Rekan-rekan, 

Ada rumus Timothy Gallway bahwa 
        k = p - i; dimana k = kinerja / prestasi; p = potensi (bakat/talenta 
        alami) dan i = interferensi (gangguan). Agar prestasi melesat, menurut 
        rumus itu :  
         
        
1. Fokus ke p = 
        talenta alami (tingkatkan talenta alami dengan melatihnya dan menambah 
        knowledge dan skill sesuai talenta alami) 
         
        
2. Kurangi i = 
        interferensi. Interferensi ada 4 : 1) penyeragaman (semua orang belajar 
        dengan cara  dan obyek yang sama, padahal tiap orang itu unik); 2) 
        Persepsi keliru thp kesalahan, kegagalan (belajar yang terbaik adalah 
        dengan mencoba. konsekuensi mencoba adalah gagal salah. Sayang dunia 
        pendidikan kurang toleran thd kita.); 3) Belajar "dari luar 
        mengarah ke dalam" (otak itu api -yang akan optimal jika 
        disulut-didorong- dibangkitkan, bukan wadah-dicekoki) , belajar 
        = "dari luar sekaligus dari dalam". 4). Fokus pada keterbatasan (kalau 
        nilai anak matematika = 5, nilai olah raga = 9, perlakuan yang umum 
        adalah tingkatkan matematika, biarkan olah raganya. Jika dari SD sampai 
        SMA perlakuan ini terus-menerus yang diambil, mungkin nilai 
        matematikanya tidak melejit, bakat olah raganya terkubur = "kagol" = 
        setengah-setengah. Jutaan kayaknya orang 'kagol' di 
        Indonesia ini. 
         
        
Saya coba ke anak 
        saya (saat ini kelas 2, naik ke kelas 3 SD).  Dia otak kirinya 
        jalan, suka merakit sesuatu. Saya belikan  UNIVERSAL II (seperti 
        puzzle, kalau dirakit bisa jadi berbagai bentuk benda = mesin jahit 
        kecil, ayunan, mobil derek, dan lain-lain). Dia begitu asyik dengan 
        obyek itu. Melalui pendekatan yang amat hati-hati, saya bilang ke anak 
        saya : sehari target 1 produk. Benar, sehari dapat 1 
        produk. Saya juga terus mencari apa obyek yang sesuai dengan dia. 
        Kebetulan ada rekan alumni juga yang canggih buat peralatan otomatik, 
        robotik. Dia ini calon "coach" (pendamping- pelatih) anak saya. 
        Dia menikmati aktivitas ini, dia asyik, dia ada pada kondisi "mengalir" 
        ketika melakukan aktivitas ini, dia bisa lupa makan, lupa waktu...ini 
        menurut Leider Shapiro adalah ciri-ciri ketika orang tengah menggeluti 
        bakatnya..tapi hati-hati : minat bisa menunjukkan bakat, bisa 
        tidak.. 
         
        
Saya coba ke anak 
        rekan alumni, kelas 6 SD. Beberapa waktu lalu, setelah kita 
        "ngobrol" panjang lebar, saya coba kasih masukan : fokuskan dia ke 
        nulis cerpen. Saat ini anak itu sudah menghasilkan 15 cerpen, dalam 
        waktu sebulan setengah. Cerpen-cerpen itu mau dikirim ke berbagai 
        koran dan majalah. Saya bilang, kalau sampai 45 cerpen, bisa 
        diterbitkan, jadi kumpulan cerpen. Saya juga kasih masukan ke dia, 
        cari penulis cerpen yang benar-benar sudah melahirkan cerpen-cerpen yan 
        relatif monumental, untuk jadi "coach" (pendamping- pelatih 
        dia). 
         
        
Kami 
        mengembangkan "talent coaching" (penelurusan dan aktualisasi bakat) 
        untuk keluarga. Bukunya sudah ada (60% materinya dari buku ini : "5 
        Langkah Melahirkan Mahakarya", penerbit Hikmah (Mizan Publika)). 
        Agustus, sekolah-sekolah di bawah salah satu BUMN mulai mengembangkan 
        "Program Pusat Kreasi" (pusat penelusuran dan aktualisasi bakat secara 
        kongkrit), pengganti ekstra kurikuler (tidak mengubah intra kurikulum). 
Kami fokus ke penelurusan dan pengembangan bakat ini.

Dari berbagai literatur, kami telah temukan 13 metode mengenali bakat; juga 
cara-cara mengaktualisasikan bakat ini, sehingga sistematik dan terukur. 

Ada banyak contoh, yang fokus 
        ke bakat sejak usia dini. Yang tertarik silakan komunikasi 
        via japri. 
         
        
Salam,
 
        Musrofi TI 
      86

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke