Ketua MUI: FPI dan AKKBB Sama-Sama Provokatif
http://www.eramuslim.com/berita/nas/8602053647-ketua-mui-fpi-dan-akkbb-sama-sama-provokatif.htm?rel
Senin, 2 Jun 08 07:34 WIB
[]
Menanggapi aksi rusuh di Silang Monas Jakarta,
Ahad siang kemarin (1/6), Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Amidhan menyatakan bahwa pihaknya
tidak bisa membenarkan cara-cara kekerasan yang terjadi.
Amidhan menyatakan telah menghimbau semua pihak
agar tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam
menghadapi kelompok sesat seperti Ahmadiyah.
Kita menyayangkan terjadinya peristiwa di Monas itu, ujarnya pada wartawan.
Namun Amidhan juga menyampaikan pandangannya
bahwa apa yang dilakukan Front Pembela Islam
(FPI) yang menyerbu massa Aliansi Kebangsaan
untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB), di Silang Monas, tersebut tidak serta
merta kesalahan FPI saja. Amidhan menilai apa
yang selama ini dilakukan AKKBB juga amat
provokatif alias memancing-mancing kemarahan umat
Islam. Salah satunya adalah tindakan AKKBB yang
menyertakan wakil-wakil agama lain selain agama
Islam untuk ikut-ikutan membela kelompok sesat Ahmadiyah.
Persoalan Ahmadiyah adalah urusan internal umat
Islam, tapi Aliansi (AKKBB) mencantumkan dukungan
dari pihak beragama lain selain Islam. Inilah
yang kami pandang juga tindakan yang tidak benar.
Masalah Ahmadiyah adalah masalah internal umat
Islam. Agama lain di luar Islam jangan ikut campur, tegas Amidhan.(rz)
__________________________________________________________________________________________________
http://www.gun84.co.cc/
3 Juni, 2008 in
<http://id.wordpress.com/tag/serba-serbi-my-article/>Serba-Serbi
Penyerangan FPI terhadap AKK-BB dapat dikatakan
sebagai tindakan yang wajar. Asumsi ini
disandarkan kepada siapa yang pertama kali yang
meyulut api. Saat melakukan orasi anggota AKK-BB
memancing kemarahan dengan mengatakan
<http://fpipetamburan.blogspot.com/>FPI laskar
setan dan ucapan sarkasme lainnya. Selain itu
kemarahan FPI semakin terbakar ketika anggota
AKK-BB mengeluarkan senjata dan menembakkan ke udara.
Kebanyakan media hanya mengekspos kejadian
puncak, saat terjadi pemukulan yang dilakukan
FPI. Rekaman itu disiarkan berulang-ulang di
beberapa stasiun televisi. Tentu saja, reaksi
yang muncul bertambah bencinya masyarakat atas aksi-aksi yang dilakukan FPI.
Tulisan ini tidak hendak melakukan pembelaan
terhadap FPI. Namun, sebagai manusia yang cerdas,
kita mesti melihat persoalan secara komprehensif.
Kita harus memilah suatu fakta dengan merujuk
pada apa penyebabnya, kemudian harus ada
penyampaian data dari berbagai versi beserta
penyerahan bukti (FPI, AKK-BB dan saksi yang
berada di dekat kejadian), kemudian proses
penyesuain data dari masing-masing pihak, setelah
itu barulah merujuk pada ideologi yang dibawa oleh masing-masing kelompok.
Pengambilan kesimpulan yang serta merta langsung
mengerucut kepada term Islam tidak mengenal
kekerasan, adalah tindakan terburu-buru yang
mereduksi fakta-fakta yang ada. Meskipun FPI
mengusung simbol-simbol Islam, namun kita harus
meletakkan kelompok ini sebagai komunitas massa
objektif yang juga memiliki sifat marah jika diejek.
Mungkin kita hanya tersenyum sinis ketika melihat
ketidaksabaran yang berujung kepada tindakan
anarkis. Namun, kita juga mesti memahami dalam
kondisi yang emosional, di tengah terik semangat
yang mengebu-gebu, seringkali kesabaran dan
rasionalitas memudar. Hal inilah yang tidak
diperhatikan oleh AKK-BB yang sengaja
membangkitkan kemarahan FPI dengan tindakan arogan menggunakan senjata api.
Jangankan FPI, seorang intelektual, anggota DPR
bahkan Presidenpun ketika disulut emosinya, akan
marah dan melakukan tindakan yang pada kondisi
normal akan kita nilai sebagai tindakan yang
berlebihan. So, marilh kita ikuti kelanjutan cerita ini dengan jernih
From: azhari musa <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 5 Jun 2008 12:40:08 -0700 (PDT)
Sangat memprihatinkan, saudara-saudara kita
se-iman di Tanah Air sedang dihadapi konflik
yang bisa menyulut pergelutan antar sesama ummat
Islam, dan lagi-lagi yang jadi korban adalah
akar rumput=Muslimin=rakyat. Sedang pucuk2
Pimpinan mereka  dengan hidden agendanya hanya
dengan modal cuap-cuap di hadapan Media dapat
meraup aliran dana yang tidak sedikit.
FPI (Front Pembela Islam) siapa yang membela FPI???
Tak perlu komentar panjang lebar deh, silakan
saja antum baca dua topic yang saya cuplik dari
eramuslim.com rubrik Ust. Mejawab, Mohon maaf
bagi yang telah membaca tapi untuk mengingatkan kembali taka pa deh
Allahuma arinal-haqqo haqqo,
warzuqnat-tibaaâah wa arinal-baathila baathila warzuqnaj tinaabah.
Apa yang anda lihat tentang 'aksi-aksi anarkis'
Front Pembela Islam (FPI) di media, tidak pernah
lepas dari penilaian subjektif dan objektif
media itu sendiri. Kalau kesannya aksi-aksi itu
anarkis, memang liputanya memang dibuat
sedemikian rupa, setidaknya kesan anarkis itu
memang diekspose, entah tujuannya untuk
memojokkan posisi FPI, atau untuk menggambarkan
betapa umat Islam itu anarkis atau memang
sekedar kerjaan insan media yang haus sensasi.
Yang terakhir itu dimungkinkan karena
karekteristik media, terutama televisi memang
butuh liputan dan gambar yang sensasional.
Gambar-gambar yang menampilkan proses awal di
mana para anggota FPI sedang melakukan negosiasi
kepada para pemilik tempat hiburan yang secara
hukum memang melanggar peraturan resmi, nyaris tidak menarik untuk ditampilkan.
Tetapi ketika pihak pengelola tempat hiburan
melakukan pelemparan dan provokasi, lalu FPI
mempertahankan diri atau balas menyerang, secara
gambar memang merupakan momen yang cukup
menarik. Gambar para aktifis merusak tempat
hiburan itulah yang dinaikkan di layar kaca.
Karena secara visual, gambar itu lebih menarik
ketimbang gambar orang sedang diskusi yang
terlihat hanya pasif dan itu-itu saja.
Namun tidak tertutup kemungkinan ada unsur
kesengajaan dalam penayangan gambar anarkisme
yang terjadi. Sangat dimungkinkan bahwa pihak
media dimanfaatkan oleh para cukong pemilik
tempat hiburan yang bergelimang dengan harta itu
untuk menampilkan kesan seolah-olah FPI itu
tidak lebih dari segerombolan orang yang bertindak anarkis.
 Tidak pernah diulas kenapa sampai terjadi
tindakan itu. Media seolah-olah bagai macan
ompong ketika harus bicara tentang para
pengusaha tempat hiburan yang melanggar Perda
dan perundangan. Yang dimunculkan selalu kesan
bahwa FPI adalah pelaku tindak anarki. Namun
pengusaha tempat maksiat yang jelas-jelas
melanggar hukum negara dan sekaligus hukum
agama, sama sekali tidak pernah diungkap
Mengapa tidak pernah diungkap?
Karena para cukong itu punya uang tak terhingga
jumlahnya untuk bisa membuat para wartawan,
jurnalis bahkan pemred media sekalipun untuk
duduk manis dan tenang, tidak mengorek kesalahan
para pengusaha maksiat. Sebaliknya, uang juga
bisa membuat mereka lebih fasih untuk mengatakan
bahwa biang keroknya adalah FPI.
Â
Â
At 07:29 04/06/2008, Mansyur Alkatiri wrote:
Apapun alasannya, tindakan kekerasan yang dilakukan
oleh KLI atau FPI di Monas harus dikecam dan diproses
secara hukum. Disinilah wibawa pemerintah dipertaruhkan.
Tapi, yang menarik lagi, kampanye untuk "menyudutkan"
FPI ini juga disertai oleh FITNAH TELANJANG oleh media
massa, khususnya KORAN TEMPO. Surat kabar yang
dimiliki oleh Gunawan Muhammad, salah satu tokoh
dibalik AKK-BB, ini memajang foto sangat besar sebagai
headline korannya, yang menampakkan MUNARMAN,
komandan KLI, sedang mencekik seseorang.
Dalam keterangan foto itu ditulis bahwa MUNARMAN
sedang mencekik seorang peserta aksi AKK-BB. Padahal,
yang sedang dicekik Munarman adalah anggota KLI/FPI
sendiri, jadi anggotanya sendiri! Menurut Munarman, ia
kesal dengan anggotanya itu karena melanggar larangan-
nya untuk tidak berbuat anarkis!
Sulit masuk dalam akal saya bila koran sekredibel KORAN
TEMPO sampai melakukan KESALAHAN TOLOL seperti
itu! Tapi, apakah itu juga fitnah yang disengaja terhadap
Munarman?
Singkatnya, Koran Tempo telah melakukan "kesalahan
tolol" yang sangat mendasar dalam jurnalistik, atau telah
melakukan fitnah secara sengaja?
Hanya pimpinan Koran Tempo yang bisa menjawab!
Mansyur