Indera dan Rekans,

Pertamina beli berapa per liter untuk solar ? begitu juga untuk premium industri berapa per liter ? Kalau tujuan untuk mencapai mandiri energy mesti bandingannya dengan harga yang telah disubsidi kan ? kalau tidak, biodiesel mesti dibeli dulu oleh industri industri dikota kota besar? trus didistribusikan lagi ke daerah2 yang makan cost juga ? Sekarang saja kita punya kelebihan 2000 liter per hari masih belum ada yang beli :-(
Kalau ada yang mau beli bisa kita kasih harga 10.900/liter untuk industri.
Hayo siapa mau beli ? :-)

Salam,
Zaenal

At 12:01 30/06/2008, Sadikin, Indera wrote:
masa anda tega suruh petani jual 1500/kg dengan perbandingan harga solar subsidi 5500//liter. mana ada bisnis yang dibandingkan dengan barang subsidi? bandinginnya sama solar industri, sekitar 11000/liter.

yang jelas kalau sistemnya selama ini ga jalan berarti ada yang ogah kerja karena cuma kebagian susahnya. :)

indera


2008/6/30 Achmad Zaenal Abidin <<mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]>:
At 07:10 30/06/2008, Wisnu Martono wrote:

Hemat saya, justru kebalik pak. Justru para penikmat rente, yaitu penjual bibit jarak ini, yang sejak awal selalu menyebarkan janji-janji manis jarak pagar. Yang bisa menggantikan minyak tanahlah, solar lah, mengentaskan kemiskinan lah. Tanpa didasari hitungan rasional. Sejak sebelum adanya Timnas BBN, ketika orang mulai ribut soal jarak, saya sudah bilang, ini program sim salabim. Dan gak akan jalan. Banyak yang mengira saya sok tahu.

Padahal, dari awal saya sudah membuat hitungan keekonomian, dan memang tidak masuk. Kecuali mau dibeli dengan harga di atas Rp2000/kg.

Mas Wisnu menentukan harga Rp. 2000,-/kg itu dengan hitungan bagaimana ? apakah harga Rp. 1.500,-/kg masih tidak menguntungkan petani ? padahal bisa dengan tumpang sari ?

Ceteris paribus. Kalau kemudian harga minyak fosil naik, ya harus naik lagi harga beli biji jarak ini.

Kenapa?

Kalau harga minyak naik, akan menyeret kenaikan harga lain. Kalau harga beli biji jarak tidak dinaikkan, apa petani harus menjadi satu-satunya pihak yang daya belinya dibuat turun? Bukankah misinya menaikkan kesejahteraan petani?

Ini yang kadang orang lupa. Berasumsi kalau harga minyak fosil sekian, maka minyak jarak menjadi feasibel karena murah. Murah, dengan menekan kesejahteraan petani jarak. Alasannya, kalau harga bijinya segitu, lalu seberapa harga minyaknya? Itu bukan urusan petani jarak. Mau minyaknya berharga berapa,

Mas Wisnu tidak bisa bicara begitu dong, karena harga solar subsidi masih Rp. 5.500/liter. Pertamina dengan harga jual Rp. 5.500,-/liter membeli/ongkos produksi solarnya berapa per liter ? Bagaimanapun pasar akan terbentuk jika ada kecocokan antara harga demand/beli dengan harga supply/jual, kecuali memang tidak ingin potensi jarak pagar yang non pangan berjalan dengan baik, yang sebagai konsekwensinya Mas Wisnu harus kasih alternatif BBN jenis tanaman yang mana supaya tidak tergantung minyak fosil yang naik terus ? Atau nanti ketika minyak fosil naik lagi yang tinggi sekali baru program jarak pagar berjalan ? :-(

Salam,
Zaenal

petani jarak cuma tahu dia harus untung dengan bertanam jarak. Kalau tidak, ya dia babati pohon jarak miliknya. Mendingan tanam singkong buat dimakan.

Makanya tidak jalan. Jadi, bukan karena pedagang yang minta harga tidak normal pak.

Salam,

--- On Sun, 29/6/08, Achmad Zaenal Abidin <<mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]> wrote:

--
IS on Mozilla Firefox

Kirim email ke