Title: [indonesia] Re: [IA-ITB] Fadel Muhammad calon Wapres?
Thanks, Tatang ... memang kelupaan --mungkin tepatnya, taken for granted-- karena aku anggap yang mencalonkan punya keberanian mencalonkan itu orang yang sudah dewasa, punya keinginan memperbaiki kondisi bangsanya dan menyadari konskwensi pilihannya. "Keahlian" yang lain itu tidak terlalu relevan -- negeri ini sudah terlalu jenuh dengan apa yang disebut (atau mengganggap dirinya) pakar.

Moko/

At  8/5/08, Tatang Hernas Soerawidjaja wrote:
Ada tambahannya, mas Moko,

Selain (1). jujur dan (2). tak nyolongan, harus (3). punya visi dan (4). berani.

Yang no.1 sekarang ini memenuhi kriteria (1) dan (2), meragukan pada kriterium (3) dan babak belur pada kriterium (4).

Tatang H S


--- On Wed, 6/8/08, Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Fadel Muhammad calon Wapres?
To: [email protected]
Date: Wednesday, 6 August, 2008, 6:39 AM
[indonesia] Re: [IA-ITB] Fadel Muhammad calon Wapres?
Lulusan LN atau DN itu tidak menjamin ngurusi negara beres. Kriteria paling mendasar sebetulnya sederhana: jujur dan tidak nyolongan -- dan berani menindak siapapun yang nyolongan. Lain-lain cukup dengan common sense, nggak usah dipimpin pun masyarakat itu bisa mandiri, productip dan survive -- tukang becak atau penjual pebisnis kelas warteg pun bisa menjadi pemimpin yang jauh lebih baik dan "make sense" dari yang ada selama ini.

Moko/

At  8/6/08, Joko Julianto wrote:
Yah...sayang banget dong kalau selesksinya cuma untuk doktor lulusan luar negeri. Padahal belum tentu juga lulusan LN lebih berkualitas dan mengerti bagaimana memimpin Indonesia. Sepertinya paradigma pendidikan LN lebih baik dari pada pendidikan DN masih melekat kuat di Indonesia. Kalau begini, bagimana pendidikan Indonesia bisa bangkit? sama halnya kita menganggap produk impor lebih Ok dari produk lokal. Akhirnya produk lokal bisa mati karena kehilangan kepercayaan dari konsumen nya sendiri.
Bukannya dalam Islam diajarkan untuk menyerahkan sebuah perkara kepada ahlinya? La kalau ternyata produk lokal ada yang ahli, kenapa harus mengejar produk impor?
Intinya, siapa yang berkualitas itu yang diberi kesempatan.

Salam,
Joko


-- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke