Asw, Rekans Banyak menanam pohon Nyamplung setuju banget............ Saya baru menanamkan lebih dari 150 pohon nyamplung (2m) dari hibahnya para dermawan lingkungan. Nyamplung adalah tanaman habitat pantai, jika ditanam di lahan lain, umumnya bisa hidup juga. Mudah ngurusnya, tumbuhnya cepat, dan tahan sedikit air. Perakarannya memang ke mana-mana, tetapi asal nanemnya dalem, yah tidak akan njebol macem-macem. Apapun spesies pohon jika ditanam dangkal ya akan bermasalah.Contoh, jalan-jalan aspal warisan Belanda yang saya kunjungi di Jatim -Jabar, banyak ditanami pohon bercabang dan berakar ke mana-mana. Jalannya tetap bagus, pohonnya pun tumbuh sehat. (Lihat jalan di Jalur Madura- Ambunten Sumenep, dihiasi pohon Asem. Juga di jalur Ponorogo dihiasi pohon Mahoni. Juga di jl Raden Patah Bandung dihiasi Mahoni dan Damar ataupun di jl Pajajaran Bogor, semuanya dihiasi pohon berumur lebih 25 th dan jalannya OK semua......) Soal pohon di kota (Jakarta misalnya), usahakan tidak ditebang, baik yang di pinggir jalan maupun di taman. KALAU BISA.....Yang boleh diusulkan kepada SIAPAPUN DI KOTA MANAPUN adalah, jangan menanam pohon buah di tepi atau tengah (median) jalan raya, sebab mengundang bahaya. Jakarta adalah contoh yang jelek urusan menanam pohon ini. Lihat kasus pohon Manilkara kauki (sawo kecik / sawo kraton ?) sekitar MPR - Semanggi - Gatsu - Casablanca dll. Ayo tanam pohon dengan benar, sesuai manfaat, dan tepat...........wassalam. Aksi-Hijau Indonesia
----- Original Message ----- From: "Achmad Zaenal Abidin" To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Bagaimana jika kita gencarkan pohon nyamplung sebagai tanaman Biodiesel dikota kota dan penahan abrasi pantai Date: Tue, 08 Jul 2008 10:08:53 +0700 At 09:23 08/07/2008, Moko Darjatmoko wrote: At 7/5/08, Achmad Zaenal Abidin wrote: 4. Bagaimana jika dari pada pohon pohon di setiap pinggir/tengah jalan di Jakarta maupun kota kota lain/terutama pesisir tidak ada gunanya selain hanya kayu dan konservasi air saja, untuk dibongkar/ditebang dan diganti dengan pohon pohon nyamplung ? termasuk di pesisir pesisir pantai yang rawan abrasi/tsunami untuk ditanami pohon nyamplung,karena telah kita telah siapkan pembibitannya. Aku bisa memahami urgensi mendapatkan alternative fuel, tetapi menebangi pohon pohon peneduh jalan di Jakarta maupun kota kota lain untuk diganti dengan pohon pohon nyamplung adalah usulan paling "gendheng" yang pernah aku dengar. Kalau tahu tidak ada manfaatnya ya pasti tidak akan diusulkan mas. :-) Pertama, ada alasan tertentu satu jenis pohon tidak dipakai sebegai peneduh jalan, dan nyamplung adalah salah satunya -- karena akarnya tumbuh "liar" kemana-mana dan dalam waktu singkat akan menjebol pavement. Informasi akarnya liar ini dari mana ? apakah akar2nya akan bergerak keatas ? :-( Berdasarkan kesaksian dari yang mengirim minyak nyamplung, di sepanjang jalan pangandaran Pohon nyamplung telah digunakan sebagai pohon peneduh jalan tanpa menimbulkan kerusakan alan karena akar2nya, karena akarnya dalam. Siang ini saya telah terima kiriman sample/contoh minyak nyamplung 2 botol sebagai bahan baku Biodiesel/solar dan beberapa biji buah nyamplung. (harga biji nyamplung adalah + Rp. 2.000,-/kg, dimana persentasi untuk menjadi biodiesel diatas 50% per kg= > 0,5 liter biodiesel/kg). Kedua, siapa bilang nyamplung ini bisa jadi "solusi" yang ideal untuk sumber bio-fuel (bio-diesel)? Entah dari mana ZA dapat angka fantastik "persentasi untuk menjadi biodiesel diatas 50% per kg= > 0,5 liter biodiesel/kg" ... aku yakin ini bukan dari pengalaman nge-press sendiri (seperti layaknya para nyur-senyur, the doers not the talkers). FYI, angka yang lebih mendekati untuk "yield" biji nyamplung ini adalah sekitar 5 persen, jelas merupakan angka yang jauh lebih rendah ketimbang klaim AZA yang 50 (limapuluh) persen itu! Tadinya kupikir salah ketik atau mark-up nggak sengaja, tetapi dari email yang lain "'60% lebih tinggi dari pada jarak pagar (Jatropha Curcas) yang berkisar 30%" ... wah, sampiyan ini musti kembali buka-buka textbook botani. Mas Moko dan rekans bisa melihat kembali dari daftar yang diberikan Pak Tatang sesuai terlampir. Dan barusan saya tanya kepada yang ngepres langsung dari biji nyamplung menjadi minyaknya diperoleh keterangan dari 2.5kg biji nyamplung diperoleh minyak 1 sd 1.5 liter. Berarti perolehan minyak adalah 40% sd 60% dari setiap biji nyamplung ke minyak atau 0,4 sd 0,6 liter/kg. Salam, Zaenal Tabik, Moko/ -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt << biodiesel_tree.ppsx >> -- Be Yourself @ mail.com! Choose From 200+ Email Addresses Get a Free Account at www.mail.com
