Maaf rekan2. Kita ini kok ribut melulu ya. Singkong salah, jarak keliru, jagung .......
Hemat saya, mari kita kuasai (paling tidak kita mengerti) teknologi-nya dulu, dari hulu ke hilir (dari cocok-tanam-nya, bikin, sampai distribusi). Setelah teknologi, kita kuasai aspek dagang-nya. Kalau sudah menguasai aspek teknologi dan aspek dagang, mari kita bikin. Jangan kita ribut/berdebat terus, nanti nggak jadi2 BBM alternatif made-in-Indonesia itu. Saya salut pendekatan kerja spt yang dilakukan Zainal ttg ROV dan tabung Elpiji itu lho. Langsung saja ....... Mohon maaf kalau salah kata ....... HS. > Tentang Biji Jarak saya mendapat informasi dari teman yang terjun ke > bidang ini: > > Pohon Jarak yang didengung2kan dapat tumbuh di lahan kritis, merupakan > informasi yang sedikit salah. Tanaman Jarak yang mempunyai hasil bagus > dengan jumlah biji per tandan banyak dan dapat dipetik/matang bersamaan > itu memerlukan budidaya, pemupukan dan pemeliharaan.... Jadi Tananam jarak > bila diharapkan untuk BBN akan memerlukan lahan yang bagus, bukan lahan > kritis... Lha kalo begini akan mempengaruhi dan menggusur lahan tanaman > pangan. > > Tanaman jarak yang hidup dilahan kritis, hasilnya juga "kritis" kalo akan > diharapkan sebagai industri yang menerus.... > > Salam, > Soejanto > > > > --- On Sun, 6/29/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [IndoEnergy] "Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat dari > Minyak Tanah > To: [EMAIL PROTECTED] > Cc: [email protected] > Date: Sunday, June 29, 2008, 10:48 PM > > > > > > > At 07:10 30/06/2008, Wisnu Martono wrote: > > > Hemat saya, justru kebalik pak. Justru para penikmat rente, yaitu penjual > bibit jarak ini, yang sejak awal selalu menyebarkan janji-janji manis > jarak pagar. Yang bisa menggantikan minyak tanahlah, solar lah, > mengentaskan kemiskinan lah. Tanpa didasari hitungan rasional. Sejak > sebelum adanya Timnas BBN, ketika orang mulai ribut soal jarak, saya sudah > bilang, ini program sim salabim. Dan gak akan jalan. Banyak yang mengira > saya sok tahu. > > Padahal, dari awal saya sudah membuat hitungan keekonomian, dan memang > tidak masuk. Kecuali mau dibeli dengan harga di atas Rp2000/kg. > Mas Wisnu menentukan harga Rp. 2000,-/kg itu dengan hitungan bagaimana ? > apakah harga Rp. 1.500,-/kg masih tidak menguntungkan petani ? padahal > bisa dengan tumpang sari ? > > > Ceteris paribus. Kalau kemudian harga minyak fosil naik, ya harus naik > lagi harga beli biji jarak ini. > > Kenapa? > > Kalau harga minyak naik, akan menyeret kenaikan harga lain. Kalau harga > beli biji jarak tidak dinaikkan, apa petani harus menjadi satu-satunya > pihak yang daya belinya dibuat turun? Bukankah misinya menaikkan > kesejahteraan petani? > > Ini yang kadang orang lupa. Berasumsi kalau harga minyak fosil sekian, > maka minyak jarak > menjadi feasibel karena murah. Murah, dengan menekan kesejahteraan petani > jarak. Alasannya, kalau harga bijinya segitu, lalu seberapa harga > minyaknya? Itu bukan urusan petani jarak. Mau minyaknya berharga berapa, > Mas Wisnu tidak bisa bicara begitu dong, karena harga solar subsidi masih > Rp. 5.500/liter. > Pertamina dengan harga jual Rp. 5.500,-/liter membeli/ongkos produksi > solarnya berapa per liter ? > Bagaimanapun pasar akan terbentuk jika ada kecocokan antara harga > demand/beli dengan harga supply/jual, kecuali memang tidak ingin potensi > jarak pagar yang non pangan berjalan dengan baik, yang sebagai > konsekwensinya Mas Wisnu harus kasih alternatif BBN jenis tanaman yang > mana supaya tidak tergantung minyak fosil yang naik terus ? > Atau nanti ketika minyak fosil naik lagi yang tinggi sekali baru program > jarak pagar berjalan ? :-( > > Salam, > Zaenal > > > petani jarak cuma tahu dia harus untung dengan bertanam jarak. Kalau > tidak, ya dia babati pohon jarak miliknya. Mendingan tanam singkong buat > dimakan. > > Makanya tidak jalan. Jadi, bukan karena pedagang yang minta harga tidak > normal pak. > > Salam, > > --- On Sun, 29/6/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote: > > > From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] co.id> > > Subject: Re: [IndoEnergy] "Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat dari > Minyak Tanah > > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > > Received: Sunday, 29 June, 2008, 4:23 PM > > > Mas Wisnu, > > > Kalau menurut pendapat saya, biang yang bikin tidak jalan adalah para > pedagang yang maunya jual biji jarak pagar 20rb sd 30rb/kg, padahal mesti > dibedakan antara biji untuk bibit dan biji untuk bahan baku BBN. > > > Gmana kalau dipatok saja untuk biji jarak pagar bahan baku BBN maupun > untuk bibit jarak pagar harganya Rp. 1.500/kg ? > > > Salam, > > Zaenal > > > > At 15:18 29/06/2008, Wisnu Martono wrote: > > > > Kang Rovick kok "nyontek" pendapat saya sih, he..he.... > > Memang benul, petani sering dianggap bagian tidak penting dari BBN. > Pokoknya asal perhitungannya diangga murah, ya sudah. > > > Saya sudah dari awal berteriak soal ini, untuk kasus BBN jarakpagar. > Bahkan sejak awal saya sudah berani meramal, program ambisius ini tidak > akan jalan karena melupakan faktor petani. Dari mulai tidak ada wakil > petani (beneran) dalam Timnas BBN, sampai ke perhitungannya yang > simpilisistis. Bulan depan resmi masa kerja Timnas BBN akan berakhir. > Selain membuat Peta Jalan apakah program andalan mereka, jarakpagar, > menunjukkan hasil yang memuaskan? > > > Padahal, core keberadaan Timnas BBN adalah jarakpagar. > > > > > > --- On Sun, 29/6/08, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED] com> > Subject: Re: [IndoEnergy] "Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat dari > Minyak Tanah > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > Received: Sunday, 29 June, 2008, 8:06 AM >> Dengan dasar pemikiran nomer 3, saya pikir juga ethanol yang dihasilkan >> akan >> lebih murah dari kerosene, walaupun nilai heating value hanya sekitar >> 75% >> jika dibandingkan kerosene. Untuk desain kompor seperti tukang gorengan, >> saya pikir ITS sudah mencobanya. > Yang perlu diperhatikan adalah "berapa harga beli ketela tersebut dari > petani ?" > Jangan sampe terjadi alih energi murah dengan memberikan harga murah > pada "energi sang petani". Pemberdayaan perlu dilakukan. Atau > pengembang industri ini sendiri yang memiliki kebun ketela khusus > untuk "kebun energi". > Btw, untuk beli lahan luaaas Ini ijinnya menteri pertanian, menteri > energi atau menteri perindustrian ? > :) > RDP > > > > > Get the name you always wanted with the new y7mail email address. > > > No virus found in this incoming message. > > Checked by AVG. > > Version: 7.5.526 / Virus Database: 270.4.3/1524 - Release Date: 28/06/2008 > 19:42 > > > Get the name you always wanted with the new y7mail email address. > > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG. > Version: 7.5.526 / Virus Database: 270.4.3/1524 - Release Date: 28/06/2008 > 19:42 > __._,_.___ > Messages in this topic (15) Reply (via web post) | Start a new topic > Messages | Database | Polls | Calendar > TAHUKAH ANDA: > - Geothermal hanya menyumbang 800MW listrik (2.5% kebutuhan listrik) dan > hanya 4% dari 20,000 MW of geothermal potential Indonesia ! > - Potensi geothermal Indonesia 40% dari Potensi geothermal dunia ! > > MARKETPLACE > > > > Special offer for Yahoo! Groups from Blockbuster! Get a free 1-month trial > with no late fees or due dates. > > Change settings via the Web (Yahoo! ID required) > Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format > to Traditional > Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe > > > > Recent Activity > > > 14 > New MembersVisit Your Group > > > Yahoo! Groups > Wellness Spot > A resource for Curves > and weight loss. > > Special K Group > on Yahoo! Groups > Learn how others > are losing pounds. > > Y! Groups blog > The place to go > to stay informed > on Groups news! > . > __,_._,___ > > > > > > > > > > > > > > > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
