2 mau bikin proyek turbin angin, sel surya, mikro-hidro
bermega2 watt seperti oil rush jaman dulu. Tapi lupa mau disimpan
dimana, padahal sumbernya fluktuatif.
Belum pernah dengar diskusi soal batere penyimpan energi renewable
atau reservoir energi di milis ini. Reservoir energi adalah tema
yang hot di antara para ilmuwan renewable energy saat ini, turbin
dan berbagai macam sel generator sudah teknologi puluhan tahun lalu
yang terus disempurnakan. Mungkin sudah karakter manusia negara
tropis yang tidak perlu kuatir dengan waktu, mau makan kapanpun
tinggal jalan2 keluar dan petik buah yang ada sepanjang tahun.
Tidak seperti negara 4 musim yang manusianya menghargai waktu.
Sistem penyimpanan makanan sama pentingnya dengan berburu makanan.
Kembali ke topik awal, jadi ITB juga wajib mencetak ilmuwan karena
terbukti insinyur dan pengusaha gagal berpikir dalam hal esensial
akibat tertutup duit. Just my 0.02 dollar.
Indera
_____________________________________
Indera Sadikin on Mozilla
Thunderbird
SW Ramelan wrote:
tukang insinyur seyogyanya tidak hany amerakit dong, tetapi harus
mampu mengetahui apa sih yang harus dikerjakannya, kemudian
memahami mengapa harus begitu mengerjakannya, kemudian berfikir
bagaimana lebih menyempurnakan cara mengerjakan disesuaikan dengan
situasinya, agar mendapat keluaran lebih baik. Dengan demikian,
industrialis yang mempekerjakannya akan dapat menjual dengan lebih bersaing.
Kalau semua menjadi interpreneur tetapi tidak ada tukang
insinyurnya .... gimanaya jadinya? Mengetahui, memahami apa itu
interpreneur/ pengusaha/ industrialis itu baik. Menjadi mereka
juga baik, tetapi menjadi tukang insinyur dengan sikap seperti di
atas juga baik dan diperlukan loh. Apalagi dia itu putri-putra
terbaik Indonesia.
Salam,
=============================
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.5/1399 - Release Date:
26/04/2008 14:17