ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]> writes: > > .... saya melihat faktor utama krisis ini adalah permainan para broker/ > pialang komoditi yang mempermainkan harga se-enak perutnya. Hal ini > sebenarnya telah di-isukan oleh petinggi OPEC di Timur Tengah. > > Solusinya adalah sesegera mungkin dibuat aturan hukum yang membatasi > pergerakan mereka, dan ini harus > ada kemauan politik di berbagai negara yang melakukan transaksi-transaksi > semacam ini. > > Salam, Ibnu
Saya sedang mengusulkan kepada komunitas saya, agar menghemat energi.. Banyak yang setuju. Karena kita harus menghargai sulitnya mencari sumber energi. Apalagi mencari sumber energi alternatif juga tidak mudah, belum lagi diteror oleh mereka yang menentangnya, di antaranya seperti rebutan tanaman jagung. Padahal jagung yang ditanam untuk biofuel di USA itu beracun, bibitnya hasil rekayasa genetik dari perusahaan semacam Monsanto, Du Pont, Bayer, yang menghasilkan padi hibrida dan kapas transgenik... dll... Ketika usulan saya lanjutkan, janganlah ikuti kebodohan, dengan ikut membuat kemacetan di kota-kota besar. Itu khan boros BBM... Eh, saya nggak dianggep.... :-) Apalagi ketika saya ngelunjak, tolong, yang jadi pengusaha jangan keasyikan ambil untung sebanyak-banyaknya, sementara usaha mereka bertumpu pada resources yang murah. Maksud dari resources murah itu ya, "pangan murah", ndhak boleh dieksport lagi, kecuali punya orang yang termasuk terkaya di dunia dalam list Forbes, juga bertumpu pada "pendidikan gratis", yang ujung-ujungnya, guru ndhak usah digaji yang layak.... Karena anggaran 20 % ndhak pernah dicapai. Itu demi keunggulan komparatif produknya para pengusaha.. eh.... saya lebih didiemkan.... :-) Padahal, TKI Indonesia, yang nganggur, alias ndhak laku kerja di sini, ternyata dibayar lebih mahal di negeri orang. Gaji guru di Malay saja 13 kali dari gaji guru di sini, menurut Unesco. Sedih, yah.... Jadi pangan mahal di luar, ndhak berdampak pada kemakmuran petani kita. Pengusaha kita kalah bersaing dengan pengusaha China, kalah murah. Padahal, upah buruh di China termasuk tunjangannya, bisa mencapai 3 jutaan per bulan. Sementara buruh kita, kalau bisa diberi status outsourcing semua, dengan upah 15.000 sampai 20.000 perak, sehari... hiks.... Gitu pengusaha kita masih kalah juga... Dan sebenarnya kalau pangan naik, yang paling keberatan adalah pengusaha kita, karena itu akan mendorong upah buruh dan guru ikut naik. Menangnya pengusaha kita, ya itu, bikin rekor lama-lama-an memacetkan jalanan.... sambil membuang BBM sebanyak-banyaknya. Bagaimana kalau kita usulkan agar para pengusaha dan pemimpin kita ke kantor naik sepeda saja. Ndhak usah gengsi.. Kita memang losser. Itu orang Belanda yang lebih modern dari kita, orang-orangnya juga banyak yang pakai sepeda. Naik sepeda itu pakai BBN, alias Bahan Bakar Nasi.... :-) salam, wa -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
