Hahahaa... hari gini masih percaya klenik :p

Kalo kata politikus, tingkat pendidikan lebih ke arah bagaimana mengambil 
keputusan strategis dan berpihak pada kesejahteraan rakyat. Sedangkan pemimpin 
itu lebih dinilai berdasarkan visi-misi-tujuan serta karakter, kualitas dan 
kredibilitas kepemimpinannya, ditunjang dengan track-record dan integritas yang 
bersih.

Sedangkan kata Prof. saya, nobody is perfect. Ketika anda mampu mencapai 
50%-70% dari hal tersebut di atas, maka anda sudah dikatakan layak. 
Permasalahan terjadi karena ketika memimpin, banyak terjadi deal² politik dan 
sikap² kompromi atas interest², apakah dari dalam dan luar negeri. Terkadang 
untuk menyelematkan salah satu aspek yang krusial, terpaksa mengambil keputusan 
politik yang non-populis.

Sedangkan teman saya di PPI Jerman, sering menyeletuki temannya, "Sirik tanda 
tak mampu.. Fair play man!. Kalo memang lulusan luar negeri lebih berkualitas 
ya akui saja, dan gue akui lulusan luar negeri juga punya kekurangan. Masih 
untung kami mikirin Indonesia di saat bangsa itu sakit²an, dan mencari solusi 
atas permasalahannya sesuai kapasitas dan kapabilitas kami."

Saya pun menyeletuki dia, "Ahh pak boss, namanya juga kritik, ada yang 
destruktif, dan konstruktif. Tergantung gimana lo mampu menempatkan diri dan 
menganalisanya. Kalo kritikan itu benar nyatanya, berarti itu merupakan 
tamparan untuk introspeksi dan reevaluasi diri. Sedangkan apabila kritikan itu 
cuma fitnah, berarti itu itu dorongan supaya lo kasih yang lebih baik ke depan 
nanti. As simple as that. Toh nantinya kita² ini yang ambil alih kendali 
pemerintahan, dan semoga dapat memperbaiki sistem, amiin.. Lagipula sama² anak 
bangsa kok berantem, apapun pendidikannya, minumnya tetap teh boto sosro."



 ---------------------
Teuku Reiza Yuanda
http://www.linkedin.com/in/teukureiza
 




----- Original Message ----
From: ab pikri <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, August 6, 2008 11:01:27 AM
Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Lulusan LN? - Fadel Muhammad calon Wapres?


Tentang luar negeri memang hal yg membuat bangsa kita terpukau.
Tidak hanya lulusan sekolah yang digandrungi dari luar negeri, atau gula, 
daging dan barang2 rongsokan pun.
Yang lebih aduhai lagi adalah DUKUN pun dari luar negeri.
Coba aja lihat di TV, mama L kita yang satu itu digangdrungi.
Baiknya tanya ama dia aja tuh, siapa yg bakal jadi presiden kita. he2..
Apikri



----- Original Message ----
From: Tatang Hernas Soerawidjaja <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, August 6, 2008 8:30:44 AM
Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Fadel Muhammad calon Wapres?


Ada tambahannya, mas Moko,

Selain (1). jujur dan (2). tak nyolongan, harus (3). punya visi dan (4). berani.

Yang no.1 sekarang ini memenuhi kriteria (1) dan (2), meragukan pada kriterium 
(3) dan babak belur pada kriterium (4).

Tatang H S


--- On Wed, 6/8/08, Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Fadel Muhammad calon Wapres?
To: [email protected]
Date: Wednesday, 6 August, 2008, 6:39 AM


[indonesia] Re: [IA-ITB] Fadel Muhammad calon
Wapres?
Lulusan LN atau DN itu tidak menjamin ngurusi negara beres.
Kriteria paling mendasar sebetulnya sederhana: jujur dan tidak
nyolongan -- dan berani menindak siapapun yang nyolongan. Lain-lain
cukup dengancommon sense, nggak usah dipimpin pun masyarakat
itu bisa mandiri, productip dan survive -- tukang becak atau penjual
pebisnis kelas warteg pun bisa menjadi pemimpin yang jauh lebih baik
dan "make sense" dari yang ada selama ini.

Moko/

At  8/6/08, Joko Julianto wrote:
Yah...sayang banget dong kalau
selesksinya cuma untuk doktor lulusan luar negeri. Padahal belum tentu
juga lulusan LN lebih berkualitas dan mengerti bagaimana memimpin
Indonesia. Sepertinya paradigma pendidikan LN lebih baik dari pada
pendidikan DN masih melekat kuat di Indonesia. Kalau begini,
bagimana pendidikan Indonesia bisa bangkit? sama halnya kita
menganggap produk impor lebih Ok dari produk lokal. Akhirnya produk
lokal bisa mati karena kehilangan kepercayaan dari konsumen nya
sendiri.
Bukannya dalam Islam diajarkan untuk menyerahkan sebuah perkara kepada
ahlinya? La kalau ternyata produk lokal ada yang ahli, kenapa harus
mengejar produk impor?
Intinya, siapa yang berkualitas itu yang diberi kesempatan.

Salam,
Joko


________________________________


      

Kirim email ke