Bagaimanapun buruknya Amerika Serikat... Saya tetap mendukung Jerman menjadi pemenang Euro 2008, walau agak kecewa ketika Italia dikalahkan oleh Belanda :(
Heil Deutschland!! **gak nyambung ya?? jadi ketularan Pak Bos Tribas :p** Reiza ----- Original Message ---- From: Nursalim Hadi <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, June 10, 2008 10:28:27 PM Subject: [indonesia] Re: Catatan Moderator :Re: [Fwd:Tulisan Victor Silaen di Sinar Harapan] - Pasca Monas > Amerika pun yang gembar gembor dengan kebebasan, keterbukaan dan demokrasi sebenarnya omong >kosong. Warga Amerika yang menyebarkan siaran Al-Manar dari Hezbollah dihukum. Al-Jazera juga >dilarang, Presiden Ahmadinejat juga dihalang-halangi berbicara ilmiah di Universitas di Amerika. Kasus >Monas dibilang pelanggaran HAM, lalu bagaimana dengan pembunuhan di Iraq, Afghanistan dll. Mas... mungkin ada sedikit usulan kalau Anda jangan menganggap Amerika itu "satu suara", atau lebih umumnua, sebuah bangsa atau sebuah negara itu punya 1 suara. Anda ngga bisa menganggap adanya satu pendapat di Amerika lalu menganggap semua orang di Amerika atau semua anggota Senat atau semua anggota Congress atau semua anggota Supreme Court setuju dengan pendapat itu. Rakyat disana berani berpendapat berbeda dan menyuarakan perbedaan pendapat! Kalau ada pihak-pihak di Amerika yang menghalang-halangi Ahmadineyat bukan berarti "Amerika" itu omong kosong dalam soal demokrasi, berapa banyak silang pendapat dan berapa banyak diskusi politik soal kedatangan Ahmadineyat ini, toh akhirnya beliau nampil dan diterima dengan baik oleh sang pengundang? Berapa juta rakyat di Amerika melihat siaran ini... pro cons tentu saja ada, ya jangan diambil yang cons aja donk dan yang pro kagak dilihat! Mungkin Anda perlu mengkaji sejarah atau politik soal "Amerika" atau setidaknya memperhatikan perpolitikan di "Amerika" sebelum kasih pendapat yang superlatif begitu soal Amerika atau sebuah negara secara umum... Soal Monas, walau saya ngga melihat langsung... kalau orang mukul orang lain itu bukan pelanggaran HAM ya? Siapapun yang secara fisik menyerang duluan, dia yang salah. Kalau ini ngga dianggap salah wah saya jadi bingung juga dengan jalan pikiran yang dibolak-balik seperti ini.... pantesan di Indonesia banyak kekerasan, wong kekerasan itu diperbolehkan dengan segala macam alasan oleh sebagian orang :( "ELu kalo nyindir gw, gw gebuk lo!" Bullying dari kecil sampe tuwa! sedih dan cape deh... On Tue, Jun 10, 2008 at 10:43 AM, ghozali . <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Amerika pun yang gembar gembor dengan kebebasan, keterbukaan dan demokrasi sebenarnya omong kosong. Warga Amerika yang menyebarkan siaran Al-Manar dari Hezbollah dihukum. Al-Jazera juga dilarang, Presiden Ahmadinejat juga dihalang-halangi berbicara ilmiah di Universitas di Amerika. Kasus Monas dibilang pelanggaran HAM, lalu bagaimana dengan pembunuhan di Iraq, Afghanistan dll. Kebudayaan Islam sudah maju saat kebudayaan Barat (Eropa) masih primitip. Islam menjadi maju saat itu karena pemimpinnya melaksanakan ajaran alquran tanpa reserve. Islam tidak pernah anti dengan ilmu pengetahuan. Dalam kasus Turki, yang salah bukan ajaran Islamnya tetapi pemimpinnya yang korup , mengaku Islam tetapi tidak mendasarkan kepada Al quran dan hadist. Terhalangnya Turki menjadi anggota Uni Eropa karena ketakutan negara Eropa pada Turki yang Islam dan maju secara militer dan teknologi. Itulah sebabnya "Barat" selalu menghalang-halangi umat Islam untuk menjalankan kegiatannya berdasarkan Al Quran secara murni sesuai dengan tuntunan Nabi Muhamad SAW karena takut menjadi maju dan mengancam hegemoninya. Saatnya kita menyadari bahwa Amerika dan ante-anteknya adalah musuh. Ekonomi kita diacak-acak , begitu juga militer dengan embargo dan isu-isu negatip tentang HAM. Dengan menganggap Amerika sebagai musuh maka apa yang baik menurut Amerika adalah buruk buat kita dan sebaliknya. Selama ini kita menjadi lemah karena merasa tidak punya musuh sehingga santai saja. Amerika dan Eropa serta antek-anteknya tidak mau menerima Negara dengan mayoritas Islam memiliki teknologi tinggi, sehingga Iran dengan kemampuan Nuklirnya selalu "diobok-obok". Begitu juga niat Indonesia untuk menguasai ilmu dirgantara dan Nuklir selalu di halang-halangi. Tanpa sadar di masa lalu kita ikut menghujat IPTN hingga akhirnya IPTN mengalami kemunduran dan mengurangi kemampuan TNI angkatan udara. Pengembangan PLTN juga selalu di halang-halangi dengan isu-isu negatip. Sudah jelas Tempo memutarbalikkan fakta , melakukan fitnah, sehingga tulisan-tulisan tempo perlu kita baca dengan teliti tanpa emosi karena tendenius dan bisa menyesatkan. Alumni elektro jangan cuma bisa elektro saja karena akhirnya cuma jadi budak-budak. --- On Tue, 6/10/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [indonesia] Re: Catatan Moderator :Re: [Fwd:Tulisan Victor Silaen di Sinar Harapan] - Pasca Monas To: [email protected] Cc: [email protected] Date: Tuesday, June 10, 2008, 8:33 PM Salah satu fondasi mengapa Barat sekarang lebih maju secara teknologi adalah karena mengembangkan budaya keterbukaan, seperti freedom of expression dsb. Dalam suasana itulah berbagai ide baru yang pada awalnya oleh mainstream dianggap "sesat" dapat tumbuh dan berkembang menjadi "mainstream" yang baru sebelum digantikan yang lebih baru lagi. Dalam teori filsafat hal ini sering disebut sebagai teori dialetika. Jika ada tesa selalu akan muncul reaksi anti tesa dan melalui dialog diantara keduanya akan muncul sintesa. Saya ingat pengalaman berkunjung ke Turki, mengunjungi peninggalan Sultan Mehmet II, penguasa di zaman keemasan kesultanan Ottoman yang sempat menjadi super power dunia saat itu, menguasai asia dan sebagian Eropa dan hanya tertahan di gerbang kota Wina. Menurut cerita teman Turki saya, saat itu Sultan mempunyai dua penasehat agama yang bertengkar karena yang satu konservatif dan yang lainnya liberal. Pertengkaran mereka adalah soal menafsirkan Islam. Yang liberal mengatakan Al Quran harus selalu diinterpretasi ulang sesuai kemajuan zaman sedangkan yang konservatif menentang hal itu dengan alasan Ottoman menjadi paling maju karena mengikuti kitab suci apa adanya. Rupanya yang konservatif menang dan yang liberal tersingkirkan. Akibatnya begitu penemuan mesin cetak oleh Guttenberg mulai merebak langsung diharamkan oleh penguasa Turki sementara di Eropa justru membuat monopoli agamawan dalam penerbitan buku terbongkar oleh para satrawan dan ilmuwan yang bergabung dengan pengusaha penerbitan baru untuk menyebarluaskan temuan dan gagasan mereka ke khalayak luas. Sebaliknya Turki semakin konservatif, Madrasah yang semula juga mengajarkan science dilarang dan hanya boleh mengajarkan Al Qur'an. Observatori paling modern di dunia saat itu dibakar karena dianggap menerbitkan ajaran sesat. Itulah awal kemunduran Turki dan awal kemajuan teknologi Barat. Ironis. Barat keluar dari zaman gelap dan menjalani rennaissance (pencerahan) dengan belajar dari dunia Islam saat dunia Islam malah masuk era kegelapan. Indonesia harus belajar dari pengalaman Turki. Mari kembangkan budaya terbuka. Toleran pada pikiran yang berbeda. Mengembangkan dialog untuk memunculkan sintesa. Menyuburkan lahan untuk tesa baru dan memupuknya dengan anti tesa yang baru pula. Dorongan untuk menerbitkan SKB yang melarang "ajaran sesat" kalau dibiarkan akan membuat Indonesia masuk ke alam kegelapan. Mari bangun Indonesia yang terbuka, toleran dan technology friendly. bhm > At 18:15 10/06/2008, Adi Indrayanto wrote: >>Ooo ... jadi targetnya rame2 di milis itu keluar SKB 3 Menteri itu ya >>mas ;-) Jadi sudah tercapai ya targetnya ... > > SKB 3 Menteri itu sarananya...ibarat seperti keputusan Pengadilan :-D > sehingga perasaan tegang sekarang telah menjadi lebih relax :-) > > Salam, > Zaenal > > > >>salam, >> >>-ai- >> >> >>On Tue, Jun 10, 2008 at 5:54 PM, Achmad Zaenal Abidin >><[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> > Temans, >> > >> > Setelah ancaman bentrokan horizontal antar >> ummat Islam reda dengan keluarnya >> > SKB 3 Menteri, maka tolong posting >> > tentang kelanjutan dan atau opini yang berkembang setelah SKB 3 >> Menteri >> > tidak usah di posting di milist Indonesia. >> > Jadi untuk posting ini mohon tidak usah ditanggapi, apalagi kita tidak >> tahu >> > latar belakang/trendensi politik penulisnya apa. >> > >> > Untuk selanjutnya kita focus kembali ke missi >> awal bagaimana Indonesia lebih >> > banyak mandiri dalam produk dan teknologi supaya lebih maju. >> > >> > Salam, >> > Zaenal >> > >> > At 17:18 10/06/2008, YADI supriadi wendy wrote: >> > >> > fyi............. >> > >> > >> > Telah dimuat pada Harian Sinar Harapan, 9 Juni 2008 >> > >> > >> > >> > Rizieq, Munarman, dan Negara Kalah >> > >> > Oleh Victor Silaen >> > >> > >> > >> > Pascainsiden Monas, Minggu siang 1 Juni lalu, Presiden Yudhoyono >> > mengecam aksi kekerasan dan pelaku kekerasan >> yang membuat jatuhnya korban di >> > negara berlandaskan hukum ini. Karena itu, Presiden minta hukum >> ditegakkan >> > dengan memberi sanksi secara tepat. "Negara tidak boleh kalah dengan >> > perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk >> > kepentingan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya dalam jumpa pers di >> Kantor >> > Presiden (2/6/2008). Untuk itu Yudhoyono juga meminta agar dicari >> solusi >> > damai dengan mengedepankan aturan hukum dan bukan dengan aksi >> kekerasan. >> > Presiden juga minta pihak kepolisian meningkatkan kinerja agar lebih >> siap, >> > cepat dan profesional. >> > >> > >> > >> > Sementara itu, Menteri Koordinasi >> Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS >> > dalam jumpa pers usai rapat koordinasi yang dipimpin Presiden >> mengatakan, >> > pemerintah akan mengambil langkah tegas terhadap siapa pun dan >> organisasi >> > kemasyarakatan mana pun yang dinilai terlibat dan bertanggung jawab >> atas >> > kejadian itu. Terkait kemungkinan pembubaran ormas, pemerintah >> beranggapan, >> > langkah pembubaran hanya bisa dilakukan lewat proses pengkajian secara >> > hukum. "Saya kira terkait konteks pembubaran >> ormas seperti itu akan terlebih >> > dahulu dilakukan dengan melakukan pengkajian oleh Departemen Dalam >> Negeri, >> > terutama sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Ormas. Namun dipastikan >> tetap >> > akan ada langkah hukum tegas bagi siapa pun pelakunya," ujar Widodo. >> > >> > >> > >> > Seakan meresponi pernyataan pihak >> pemerintah, Ketua Mahkamah Konstitusi >> > Jimly Asshiddiqie meminta agar pemerintah bertindak tegas dan >> menunjukkan >> > bahwa negara mampu melindungi setiap warga >> negaranya. Jimly mengaku prihatin >> > dengan penyerangan oleh massa, yang sebagian mengenakan atribut Front >> > Pembela Islam (FPI), terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk >> Kebebasan >> > Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Akan halnya Ketua Badan Pengurus >> Setara >> > Institute Hendardi mengatakan, Presiden Yudhoyono harus bisa >> membuktikan >> > pernyataannya bahwa negara tidak boleh kalah dengan perilaku >> kekerasan. >> > Sebab, pernyataan itu sudah beberapa kali disampaikan, tetapi >> kekerasan >> > seperti yang terjadi di Monas Minggu siang itu berulang kali terjadi. >> > "Jangan sampai pernyataan Presiden menjadi rutinitas tanpa substansi," >> > katanya. >> > >> > >> > >> > Sore harinya, saya menyaksikan wawancara langsung antara TVOne >> dengan >> > Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI) dan Maman Imanulhaq, anggota >> Dewan >> > Syuro Partai Kebangkitan Bangsa dan pengasuh Pondok Pesantren Al >> Mizan, >> > Cirebon, Jawa Barat. Maman adalah salah seorang korban penyerangan >> massa >> > beratribut FPI di Monas Minggu siang yang naas itu. Sore itu, Rizieq >> yang >> > berada di kantor pusat FPI di bilangan Petamburan, Jakarta, nyerocos >> terus >> > dan nampak sangat garang (sementara Maman yang berada di sebuah tempat >> yang >> > dijadikan studio TVOne nampak berupaya menahan diri). >> > >> > >> > >> > Namun, bukan itu yang patut dipersoalkan. Melainkan, ucapan-ucapan >> > Rizieq yang sangat melukai hati kita sebagai warga negara Indonesia. >> Saat >> > itu Rizieq, antara lain, mengatakan: "Gus Dur itu tahu apa? Dia kan >> buta... >> > buta matanya, buta hatinya." Lalu, di bagian lain dia juga berkata: >> > "Jangankan satu Gus Dur, satu juta Gus Dur pun akan saya hadapi." >> > >> > >> > >> > Bukankah ucapan Rizieq tersebut jelas-jelas sudah melecehkan Gus >> Dur? >> > Relakah kita melihat seorang mantan presiden dilecehkan seperti itu? >> Bahkan >> > (almarhum) Soeharto pun, yang diduga kuat sebagai koruptor dan >> dianggap >> > sebagai salah satu penyebab kebangkrutan Indonesia, tidak pernah >> dilecehkan >> > seperti itu setelah ia mengundurkan diri dari >> jabatannya sebagai presiden 21 >> > Mei 1998. Kemungkinannya, pertama, karena negara memang berkewajiban >> > melindungi setiap mantan presiden. Kedua, inilah yang patut kita >> syukuri, >> > karena tidak seorang pun yang menyikapi Soeharto secara tidak santun. >> > Memang, jutaan orang tak pernah henti >> mengkritiknya, namun tak satu pun yang >> > melecehkannya seperti Rizieq melecehkan mantan presiden Gus Dur. >> > >> > >> > >> > Sementara Munarman, dalam tayangan di stasiun televisi swasta >> MetroTV >> > pascainsiden Monas, antara lain mengatakan: "Kalau dalam satu dua hari >> ini >> > Keppres untuk pembubaran Ahmadiyah sudah dikeluarkan, saya akan >> menyerahkan >> > diri. Silakan tangkap saya, Munarman, sarjana hukum." Apa yang dapat >> kita >> > komentari dari ucapan Munarman itu? Pertama, Munarman telah >> memosisikan >> > negara sebagai pihak yang harus mengikuti >> keinginannya. Tentu saja ia salah, >> > karena negara -- yang dalam konteks ini diwakili oleh pemerintah >> hanya >> > boleh mengeluarkan atau tidak mengeluarkan sebuah keputusan >> berdasarkan >> > pertimbangan-pertimbangan konstitusional dan rasional, dan bukan >> karena >> > desakan pihak-pihak tertentu. >> > >> > >> > >> > Kedua, Munarman juga salah, karena secara tidak langsung ia >> hendak >> > mengatakan bahwa aksinya di Monas dapat "dimaklumi" karena Ahmadiyah >> belum >> > dibubarkan oleh pemerintah. Bagi dia, Ahmadiyah itu "sesat", sehingga >> > organisasi keumatannya tidak boleh dibiarkan hidup di Indonesia. >> Karena >> > pemerintah belum juga membubarkan Ahmadiyah hingga Insiden Monas itu, >> maka >> > dialah selaku Panglima Komando Laskar Islam >> yang akan bertindak. Inilah yang >> > patut disesalkan. Sebagai seorang mantan >> ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum >> > Indonesia, mestinya Munarman paham bahwa aksinya di Monas 1 Juni itu >> > merupakan tindak pidana. Dan tindak pidana tetaplah sebuah kesalahan, >> meski >> > di balik itu ia memiliki alasan atau motif tertentu. >> > >> > >> > >> > Ketiga, mestinya Munarman juga paham bahwa pemerintah secara >> > konstitusional tidaklah dibenarkan untuk >> mengintervensi domain keagamaan dan >> > keberagamaan umat manapun di negara republik dan negara hukum ini. Itu >> > sebabnya, pihak-pihak yang mendesak agar pemerintah segera >> mengeluarkan SKB >> > tentang Ahmadiyah sebenarnya secara tidak langsung berkeinginan >> > menjerumuskan negara ke jurang pelanggaran konstitusional. >> > >> > >> > >> > Berdasarkan itulah maka Presiden Yudhoyono bersama para >> pembantunya di >> > kabinet serta aparat hukum dan keamanannya harus bersikap dan >> bertindak >> > tegas terhadap FPI sebagai institusi, juga terhadap Rizieq dan >> Munarman >> > sebagai warga negara. Jika Yudhoyono mengatakan negara tidak boleh >> kalah, >> > itu berarti wibawa pemerintah harus ditegakkan. Para mantan presiden, >> > seperti halnya (amarhum) mantan presiden Soeharto, harus dilindungi >> dan >> > dijaga kehormatannya. Karena itulah maka orang-orang yang bersalah >> dalam >> > Insiden Monas harus dihukum, termasuk juga yang telah melecehkan >> mantan >> > presiden Gus Dur. >> > >> > >> > >> > Presiden Yudhoyono juga perlu memperhatikan bahwa pelbagai >> liputan >> > media elektronik hari-hari ini secara gamblang memperlihatkan bahwa >> jutaan >> > rakyat Indonesia berada di kubu yang sama dengan Jimly Asshiddiqie dan >> > Hendardi. Bahwa kita semua membutuhkan bukti dan bukan sekadar janji >> maupun >> > pernyataan tanpa tindak-lanjut yang konkret. Untuk itulah ke depan >> Presiden >> > Yudhoyono harus terus memantau tindak lanjut penuntasan Insiden Monas >> ini. >> > Indonesia adalah negara hukum, itu sebabnya negara harus menegakkan >> semua >> > peraturan yang berlaku secara konsisten. Jika tidak, kita patut >> meragukan >> > kalau-kalau para pemimpin negara ini cenderung mendukung pelanggaran >> hukum >> > seperti halnya FPI. >> > >> > >> > >> > Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang tidak >> berdaya >> > ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok massa berlabel agama yang >> telah >> > berulangkali membuat negeri ini seakan >> wilayah yang hampa-hukum (lawlessness >> > situation). Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang >> tidak >> > mampu menghalau rasa cemas masyarakat di saat kelompok-kelompok massa >> > berlabel agama itu beraksi. Kita tidak ingin >> Indonesia menjadi negara kalah, >> > yang tidak mampu melaksanakan fungsinya melindungi dan memberi rasa >> aman >> > kepada masyarakat. >> > >> > >> > >> > * Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol. >> > >> > >> > >> > >> > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, >> terapkan kaidah ilmu/teknologi serta >> > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan >> > akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : >> > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt >> >>-- >>Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta >>kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan >> akhirat. >> >>Info pengelolaan milis Indonesia next better : >>http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
