Tentu setiap negara/bangsa mempunyai keunggulan dan kelebihan masing2,
termasuk AS dlm beberapa aspek kehidupan.

Akan tetapi adakah yg bisa membantah bahwa berbagai kebijakan AS,
khususnya luar negeri (timur tengah/islam) sangat ditentukan oleh lobby
yahudi di AS, siapapun presidennya.

Belum lama ini, demi utk mendapatkan dukungan dari lobby Yahudi AS,
Barack Obama merasa perlu utk mendatangi mereka dan dg meyakinkan
berjanji bahwa kota Jerusalem merupakan kota yg tak bisa dibelah dan
merupkan bagian utuh dari negera/bangsa Israel, - yg oleh pemerintah2an
AS sblmnya saja (termausk Bush) tak pernah sampai seterang2 ini.

  ----- Original Message -----
  From: "Bambang Winarto"
  To: [email protected]
  Subject: [indonesia] Re: Catatan Moderator :Re: [Fwd:Tulisan Victor
  Silaen di Sinar Harapan] - Pasca Monas
  Date: Wed, 11 Jun 2008 10:48:24 +0700

  Dua tahun yang lalu saya pernah meng kritik seorang teman seangkatan
  yang mem promosikan kuliah di Amerika sebagai tempat pendidikan yang
  baik bagi anak anak kita. Saya meng kritik karena pertimbangan usia
  kuliah adalah masa yang paling pas untuk pemupukan paham kebangsaan
  bagi anak2 kita, seolah saya mengatakan bahwa disana anak kita akan
  menjadi bangsa lain. Saya kaget karena beberapa teman lain (bukan
  yang saya kritik itu) meng kritik balik saya dan menjelaskan
  bagaimana bagusnya system pendidikan dan kemasyarakatan
  disana...........Saya segera sadar bahwa saya telah menjadi sempit
  pandang.
  Belakangan teman yang saya kritik itu menjadi salah satu Direktur di
  PLN.
  Mudah2an pengalaman ini menjadi sharing pendapat yang bermanfaat bagi
  teman2 disini.
  PS : Sekalipun rasialisme masih cukup terasa di Amerika, tetapi yang
  saya dengar konstitusi mereka sangat bagus. Itu yang menjadi dasar
  optimisme sebagian kalangan untuk Barack Obama bisa menjadi Presiden.

  Salam,BW

  Nursalim Hadi wrote:


    > Amerika pun yang gembar gembor dengan kebebasan, keterbukaan
    dan demokrasi sebenarnya omong >kosong. Warga Amerika yang
    menyebarkan siaran Al-Manar dari Hezbollah dihukum. Al-Jazera
    juga >dilarang, Presiden Ahmadinejat juga dihalang-halangi
    berbicara ilmiah di Universitas di Amerika. Kasus >Monas dibilang
    pelanggaran HAM, lalu bagaimana dengan pembunuhan di Iraq,
    Afghanistan dll.

    Mas... mungkin ada sedikit usulan kalau Anda jangan menganggap 
    Amerika itu "satu suara", atau lebih umumnua, sebuah bangsa atau
    sebuah negara itu punya 1 suara. Anda ngga bisa menganggap adanya
    satu pendapat di Amerika lalu menganggap semua orang di Amerika
    atau semua anggota Senat atau semua anggota Congress atau semua
    anggota Supreme Court setuju dengan pendapat itu. Rakyat disana
    berani berpendapat berbeda dan menyuarakan perbedaan pendapat!
    Kalau ada pihak-pihak di Amerika yang menghalang-halangi
    Ahmadineyat bukan berarti "Amerika" itu omong kosong dalam soal
    demokrasi, berapa banyak silang pendapat dan berapa banyak
    diskusi politik soal kedatangan Ahmadineyat ini, toh akhirnya
    beliau nampil dan diterima dengan baik oleh sang pengundang?
    Berapa juta rakyat di Amerika melihat siaran ini... pro cons
    tentu saja ada, ya jangan diambil yang cons aja donk dan yang pro
    kagak dilihat! Mungkin Anda perlu mengkaji sejarah atau politik
    soal "Amerika" atau setidaknya memperhatikan perpolitikan di
    "Amerika" sebelum kasih pendapat yang superlatif begitu soal
    Amerika atau sebuah negara secara umum... Soal Monas, walau saya
    ngga melihat langsung... kalau orang mukul orang lain itu bukan
    pelanggaran HAM ya? Siapapun yang secara fisik menyerang duluan,
    dia yang salah. Kalau ini ngga dianggap salah wah saya jadi
    bingung juga dengan jalan pikiran yang dibolak-balik seperti
    ini.... pantesan di Indonesia banyak kekerasan, wong kekerasan
    itu diperbolehkan dengan segala macam alasan oleh sebagian orang
    :( "ELu kalo nyindir gw, gw gebuk lo!" Bullying dari kecil sampe
    tuwa! sedih dan cape deh...





    On Tue, Jun 10, 2008 at 10:43 AM, ghozali . <[EMAIL PROTECTED]>
    wrote:


      Amerika pun yang gembar gembor dengan kebebasan, keterbukaan
      dan demokrasi sebenarnya omong kosong. Warga Amerika yang
      menyebarkan siaran Al-Manar dari Hezbollah dihukum. Al-Jazera
      juga dilarang, Presiden Ahmadinejat juga dihalang-halangi
      berbicara ilmiah di Universitas di Amerika. Kasus Monas
      dibilang pelanggaran HAM, lalu bagaimana dengan pembunuhan di
      Iraq, Afghanistan dll.

      Kebudayaan Islam sudah maju saat kebudayaan Barat (Eropa)
      masih primitip. Islam menjadi maju saat itu karena
      pemimpinnya melaksanakan ajaran alquran tanpa reserve. Islam
      tidak pernah anti dengan ilmu pengetahuan. Dalam kasus Turki,
      yang salah bukan ajaran Islamnya tetapi pemimpinnya yang
      korup , mengaku Islam tetapi tidak mendasarkan kepada Al
      quran dan hadist. Terhalangnya Turki menjadi anggota Uni
      Eropa karena ketakutan negara Eropa pada Turki yang Islam dan
      maju secara militer dan teknologi.

      Itulah sebabnya "Barat" selalu menghalang-halangi umat Islam
      untuk menjalankan kegiatannya berdasarkan Al Quran secara
      murni sesuai dengan tuntunan Nabi Muhamad SAW karena takut
      menjadi maju dan mengancam hegemoninya. Saatnya kita
      menyadari bahwa Amerika dan ante-anteknya adalah musuh.
      Ekonomi kita diacak-acak , begitu juga militer dengan embargo
      dan isu-isu negatip tentang HAM. Dengan menganggap Amerika
      sebagai musuh maka apa yang baik menurut Amerika adalah buruk
      buat kita dan sebaliknya. Selama ini kita menjadi lemah
      karena merasa tidak punya musuh sehingga santai saja.

      Amerika dan Eropa serta antek-anteknya tidak mau menerima
      Negara dengan mayoritas Islam memiliki teknologi tinggi,
      sehingga Iran dengan kemampuan Nuklirnya selalu
      "diobok-obok". Begitu juga niat Indonesia untuk menguasai
      ilmu dirgantara dan Nuklir selalu di halang-halangi. Tanpa
      sadar di masa lalu kita ikut menghujat IPTN hingga akhirnya
      IPTN mengalami kemunduran dan mengurangi kemampuan TNI
      angkatan udara. Pengembangan PLTN juga selalu di
      halang-halangi dengan isu-isu negatip.

      Sudah jelas Tempo memutarbalikkan fakta , melakukan fitnah,
      sehingga tulisan-tulisan tempo perlu kita baca dengan teliti
      tanpa emosi karena tendenius dan bisa menyesatkan. Alumni
      elektro jangan cuma bisa elektro saja karena akhirnya cuma
      jadi budak-budak. 


      --- On Tue, 6/10/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
      wrote:

        From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
        Subject: [indonesia] Re: Catatan Moderator :Re:
        [Fwd:Tulisan Victor Silaen di Sinar Harapan] - Pasca
        Monas
        To: [email protected]
        Cc: [email protected]
        Date: Tuesday, June 10, 2008, 8:33 PM

        Salah satu fondasi mengapa Barat sekarang lebih maju secara teknologi
        adalah karena mengembangkan budaya keterbukaan, seperti freedom of
        expression dsb. Dalam suasana itulah berbagai ide baru yang pada awalnya
        oleh mainstream dianggap "sesat" dapat tumbuh dan berkembang menjadi
        "mainstream" yang baru sebelum digantikan yang lebih baru lagi. Dalam
        teori filsafat hal ini sering disebut sebagai teori dialetika. Jika ada
        tesa selalu akan muncul reaksi anti tesa dan melalui dialog diantara
        keduanya akan muncul sintesa.
        Saya ingat pengalaman berkunjung ke Turki, mengunjungi peninggalan 
Sultan
        Mehmet II, penguasa di zaman keemasan kesultanan Ottoman yang sempat
        menjadi super power dunia saat itu, menguasai asia dan sebagian Eropa 
dan
        hanya tertahan di gerbang kota Wina.
        Menurut cerita teman Turki saya, saat itu Sultan mempunyai dua penasehat
        agama yang bertengkar karena yang satu konservatif dan yang lainnya
        liberal. Pertengkaran mereka adalah soal menafsirkan Islam. Yang liberal
        mengatakan Al Quran harus selalu diinterpretasi ulang sesuai kemajuan
        zaman sedangkan yang konservatif menentang hal itu dengan alasan Ottoman
        menjadi paling maju karena mengikuti kitab suci apa adanya. Rupanya yang
        konservatif menang dan yang liberal tersingkirkan. Akibatnya begitu
        penemuan mesin cetak oleh Guttenberg mulai merebak langsung diharamkan
        oleh penguasa Turki sementara di Eropa justru membuat monopoli agamawan
        dalam penerbitan buku terbongkar oleh para satrawan dan ilmuwan yang
        bergabung dengan pengusaha penerbitan baru untuk menyebarluaskan temuan
        dan gagasan mereka ke khalayak luas. Sebaliknya Turki semakin 
konservatif,
        Madrasah yang semula juga mengajarkan science dilarang dan hanya boleh
        mengajarkan Al Qur'an. Observatori paling modern di dunia saat itu 
dibakar
        karena dianggap menerbitkan ajaran sesat. Itulah awal kemunduran Turki 
dan
        awal kemajuan teknologi Barat. Ironis. Barat keluar dari zaman gelap dan
        menjalani rennaissance (pencerahan) dengan belajar dari dunia Islam saat
        dunia Islam malah masuk era kegelapan. Indonesia harus belajar dari
        pengalaman Turki. Mari kembangkan budaya terbuka. Toleran pada pikiran
        yang berbeda. Mengembangkan dialog untuk memunculkan sintesa. 
Menyuburkan
        lahan untuk tesa baru dan memupuknya dengan anti tesa yang baru pula.
        Dorongan untuk menerbitkan SKB yang melarang "ajaran sesat" kalau
        dibiarkan akan membuat Indonesia masuk ke alam kegelapan. Mari bangun
        Indonesia yang terbuka, toleran dan technology friendly.
        
        bhm
        
        
        
        > At 18:15 10/06/2008, Adi Indrayanto wrote:
        >>Ooo ... jadi targetnya rame2 di milis itu keluar SKB 3 Menteri itu ya
        >>mas ;-)  Jadi sudah tercapai ya targetnya ...
        >
        > SKB 3 Menteri itu sarananya...ibarat seperti keputusan Pengadilan :-D
        > sehingga perasaan tegang sekarang telah menjadi lebih relax :-)
        >
        > Salam,
        > Zaenal
        >
        >
        >
        >>salam,
        >>
        >>-ai-
        >>
        >>
        >>On Tue, Jun 10, 2008 at 5:54 PM, Achmad Zaenal Abidin
        >><        [EMAIL PROTECTED]        > wrote:
        >> > Temans,
        >> >
        >> > Setelah ancaman bentrokan horizontal antar
        >> ummat Islam reda dengan keluarnya
        >> > SKB 3 Menteri, maka tolong posting
        >> > tentang kelanjutan dan atau opini yang berkembang setelah SKB 3
        >> Menteri
        >> > tidak usah di posting di milist Indonesia.
        >> > Jadi untuk posting ini mohon tidak usah ditanggapi, apalagi kita
        tidak
        >> tahu
        >> > latar belakang/trendensi politik penulisnya apa.
        >> >
        >> > Untuk selanjutnya kita focus kembali ke missi
        >> awal bagaimana Indonesia lebih
        >> > banyak mandiri dalam produk dan teknologi supaya lebih maju.
        >> >
        >> > Salam,
        >> > Zaenal
        >> >
        >> > At 17:18 10/06/2008, YADI supriadi wendy wrote:
        >> >
        >> > fyi.............
        >> >
        >> >
        >> > Telah dimuat pada Harian Sinar Harapan, 9 Juni 2008
        >> >
        >> >
        >> >
        >> > Rizieq, Munarman, dan Negara Kalah
        >> >
        >> > Oleh Victor Silaen
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Pascainsiden Monas, Minggu siang 1 Juni lalu, Presiden
        Yudhoyono
        >> > mengecam aksi kekerasan dan pelaku kekerasan
        >> yang membuat jatuhnya korban di
        >> > negara berlandaskan hukum ini. Karena itu, Presiden minta hukum
        >> ditegakkan
        >> > dengan memberi sanksi secara tepat. "Negara tidak boleh
        kalah dengan
        >> > perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku
        untuk
        >> > kepentingan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya dalam jumpa
        pers di
        >> Kantor
        >> > Presiden (2/6/2008). Untuk itu Yudhoyono juga meminta agar dicari
        >> solusi
        >> > damai dengan mengedepankan aturan hukum dan bukan dengan aksi
        >> kekerasan.
        >> > Presiden juga minta pihak kepolisian meningkatkan kinerja agar
        lebih
        >> siap,
        >> > cepat dan profesional.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Sementara itu, Menteri Koordinasi
        >> Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS
        >> > dalam jumpa pers usai rapat koordinasi yang dipimpin Presiden
        >> mengatakan,
        >> > pemerintah akan mengambil langkah tegas terhadap siapa pun dan
        >> organisasi
        >> > kemasyarakatan mana pun yang dinilai terlibat dan bertanggung
        jawab
        >> atas
        >> > kejadian itu. Terkait kemungkinan pembubaran ormas, pemerintah
        >> beranggapan,
        >> > langkah pembubaran hanya bisa dilakukan lewat proses pengkajian
        secara
        >> > hukum. "Saya kira terkait konteks pembubaran
        >> ormas seperti itu akan terlebih
        >> > dahulu dilakukan dengan melakukan pengkajian oleh Departemen
        Dalam
        >> Negeri,
        >> > terutama sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Ormas. Namun
        dipastikan
        >> tetap
        >> > akan ada langkah hukum tegas bagi siapa pun pelakunya," ujar
        Widodo.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Seakan meresponi pernyataan pihak
        >> pemerintah, Ketua Mahkamah Konstitusi
        >> > Jimly Asshiddiqie meminta agar pemerintah bertindak tegas dan
        >> menunjukkan
        >> > bahwa negara mampu melindungi setiap warga
        >> negaranya. Jimly mengaku prihatin
        >> > dengan penyerangan oleh massa, yang sebagian mengenakan atribut
        Front
        >> > Pembela Islam (FPI), terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk
        >> Kebebasan
        >> > Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Akan halnya Ketua Badan
        Pengurus
        >> Setara
        >> > Institute Hendardi mengatakan, Presiden Yudhoyono harus bisa
        >> membuktikan
        >> > pernyataannya bahwa negara tidak boleh kalah dengan perilaku
        >> kekerasan.
        >> > Sebab, pernyataan itu sudah beberapa kali disampaikan, tetapi
        >> kekerasan
        >> > seperti yang terjadi di Monas Minggu siang itu berulang kali
        terjadi.
        >> > "Jangan sampai pernyataan Presiden menjadi rutinitas tanpa
        substansi,"
        >> > katanya.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Sore harinya, saya menyaksikan wawancara langsung antara
        TVOne
        >> dengan
        >> > Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI) dan Maman Imanulhaq, anggota
        >> Dewan
        >> > Syuro Partai Kebangkitan Bangsa dan pengasuh Pondok Pesantren Al
        >> Mizan,
        >> > Cirebon, Jawa Barat. Maman adalah salah seorang korban
        penyerangan
        >> massa
        >> > beratribut FPI di Monas Minggu siang yang naas itu. Sore itu,
        Rizieq
        >> yang
        >> > berada di kantor pusat FPI di bilangan Petamburan, Jakarta,
        nyerocos
        >> terus
        >> > dan nampak sangat garang (sementara Maman yang berada di sebuah
        tempat
        >> yang
        >> > dijadikan studio TVOne nampak berupaya menahan diri).
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >     Namun, bukan itu yang patut dipersoalkan. Melainkan,
        ucapan-ucapan
        >> > Rizieq yang sangat melukai hati kita sebagai warga negara
        Indonesia.
        >> Saat
        >> > itu Rizieq, antara lain, mengatakan: "Gus Dur itu tahu apa?
        Dia kan
        >> buta...
        >> > buta matanya, buta hatinya." Lalu, di bagian lain dia juga
        berkata:
        >> > "Jangankan satu Gus Dur, satu juta Gus Dur pun akan saya
        hadapi."
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Bukankah ucapan Rizieq tersebut jelas-jelas sudah melecehkan
        Gus
        >> Dur?
        >> > Relakah kita melihat seorang mantan presiden dilecehkan seperti
        itu?
        >> Bahkan
        >> > (almarhum) Soeharto pun, yang diduga kuat sebagai koruptor dan
        >> dianggap
        >> > sebagai salah satu penyebab kebangkrutan Indonesia, tidak pernah
        >> dilecehkan
        >> > seperti itu setelah ia mengundurkan diri dari
        >> jabatannya sebagai presiden 21
        >> > Mei 1998. Kemungkinannya, pertama, karena negara memang
        berkewajiban
        >> > melindungi setiap mantan presiden. Kedua, inilah yang patut kita
        >> syukuri,
        >> > karena tidak seorang pun yang menyikapi Soeharto secara tidak
        santun.
        >> > Memang, jutaan orang tak pernah henti
        >> mengkritiknya, namun tak satu pun yang
        >> > melecehkannya  seperti Rizieq melecehkan mantan presiden Gus Dur.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Sementara Munarman, dalam tayangan di stasiun televisi
        swasta
        >> MetroTV
        >> > pascainsiden Monas, antara lain mengatakan: "Kalau dalam
        satu dua hari
        >> ini
        >> > Keppres untuk pembubaran Ahmadiyah sudah dikeluarkan, saya akan
        >> menyerahkan
        >> > diri. Silakan tangkap saya, Munarman, sarjana hukum." Apa
        yang dapat
        >> kita
        >> > komentari dari ucapan Munarman itu? Pertama, Munarman telah
        >> memosisikan
        >> > negara sebagai pihak yang harus mengikuti
        >> keinginannya. Tentu saja ia salah,
        >> > karena negara -- yang dalam konteks ini diwakili oleh pemerintah
        ­
        >> hanya
        >> > boleh mengeluarkan atau tidak mengeluarkan sebuah keputusan
        >> berdasarkan
        >> > pertimbangan-pertimbangan konstitusional dan rasional, dan bukan
        >> karena
        >> > desakan pihak-pihak tertentu.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Kedua, Munarman juga salah, karena secara tidak langsung ia
        >> hendak
        >> > mengatakan bahwa aksinya di Monas dapat "dimaklumi"
        karena Ahmadiyah
        >> belum
        >> > dibubarkan oleh pemerintah. Bagi dia, Ahmadiyah itu
        "sesat", sehingga
        >> > organisasi keumatannya tidak boleh dibiarkan hidup di Indonesia.
        >> Karena
        >> > pemerintah belum juga membubarkan Ahmadiyah hingga Insiden Monas
        itu,
        >> maka
        >> > dialah selaku Panglima Komando Laskar Islam
        >> yang akan bertindak. Inilah yang
        >> > patut disesalkan. Sebagai seorang mantan
        >> ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
        >> > Indonesia, mestinya Munarman paham bahwa aksinya di Monas 1 Juni
        itu
        >> > merupakan tindak pidana. Dan tindak pidana tetaplah sebuah
        kesalahan,
        >> meski
        >> > di balik itu ia memiliki alasan atau motif tertentu.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Ketiga, mestinya Munarman juga paham bahwa pemerintah secara
        >> > konstitusional tidaklah dibenarkan untuk
        >> mengintervensi domain keagamaan dan
        >> > keberagamaan umat manapun di negara republik dan negara hukum
        ini. Itu
        >> > sebabnya, pihak-pihak yang mendesak agar pemerintah segera
        >> mengeluarkan SKB
        >> > tentang Ahmadiyah sebenarnya secara tidak langsung berkeinginan
        >> > menjerumuskan negara ke jurang pelanggaran konstitusional.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Berdasarkan itulah maka Presiden Yudhoyono bersama para
        >> pembantunya di
        >> > kabinet serta aparat hukum dan keamanannya harus bersikap dan
        >> bertindak
        >> > tegas terhadap FPI sebagai institusi, juga terhadap Rizieq dan
        >> Munarman
        >> > sebagai warga negara. Jika Yudhoyono mengatakan negara tidak
        boleh
        >> kalah,
        >> > itu berarti wibawa pemerintah harus ditegakkan. Para mantan
        presiden,
        >> > seperti halnya (amarhum) mantan presiden Soeharto, harus
        dilindungi
        >> dan
        >> > dijaga kehormatannya. Karena itulah maka orang-orang yang
        bersalah
        >> dalam
        >> > Insiden Monas harus dihukum, termasuk juga yang telah melecehkan
        >> mantan
        >> > presiden Gus Dur.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Presiden Yudhoyono juga perlu memperhatikan bahwa pelbagai
        >> liputan
        >> > media elektronik hari-hari ini secara gamblang memperlihatkan
        bahwa
        >> jutaan
        >> > rakyat Indonesia berada di kubu yang sama dengan Jimly
        Asshiddiqie dan
        >> > Hendardi. Bahwa kita semua membutuhkan bukti dan bukan sekadar
        janji
        >> maupun
        >> > pernyataan tanpa tindak-lanjut yang konkret. Untuk itulah ke
        depan
        >> Presiden
        >> > Yudhoyono harus terus memantau tindak lanjut penuntasan Insiden
        Monas
        >> ini.
        >> > Indonesia adalah negara hukum, itu sebabnya negara harus
        menegakkan
        >> semua
        >> > peraturan yang berlaku secara konsisten. Jika tidak, kita patut
        >> meragukan
        >> > kalau-kalau para pemimpin negara ini cenderung mendukung
        pelanggaran
        >> hukum
        >> > seperti halnya FPI.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >      Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang tidak
        >> berdaya
        >> > ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok massa berlabel agama
        yang
        >> telah
        >> > berulangkali membuat negeri ini seakan
        >> wilayah yang hampa-hukum (lawlessness
        >> > situation). Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang
        >> tidak
        >> > mampu menghalau rasa cemas masyarakat di saat kelompok-kelompok
        massa
        >> > berlabel agama itu beraksi. Kita tidak ingin
        >> Indonesia menjadi negara kalah,
        >> > yang tidak mampu melaksanakan fungsinya melindungi dan memberi
        rasa
        >> aman
        >> > kepada masyarakat.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> > * Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol.
        >> >
        >> >
        >> >
        >> >
        >> > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi,
        >> terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
        >> > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia
        dan
        >> > akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better :
        >> >         http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt  
      >>
        >>--
        >>Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
        serta
        >>kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
        >> akhirat.
        >>
        >>Info pengelolaan milis Indonesia next better :
        >>        http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt     
   >
        >
        > --
        > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi 
serta
        > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
        > akhirat.
        >
        > Info pengelolaan milis Indonesia next better :
        >         http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt     
   >
        
        
        
        --
        Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi 
serta
        kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan 
akhirat.
        
        Info pengelolaan milis Indonesia next better :        
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt      



  -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
  ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi
  kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next
  better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

-- 
See Exclusive Videos: 10th Annual Young Hollywood Awards
http://www.hollywoodlife.net/younghollywoodawards2008/

Kirim email ke