Temans,

Dari opini dan bukti yang ada, mengarah kepada JAI (Jamaah Islamiyah Ahmadiyah) dan JIL (Jamaah Islam Liberal) harus bubar ?

Salam,
Zaenal

From: Masyhurim <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 4 Jun 2008 22:32:47 -0700 (PDT)
Subject: [anggotaicmi] Sudah Saatnya JAI dan JIL

Assalamualaikum wR wB

Bapak-bapak, ibu-ibu teman dan handai taulan yang dihormati. Maaf ya saya yang kurang mengerti tentang permainan politik ini ingin berbagi pendapat, insya Allah diizinkan ya...

Ini pandangan saya yang sempit dan masih mentah, tapi yah coba-coba siapa tau bener...

Sebenarnya kejadian yang melibatkan anggota FPI dan AKKBB sebenarnya disebabkan kita lambat dalam menentukan keputusan keatas satu sikap yang tidak bertanggungjawab atas aksi perongrongan akidah yang sudah cukup lama terjadi ditanah air. Sejak dimulai adanya JAI dan JIL ditanah air beberapa tahun lalu.

Sebelum adanya JAI dan JIL atau yang sejenis dengannya, keadaan umat Islam ditanah air tidaklah separah saat ini walaupun ada pergesekan antara pengikut Muhammadiyah dan NU, tapi itu hanya dalam bidang furu'iyah beribadah saja. Jadi masih bisa kita sebut "no problem"-lah.

Tapi dengan hadirnya titisan JAI dan JIL ditanah air beberapa tahun yang lalu sebenarnya merupakan bisa dikatakan embrio parasit terhadap kehidupan beragama di Indonesia terutama terhadap kedua ormas Islam terbesar yaitu Muhammadiyah dan NU.

Kini kedua embrio itu telah lahir dan jadi anak yang sangat nakal dan kurang ajar. Mereka tidak hanya mengobok-ngobok kerukunan beragama tetapi bahkan mengobok-obok akidah yang sangat prinsipil dalam agama Islam dengan tafsiran-tafsiran yang nyeleneh, semau gue dan sebagainya yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, para sahabat maupun para ulama muktabar.

Demi membendung kenakalan JAI dan JIL, MUI telah memberikan keputusan yang betul dengan mengharamkan JAi, liberalisme dan pluralis beragama. Namun kita kecundang dengan keadaan negara yang tidak berasaskan syari'at dan slogan-slogan kebebasan yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam (barat) yang membahayakan. Akhirnya setiap fatwa MUI hanyalah fatwa tidak ada tindakan riil dalam merealisasikan fatwa itu.

Kini kedua anak nakal itu semakin besar, sudah berani jotos sana dan jotos sini, tuduh sana tuduh sini. Nah, negara ini yang memang sudah sarat permasalahan semakin tersepit kebingungan menghadapi jotosan-jotosan kedua anak nakal ini. Tambah lagi kedua anak nakal ini setelah menjotos sana-sini berlari berlindung dibelakang bapaknya (negara-negara kapitalis). Umat Islam ditanah air hanya melihat dengan geram dan bergumam "awas kau!!!". Ya hanya "awas kau", itu yang mampu diluahkan. Namun perasaan yang terpendam itu tentu akan lebih berbahaya dari yang biasa diluahkan.

Kita tentu tidak inginkan keadaan ini berterusan, sungguh tidak ada jalan yang lebih tepat dalam menjaga kesatuan umat dan kedaulatan rakyat, melainkan pemerintah ini mendengar fatwa MUI dan mengambil tindakan semestinya. Bubarkan JAI dan JIL atapun yang sealiran dengannya sebelum rasa kesensitifitasan umat Islam ditanah air ini diinjak-injak lebih parah, karena sangat mudah untuk menghancurkan Islam di tanah air ini. Jumlah umat yang besar ini ternyata jadi makanan empuk para musuh-musuh Islam, dengan membesarkan anak-anak mereka yang berkedokkan ISLAM di tanah air ini.

Wallahu a'lam


wassalamualaikum wR wB

Masyhuri Mas'ud
IIUM

AL shahida <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salaam All

Lah ko saya dibombardir kiriman emails, yang terakhir ini mengenai insiden di Monas, dengan berbabagai pandang dandari berbagai sudut dan macam. Untuk saya pribadi ..selagi ia lurus, fair dan dengan nalar yang bersih..itulah yang menjadi pegangan saya. Yang kita faorward ...biasanya either memang kl isinya sependapat dengan pemikiran kita, seakan ia mewakili ras dan abenak dan opini kita atau sebaliknya.

Allah saja yang tahu hati kita.Allah 'alam bisawab.

Gunawan, entah siapa dia rajin banget kirim saya tulisan, kali ini masalah yang terkahir ini, ayolah kita baca..

wass, teteh

Gunawan GTA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Date: Wed, 4 Jun 2008 14:24:00 +0700
From: "Gunawan GTA" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Insiden Monas.

INSIDEN MONAS,
WASPADAI ADU-DOMBA UMAT ISLAM!
Buletin Al-Islam Edisi  408


Prihatin. Itulah rasa yang ada menyaksikan kondisi umat Islam saat ini. Rakyat tengah mengalami keterpurukan ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Berbagai penolakan terus terjadi dimana-mana. Pada 1 Juni 2008 siang berlangsung demo penolakan kenaikan BBM di depan Istana Negara Jalan Medan Merdeka Utara yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan dihadiri oleh berbagai ormas. Sebagaimana dimuat berbagai media massa, acara tersebut berlangsung damai.

Namun, pada saat yang hampir bersamaan terjadi 'Insiden Monas', yaitu bentrokan antara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan massa yang beratribut Front Pembela Islam (FPI) di Lapangan Silang Monas ke arah Jalan Medan Merdeka Selatan. Belakangan dibantah bahwa yang bentrok itu bukanlah FPI melainkan Komando Laskar Islam (KLI).

Berbagai kecaman langsung bermunculan mulai dari Presiden, politisi, dan sebagian tokoh. Reaksi demikian muncul karena adanya pemberitaan tentang aksi kekerasan yang terjadi. Padahal tidak ada asap kalau tidak ada api.


Provokasi


Pakar komunikasi Universitas Hasanuddin, Aswar Hasan, mengatakan, bentrokan antara FPI dan AKKBB adalah efek dari "kekerasan simbolik" yang selama ini terjadi. Aksi-aksi sporadis kalangan liberal--seperti melecehkan MUI dan merendahkan wibawa ulama (ingat pelecehan dan penghinaan Adnan Buyung kepada KH Ma'ruf Amien, tokoh NU dan Ketua MUI di Radio BBC beberapa waktu lalu)--selalu mendapat tempat terhormat di media massa dan TV. "Jadi, sesungguhnya 'kekerasan simbolik' itu sudah lama dilakukan kalangan liberal terhadap kalangan Islam yang lain," ujar Aswar (<http://hidayatullah.com/>Hidayatullah.com, 2/6/2008).

AKKBB merupakan kelompok yang giat membela Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah telah dinyatakan sesat oleh berbagai organisasi seperti keputusan Majma' al-Fiqih al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1985, Fatwa MUI tentang Ahmadiyah tahun 2005, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bahkan Badan Koordinasi Pengawas Kepercayaan dan Keyakinan Masyarakat (Bakorpakem) pada 16 April 2008 menetapkan Ahmadiyah sebagai aliran yang menyimpang dari Islam. Namun, surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pelarangan Ahmadiyah belum juga dikeluarkan oleh Pemerintah. Sementara itu, AKKBB terus berusaha mencegah keluarnya SKB tersebut.

Di tengah situasi psikologis seperti itu, setidaknya sejak 15 Mei 2008, terpampang iklan petisi di situs resmi AKKBB, yang disebar ke berbagai milis, dan akhirnya dirilis di beberapa media massa nasional mulai tanggal 26 Mei 2008. Petisi bertajuk "Mari Pertahankan Indonesia Kita!" itu dikoordinasikan oleh ICRP dan Aliansi Bhineka Tunggal Ika dan disebar di beberapa milis di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Aliansi Bhineka Tunggal Ika adalah kelompok yang pernah menggerakkan kalangan lesbian, homo, para pelacur dan penyanyi dangdut untuk menyampaikan sikap penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Dilihat dari pendukungnya pun terdiri dari ideolog sosialis, aktivis Ahmadiyah, sebagian warga non-Muslim dan kaum liberal.

Iklan petisi tersebut berisi pembelaan terhadap Ahmadiyah. Bukan hanya itu, petisi itu juga berusaha mengadu-domba umat Islam dengan Pemerintah dengan menyatakan, "Kami menyerukan, agar Pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum untuk tidak takut terhadap tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu."

Provokasi terus terjadi. Majalah Tempo edisi 5-11 Mei 2008 menulis, "Kecemasan di mana-mana. Ketakutan merajalela. Majelis Ulama Indonesia harus bertanggung jawab atas semua ini." Di bagian lain Tempo menulis, "Majelis Ulama sudah selayaknya meminta maaf kepada warga Ahmadiyah. Menjatuhkan fatwa sesat pada aliran itu berarti memberikan lampu hijau kepada gerombolan penyerang Ahmadiyah untuk bertindak anarkistis."

Ingat, pemilik majalah Tempo adalah Goenawan Mohamad yang juga penggiat AKKBB dan apel akbar. Kalau bukan provokasi terhadap umat Islam, lantas untuk apa tulisan menghina ulama itu?

Kapoles Jakarta Pusat Kombes Pol. Heru Winarko mengatakan kepada media massa pada 1 Juni 2008 bahwa AKKBB menurut rencana hanya berdemo di Cempaka Barat, lalu ke depan Kedubes AS, dan berikutnya ke Bundaran Hotel Indonesia. Di ketiga tempat tersebut polisi sudah menyiapkan pengamanan. Di Monas, mereka tidak meminta pengamanan. "Tapi, mengapa mereka malah masuk Monas?" ujarnya.

Ada keanehan di sini. Selain itu, Juru Bicara Ahmadiyah Mubarik mengatakan, sebenarnya dia sudah memperkirakan akan terjadinya insiden tersebut. Namun, dia mengaku enggan untuk membatalkan rencana aksinya (Hidayatullah, 2/6/2008).

Bukankah ini berarti pembiaran terjadinya insiden tersebut? Lebih dari itu, seorang anggota AKKBB tertangkap kamera membawa pistol dalam Insiden Monas. Dalam konferensi KLI diputar sebuah video yang memperlihatkan seorang peserta aksi berkaos putih, dengan sebuah pita merah putih di lengan kirinya, sempat mengeluarkan sebuah senjata api. (Hidayatullah, 2/6/2008). Lebih dari itu, menurut pengakuan peserta dari FPI, ada provokasi dari panitia (Detik.com, 3/6/2008).


KH Hasyim menyatakan, "Sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi masalah penodaan agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam." Beliau juga menyesalkan sikap Pemerintah yang tidak tegas terhadap persoalan Ahmadiyah. (<http://republika.co.id/>Republika.co.id, 3//2008).

Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftahul Akhyar, juga menyatakan insiden Monas membuktikan SKB Ahmadiyah mendesak dikeluarkan (RCTI, 3/6/2008).


Menghancurkan Islam


Melihat pola masa lalu, insiden seperti ini akan melahirkan beberapa hal.
Pertama: pengalihan isu. Semula isu yang dominan adalah tuntutan kenaikan harga BBM dan pembubaran Ahmadiyah yang telah dinyatakan menyimpang oleh Bakorpakem. Kini, isu seakan bergeser menjadi isu pembubaran ormas Islam tertentu. Ketua Lembaga Penyuluh Bantuan Hukum PBNU, M Sholeh Amin mengingatkan jangan sampai pengalihan isu demikian dibiarkan. (<http://republika.co.id/>Republika.co.id, 3/6/2008).

Kedua: stigmatisasi ormas Islam. Dari banyak komentar dan opini media massa digambarkan betapa buruknya wajah kaum Muslim yang sebenarnya justru membela kemurnian akidahnya.

Ketiga: menghancurkan organisasi Islam yang secara terbuka menentang pornografi-pornoaksi, kemungkaran, dan syariah Islam. Lihatlah, pasca Insiden Monas, Adnan Buyung Nasution dan Goenawan Mohamad menuntut pembubaran beberapa ormas Islam yang tidak terkait sama sekali dengan insiden tersebut. Bahkan mereka mendesak Menteri Hukum dan HAM untuk mengajukan permohonan ke pengadilan lalu meminta hakim untuk membubarkan Majelis Ulama Indonesia (Hidayatullah.com, 2/6/2008).

Tuntutan serupa pernah dilontarkan saat Munas MUI mengeluarkan fatwa haramnya sekularisme, liberalisme dan pluralisme; bahkan saat isu pornografi-pornoaksi. Padahal MUI tidak terlibat dalam insiden tersebut.

Jadi, yang sedang terjadi sebenarnya adalah upaya membungkam orang dan organisasi yang secara tegas menyuarakan Islam. Lantas siapa yang diuntungkan? Tentu, mereka yang tidak menginginkan Islam kuat dan mereka yang tidak menginginkan Indonesia kuat. Mereka ingin putra-putri negeri Muslim terbesar ini terus porak-poranda. Mereka yang diuntungkan adalah kaum kafir imperialis dan para kompradornya. Menarik dicatat, sebagian tokoh pendukung Ahmadiyah itu adalah para tokoh penting di balik Reformasi 1998 yang mendapat bantuan dana 26 juta dolar AS dari USAID untuk menjalankan agenda AS. Bantuan dana ini dapat dilihat dalam The New York Times (20 Mei 1998). Bahkan, salah satu rekomendasi The Rand Corporation dalam menundukkan Islam adalah mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis. Caranya adalah dengan mengadu-domba.

Karena itu, sungguh bijak pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi Hasyim yang menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam masalah ini. "Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?" ujarnya. Oleh karena itu, KH Hasyim mengingatkan pihak-pihak yang ingin menggiring NU, terutama badan otonom NU seperti GP Ansor, Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa, Lakpesdam NU agar menghentikan provokasinya. (Detik.com, 3/6/2008).


Wahai kaum Muslim:


Hendaknya kita tidak mudah terprovokasi dan diadu-domba oleh kafir penjajah yang memang sangat ingin memecah-belah kesatuan umat Islam. Kita pun jangan sampai terdorong untuk memprovokasi dan mengadu-domba sesama Muslim karena Rasulullah saw. bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba (Mutaffaq 'alaih).


Rasulullah saw. teladan kita pun telah mengingatkan, bahwa umat Islam tidak akan pernah hancur oleh kekuatan luar yang berasal dari musuh-musuh Islam, kecuali ketika kita sudah saling menghancurkan satu sama lain:


Sungguh, aku telah memohon kepada Tuhanku bagi umatku agar mereka tidak binasa karena wabah kelaparan dan agar musuh dari kalangan selain mereka sendiri tidak dapat menguasai mereka hingga masyarakat mereka terjaga. Sungguh, Tuhanku kemudian berfirman, "Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan suatu putusan maka putusan itu tidak dapat ditolak. Sungguh, Aku telah memberimu bagi umatmu bahwa mereka tidak dibinasakan oleh wabah kelaparan dan musuh selain dari kalangan mereka tidak dapat menguasai mereka sehingga masyarakat mereka terjaga sekalipun dikepung dari berbagai penjuru, hingga mereka saling menghancurkan satu sama lain dan saling menawan satu sama lain." (HR Muslim).


Komentar:

Dewan Da'wah Peringatkan Rekayasa Opini Kasus Monas (Hidayatullah.com, 3/6/2008).

Sangat mungkin tujuannya untuk mengadu-domba umat Islam. Waspadalah!



Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya,
dilempar buahnya dengan batu
tapi dibalas dengan buah.
(Abu Bakr Siddiq)

Kirim email ke