--- "Alim M." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> To: [EMAIL PROTECTED]
> From: "Alim M." <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Thu, 8 May 2008 22:17:51 -0700 (PDT)
> Subject: [redaksi-indonesia] Tim Indonesia Bangkit:
> Kenaikan Harga BBM
>
>
>   Kenaikan Harga BBM: Kebijakan Panik dan Tidak Adil
>
>   Oleh: Tim Indonesia Bangkit
>
>
>   Saat ini langkah untuk segera menaikkan harga BBM
> seakan menjadi sebuah langkah kebijakan paling
> rasional dan paling tepat dilakukan untuk
> menyelesaikan persoalan APBN. Opini tersebut
> terbentuk akibat gencarnya kampanye bahwa
> penyelamatan APBN akibat tingginya harga minyak
> dunia hanya dapat diselesaikan dengan menaikkan
> harga BBM.
>
>   Masih segar dalam ingatan kita berbagai upaya
> penciptaan opini untuk mendukung kenaikan  harga BBM
> sebesar 126% pada bulan Oktober 2005. Saat terjadi
> kenaikan harga minyak dunia, pemerintah SBY dan
> berbagai lembaga pendukung sibuk memberikan
> argumentasi bahwa dampat buruk yang terjadi hanya
> bisa diatasi dengan kenaikan harga BBM. Berbagai
> proposalpun diajukan untuk memuluskan dan
> mempercepatan kenaikan harga BBM. Mulai dari alasan
> untuk menyelamatkan ekonomi, menjawab ketidakpastian
> pasar hingga keyakinan bahwa kenaikan harga BBM
> justru akan menjadi obat untuk mengurangi
> kemiskinan, dll.
>
>   Segala argumentasi untuk mendukung kenaikan harga
> BBM pada bulan Oktober 2005 akhirnya terbukti
> ngawur. Angka kemiskinan justru meningkat dari 31,1
> juta jiwa (2005) menjadi 39,3 juta jiwa (2006).
> Demikian pula inflasi mengalami kenaikan tajam
> sebesar 17,75% (2006). Di sisi industri, kenaikan
> harga BBM untuk kedua kalinya tahun 2005 tersebut
> telah mendorong percepatan deindustrialisasi, Bila
> pada tahun 2004 sektor manufaktur masih tumbuh 7,2%
> maka pada tahun 2007 hanya tumbuh sebesar 5,1%. Ini
> terjadi karena industri ditekan dari dua sisi yakni
> peningkatan biaya produksi dan merosotnya demand
> akibat menurunnya daya beli masyarakat. Penambahan
> jumlah penganggur dari 9,9% (2004) menjadi 10,3%
> (2005) dan 10,4% (2006) pun akhirnya tidak
> terelakkan.
>
>   Dampak kenaikan harga BBM juga sangat panjang.
> Perhitungan dampak kenaikan harga BBM yang ngawur
> telah mengakibatkan pemerintah SBY lalai untuk
> membuat kebijakan antisipasinya. Akhirnya, beban
> rakyat terus meningkat akibat kenaikan harga-harga
> kebutuhan pokok. Jumlah rakyat miskin terus
> bertambah dan bahkan di sejumlah daerah, rakyat
> menderita kekurangan gizi atau busung lapar hingga
> banyaknya kasus bunuh diri yang dilakukan oleh
> masyarakat kelompok bawah akibat himpitan ekonomi.
>
>   Saat ini desakan untuk segera menaikkan harga BBM
> kembali terjadi. Sebagaimana tahun 2005, kenaikan
> harga minyak mentah dunia tidak segera direspon
> dengan berbagai kebijakan penyelamatan ekonomi
> tetapi pemerintah SBY justru gencar menciptakan
> opini pembenaran kenaikan harga BBM. Awalnya
> pemerintah SBY sibuk menjelaskan bahwa dampak buruk
> kenaikan harga minyak dunia tidak hanya dirasakan
> oleh Indonesia tetapi juga negara-negara lain.
> Kemudian disusul dengan pidato presiden SBY yang
> meminta rakyat memahami bila pemerintah memutuskan
> menaikkan harga BBM.
>
>   Sebagaimana tahun 2005, sebagian anggota Tim
> Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, terutama yang
> selama ini dikenal pro-kreditor dan lembaga
> internasional, bahkan juga mengusulkan untuk kembali
> meningkatkan utang. Alternatif ini menunjukkan tidak
> adanya kreatifitas dan tidak adanya upaya
> pemerintahan SBY untuk menghilangkan ketergantungan
> Indonesia kepada lembaga keuangan internasional.
> Padahal dalam APBNP tahun 2008 telah direncanakan
> utang baru sebesar Rp 48 triliun dan penerbitan SUN,
> obligasi, dll sebesar Rp 117 triliun.
>
>   Tim Indonesia Bangkit menilai rencana kenaikan
> harga BBM sebagai sebuah kebijakan panik (panic
> policy) dan sangat tidak adil. Beberapa argumentasi
> kami adalah:
>
>
>   1.      Rendahnya Kredibilitas Prediksi Tim
> Ekonomi Pemerintah SBY-JK
>
>   Tingginya harga minyak mentah dunia yang
> mengakibatkan kepanikan Pemerintah SBY-JK, terjadi
> akibat lemahnya kredibilitas prediksi Tim ekonomi
> atas asumsi-asumsi APBN 2008, termasuk prediksi
> harga minyak, sehingga pada akhirnya harus dibayar
> dengan mahal.
>
>   Ditengah tren harga minyak dunia yang terus
> meningkat pada tahun 2007, dalam asumsi dasar APBN
> 2008 pemerintah SBY yang sangat optimistis malah
> memprediksi harga minyak hanya sebesar US$60 per
> barel. Prediksi produksi minyak sebesar 1,03 juta
> barel/hari juga diragukan karena realisasi tahun
> 2007 hanya sekitar 910 ribu barel per hari.
> Sementara dalam Nota Keuangan 2008 tidak dijelaskan
> kebijakan terobosan yang akan dilakukan untuk
> mendorong tingkat produksi. Hal ini mengakibatkan
> keraguan para pelaku pasar terhadap kredibilitas
> anggaran pemerintah.
>
>   Menyadari kelemahan prediksi ini, hanya satu bulan
> setelah APBN 2008 mulai berjalan, pemerintah SBY-JK
> meminta percepatan pembahasan RAPBN P 2008 kepada
> DPR dari jadwal rutin bulan Juli menjadi bulan
> Februari. Namun, dalam APBNP tidak tercantum
> berbagai langkah seperti yang diusulkan oleh Tim
> Indonesia Bangkit seperti mengurangi alokasi
> anggaran pembayaran pokok dan bunga utang luar
> negeri, bunga rekap, pemangkasan biaya pengadaan
> BBM, dll.
>
>   Harga minyak pun direvisi menjadi US$95 per barel,
> dengan jumlah produksi sebesar 927 barel per hari
> tanpa alternatif kenaikan harga BBM. Sebelum sempat
> APBNP 2008 dijalankan, Menteri Keuangan kembali
> revisi harga minyak sebesar US$110 per barel,
> percepatan kenaikan harga BBM dan bersamaan dengan
> revisi asumsi-asumsi lainnya seperti pertumbuhan
> ekonomi menjadi hanya 6%, inflasi menjadi 8,5-9,5%,
> dll.
>
>   Kredibilitas prediksi pemerintah yang sangat lemah
> inilah yang telah mengakibatkan ketidakpercayaan
> pasar. Tetapi oleh Tim Ekonomi pemerintah,
> ketidakpercayaan pasar dibelokkan sebagai akibat
> penundaan kenaikan harga BBM.
>
>   2.      Kenaikan Harga BBM Sebagai Pilihan Pertama
> Pemerintah SBY-JK, tetapi Telah Diklaim Sebagai
> Pilihan Terakhir
>
>   Tidak ada kemauan politik (pilitical will) dan
> keberanian dari Pemerintah SBY-JK untuk melakukan
> langkah-langkah penyelamatan ekonomi akibat
> tingginya harga minyak, yang mengedepankan prinsip
> pembagian beban (burden sharing) yang adil. Hal ini
> mengakibatkan seolah-olah klaim Presiden SBY bahwa
> kenaikan harga BBM yang akan dilakukan sebagai
> pilihan terakhir adalah sebuah kebohongan publik.
> Karena faktanya masih banyak langkah-langkah
> kebijakan penyelamatan ekonomi lain yang belum
> dilakukan sebelum menaikan harga BBM.
>
>   Beban APBN karena turunnya tingkat produksi akan
> lebih besar dibanding karena tingginya harga minyak
> dunia. Bila tingkat produksi minyak dapat
> dipertahankan di atas 1 juta barel per hari, maka
> dampaknya terhadap APBN akan relatif lebih kecil.
> APBN justru akan diuntungkan dengan tingginya harga
> minyak. Namun, langkah ini tidak pernah dilakukan
> karena memang akan memaksa Menteri ESDM untuk
> merevisi UU Migas yang berarti harus pula merevisi
> kebijakan liberalisasi sektor energi yang telah
> dilakukan secara ugal-ugalan.
>
>   Dalam paper yang direlease pada tanggal 25 Juli
> 2005, "Kenaikan Harga BBM: Pilihan Akhir yang Harus
> Didahului Reformasi Tata Niaga Minyak Bumi dan Gas,
> Program Anti Kemiskinan yang Efektif, Renegosiasi",
> TIB telah memberikan masukan langkah-langkah
> kebijakan yang harus dilakukan sebelum memilih
> kenaikan harga BBM. Langkah tersebut antara lain:
>
>
>    Reformasi Tata Niaga Minyak Bumi dan Gas: Hapus
> Brokers Pemburu Rente
>   Telah menjadi rahasia umum, bahwa proses pengadaan
> dan distribusi BBM oleh Pertamina sarat dengan KKN
> dan ketidakefisienan. Selama ini, volume pasokan
> BBM, baik yang diproduksi oleh kilang dalam negeri
> maupun yang diimpor, jauh lebih tinggi dibanding
> jumlah BBM yang benar-benar dikonsumsi oleh
> masyarakat dan industri.
>
>
>    Revisi Formula Perhitungan Alokasi Dana Bagi
> Hasil Minyak Bumi dan Gas
>   Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam merubah
> perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan
> gas yaitu pertama, alokasi Dana Bagi Hasil minyak
> bumi dan gas diperhitungkan berdasarkan dana
> penerimaan pemerintah di sektor minyak bumi dan gas
> setelah dikurangi subsidi BBM. Dengan kebijakan ini,
> perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan
> gas masih tetap memperhitungkan fluktuasi harga
> minyak dunia, akan tetapi dana yang dibagikan adalah
> dana penerimaan pemerintah setelah dikurangi
> pengeluaran subsidi. Alternatif kedua adalah dengan
> mematok (freeze) besarnya alokasi Dana Bagi Hasil
> minyak bumi dan gas. Langkah kebijakan ini dilakukan
> dengan mengubah cara perhitungan alokasi Dana Bagi
> Hasil minyak bumi dan gas yang semula mengikuti
> perubahan harga minyak dunia diganti dengan cara
> perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan
> gas secara tetap (tidak didasarkan pada harga minyak
> dunia), berapa pun realisasi harga minyak mentah
> dunia.
>
>
>    Meningkatkan Mobilisasi Dana Alternatif
>   Beban berat APBN dapat diselesaikan dengan
> melakukan berbagai langkah kebijakan untuk melakukan
> burden sharing kepada semua stakeholders baik
> pemerintah pusat, Pemerintah Daerah, kreditor
> kalangan bisnis maupun masyarakat luas. Langkah
> terobosan lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah
> untuk menyelesaikan masalah APBN adalah dengan
> memobilisasi dana alternatif. Terdapat beberapa
> sumber dana yang dapat dioptimalkan, antara lain:
>
>   Ø      Optimalisasi Penggunaan Dana-dana
> Pemerintah
>   Ø      Optimalisasi penerimaan Sumber Daya Alam
> Minyak Bumi dan Gas
>   Ø      Memperbaiki manajemen utang dan
> restrukturisasi utang dalam negeri
>   Ø      Dll.
>
>
>    Melaksanakan Program Anti Kemiskinan yang Efektif
>
>    Menyusun strategi diversifikasi energi
>
>   Meskipun langkah-langkah tersebut dapat menjadi
> solusi jangka pendek maupun jangka panjang, akan
> tetapi pada tahun 2005 pemerinth SBY-JK langsung
> menyatakan tidak layak dan tidak bisa menyelesaikan
> masalah dengan cepat. Tahun 2008, pemerintah SBY-JK
> dan para pendukung kebijakan kenaikan harga BBM
> kembali lagi memberikan alasan yang sama untuk tidak
> melaksanakan langkah-langkah yang lebih adil
> tersebut. Bila alasannya sama, lalu apa yang
> dilakukan oleh pemerintah SBY-JK selama 2-3 tahun
> ini? Tidak ada alasan lain kecuali pemerintah SBY-JK
> dengan kebijakan Washington Konsensus memang akan
> menghapuskan berbagai subsidi termasuk subsidi BBM
> bagi masyarakat, meskipun masih sangat dibutuhkan.
>
>   3.      Kenaikan Harga BBM Tanpa Persiapan Matang
> dan Kebijakan Dukungan Sangat Merugikan Kinerja
> Ekonomi Nasional
>
>   Pengelolaan kebijakan fiskal yang lemah serta
> rencana kenaikan harga BBM yang diwacanakan akan
> segera dilakukan meski tidak didukung oleh persiapan
> yang matang akan berdampak negatif pada
> kesejahteraan masyarakat terutama menengah bawah
> serta daya saing dan ketahanan sektor industri
> terutama menengah dan kecil. Disamping kerugian
> ekonomi juga ada potensi timbulnya dampak sosial
> yang buruk.
>
>   Salah satu program yang akan dilakukan oleh
> pemerintah SBY-JK, sebagaimana tahun 2005, adalah
> memberikan kompensasi  bagi masyarakat miskin. Tahun
> 2005 pemerintah SBY memberikan BLT sebesar Rp
> 100.000 per bulan per keluarga bagi keluarga miskin
> selama satu tahun. Banyak kelemahan dari program
> kompensasi ini antara lain besaran BLT tidak dapat
> mengkonversi tambahan beban orang miskin karena
> jumlah tersebut adalah hasil perhitungan bila harga
> BBM naik 30-40%, sementara faktanya BBM naik 126%.
> Selain juga masalah salah sasaran. Meskipun telah
> dilakukan pendataan oleh BPS, diprediksi ada sekitar
> 15-20% keluarga miskin yang tidak terjaring karena
> berbagai alasan.
>
>   Tahun 2008, pemerintah SBY-JK tanpa persiapan
> matang akan mengulang program tersebut. Padahal
> koreksi terhadap program dan mekanisme belum
> dilakukan. Demikian juga data yang akan dijadikan
> data based juga data yang telah out of date karena
> akan menggunakan data penerima BLT tahun 2005.
> Dengan gambaran ini dapat dipastikan tingkat
> efektifitas dari program BLT akan sangat rendah.
> Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2006 muncul
> keluarga miskin baru yang belum terdata akibat
> berbagai kebijakan ekonomi pemerintah SBY-JK yang
> tidak berpihak kepada kelompok masyarakat bawah.
>
>   Dari berbagai argumen di atas, Tim Indonesia
> Bangkit meminta pemerintah SBY-JK segera melakukan
> langkah-langkah kebijakan yang adil, dimana ada
> burden sharing dalam menghadapi beban APBN akibat
> tingginya harga minyak dunia. Menaikan harga BBM
> adalah cara gampangan yang membebankan dampak
> persoalan kepada masyarakat. Padahal cukup banyak
> dana APBN yang digunakan untuk membiayai birokrasi
> yang tidak efisien bahkan sangat tidak adil seperti
> telah dilakukan Menteri Keuangan dengan menaikan
> biaya renumerasi Departemen Keuangan sebesar Rp. 5
> Triliun lebih pertahun. Pengalaman kenaikan harga
> BBM tahun 2005, dampak kerugian sosial ekonomis yang
> ditimbulkan jauh lebih besar dan tidak sebanding
> dengan penghematan finansial yang diperolah dalam
> APBN.
>
>
>
>   Jakarta, 7 Mei 2008
>
>
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile.  Try it now.

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke