On Mon, 4 Aug 2008, Pekik A. Dahono wrote:
BUMN Macam telkom, PLN, atau Pertamina tidak pernah effisien menggunakan
resourcesnya, mungkin ada baiknya melihat contoh Indosat ...
setelah di jual ke swasta bisa menjadi 4 x lipat revenue nya
padahal si singtel tidak memberlakukan banyak aturan-aturan aneh , dia
cukup
mengontrol urusan keuangan saja :-))
tapi kenapa itu tidak bisa dilakukan oleh negara ?
Karena indosat produknya bukan kebutuhan dasar. Kalau PLN, produknya adalah
kebutuhan dasar.
Kalau saya tidak puas dengan indosat, saya bisa segera ganti telkomsel atau
yang lain.
Kalau tidak puas dengan PLN?
ya bikin PLN sendiri pak :-)) ....
yang jadi masalah , selama ini seluruh kegiatan di monopoli
satu perusahaan , namanya PLN ...
demikian juga dengan Pertamina ..(baru setelah si shell , petronas boleh
mulai masuk, juawalan retail , baru si pertamina 'merasa' mendapat
'saingan' ) ..
wong PLN lebih suka jual listriknya ke Mall - mall daripada ke masyarakat
biasa ,
apa beda nya PLN dengan perusahaan nya Hari Tanu , hehehe .
satu kasus lagi , PT POS ...
yang duitnya bukan dimainkan utk mengembangkan business nya sendiri , eh
malah
main batubara :-)
bentuk bentuk ketidak effisienan BUMN itu udah banyak ....
Kasus yang sama terjadi pada Astra dan beberapa perusahaan swasta lain.
Astra dulu diproteksi supaya mengembangkan otomotif di Indonesia, tetapi apa
hasilnya? Astra malah mengembangkan bisnis lainnya.
Jadi kuncinya bukan BUMN atau swasta.
Astra kita khan tahu , itu bentukan nya Orde Baru ,
jelas dia di proteksi , di monopoli ...
yang membuat ancur karna ada proteksi (berlebihan) dan monopoli..
dan itu salah satu sifat dari kebijakan masa lalu (orba) ..
Astra justru menjadi 'sehat' setelah diambil alih oleh Jepang pada saat
krisis moneter tahun 98 ...
Negara kita bisa saya rasa menyediakan kabel , dan juga menyediakan
fasilitas
pendukung lain nya ...
tembaga ada , ada tambangnya lagi ....
nickel ada , tambangnya ada , di jual pula raw material nya keluar ...
Punya tambang tembaga saja tidak cukup. Sama seperti minyak, punya cadangan
minyak di perut bumi saja tidak cukup.
Cadangan tersebut perlu diambil dari perut bumi, diolah, dan dibuat menjadi
kabel dengan modal yang tidak sedikit.
Sayangnya, kita tidak punya modal sama sekali.
Mau ngutang atau panggil investor asing? Ya jadinya kontrak bagi hasil yang
lebih sering merugikan dibanding menguntungkan.
Masalah nya tinggal niat atau tidak pak ....
Modal untuk produksi , semua bisa dihitung dengan perhitungan matematis
apapun , tinggal masalahnya adalah masalah NIAT ....
Di Surabaya sudah ada pabrik smelting tembaga dari hasil Freeport
tapi apakah hasilnya kemudian dibuat kabel disini ? hehehe ...
coba dilihat saja , mereka hanya 'ngecor' tembaga batangan dan semua nya
di ekspor ....
ndak ada yang sulit koq , .....
yang sulit itu karena tidak ada NIAT ;-)
terima kasih
=bsd-
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt